MySam

MySam
Rumah Duka



Samuel dan Maya memasuki mansion besar dengan cat serba putih. Begitu saja kenangan akan Martha dan Harris sekelebat lewat dalam benak Maya. Dulu ketika dia berkunjung ke rumah besar itu, selalu ada Martha yang menyambutnya dengan senyuman hangat dan begitu pun Harris. Pria itu selalu mengajak Samuel untuk duduk santai di teras belakang yang bergaya eropa kuno, meski hanya sekedar mengobrol masalah keluarga dan persoalan dengan istri masing-masing namun selalu membuat baik Maya juga Martha tersenyum kecil saat melihat kedekatan kedua pria itu.


Maya melihat sekeliling, banyak tamu dari keluarga Harris. Teman satu profesi ataupun suster-suster dan juga pegawai rumah sakit lainnya yang pernah bekerja bersama dokter spesialis kandungan itu.


Dan juga seluruh karyawan cafe mereka, saat itu pun berkumpul di rumah duka, Maya mengangguk kecil ketika beberapa karyawan cafe yang tersenyum dan menggerakkan kepala mereka sopan ke arahnya.


Tak jarang Samuel pun melihat sahabat-sahabat Martha selama kuliah dulu dan juga sahabat mereka semasa Sma.


Sam mengenal mereka karena dulu dia dan Martha belajar dalam satu sekolah yang sama meski Samuel adalah kakak kelas Martha.


Sam merotasikan kedua netranya, mencoba mencari Permana, sang ayah.


Namun tak berapa lama kedua netra Samuel dan juga Maya menangkap sosok wanita setengah baya yang terlihat begitu terpukul dan sangat bersedih dengan kecelakaan yang menimpa majikannya.


"Bibik...." ucap Maya, ia berjalan mendekat ke arah si bibik, wanita dengan pakaian kebaya dan sanggul kecil yang selalu menjulang di atas kepala rentanya.


"Non Maya...." ucap si bibik dengan isak tangis pilu. Berkali-kali ia mengusap air mata yang selalu keluar dari kedua pelupuk mata tuanya. Dan tangan yang telah terlihat kerutan di sepanjang punggung tangan dan juga jemari itu pun dengan kasar selalu mengusap air mata yang tak henti-hentinya mengalir keluar.


"Non Martha dan Tuan Harris...."


Wanita tua itu menjeda kalimatnya dan kembali terisak pilu.


Dengan cepat Maya memeluk tubuh renta itu. "Bibik yang sabar ya, bibik doain aja Martha dan dokter Harris, semoga mereka berdua di tempatkan di surga."


"Iya non, bibik selalu berdoa buat non Martha dan Tuan besar. Bibik masih belum percaya kalau mereka pergi secepat ini, non..."


Si bibik masih saja terisak pilu.


"Iya bik, aku juga belum percaya jika mereka secepat ini perginya. Sebelum kecelakaan itu mereka bahkan terlihat baik-baik aja dan gak ada firasat apapun."


"B-bagaimana dengan keadaan tuan muda Samudra, non?" tanya bibik yang kini memandang ke arah Maya.


Maya hanya bisa terdiam sembari menatap bibik penuh dengan rasa sedihnya, menggeleng perlahan dan kembali mengusap air mata di sudut matanya. "Samudra masih belum sadar bik, bibik doain saja ya supaya Am cepat sadar dari operasinya."


Si bibik hanya bisa mengangguk sembari terus menangis, baju kebaya hitamnya pun kini terlihat basah oleh tumpahan air mata yang tak henti-hentinya.


"Sayang, kamu mau melihat almarhum untuk terakhir kalinya sebelum mereka di semayamkan?" tanya Samuel begitu ia mendekat ke arah Maya.


"Iya," angguk Maya pelan. Ia pun berpamitan kepada bibik dan berdiri. Gadis itu kini berjalan di sisi tubuh Samuel, dengan mengaitkan erat lengannya ke lengan Samuel.


...


Dalam sepersekian detik, netra Maya semakin panas, ia sungguh merasakan air mata hangat yang menerobos keluar begitu saja.


Melihat Martha bersanding dengan Harris dalam tidur yang panjang. Gadis itu bahkan terlihat sangat cantik, bibir indah yang selalu berwarna pink itu menarik satu senyuman dalam tidurnya dan begitupun Harris. Keduanya terlihat seperti sedang tertidur dan luka-luka akibat kecelakaan pun tidak terlihat jelas di kedua wajah almarhum.


