MySam

MySam
Kolokan Maya



Untuk kesekian kalinya Maya mencebik kesal karena Bayu tidak membelikan es krim sesuai dengan keinginannya.


"Kok yang ini sih, Bay....! gue kan mintanya---"


"Rasa strowbery dengan taburan coklat dan kacang, kan? itu udah gue beliin sesuai permintaan lo, Maya!"


"Tapi gue maunya potongan coklat, bukan lelehan coklat kek gini, Bayu!"


Bayu menggaruk kepalanya frustasi, terang saja karena ini sudah keempat kalinya ia membeli es krim dan lagi-lagi ia salah karena tidak sesuai dengan apa yang Maya mau.


"May, mending lo bu-nuh aja gue, gue ikhlas daripada lo siksa begini," keluhnya. Pakaian kantornya sudah terlihat acak-acakan, rambutnya juga. Sekarang, Bayu terlihat seperti orang gelandangan daripada orang kantoran.


Maya mencebik, "Gak mau tau, pokoknya ganti. Es krim strowbery dengan potongan coklat dan kacang di atasnya. Titik! dan gak pake lama!" teriaknya.


Sam mengusap punggung Maya untuk menenangkan. "Sayang, aku aja yang beliin ya."


"Gak mau! Aku maunya Bayu yang beliin, Sam... hiks...." rengek Maya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, Sayang, iya..." ujar Sam memeluk Maya dan melirik Bayu tajam.


Bayu mengusap wajahnya kasar, ia hampir saja menangis saking menahan rasa kesalnya terhadap Maya. Kalau saja Maya bukan istri Samuel, sahabat sekaligus bos nya dan juga sahabat dari Airin, kekasihnya, mungkin Maya sudah ia ten-dang ke jurang sekarang juga.


"Bay....." panggil Sam sekarang.


Bayu menjambak rambutnya kesal. "Arrhghhhh...! Lo yang hamilin kenapa gue yang nurutin kemauannya sih?!"


"Hiks..... Lo marah sama gue? Kan ini dedek nya yang minta. Atau gue bilangin sama Airin kalo lo gak mau nolongin gue, iya...?"


Bayu gelagapan. "Gak May, ya Allah! gue gak marah sama lo. Gue marah sama laki lo!" Bayu melirik ke arah Samuel.


"Anjrit lo, Sam!"


"Gaji lo gue naikin tiga kali lipat, deal?" tawar Samuel.


"Deal!" jawab Bayu dan tanpa basa basi lagi langsung keluar dari ruangan kerja Samuel.


...


Samuel kini duduk di pinggiran sofa, seraya mengamati wajah cantik Maya yang kini tertidur pulas. Setelah terjadi perdebatan dengan Bayu beberapa jam yang lalu, akhirnya Maya bisa menikmati es krim yang ia minta, yah meskipun harus mengorbankan Bayu yang harus bolak balik membeli es krim yang istrinya mau. Lalu sesudah istrinya memakan es krim, Maya selalu bergelayut manja dengan kemudian tertidur sangat pulas di pangkuannya setelah gadis itu meninggalkan jejak kecupan di lehernya.


Pagi tadi Maya bersikukuh ingin ikut ke kantor Samuel, sejak kejadian waktu itu Maya ingin memperlihatkan kepada Freya jika tidak ada kesempatan untuknya mendekati Samuel. Dan memang semenjak kehamilannya, gadis itu sangat over protektif dan kolokan terhadap Samuel. Dan Sam tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Pria itu bahkan senang jika Maya selalu ada disisinya tiap saat. Jika Sam merasa khawatir itu dikarenakan ia takut jika Maya bosan berdiam diri di kantornya.


Samuel lalu membawa Maya ke ruang pribadinya, sebuah ruang khusus dengan ranjang berukuran delux dan juga sofa panjang yang nyaman, beberapa nakas terletak di sudut ruang lengkap dengan lampu hias meja yang berbentuk sangat artistik. Kulkas khusus untuk buah dan minuman dingin pun menjadi pelengkap dari ruang khusus Sam.


Maya sempat terbangun dan meminta Samuel untuk menemaninya hingga ia kembali tertidur. Samuel menyelimuti tubuh istrinya lalu meninggalkan ciuman di kening Maya. Meskipun Maya sudah terlelap, Sam masih tetap setia di sampingnya.


