MySam

MySam
Bad Thinking or Bad Feeling



Sam tidak menyadari jika sikap yang ia tunjukkan pagi ini begitu menyakiti perasaan Maya. Sebenarnya apa yang ia rasakan saat ini merupakan sebagian dari rasa bersalahnya terhadap tunangannya itu. Kejadian di lift kemarin bersama Freya, telah menimbulkan penyesalan di hati Sam.


Alasan lain, Sam takut jika nanti Maya mengetahui bahwa Sam dan Freya bertemu secara privat berdua di mansion miliknya


____


Untuk menebus rasa bersalahnya, Sam mengajak Maya untuk makan siang bareng. Meskipun tidak dipungkiri ajakan Sam makan siang tetap membuat jantungnya tidak bisa bersikap biasa.


Ada penyesalan di sana, dan ada juga kekhawatiran Sam akan sikap Maya jika nantinya ia jujur kepada Maya tentang Freya.


"Apa kamu sedang tidak enak badan?" tanya Maya kini, melihat Samuel yang hanya duduk dengan wajah gelisah membuat Maya semakin berfikir lebih buruk.


"I'm fine."


Maya tidak merasakan jawaban Samuel adalah kebenaran. Sorot mata coklat yang biasanya begitu tajam, kini seolah tertutup kabut. Pandangannya tidak fokus. Terkadang Sam seperti melamun. Mengerutkan kening kemudian menarik napas panjang seolah meyakinkan dirinya jika semuanya akan baik-baik saja.


Ada sesuatu yang pria itu sembunyikan dari Maya, gadis itu bisa merasakannya.


Makan siang pun berlalu seolah hanyalah pengugur kewajiban bahwa Samuel Perdana harus makan siang dengan Maya.


Namun tak sedikitpun Maya merasakan kehangatan.


Sempat terlihat beberapa kali Sam melirik ke arah ponselnya lalu mematikannya. Sangat aneh.


Begitu pula ketika Sam mengantarnya kembali ke rumah. Hanya keheningan yang menemani mereka berdua. Maya merasa semakin tidak nyaman.


Berapa kali pun Maya mencoba mengenyahkan pikiran buruk tentang Sam. Justru semakin merasuk aneka probabilitas mengapa pria itu berubah.


...


Maya membenamkan kepalanya pada bantalan kasur di kamarnya, mencoba menerka kembali bagaimana Sam bisa berubah begitu cepat. Dari Sam yang hangat dan selalu memberikan banyak perhatian kecil padanya, hingga menjadi Sam yang pikirannya tidak hadir meski tubuh pria itu ada di dekatnya.


Dddrrrtt....ddrrttt....


Ponsel Maya kini tiba-tiba berdering, cepat-cepat ia raih ponsel pintar itu, "Iya, ada apa Tha..? ___ Oke... aku kesana sekarang ya___ Sampai ketemu di sana___ hhmm bye..."


Maya membuang napas berat, sebelum akhirnya ia bangkit dari rebahan. Martha meminta untuk ketemuan di cafe kawasan Pondok Indah. Lebih baik ia keluar walau hanya sekedar menyesap latte atau lemon tea hangat bersama Martha dari pada pikirannya di kacaukan oleh masalah Samuel, pikir Maya.


....


Rabu malam di mansion mewah milik Sam, pria bertubuh atletis itu kembali menghabiskan waktu untuk menghajar heavy bag miliknya. Kali ini bayangan Freya memenuhi kepalanya.


Brengsek!!


Bagaimana mungkin gadis itu terus menerus menerornya. Setiap kali ia bersama Maya, Freya selalu saja berusaha menghubunginya. Ah tidak, gadis itu selalu menghubunginya tanpa kenal waktu. Samuel tidak bisa mematikan ponselnya karena bisa saja ada panggilan bisnis sewaktu-waktu.


Ia menyesal telah memberikan nomor ponselnya pada Freya.


"Damn!" Sam melayangkan hantaman terakhirnya.


Setiap kali Freya berusaha menelepon, setiap itu pula konsentrasinya buyar. Sam tidak berani bicara apapun. Bagaimana jika ia sampai salah bicara lalu Maya mengetahuinya. Gadis itu terlihat mulai mencurigai dirinya.


Tiga hari rasanya seperti di neraka. Hatinya tidak pernah tenang dan selalu kalut tiap kali nomor Freya muncul di layar ponselnya.


Bahkan untuk berjaga-jaga Sam mengganti nama Freya menjadi Fredy, yah siapa tahu Maya melihat layar ponselnya dan Sam berharap tidak ada kecurigaan.


Bagaimana jika Maya membencinya kalau ia sampai ketahuan berdusta. Sam tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Maya kembali mendiamkan dirinya.


Mungkin ini yang dinamakan dengan takut kehilangan.


....


