MySam

MySam
Bertemu El lagi



Memandang sebentar ke arah gedung bertingkat itu, dengan kepala yang sedikit mendongak. Senyuman Maya kini kembali ia tarik di kedua sudut bibirnya, Semangat May.... batin nya.


Ia kini mulai menapakkan jejak langkahnya di lantai lobi kantor, menyapa sebentar ke arah gadis penjaga lobi, yang kemudian di balas senyuman oleh gadis manis penjaga lobi.


Maya memasuki lift menuju ruang HRD yang terletak di lantai dua, kembali memasang wajah sumringah. Menghembuskan napas perlahan sebelum ia mengetuk pintu ruangan HRD.


Membuka pelan knop pintu dan menjulurkan sedikit kepalanya di ambang pintu. "Permisi pak..." ucap Maya. Mendapat izin untuk memasuki ruangan, Maya langsung duduk di kursi tepat berhadapan dengan kepala divisi HRD.


"Saudara Maya?"


"Iya pak saya Maya yang kemarin interview untuk mengisi lowongan marketing manager." jawab Maya sopan dan penuh percaya diri.


"Iya saya ingat dan selamat anda di terima di perusahaan ini dengan jabatan marketing manager." Kini sang manager divisi HRD berdiri dan menjulurkan tangannya, bermaksud memberi selamat pada Maya.


Sedikit bingung, Maya juga berdiri dari duduknya, mengulurkan tangannya untuk membalas jabatan tangan sang manager HRD. "Tapi pak... saya kan belum interview tahap kedua."


"Melihat dari nilai akademik anda dan surat rekomendasi dari tempat anda magang dulu, kami merasa anda berkompeten untuk bergabung di perusahaan kami."


Maya mengangguk dan tersenyum, kembali mengeratkan jabatan tangannya. "Terima kasih banyak pak."


"Sama-sama, sekarang anda bisa mulai bekerja?"


"Siap pak, saya bisa bekerja mulai hari ini." Kembali gadis itu tersenyum yakin.


"Harap anda menemui CEO perusahaan ini dulu, ruangan beliau ada di lantai lima."


"Ini berkas-berkas anda harap nanti diserahkan pada CEO dan.... selamat bergabung dengan perusahaan kami."


Kembali menawarkan jabatan tangan ke arah Maya, sang manager HRD kini tersenyum ramah ke arah Maya.


"Terima kasih pak." Jawab Maya lalu membalas jabatan tangan manager HRD.


Meraih beberapa berkas yang diserahkan oleh manager HRD tadi, Maya kini kembali menjejakkan langkah kakinya begitu ia keluar dari ruang HRD.


Menapaki koridor demi koridor kantor hingga membawa nya ke arah pintu lift. Menekan tombol lift menuju ke lantai lima, kini perasaan Maya bercampur aduk antara senang diterima bekerja di perusahaan besar dan juga grogi karena hari ini adalah hari pertama ia bekerja di perusahaan property Wijaya Group.


Sedikit berfikir dengan nama perusahaan tempat ia bekerja kini, mengingatkan dia akan sebuah nama keluarga seseorang yang dulu pernah dekat dengannya.


"Ah gak mungkin itu dia."


"Banyak kan nama Wijaya di Jakarta." batin Maya.


___


Pintu lift kini terbuka tepat di lantai lima, Maya langsung disambut oleh beberapa karyawan lain yang berlalu lalang di sekitar ruangan tersebut. Seolah tidak terlalu menyadari kehadiran Maya, sang marketing manager yang baru. Melangkahkan kakinya dengan sangat elegan tanpa ada rasa canggung atau malu-malu, Maya kini mendekati salah seorang pegawai disana, mencoba bertanya letak ruangan CEO perusahaan ini. "Maaf boleh saya tahu letak ruangan CEO disini?"


"Oh anda lurus aja nanti ada persimpangan, anda belok kanan. Nanti ada kok tulisan CEO di luar pintu." jawab seorang karyawan laki-laki berkaca mata tebal. Maya tersenyum, mengangguk sebentar dan mengucapkan terima kasih ke arah laki-laki tadi.