Kedua bibirnya terangkat membentuk senyuman, lagi-lagi memuji betapa polos dan cantiknya Maya saat tertidur pulas, sungguh seperti bidadari dari negeri dongeng. Satu tangannya bebas bergerak menuju perut Maya dan mengelusnya perlahan. Ia masih tidak menyangka jika ada kehidupan di dalam sana. Sam berharap jika Maya dan calon bayi yang berada dalam kandungan akan selalu sehat dan terhindar dari segala macam bahaya apapun. Sam lalu membungkukkan badannya untuk memberikan kecupan lembut di perut Maya.


Setelah puas, Sam kembali menutupi tubuh Maya dengan selimut dan melayangkan beberapa ciuman di kening, mata, hidung dan terakhir di ujung bibir Maya. Sam melakukannya dengan lembut dan hati-hati, tidak ingin mengusik tidur Maya dan membuatnya terbangun.


"Good sleep honey," bisiknya. Lalu ia pun keluar kamar untuk melanjutkan pekerjaannya.


....


Sam menutup laptop dan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Pekerjaannya hari ini benar-benar membuatnya pusing. Diliriknya arloji di tangannya, sudah waktunya pulang dan Sam harus membangunkan Maya.


Namun tiba-tiba saja sebuah ketukan pelan terdengar di ujung pintu ruang kerjanya.


"Masuk," seru Samuel, tak selang beberapa detik kemudian sosok Freya sudah menyembulkan sebagian kepalanya di ujung pintu yang terbuka.


"Maya sudah pulang?" tanyanya sembari mengedarkan pandangan mata ke seluruh ruang kerja Samuel.


"Kenapa kamu tanya-tanya soal Maya?" dengusan kecil Sam kini tercipta begitu saja dari mulutnya.


"A-ku.... se-rius dengan perkataan ku waktu itu, Sam." Freya berusaha menatap wajah Samuel yang kala itu kembali membuang mukanya ke arah lain.


"Kamu pasti menganggap aku wanita murahan, iya kan Sam?" tanyanya yang kembali berusaha mendekat ke arah Samuel.


"Aku gak keberatan dengan pemikiran kamu itu. Iya aku memang murahan demi cinta, Sam."


"Fe- jika kamu selalu mengganggu ku seperti ini...." Samuel menjeda sebentar kalimatnya, membuang napas kasarnya dan memandang tajam ke arah Freya.


"Aku bisa memecat kamu saat ini juga, Fe." Samuel berucap dengan nada tegas, membuat Freya spontan terkejut dan mengangkat wajahnya menyorot ke arah Samuel.


"Aku tidak keberatan menjadi teman kamu dan Maya juga. Lagipula apa kamu tidak merasa bersalah terhadap Maya? Kamu ingat? Waktu itu dia lah yang menyuruhku memberikan pekerjaan ini ke kamu, Fe."


Suara Samuel tertahan, ia berusaha untuk tidak berteriak di hadapan Freya. Sam hanya tidak ingin ada seseorang mendengar pembicaraan nya dengan sang sekretaris sekaligus mantan kekasihnya.


"Sekarang kamu pulang lah, aku juga mau pulang," ucap Samuel sembari mengenakan blazer kerjanya dan meraih kunci mobil yang tergeletak begitu saja di atas meja kerja


"Oh ya satu lagi, kamu jangan pernah sengaja menempelkan lipstick kamu di tubuh ku Fe, karena usaha kamu kemarin telah gagal," ucap Sam menambahkan yang terdengar sangat jelas di telinga Freya.


Gadis itu mematung, mungkin Sam telah menilai nya sebagai orang jahat, menghalalkan segala cara untuk mendekati kembali dia. Namun bagi Freya apapun akan ia lakukan demi memberikan masa depan cerah untuk anaknya jika anak itu lahir kelak.


"A-ku mohon Sam.... nikahi aku demi bayi yang aku kandung. Hanya sementara setelah bayi ini lahir."


