MySam

MySam
Bali Day One



Samuel dan Maya melangkahkan jejak kaki mereka memasuki resort mewah di Bali. Sambutan welcome drink langsung menyapa mereka, Maya mengerjapkan mata melihat gelas minuman yang berwarna warni itu.


"Sam... ini gak ada alkohol nya kan?" bisik Maya, Sam tersenyum kecil menanggapi gadis itu.


"Ini sirup sayang, kamu tenang aja."


"Heee kirain...." kekeh Maya, Sam hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum geli melihat kekasihnya.


Samuel menerima kunci kamar dari resepsionis resort, ternyata jauh hari Sam sudah merencanakan perjalanan ini termasuk menyewa sebuah resort yang hanya mereka tempati berdua.


"Sayang... kita gak nginep di hotel aja? kenapa kita nginep di resort? Awas ya kamu jangan macem-macem sama aku!!" Ancam Maya, dia arahkan telunjuk nya tepat di muka Samuel.


"Gak janji ya dear, moga aja aku gak khilaf nanti, heee...." kekeh Samuel menggoda.


Maya cemberut mendengar ucapan kekasihnya itu, namun tak lama kemudian senyuman kecil nya pun ia tarik penuh di kedua sudut bibirnya.


"Yuk sopir udah nunggu kita." Ucap Samuel. "Emang jauh ya resort kita?" tanya Maya yang mengekori langkah Sam.


"Gak jauh kok, ayo bawel ntar nanya nya di mobil aja okey..." jawab Sam sambil mencubit gemas hidung Maya.


Lagi-lagi gadis itu mendengus pelan lalu meraba hidung nya yang memerah karena cubitan Samuel.


____


Sopir resort menghentikan mini van putih itu tepat didepan sebuah rumah yang juga bercat serba putih.


"Ini resort nya tuan, silahkan..." ucap sopir tadi sopan.


Sam kembali menggandeng tangan Maya memasuki pagar tembok rumah tersebut.


Sam sengaja menyewa sebuah resort kecil, ia tidak ingin hari-hari nya bersama Maya terganggu oleh siapa pun.


Rumah yang sangat indah, khas rumah daerah tropis dengan beberapa pohon kelapa yang tidak terlalu menjulang tinggi di sisi kanan kiri jalanan menuju pintu utama resort.


"Silahkan tuan..." sopir sekaligus guide tadi kembali mempersilahkan Maya dan Sam.


Maya berdecak kagum dengan pemandangan di dalam resort. Ruang santai yang cukup luas dengan tangga setengah melingkar yang menghubungkan lantai dua rumah tersebut.


Maya semakin takjub ketika semakin berjalan memasuki resort, sebuah kolam renang yang menghadap langsung ke pantai. Kelihatannya dari resort itu tidak terlalu jauh jika mereka ingin ke pantai. Maya kembali berdecak kagum, berkali-kali ia mengambil nafas dalam-dalam seolah sangat merasakan aroma pantai yang sangat jarang dia jumpai.


"Saya tinggal dulu tuan, jika ada yang kalian butuhkan hubungi saja saya, nomor saya sudah ada di secarik kertas samping telefon." Ucap sang guide itu lagi.


"Oke makasih pak, nanti jika kami butuh bantuan bapak akan saya kabari." Jawab Samuel, sang guide tadi pun berpamitan kepada Samuel dan Maya sebelum akhirnya dia melangkah keluar dari resort tersebut.


"Samuel... ini bagus banget..." pekik Maya senang.


"Kamu suka sayang?"


"Hhhmm... suka banget!! eh tapi kita tidur nya gak satu kamar kan?" Selidik Maya, kedua netra nya kini sedikit menyipit.


"Kamu maunya gimana? kalo aku sih maunya kita satu kamar sayang...." goda Sam lagi.


"Samuel....!!!"


Maya mendaratkan cubitan di lengan dan pinggang Sam hingga membuat cowo itu meringis kesakitan.


"Ampun May.... aku cuma becanda aja tadi hahaha...!!!"


Sam terkekeh dan meringis kesakitan hingga Maya menghentikan serbuan cubitan mautnya.


"Makanya jangan suka nakal kamu Sam." cibir Maya.


"Iya maaf dear, eh kamu istirahat dulu gih, ntar malam kita dinner bareng." bisik Sam, Maya mengangguk pelan dengan kedua pipi yang merona.


"Kamarnya di lantai atas, terserah kamu pilih kamar yang mana." Lanjut Sam.


"Iya, aku ke kamar dulu ya."


