
Elano kini mencengkeram kuat rahang Maya, mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu. Bibir tipis El sengaja ia endus-enduskan ke wajah Maya. Hingga gadis itu bisa merasakan deru napas panas Elano yang menyentuh kulitnya.
Sementara tangan El yang satunya merengkuh pinggang Maya untuk semakin mendekat ke tubuhnya.
Setelah seperkian detik Elano puas mengendus sembari menempelkan bibirnya ke kulit putih Maya, kini Elano semakin mengeratkan pelukannya. Mengunci tubuh Maya ke dalam kangkungan kedua lengan kekarnya.
"Lo tahu May? Siapapun tidak boleh membuat Lo hamil kecuali Gue," bisik Elano di telinga Maya, bisikan yang sangat mengerikan. Maya memaksakan menatap Elano nanar. Dengan mata sembab dan merah Maya berusaha mencerna semua kalimat yang El lontarkan.
"A-apa maksud Lo bajingan?!"
Elano tertawa menakutkan. "Lo tau siapa yang telah membunuh bayi kalian?"
Kembali Elano mendekatkan wajahnya, berusaha mencium bibir Maya namun dengan cepat Maya mengelak. Membuang mukanya dari wajah Elano dan berusaha melepaskan diri darinya.
Mendengar semua ucapan pria yang dulu pernah menjadi cinta pertamanya, kini tubuh Maya mulai meremah lemah. Dia hanya terdiam tanpa menjawab ataupun mempedulikan pertanyaan Elano, meski Maya langsung dapat menangkap siapa pembunuh bayinya.
"Lo tau siapa, hah?!" teriak El tepat di telinga Maya.
"Gue..... Gue yang telah membunuh bayi kalian," ucap Elano dengan seringai menakutkan.
"Brengsek Lo El!"
"Hahahaha!! Gue brengsek seperti ini karena Lo May!" sentak El.
Kini Elano menarik paksa tubuh Maya dan mendudukannya di sofa panjang yang berada tepat di depan televisi.
"Duduk, b*tch!" paksa Elano kasar setelah melihat Maya tidak langsung menurut padanya.
"Duduk!!" sentak El lagi.
"Apa yang akan Lo lakukan, bajingan?!" erang Maya begitu Elano mengeluarkan sebuah tali tambang dari saku jaket tebalnya.
"Tidur!!"
"Gak!"
"Tidur gue bilang!"
Maya mengedikkan kedua bahunya ketika mendengar teriakan Elano.
Gadis itu masih bergeming, tak menghiraukan apa yang Elano perintahkan padanya.
"Oh, Lo mau Gue main kasar, hah?!"
Elano mendorong tubuh Maya, membaringkannya di atas sofa panjang. "Lepasin Gue! Gue gak mau!"
"Diam!" bentak Elano, ia ikat tangan dan kaki Maya dengan tali tambang yang ia persiapkan tadi. Erang kesakitan dari Maya pun tidak ia pedulikan, El malahan semakin mengeratkan ikatannya. El pun membekap mulut Maya dengan lakban hitam yang juga telah ia persiapkan. Setelah itu Elano mengangkat tubuh Maya dan membawanya ke lantai atas.
Maya masih mencoba meronta berusaha membebaskan dirinya.
Baru saja beberapa langkah Elano menaiki anak tangga, tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang berhenti tepat di depan rumah yang sedikit minimalis bergaya eropa itu.
Maya terperangah senang, ia yakin pastilah itu mobil Samuel. Dengan sekuat tenaga ia mencoba melepaskan diri dan berteriak meski dengan mulut yang terbekap lakban hitam.
"Eeemm.... Sss-ssaamm...." erang Maya yang berusaha memberi pertanda buat orang yang ia yakini itu Sam.
"Diam!!" sentak Elano sembari mencengkeram pipi Maya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Samuel menarik sebagian alisnya begitu melihat mobil berjenis SUV hitam pekat yang terparkir tepat di depan halaman luas rumahnya.
Sam membuka pintu mobil lalu menurunkan salah satu kakinya, satu buket mawar merah ia raih dari jok kursi depan. Bibirnya melengkung senyuman ketika melihat satu buket mawar merah segar dalam genggamannya. Maya pasti suka, batin Sam.
Kedua netra Samuel membelalak terkejut ketika ia membuka pintu dan melihat istrinya berada dalam ancaman pria lain. "Lo.... brengsek! Apa yang Lo lakuin hah?!" teriak Samuel.
Maya menangis sejadinya melihat Samuel yang berdiri di ujung pintu dengan sebuah buket mawar merah di tangannya dan menatapnya khawatir.
"Lepaskan dia bangsat!" gertak Samuel.
"Hahaha melepaskan dia? Harusnya Lo yang melepaskan dia buat Gue!"
"Bajingan Lo! Kalo Lo berani hadapi Gue jangan libatkan Maya!"
Elano menyeringai licik, memandang sinis ke arah Samuel lalu mengalihkan pandangannya ke gadis yang saat itu berekspresi sangat ketakutan.
Satu tangan Elano meraih pinggang Maya dan menekannya kuat, agar kedua tubuh mereka saling berhimpit. Bibir Elano semakin bergerak menguasai wajah ketakutan Maya. Mencumbu pipi chubby yang terlihat merona oleh blas on namun kini terlihat semakin merah karena marah dan takut.