Ucapan Freya yang tanpa tedeng aling-aling mampu membuat Sam menghentikan langkahnya. Membalikkan tubuhnya kembali ke arah Freya, melihat dengan tatapan mata terkejutnya. Sementara Freya hanya terdiam mematung setelah berucap tadi. Gadis itu sadar jika mungkin dirinya adalah perempuan paling rendah saat ini di mata Samuel, dan ia tidak peduli itu.


"Kamu pulang lah," jawab Samuel yang kali ini dengan nada bicara sedikit lembut. Setelahnya Sam berlalu meninggalkan Freya yang masih terdiam mematung.


....


Sam berjalan ke arah ruangan pribadinya. Apa yang baru saja Freya ucapkan padanya mampu membebani pikiran Samuel. Tidak.... tidak... batin Sam, ia menggeleng beberapa kali untuk mencoba mengusir pikiran-pikiran gila dalam kepalanya.


Sam membuka knop pintu perlahan, pandangannya tertumbuk pada sosok Maya yang terbaring di atas ranjang. Rupanya Maya masih tertidur lelap, Sam melangkah menghampiri Maya lalu duduk di sebelahnya, mengamati wajah cantik istrinya yang masih tertidur kini.


Akhir-akhir ini Maya memang gampang tertidur, walau aktivitasnya hanya makan, tidur dan nonton film kesukaannya. Seperti hari ini, Maya sudah tidur dua kali saat ini. Sesaat setelah ia makan es krim dan kemudian gadis itu terbangun saat jam makan siang lalu kembali meminta Bayu untuk membelikan sushi dan juga sashi mie favoritnya, setelah menghabiskan makannya Maya kembali tertidur.


Sampai-sampai Martha lah yang saat ini lebih terlihat mengurus cafe mereka sendirian dan Martha pun memaklumi keadaan Maya dan tidak pernah mengeluhkan soal itu.


Puas mengamati wajah istrinya, Sam mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke wajah Maya hingga gadis itu mengerang kecil.


"Wake up, sayang." Ujar Sam lalu kembali melayangkan ciuman di wajah istrinya hingga Maya pun membuka matanya.


"Waktunya pulang."


"Pulang?" tanya Maya dengan suara seraknya.


"Iya, kita pulang." Sam mengusap ujung bibir Maya, membersihkan air liur yang meleleh di sudut bibir gadis itu tanpa rasa jijik lalu membantu Maya untuk bangun dari tidurnya.


"Aku masih ngantuk, Sam."


"Aku gendong sampai mobil? lalu kamu bisa lanjut tidur nanti di rumah." Sam menawarkan.


Maya menggeleng. "Eehh.... gak usah, dari sini ke parkiran kan jauh. Tapi tolong beri aku waktu sebentar ya."


"Atau kita nginep disini aja, hhmm?" tanya Samuel dengan nada becanda.


"Kita pulang dan aku jalan sendiri, gak mau aku nginep sini. Serem...." ucap Maya membuat Sam terkekeh geli. "Ya udah, ayo..." jawab Samuel sembari menjulurkan tangannya ke arah Maya.


Yang lalu disambut oleh Maya, mengeratkan genggamannya pada sela-sela jemari nyaman milik Samuel, kemudian berjalan meninggalkan ruangan pribadi Sam.


Sebelumnya, di lorong kantor yang sudah terlihat sepi, Sam membetulkan kembali blazer panjang Maya dan mengeratkan syal yang melingkar di leher gadis itu.


"Istriku harus nyaman dan gak boleh kedinginan," ucap Sam lembut sebelum akhirnya ia kembali mendaratkan ciuman mesra ke bibir lembut Maya, ada pergerakan kecil dari bibir Samuel hingga membuat Maya sedikit susah mengambil kebutuhan oksigennya. "I love you...." bisik Samuel disela-sela ciuman hangatnya, yang kemudian dijawab oleh senyum kecil dari Maya.


...


Sementara di ujung lorong, sepasang netra coklat memandang nanar pemandangan tersebut, gadis bersurai ikal kemerahan itu hanya mematung kaku, tak kuasa menahan cairan bening yang begitu deras menerobos keluar dari semua sudut mata coklatnya.


Sembari mengelus perutnya yang semakin terlihat membuncit.


"Sam......" lirihnya.


to be continue....