
Maya terbangun dengan kerutan samar di keningnya ketika cahaya lampu menusuk retina matanya. Satu tangannya terangkat menyentuh kepala yang berdenyut hebat. Keningnya mengernyit mendapati perban yang melingkar membungkus kepalanya, juga jarum infus telah tertancap di nadinya.
Sementara setengah sadar, Maya merasa sulit menggerakkan tubuhnya. Terlebih rasa sakit yang luar biasa, menjalar di sekitar punggung hingga pangkal pinggang ketika tanpa sengaja ia mencoba sedikit saja untuk bergerak.
Aku di rumah sakit? batin Maya.
Kilasan kejadian beberapa saat lalu samar-samar melintas dan berputar di otaknya. Saat itu dia hendak memasuki mobil dan tiba-tiba saja sebuah mobil minibus warna hitam yang entah darimana datangnya langsung menyambar kencang tubuhnya hingga mengakibatkan ia terpental beberapa meter dari lokasi kejadian, setelah itu ia tidak mengingat apapun.
Bahkan siapa orang yang membawanya ke rumah sakit pun, Maya tidak mengingatnya.
Maya menyentuh perutnya, terasa aneh karena ia tidak bisa merasakan kehidupan lagi di dalam sana. Dan yang lebih aneh lagi... kenapa saat ini perutnya menjadi lebih rata dan tidak seperti sebelumnya, padahal ia masih bisa mengingat kehamilannya sudah memasuki usia kandungan lima bulan lebih.
Kamu baik-baik saja kan nak? tanya Maya lagi dalam hati seraya mengusap lembut perutnya. Dan...
"Aarrgghh....!!" tiba-tiba Maya mengerang kesakitan yang dirasa ketika tangannya tanpa sengaja menyentuh sebuah luka bekas jahitan di perutnya. Seketika saja wajah Maya berubah panik.
Ya Tuhan apa yang terjadi dengan anakku? batin Maya lagi.
Maya menoleh saat decit pintu terdengar, sosok Samuel melangkah memasuki ruangan dan menghampirinya.
"Sam...." cicit Maya lemah, membuat Samuel dengan langkah sigap mendekatinya.
"Sayang.... syukurlah kamu sudah sadar," ucap Samuel dengan wajah girang, perlahan Sam mendekat ke arah samping ranjang Maya. Meremas erat jemari halus istrinya.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu, sayang." Samuel menahan Maya saat gadis itu mencoba untuk bangun dan berusaha duduk di tepi ranjang rumah sakit.
"Ouch.... sakit Sam...." erang Maya ketika ia mencoba menggerakkan tubuhnya. Rasa sakit yang teramat sangat kembali menjalar di sekitar punggungnya, dan Maya masih mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan anak dalam kandungannya.
"Sayang, kata dokter kamu tidak boleh bergerak dulu. Kamu mau apa? haus? sebentar aku ambilin minum ya."
Dengan sigap Samuel meraih botol air mineral dan juga sedotan lipat untuk Maya. Sam mendekatkan ujung sedotan ke arah mulut istrinya. "Minumlah dulu. Kamu harus banyak minum air putih, May." Ucap Samuel lembut, gelengan kepala kecil dari Maya merespon tawaran dari Sam.
Saat ini yang ada dalam benak gadis itu hanyalah bagaimana keadaan anak dalam kandungannya.
"Anak kita? Bagaimana keadaan dia, Sam?" cicit Maya dengan suara sedikit bergetar.
Samuel terdiam sambil menunduk dalam.
"Maya.... saat ini yang terpenting adalah keadaan kamu. Jangan banyak bergerak dulu, okey...." ucap Sam lembut, ia bahkan tidak bisa membalas tatapan manik mata istrinya saat itu. Sam tidak bisa melihat kesedihan dalam iris hitam istrinya.
"Bagaimana dengan anak kita, Sam? Dia baik-baik aja kan? Kenapa dia tidak bergerak di dalam sini? Sam.... jawab!!"
Dengan sedikit berteriak Maya mencoba mencari tahu jawabannya dari tatapan mata Samuel.
Spontan kedua netra Maya mengembun tipis, ia mengerti ekspresi wajah lemah suaminya.
"Jawab Sam, please...." tanyanya lagi, Maya berharap ada sedikit keajaiban saat ini.