Kini langkah kaki gadis itu kembali menapaki lorong-lorong perusahaan, hingga tiba lah dia di depan sebuah ruangan. Berpintu tinggi berwarna coklat dan benar saja terdapat tulisan CEO Elano Wijaya disana.


Hampir saja Maya mengetuk pintu tersebut, kini niatnya sedikit terurung. Memandang sebentar papan nama itu, dan masih berdiri mematung.


"Ya Tuhan... ada apa lagi ini? jika saja gue tau perusahaan ini milik El, gak mungkin gue ambil lowongan pekerjaan ini." rutuk Maya dalam hati.


Masih mematung di depan pintu ruangan tersebut, beberapa saat Maya mencoba berfikir kembali. Jika dia melangkah pergi begitu saja pasti dirinya akan di anggap tidak kompeten dan tidak profesional, lagi pula pekerjaan ini lumayan bagus dan sesuai dengan pelajaran yang Maya dapat selama kuliah. Dan lagi jika ia melewatkan pekerjaan ini, mungkin juga ia akan membuat Siska sang mama kecewa.


Masih mematung, hanya memandangi tulisan nama Elano Wijaya yang terpampang nyata di hadapannya.


Tiba-tiba tanpa Maya duga pintu tersebut terbuka, membuat mata gadis itu membola terkejut. Memandangi sosok laki-laki tinggi dengan sepasang alis mata tebal dan hidung mancung yang seolah bertengger angkuh di wajah bersihnya. "Maya...."Gumam laki-laki itu pelan, dan juga dengan ekspresi keterkejutan nya.


"Eehh.... iya maaf aku ... ee...."


"Masuk May." Elano menyela kegugupan Maya, menggeserkan tubuhnya memberi ruang lebih untuk Maya bisa masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Jadi kamu yang akan menempati posisi marketing manajer disini?"


Maya mengangguk, sedikit canggung saat melihat El untuk kali ini.


"Aku gak tau kalo bisnis kamu di bidang property juga" ucap Maya.


El mengangguk, kini ia mempersilahkan Maya duduk.


"Sebenarnya ini perusahaan ayah ku, sepulang dari Aussy beliau meminta ku memegang perusahaan ini." Jawab El yang kini ikut duduk di sofa, berdekatan dengan Maya.


"Apa kabar kamu May?"


Memandang ke arah Maya, mencoba meraih jemari tangan gadis itu namun dengan cepat Maya menghindar, menarik jauh jemari tangannya.


" Aku baik, kamu gimana?" tanya Maya sambil tersenyum simpul.


"Aku juga baik."


"So... kamu siap mulai bekerja hari ini?" tanya El yang diikuti dengan anggukan kepala Maya.


"Ruangan kamu dua blok dari sini ya. Cari aja yang ada papan nama marketing manager." ucap El.


"Kalo gitu aku pamit ke ruangan ku dulu."


"Oh ya El, kamu nerima aku bekerja disini bukan karena kita pernah deket kan." Maya menghentikan sejenak langkahnya. Dengan cepat El menggeleng, "Gak lah May, kamu memang pantas kok menerima jabatan itu."


Lagi-lagi Maya tersenyum ke arah El, lalu melangkah meninggalkan ruang kerja Elano.


Bercampur aduk perasaan Maya kali ini, kenapa harus El? kenapa bukan orang lain? pikirnya.


El hanya memandangi tubuh Maya yang kini mulai menghilang di balik pintu. Mengusap pelan wajahnya hingga mengeluarkan hembusan napas pelan.


____


"May, kita makan siang bareng?" Kini kepala El ia julurkan sedikit dari ambang pintu, membuat Maya sedikit terkejut.


Maya tersenyum sebentar, "Aku bawa bekal kok, jadi maaf aku gak bisa makan siang bareng kamu." tolak Maya halus.


"Ya gak apa-apa, kamu bisa kok bawa bekal kamu. Kita ke restoran di ujung jalan sana, ayolah... udah lama kita gak ketemu juga kan." sedikit memaksa, kini Elano masuk ke ruangan kerja Maya dan mendekati gadis itu.