Sam yang melihat itu semakin bertambah geram, dengan cepat ia melangkah mendekati mereka.
"Lepaskan Maya, bajingan!" geram Samuel sembari mendekat ke arah tengah tangga.
"Berhenti! Atau dia terluka!" Ucap Elano dengan sebuah belati yang entah dari mana datangnya. Tangan kanan El tiba-tiba saja menghunuskan senjata tajam tersebut ke leher Maya.
"Jangan sakiti dia, El. Kumohon..."
"Gue gak akan menyakiti dia, asalkan...."
"Asalkan apa?"
"Asalkan dia tidur dengan Gue di depan mata Lo!" seringai El licik seraya memainkan belati bermata tajam ke pipi hingga leher Maya.
"Brengsek!!" umpat Samuel. Wajahnya kini mengeras sekeras batu. Rahang kotak tegasnya kini pun memperlihatkan gigi-gigi yang saling bergemeretak hebat. Kedua telapak tangannya mengepal kuat dengan sorot mata tajam yang mengerikan.
Sementara Maya semakin meronta dalam kuasa El. Berkali-kali kepala gadis itu menggeleng kuat, air mata yang entah berapa ribu semakin deras membasahi kedua pipinya.
Sorot mata gadis itu terlihat sangat ketakutan, memandang nanar ke arah Samuel.
Samuel masih bergeming, berfikir apakah ia menyerang Elano sekarang juga, namun bagaimana jika Maya terluka nanti? Tetapi melihat ketakutan di kedua iris hitam Maya, membuat Sam seketika itu melangkah maju mendekati Elano.
"Jangan mendekat!"
Perintah Elano kini seakan tidak Samuel hiraukan.
"Berhenti bajingan atau dia mati di tangan Gue, hah?!"
Samuel tetap bergerak, tidak peduli dengan ancaman yang Elano lontarkan barusan.
Melihat jarak yang semakin terkikis, membuat Samuel dengan cepat melayangkan satu tinjunya ke wajah Elano.
Buuggghh....!!
Hingga membuat tubuh pria itu sedikit limbung.
"Sialan! Bajingan!" umpat Samuel seraya melayangkan pukulan keduanya.
Maya yang melihat perkelahian keduanya dengan cepat menjauh dari Samuel dan Elano. Air mata gadis bersurai hitam sebahu itu kini semakin deras ketika melihat Elano membalas pukulan Samuel.
"Sam.....!! Awas....!" teriak Maya begitu dilihatnya Elano hendak menghunuskan belati ke arah punggung belakang Samuel.
Mendengar peringatan dari istrinya, Sam dengan cepat menghindar dan membalikan tubuhnya.
"Gue benci sama Lo, Samuel Perdana! Dari dulu Lo dan keluarga Lo adalah saingan bisnis keluarga Gue!" bentak Elano, ia semakin mengeratkan pegangannya pada belati di tangannya.
"Dan Lo juga sudah merenggut Maya dari Gue!" lanjut El lagi, tangan kanannya masih saja menghunus belati tajam, bersiap kembali menyerang Samuel.
"Lo harus mati....!" teriak Elano, ia gerakkan belati ke arah tubuh Sam namun beruntungnya Sam bisa menghindar.
Buuggghh...!!
Satu pukulan keras dari Sam berhasil mendarat di wajah Elano.
Buuggghh...!!
Kali ini tendangan Samuel ke perut Elano, membuat tubuh El langsung tersungkur.
Sam mendekat, mencoba meraih senjata tajam dari tangan Elano dengan meremas jemari El kuat hingga belati yang semula berada dalam genggamannya kini terjatuh. Dengan cepat Sam meraih belati itu.
Kali ini keadaan berbalik, Samuel mengarahkan belati ke leher Elano dengan pandangan mata tajamnya.
"Cuihh....! Lo jangan macam-macam sama Gue, bajingan!" umpat Samuel.
Hampir saja Sam melukai Elano dengan belati yang El pakai untuk mengancam istrinya, namun ketika ia melihat wajah Maya niat Samuel terhenti.
Buuggghh....!!
Satu kali lagi tendangan keras Sam mengenai perut Elano yang sudah tersungkur di lantai.
Sam menarik keluar ponsel dari saku celananya dan menekan nomor kantor polisi setempat. "Commissariato, ho riferito che c'erano criminali in casa mia. Invia immediatamente le tue truppe qui." (Kantor polisi, saya melaporkan ada penjahat di rumah saya. Segera kirim pasukan kalian ke sini)
Klik
Samuel menutup ponselnya begitu panggilannya telah mendapat respon dari kepolisian setempat.
"Sam......" teriak Maya sembari berlari ke pelukannya.
"Kamu gak papa kan?"
Tanya Samuel sembari memeluk erat istrinya. Maya hanya mengangguk, ia menangis sejadinya dalam pelukan suaminya.
"It's okay honey, sekarang sudah aman," bisik Samuel.
"Dia.... dia yang membunuh bayi kita, Sam."
Lirih Maya hampir tak terdengar.
"I know, honey..." cicit Samuel, kini ia semakin mengeratkan pelukannya, diciumnya kening Maya lembut lalu pandangannya beralih ke arah Elano yang tersungkur di lantai tak berdaya.
to be continue...