MySam

MySam
Sam... Are You Ok?



Netra Maya meremang memandang kepergian Sam. Berharap jika pria yang dicintainya itu tidak melakukan perbuatan yang tak ia inginkan.


"May, kamu mau aku buatkan apa? susu hangat? atau sereal?" tanya Martha begitu ia memasuki kamar Sam. Maya langsung memeluk tubuh Martha, sedikit menangis sesegukan dalam pelukan gadis yang dulu pernah menjadi rivalnya.


"Kamu dan Harris yang menolong aku Tha?" tanya Maya lirih, memandang wajah Martha haru.


"Sam yang meminta aku dan mas Harris untuk memastikan keadaan kamu," balas Martha.


"Sam...?" tanya Maya sedikit heran. Martha mengangguk, meneruskan ucapannya. "Jadi siang tadi Sam menelpon aku, meminta aku dan mas Harris untuk memastikan keadaan kamu di kantor property." Martha menjeda sebentar kalimatnya, memandang lekat manik mata Maya.


"Sam cerita jika kamu menelpon dia dan bilang ada meeting direksi sore ini. Dia khawatir sama kamu Maya, Sam merasa ada yang tidak beres. Tadinya dia mau memastikan sendiri tapi tubuh dia sendiri belum terlalu fit untuk berjalan," lanjut Martha.


"Oh Sam...." lirih Maya pelan, mengusap air mata yang terus saja mengalir jatuh di kedua pipi chubbynya. "Kamu tau, Sam mau pergi kemana Tha?" tanya Maya panik.


"Aku gak tau, May," geleng Martha.


Maya memandang kosong pintu kamar, ia benar-benar khawatir Samuel akan mencari Elano. Sementara tubuh pria itu masih lemah. Maya panik mencari. keberadaan ponselnya. "Kamu cari apa, May?"


"Ponselku Tha, aku mau menelepon Sam. Aku takut dia menemui El, aku takut ia terluka, Tha." Maya panik, meremas jemari Martha yang kala itu mencoba menenangkannya.


"Kamu gak perlu panik gitu, aku yakin Sam tidak akan berbuat bodoh, May."


Sekeras apapun Martha mencoba menenangkan, Maya tetap saja merasakan kepanikan hebat.


....


Beberapa kali Maya mencoba menghubungi Sam namun selalu mesin penjawab otomatis yang berbicara. Kepanikan kini menyerangnya, menggerogoti setiap jengkal pikiran buruk tentang Sam.


"Ada jawaban dari, Samuel?" tanya Martha.


Maya menggeleng, masih berusaha terus menghubungi nomor pria itu. "Gak dijawab, Tha. Aku khawatir sama dia," Maya merajuk, mencoba berdiri dari ranjang berukuran kingsize tersebut. Berkali-kali Martha melihat gadis di hadapannya itu mondar-mandir tak jelas dengan ponsel yang terus saja menempel di telinganya, ekspresi ketakutan dari wajahnya belum juga sirna.


Tiba-tiba ekspresi Maya berubah, sedikit gembira ketika mendengar suara bariton dari seberang.


"Assalamualaikum, Sam... kamu di mana?___Aku khawatir sama kamu___ Please pulang sekarang____ Iya aku mohon kamu berhati-hati___ Aku tunggu kamu___"


klik.


"Gimana, May?"


"Dia akan pulang Tha. Syukurlah..." jawab Maya tersenyum lega. Akhirnya ia benar-benar bisa tersenyum kali ini. " Syukurlah..." jawab Martha.


"Terima kasih Tha, jika tidak ada kamu dan Harris... entah apa jadinya aku," lirih Maya, meraih jemari Martha dan menggenggam erat.


"Aku dan mas Harris juga berhutang banyak sama Sam dan sepantasnya kami membantu yang kami bisa." Martha mengeratkan genggaman Maya, mencoba menguatkan gadis itu untuk tidak terlalu banyak berfikir buruk soal Samuel.


"Makasih, Tha." Maya memeluk Martha erat.


Kini gadis itu merasa sangat merindukan Samuel, rindu yang lebih dari biasanya.


....


Sam menutup telepon dari Maya, membuang napas sebentar kedua matanya melembut, namun beberapa saat kemudian kedua iris coklatnya kembali membulat penuh, memandang sinis ke arah El. Pukulan keras Sam barusan, meninggalkan beberapa luka lebam di seluruh wajah Elano.


"Lo berhenti ganggu Maya. Sekali lagi gue liat lo deket-deket sama Maya...." Sam menjeda kalimatnya.


"Lo akan habis sama gue. Paham lo, hah...?!!" ancam Samuel.


Bugghh....!


Sekali lagi pukulan telak Sam mendarat mulus di pipi kanan El. Membuat seluruh pengunjung ruangan club yang lain memfokuskan pandangan mereka ke arah Sam dan Elano. Dua pria tegap yang saling membalas pukulan.


Sam berbalik meninggalkan El yang masih memegang rahang kotaknya, menahan sakit akibat pukulan keras Samuel. CEO yang saat ini menjadi rivalnya memperebutkan Maya.


Sorot kemarahan Elano masih terlihat jelas. Dengan cepat ia raih botol kaca minuman keras yang tergeletak begitu saja di atas meja bar di dekatnya.


"Prraanggg....."


Elano memecahkan botol berwarna hijau tua itu, membuat pecahan kaca berserakan di lantai bar. Elano memegang erat ujung botol, berjalan cepat ke arah Samuel, dan....