Kembali Maya mengusap kasar air mata yang tanpa bisa ia kompromi lagi.


Samuel mendekat ke arah Maya, merangkul pundak kecil istrinya dan memberikan kekuatan untuknya. "Mereka sudah bahagia di sana, sayang." Ucap Samuel lirih.


Maya mengangguk pelan lalu menenggelamkan wajahnya ke pundak Samuel, menumpahkan seluruh air mata yang mungkin masih banyak tersisa dari kedua netra hitam itu.


....


"Sam, Papa gak lihat orang tua Martha. Coba kamu hubungi om Baskoro." Permana sedikit berbisik ke telinga Samuel begitu ia mendekat ke arah putranya. Anggukan kecil Sam sebagai respon atas permintaan sang ayah. Ia pun lalu berbisik sebentar ke arah Maya, kemudian pria itu beranjak pergi dari duduknya di hadapan kedua jenazah.


Sam terlihat mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan melakukan panggilan disana. Maya melihatnya dari kejauhan, keningnya sedikit tertarik begitu Samuel kembali berjalan ke arahnya namun kemudian menghampiri Permana sembari sedikit berbisik.


Samuel menggeleng perlahan. "Om Baskoro tidak mengatakan apapun, Pah. Ia hanya mengucapkan terima kasih karena saya memberitahu berita duka ini."


Permana menarik napas panjang mendengar penuturan Samuel. Masalah keluarga di masa lalu, setelah sekian lama harusnya bisa Baskoro redam demi almarhumah putrinya.


"Ya sudah, hari ini kita makamkan Martha dan Harris tanpa menunggu Baskoro," ucap Permana, yang hanya dibalas anggukan kepala dari Samuel.


"Ada apa, Suami?"


"Om Baskoro ayah dari Martha tidak bisa hadir di pemakaman."


"Kenapa begitu? Bukan kah ini terakhir kalinya mereka melihat anak mereka?" tanya Maya dengan ekspresi heran.


"Entahlah, sayang."


Sam menjawab sembari menggeleng perlahan, ia kembali membawa jemari Maya dalam genggamannya.


Sementara keadaan sekitar masih terlihat hening, kerabat dan kolega pun masih terlihat menunduk sembari memanjatkan doa sesuai keyakinan mereka. Sementara Pendeta yang memimpin upacara pemakaman masih terlihat khusuk berdoa untuk dua jenazah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seusai pemakaman, Maya dan Samuel pulang kembali ke rumah duka. Maya ingin membantu si bibik untuk menyiapkan segalanya di rumah tersebut, setidaknya sampai para tamu tidak lagi terlalu ramai berada di rumah besar itu.


Meski disana ada saudara dari Harris, namun Maya ingin melakukan ini demi mengingat dan menghormati Martha. Samuel pun mengerti maksud dari istrinya. "Sayang, aku pulang sebentar buat mandi. Kamu perlu aku bawakan pakaian ganti?" tanya Samuel ketika Maya memilih untuk tinggal di rumah duka ketika Sam hendak pulang ke rumah mereka.


"Hm, tolong ya sayang. Bawakan aku pakaian ganti, minta tolong bibik aja yang pilihin, bibik tau kok yang mana harus dibawa."


"Baiklah, aku pulang dulu."


"Sam--" ucap Maya yang membuat langkah Samuel terhenti sejenak.


"Iya?"


"Hati-hati di jalan."


"Hm." Sam mengangguk pelan, mengecup lembut kening Maya sebelum ia beranjak pergi dari sana.


Maya memandang kepergian Samuel, berdoa dalam hati untuk keselamatan sang suami. Kejadian ini sedikit banyak memberikan rasa trauma Maya. Ditambah lagi kejadian sewaktu di Milan, tentang kenekatan Elano untuk menyakiti mereka. Maya sekali lagi berusaha menyingkirkan dari benaknya kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.


Gadis itu pun terlihat membuang napas kasar begitu bayangan Samuel sudah tak terlihat lagi dari ujung pintu mansion.


"Non Maya....."


"Iya bik?"


"Ada pengacara non Martha dan Tuan Harris yang ingin berbicara sama non Maya."


Maya menarik sedikit alisnya. Untuk apa pengacara Martha dan juga Harris ingin berbicara padanya? batin Maya.


"Iya bik, tunggu sebentar."


Maya kini berjalan ke arah bibik dan mengikuti langkah kaki wanita berkebaya tersebut.


to be continue...