"Dia sudah pergi, May...."
Kedua alis Maya terangkat menatap nanar Samuel. "Maksudnya....?"
Samuel menghela napas, memandang penuh luka ke arah Maya. Air matanya pun tak bisa ia tahan lagi.
"Kamu keguguran, sayang.... kecelakaan itu merenggut buah cinta kita," ujar Sam lirih. Tangannya yang tadinya menggenggam erat seluruh jemari Maya, kini terangkat dan membawa jemari lentik itu kedalam kecupan lembutnya.
Maya terkesikap, mendadak diam. Mulutnya terbuka, tercengang mendengar penuturan Samuel barusan.
"A-apa kamu bilang?" tanya Maya sekali lagi. Ia berharap kali ini telinganya salah mendengar.
"Kamu keguguran, May. Maaf aku tidak bisa menjaga kamu. Ini salah aku, harusnya hari ini aku menjemput kamu, sayang." Sesal Sam dengan wajah tertunduk. Samuel berucap seperti itu, agar Maya tidak menyalahkan dirinya sendiri atas musibah yang mereka alami.
Maya menggeleng tidak percaya, pandangannya mendadak buram dan air matanya mengalir deras begitu saja. "Gak mungkin....!! Kamu bohong kan Sam?! Bilang kalo kamu bohong...!!" tangisan Maya pecah. Air mata yang semakin deras keluar dari matanya membuat kepala Maya semakin berdenyut hebat.
Samuel yang juga tidak bisa menahan tangisnya berusaha memeluk tubuh Maya, ingin mencoba menenangkan istrinya yang saat ini duduk bersandar pada kepala ranjang rumah sakit yang bisa bergerak naik dan turun itu.
"Kita bisa hadapi ini bersama-sama, sayang." Peluk Samuel erat, sementara air mata Maya masih saja mengalir deras dalam dekapan dada bidang Samuel.
Tiba-tiba saja Maya menepis pelukan Samuel dan menarik kerah kemeja suaminya. "Bilang kalo itu bohong, Sam! Bilang kalo dia baik-baik aja! Bilang...!!" teriaknya frustasi.
Sam melepas cengkraman Maya dan menggantikannya dengan sebuah pelukan lagi, namun kali ini Maya memberontak.
"Lepas! Gak mungkin...." tangis Maya semakin memecahkan suasana duka dalam ruangan itu.
"Gak mungkin dia pergi....!! Gak mungkin anakku ninggalin aku, Sam...!!" teriak Maya frustasi dalam pelukan Sam. Jeritan tangis pilunya menggelegar hingga ke luar ruangan, membuat kedua orang tua Samuel dan juga Siska mendengarnya.
Anita dan juga Siska ikut menangis mendengar jeritan tangis Maya di dalam sana, sementara Permana ayah Samuel hanya bisa menunduk lesu. Padahal jika di ingat-ingat lagi betapa bahagianya Maya setelah tahu jika dirinya hamil. Meskipun tingkah bar-bar nya masih saja terlihat selama kehamilan, namun siapa sangka jika kecelakaan itu akan menimpa Maya.
....
Anita yang melihat itu pun langsung bergerak menghampiri Martha dan memeluknya, begitu juga dengan Siska.
"Maya gimana keadaannya, Tant?" tanya Martha kepada mereka berdua setelah Anita melepaskan pelukannya.
Kedua wanita paruh baya itu pun terdiam tak menjawab, namun suara jeritan Maya yang menyakitkan itu terdengar di telinga Martha.
Martha hendak melangkah kedalam namun Harris menahannya.
"Jangan sekarang, sayang." Ujar Harris, sadar jika Samuel tidak berada di tengah-tengah mereka. Tentu saja pria itu tengah menenangkan Maya di dalam sana, jadi Harris menahan Martha untuk memberi Samuel dan Maya waktu berdua.
"Tapi aku khawatir sama Maya..."
"Tunggu sampai Samuel keluar," balas Harris seraya menghapus jejak air mata dari pipi istrinya.
"Kasih mereka waktu," lanjutnya lagi.