Maya menghentikan sedan abu metalic pemberian dari Anita, memarkirkan tepat di depan sebuah cafe dengan nuansa retro. Maya memasuki cafe dengan sedikit ragu, ini kali pertama ia memasuki cafe tanpa Samuel. Warna hitam dan putih mendominasi cafe tersebut, di sisi kanan dan kiri cafe terpajang beberapa gambar yang lebih berkesan maskulin. Motor vespa, Menara Pizza, dan juga gambar cangkir kopi lengkap dengan biji kopi menjadi pemandangan yang unik.


Maya heran kenapa Martha lebih memilih cafe tersebut di banding dengan cafe yang lebih bersifat girly atau lebih terkesan feminim.


"Hey, maaf aku terlambat. Udah lama menunggu?" tanya Maya dengan mendaratkan cipika cipiki ke pipi Martha.


Martha tersenyum kecil, merengkuh tubuh Maya dan memeluk kecil tubuh Maya.


"Gak kok, aku baru juga sampai. Oh ya kamu sendirian? Mana Sam?"


Senyum Maya perlahan memudar, namun dengan cepat ia bersikap normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


"Sam sibuk," jawab Maya dengan tanpa binar di kedua iris hitamnya.


"Kalian ada masalah? cerita sama aku, siapa tahu aku bisa bantu kalian." Martha meraih punggung tangan Maya dan menggenggam seluruh jemari lentik Maya.


Maya menggeleng pelan, mencoba tersenyum kembali. Martha tahu senyum gadis itu sangat ia paksakan.


"Kami baik-baik saja Tha."


"Oh ya, gimana kabar Samudra? sehat? Aku kangen sama malaikat kecil kamu." Maya mengalihkan pembicaraan, kini senyuman itu benar-benar mengembang di seluruh sudut bibir Maya.


"Samudra baik, tambah comel dia." Martha tersenyum sebentar saat ingatannya kini tiba-tiba fokus pada bayi mungilnya.


"Sebenarnya ini soal Samudra yang ingin aku bicarakan." Lanjut Martha.


Kembali Martha terdiam sesaat, memandang iris hitam Maya.


"Ada apa? Samudra baik-baik saja kan?" kali ini Maya bertanya dengan nada sedikit khawatir.


"Dia baik-baik aja kok, Aku mau minta tolong sama kamu dan Samuel, untuk bersedia menjadi orang tua angkat Samudra," menghentikan sejenak ucapannya. Martha memandang penuh harap ke arah Maya.


"Aku mau banget, tapi kenapa Tha? bukannya masih ada kalian yang menyangi Samudra."


"Hanya kalian yang aku percaya jika nanti suatu saat..." Martha menghentikan ucapannya sebentar.


"Ah sudah lah, aku sangat ingin sekali Samudra juga mempunyai orang tua angkat seperti kalian. Terima kasih May."


Maya mengangguk pelan, tersenyum dan menggenggam erat tangan Martha yang berada di atas punggung tangannya.


"May, aku tahu kalau cinta Sam hanya untuk kamu. Apa pun masalah kalian, aku tahu kalau kalian bisa melewati masalah itu bersama." Ucap Martha lagi.


"Terima kasih Tha. Entahlah saat ini aku merasa Sam berubah," lirih Maya, ia sesap sedikit lemon tea hangat miliknya. Pandangan gadis itu kini menerawang, seperti mencoba mengingat kembali kesalahan apa yang mungkin sudah ia perbuat terhadap Sam.


"Berubah bagaimana maksud kamu May?"


"Entahlah, aku juga gak tau. Sehari sebelumnya ia masih baik-baik saja. Namun kemarin...." menghentikan sejenak ucapannya. Gadis itu terdengar membuang napas kasar.


"Sikap dia ke aku dingin Tha, aku takut jika Sam...." Maya kembali menghentikan ucapannya, mencoba mengusir segala pikiran buruk dalam benaknya.


"Jangan pikir yang macam-macam. Lebih baik kamu tanyakan langsung apa masalahnya." Martha membuat gerakan untuk menenangkan gadis yang saat ini duduk di hadapannya.


"Aku tau kalian pasti bisa melewatinya. Jika kalian sanggup melewati masalah yang aku timbulkan kemarin, aku yakin untuk masalah ini kalian pasti bisa menyelesaikannya." Lanjut Martha lagi. Sorot mata penuh dukungan kini Martha tunjukkan. Usapan lembut di pundak Maya pun ia sematkan untuk memberi kekuatan.


"Thanks, Tha."


"Sama-sama, saat ini hanya kamu satu-satunya sahabat sejati ku, Maya."


"Heee hidup ini aneh ya, padahal dulu aku menganggap kamu musuh terbesar. Tapi kini... kita malah berteman." Martha tertawa kecil, yang di balas gelak tawa juga oleh Maya.


Kedua gadis cantik itu kini kembali saling berpeluk, sesekali mereka tertawa. Menertawakan takdir yang membuat mereka dekat.


Dan untuk sesaat pertemuan ini membuat Maya sedikit bisa melupakan masalah Samuel.


to be continue...