"Eee.... gimana ya.... aku...."


"Ayolah... kamu gak boleh nolak permintaan bos kamu di hari pertama kamu kerja." Masih tetap memaksa, Elano menarik lembut lengan Maya. Gadis itu sedikit terkejut namun mau tidak mau ia menurut, mengikuti langkah El yang masih saja menarik lengannya.


"Eh tunggu El, aku bawa bekal dari mama dulu." Berbalik arah kembali ke ruangannya kini Maya menenteng box kecil berisi makanan yang sudah Siska siapkan tadi pagi.


El dan Maya terlihat keluar dari gedung perusahaan milik El, berjalan bersama menuju ke sebuah mobil berjenis SUV berwarna hitam. Terlihat agak ragu, Maya memasuki mobil milik Elano setelah laki-laki itu membuka kan pintu di kursi depan.


cekrek....cekrek....cekrek....


Lagi-lagi sang detektif swasta sewaan Sam mengambil beberapa gambar Maya dan Elano. Mengamati semua gerak gerik mereka dan kemudian terlihat detektif itu mengikuti arah laju mobil yang Maya dan El kendarai.


Sebuah berita penting.... pikir sang detektif.


***


Ponsel Sam berdering, yang diikuti beberapa notif pesan singkat dari seseorang.


Mengabaikan sebentar pekerjaan di hadapannya, kini Sam meraih ponsel pipihnya yang tergeletak begitu saja di atas meja kerja Sam.


Membuka pesan itu dan tiba-tiba kini kedua mata Sam membola tajam. Melihat foto-foto Maya dengan seorang laki-laki tampan, mereka terlihat masuk ke dalam sebuah mobil mewah berwarna hitam. Laki-laki itu membukakan pintu mobil untuk Maya, bahkan melindungi kepala Maya dengan punggung tangannya saat gadis itu memasuki mobil.


Kini rahang kotak Sam mengeras, gigi-gigi putihnya bergemeretak hebat. Mengepalkan tangannya erat hingga kini kepalan tangan itu menghujam keras meja kerjanya.


Darah Sam serasa mendidih, kecemburuan nya kini sudah memuncak. Dddrrrtt.... drrttttt tiba-tiba kembali ponsel Sam berdering, kali ini sebuah panggilan.


"Hallo.... berita apa yang kamu bawa?" tanya Sam dengan nada sedikit marah.


^^^"Nona Maya terlihat keluar dengan Elano Wijaya untuk makan siang di sebuah restoran."^^^


^^^"Oh ya tuan, saya mendapat informasi jika perusahaan property Wijaya Group sedang menjual beberapa persen sahamnya."^^^


Sam terlihat terdiam sebentar.


"Berapa persen yang mereka jual? Apa perusahaan itu sedang pailit?" tanya Samuel.


^^^"Sekitar lima puluh persen, tuan. Perusahaan itu bahkan sedang berkembang pesat, hanya saja salah satu pemegang saham nya berencana ingin pindah ke luar negeri jadi dia ingin menjual aset sahamnya di Wijaya property."^^^


Terang sang detektif swasta itu. Kini Sam terlihat kembali terdiam, masih mendekatkan ponsel yang dipegang dengan telinganya.


^^^"Hallo tuan Sam.... saya masih mengikuti gerak gerik mereka. Akan saya kirim lagi foto-foto mereka lewat pesan singkat."^^^


ucap sang detektif yang dibarengi dengan sambungan terputus dari ponsel miliknya.


Samuel masih terdiam, bahkan ponsel pintarnya terlihat masih menempel di telinganya.


Tak lama kemudian Sam melakukan sebuah panggilan.


"Bay, lo urus pembelian lima puluh persen saham di perusahaan property Wijaya Group. Sekarang juga!!"


Tuutttt....tuuttt.... tuuttt...


Sam mematikan sambungan ponselnya. Kembali dipandangi foto-foto Maya bersama El tadi dan kembali rasa cemburu itu hadir menyeruak memenuhi dada Samuel.


to be continue....