Martha kembali terisak, sementara Harris memeluk dan mengusap punggung Martha untuk menenangkan. Rasanya ada penghubung antara Martha dan Maya, meskipun dulu kisah persahabatan mereka berawal dengan permusuhan merebutkan satu pria yang sama, yaitu Samuel. Tapi seiring berjalannya waktu hubungan persahabatan keduanya terjalin begitu saja. Entah dimulai dari mana namun kedua gadis itu sama-sama merasa nyaman satu sama lain.
Tangis Martha tak kunjung berhenti seolah tahu apa yang dirasakan Maya saat ini, apalagi ia pun juga tengah mengandung. Dan Martha tahu ketakutan seorang ibu yang terbesar adalah kepergian sang buah hati dari pelukannya.
Harris mengecup lembut puncak kepala Martha. "Jangan nangis, kasian bayi kita," katanya seraya mengelus lembut perut Martha.
....
Beberapa menit berlalu, suara jerit Maya sudah tidak lagi terdengar. Begitupun dengan Martha yang kini sudah terlihat tenang dalam pelukan Harris.
Suara decit pintu pun terdengar, membuat semua pasang mata yang ada disana menoleh ke arah Samuel yang baru saja keluar dari kamar rawat inap.
Martha spontan menarik diri dan mendekati Samuel. "Maya gimana keadaannya, Sam?" tanya Martha khawatir.
"Maya masih syok. Kabar kegugurannya membuat Maya sangat syok."
Anita dan juga Siska pun ikut merasakan kesedihan Maya, terlebih Martha. Gadis itu bisa merasakan apa yang Maya rasakan saat ini.
"Boleh aku masuk?"
Sam mengangguk pelan. "Masuklah Tha, siapa tau dia bisa lebih tenang bertemu kamu."
...
Martha memasuki ruangan. Di atas Brankar, terlihat Maya tengah meringkuk membelakanginya menatap arah jendela.
Martha mendekat ke arah Maya, gadis itu ikut terpukul melihat sahabat sekaligus patner kerjanya mengalami keguguran.
Padahal mereka sudah membuat rencana untuk sama-sama mencari nama yang pas dan belanja bareng untuk kebutuhan persalinan keduanya.
Bahkan Maya sempat menggoda, jika anak mereka kelak lahir dan berlawanan jenis kelamin, mereka akan menjodohkannya.
Tetapi Tuhan berkehendak lain.
"May...." panggil Martha. Maya lantas menoleh dan seketika itu air matanya kembali mengalir tanpa kompromi.
"Tha.... aku kehilangan anakku.... dan itu salahku Tha...." tangis Maya pilu.
"Jangan ngomong gitu May, kamu gak salah dan ini semua takdir Tuhan, May."
"Seandainya aku gak keluar dulu sore itu. Aku pembunuh anakku sendiri...." jerit Maya
"Kamu bukan pembunuh, May. Itu kecelakaan dan yang salah orang yang nabrak kamu." Martha meraih pundak kecil Maya lalu memeluknya erat, berusaha untuk memberi ketenangan padanya.
"Kamu yang sabar ya. Yakinlah sama kehendak Tuhan. Dia tidak akan memberi cobaan lebih dari kemampuan umatNya sendiri," ucap Martha lagi.
"Kenapa Tuhan mengambil anakku? Dia tidak sayang padaku.... hiks....hiks.... Tuhan tidak sayang padaku....!!!" jerit Maya sembari terus menangis. Tangannya ia hentakkan kasar pada kasur Brankar, hingga tidak mempedulikan infus yang tertancap di nadinya.
"Husstt... Maya.... kamu yang tenang ya, jangan ngomong seperti itu." Martha mendekat meraih pundak Maya yang terbaring lemah, untuk berusaha menenangkan sahabatnya.
"Mungkin ini terjadi karena Tuhan sayang sama kalian. Dan Tuhan pengen dia jadi jembatan untuk kedua orang tuanya ke surga nanti."
Air mata masih terus mengalir jatuh di kedua pipi Maya, tubuhnya melemas. Dia hanya bisa berbaring sembari terus menangisi sang calon buah hati nya. Kehilangan anak yang ia kandung adalah cobaan terberat dari Tuhan.
Perlahan kedua netra Maya memejam, dengan buliran air mata yang terus saja menerobos keluar di kedua sudut matanya. Semakin erat netranya memejam, berharap jika ia terbangun nanti, kabar keguguran ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang esok jika ia bangun hanya akan menjadi sebuah bunga tidur.
to be continue...