Sam mengangguk menjawab Maya, kembali dia daratkan satu ciuman di puncak kepala gadis itu sebelum Maya melangkah menaiki tangga.


Samuel menyeka anak rambutnya kasar, berusaha mencegah rambut ikal nya menjuntai ke mata kecoklatan itu.


Berulang kali Sam membuang nafas berat, kesempatan dia bersama Maya hanya satu minggu dan setelah itu Sam mau tidak mau harus menjalani pernikahan nya dengan Martha.


Pernikahan tanpa cinta, pernikahan terpaksa karena kehamilan Martha.


Semua gara-gara kebiasaan mabuk Samuel yang akhirnya membuat dirinya terjebak dengan keadaan.


"Aarrghh damned...." erang Sam kesal.


***


^^^Kamu pakai gaun ini ya, ntar malam ada sopir yang akan jemput kamu dan membawa kamu pada ku.'^^^


^^^love,^^^


^^^Samuel^^^


Pesan Sam yang tertulis pada sebuah kartu berwarna putih.


Maya membuka sebuah kotak besar yang terletak di atas nakas ruang depan.


Sebuah gaun berwarna peach yang sangat indah, Sam menyukai warna itu karena menurut nya warna peach sangat cocok dengan Maya, gaun selutut berbahan chiffon dan dengan potongan leher V neck, sangat pas di tubuh Maya.


Maya tersenyum saat mencoba menempelkan gaun itu di tubuhnya, sejenak bola mata gadis itu berotasi ke seluruh ruangan resort.


Ia tidak menjumpai Sam, 'Kemana Samuel?' pikir Maya.


Gadis itu berjalan mengitari seluruh ruangan resort namun hasilnya nihil.


Maya ingat akan pesan Sam kalau akan ada sopir menjemput dia dan membawa nya kepada Sam.


'Oh mungkin dia sudah duluan ke tempat yang dituju oleh Sam.' pikir Maya, gadis itu bergegas kembali ke kamar nya dan bersiap untuk menemui CEO tersebut.


Berkali-kali senyuman nya tertarik penuh di sudut bibir peach Maya.


***


Dinner


Ting tong...


Ting tong...


Beberapa kali bel pintu resort terdengar, Maya bergegas melangkah menuju ujung pintu. 'Pasti itu orang suruhan Sam.' batin Maya.


"Malam nona Maya, saya diminta tuan Samuel untuk menjemput anda." ucap guide yang menghantar mereka ke resort tadi siang.


Maya tersenyum sebentar sebelum akhirnya dia mengangguk, tak lama kemudian gadis itu mengekori langkah sang guide.


Maya memasuki mobil begitu pintu sedan itu dibukakan oleh sang guide bertubuh tambun tersebut.


_____


Sedan hitam itu berhenti tepat di depan sebuah restoran. Maya berjalan menyusuri beberapa lampu kerlap kerlip yang terpasang di sepanjang jalan yang akan membawa dia kepada Samuel.


Gadis itu tersenyum begitu melihat Samuel yang sudah berada di sebuah meja. Tidak ada orang lain disana, di sekeliling Sam hanya terdapat puluhan lampu kecil serta buket mawar putih yang mengitari meja mereka.


Maya terus berjalan, gaun berlayer yang ia kenakan bergerak begitu anggun mengikuti gerakan tubuh Maya.


"Hey, kamu cantik sekali sayang." puji Sam takjub, Sam berdiri dan meraih pinggang Maya lalu mendekap nya erat.


"Aku gak mau ya kamu tinggal lagi, aku takut." rajuk Maya.


Hanya tatapan lembut dan entah apa yang Maya tangkap dari sorot mata Sam malam itu. Cowo itu tidak menjawab perkataan Maya tadi, Sam hanya tersenyum kecil dengan tatapan aneh.


"Kita kan bisa kesini bareng, kenapa mesti kamu duluan? saat aku bangun dan kamu gak ada di resort aku takut Sam, aku kira kamu ninggalin aku tadi." imbuh Maya lagi.


"Maaf sayang..."


Kali ini ekspresi Sam sungguh sangat menyesal.


"Aku kesini duluan untuk mempersiapkan semua nya, maaf ya sudah buat kamu ketakutan tadi." Samuel mencoba menjelaskan, ia raih jemari Maya dan mencium nya lembut.


"Kita makan dulu, setelah itu akan ada lagi kejutan buat kamu." sambung Sam lagi, kedua bola mata Maya mengerjap tak percaya. Kejutan lagi? pikir gadis itu.


To be continue...