"Aaarrggghhh..... sialan, mampus Lo, bangsat....!!" Elano dengan cepat menusukkan sisa pecahan botol ke pinggang Samuel


Terlambat, Sam tidak bisa menghindari serangan tiba-tiba El dari belakang punggungnya. Setengah sadar Sam meraba pinggangnya, Tshirt putih polosnya kini basah oleh cairan merah pekat. Samar Sam melihat darah yang terus menerus mengucur deras dari pinggang belakang dan menembus perut depannya. Tubuh Sam mendadak limbung, meremang.... samar-samar siluet beberapa bayangan wajah dengan cepat melintas di mata Sam. Sebelum netra coklat itu melihat kegelapan dan ia pun terjatuh di lantai club, malam itu.


Jeritan pengunjung wanita menyeruak, beberapa pengunjung club berhambur mendekati tubuh Sam yang roboh bersimbah darah segar.


....


"Sam....!!!"


Maya terbangun dari mimpinya, terduduk di atas kasur Samuel. Mencoba mengatur napas sebentar.


"Sam...." cicit Maya.


Jam dinding besar di kamar itu menunjukkan pukul sepuluh malam. Kenapa Sam belum juga pulang? padahal beberapa jam yang lalu pria itu berjanji akan segera pulang.


Maya meraih ponsel di atas nakas, melakukan panggilan ke nomor Samuel. Tuutt....tuutt....tuutt...


Wajah Maya kembali panik, khawatir dengan keadaan pria tegap dengan senyuman seindah mentari.


Berulang kali Maya menghubungi nomor Sam namun selalu tidak ada jawaban dari sana, kini Maya benar-benar merindukan suara bariton, khas dari pria itu.


Maya kembali melakukan panggilan, kali ini ke nomor Anita.


"Halo, mama Anita...."


....


Bolak balik Maya berjalan sendirian dari ujung ruang mansion ke ujung yang lain, membuat si bibik melihat gadis itu dengan kepanikan yang juga mendera batinnya.


"Non Maya.... non tenang dulu. Bibik buatin susu hangat ya," ucap si bibik yang berusaha menenangkan.


Maya menggeleng, fokusnya sedikit menghilang. Masih saja mondar-mandir tak jelas di hadapan wanita tua itu. Tangannya masih menggenggam erat ponsel pipihnya, berharap ada kabar soal Samuel.


ting...tong...


Suara bel pintu berbunyi, Langsung ekspresi Maya berubah. Hampir saja ia berlari mendekat ke arah pintu kokoh menjulang itu. "Biar bibik yang bukakan, non." Si bibik mendahului langkah Maya, berlari tergopoh menuju ke arah pintu.


Membuka cepat-cepat knop pintu dan, terlihat ekspresi sedikit kecewa begitu wanita tua itu melihat siapa yang memencet bel pintu barusan.


"Nyonya...." sapa si bibik hormat.


"Apa yang terjadi bik? dimana Sam?"


"Ee... anu Nyah..." jawab si bibik gugup.


"Mama Anita...." Maya langsung berlari berhambur memeluk tubuh Anita.


"Ada apa ini, Maya? di mana Samuel?" tanya Anita heran, melihat Maya dan maid yang nampak begitu kebingungan.


" Maaf, silahkan Nyonya besar masuk ke dalam dulu, supaya non Maya bisa menjelaskan dengan tenang."


Anita mengangguk, meraih lengan Maya dan menggandeng gadis itu memasuki mansion Samuel.


....


Wajah Anita mendadak sayu mendengar cerita dari Maya. "Kenapa kamu gak ngomong sama mama kalau Sam sakit?" tanya Anita kecewa.


"Maaf ma, Sam melarang saya dan bibik memberitahu mama Anita. Kata Sam, ia tidak ingin merepotkan mama," jawab Maya tertunduk.


"Merepotkan apa! Mama ini mamanya Sam, tentu saja mama tidak pernah merasa direpotkan." Anita berbicara lemah, mengkhawatirkan keadaan anaknya.


"Tapi kamu gak apa-apa kan Maya?" tanya Anita, meraih dagu Maya dan mengusap memar yang masih membekas di bibir dan lengan Maya. "May, gak apa-apa kok Ma. Sekarang yang May khawatirkan keadaan Sam." Ia menjeda sejenak ucapannya.


"Kenapa sampai saat ini belum ada kabar dari Sam," lanjut Maya lagi. Anita meraih pundak Maya, menepuk perlahan. Wanita itu pun merasakan perasaan yang sama, berharap tidak ada hal buruk menimpa anaknya.


....


ddrrtt....ddrrttt....


Suara ponsel Anita berdering, dengan cepat ia menarik keluar ponsel dari dalam tas Hermes hitamnya.


"Halo___ iya saya sendiri. Samuel...?___ di rumah sakit?___ baik-baik saya segera kesana. Terima kasih banyak."


klik!


Wajah Maya seketika panik, meremas jemari bik Yem. Seolah dia butuh pegangan agar tubuhnya tidak rubuh.


"Maya, kita ke rumah sakit sekarang!" titah Anita, cepat-cepat ia berdiri dan berjalan keluar mansion. Memasuki pintu mobil putihnya dengan Maya yang mengekor di belakang. Wajah Maya kalut memikirkan tentang Sam. Gadis itu berharap jika Sam baik-baik saja. Maya berusaha menahan air matanya agar tidak lagi terjatuh.


"Apa yang terjadi dengan Sam, Ma?" tanya Maya dengan suara bergetar. Ia bahkan tidak bisa membayangkan hal terburuk saat ini.


"Mama juga gak tau, kita lihat saja sampai tiba di rumah sakit nanti." Anita menenangkan, wanita itu mengendalikan kemudi sedan putih mengkilapnya. Melaju dengan kecepatan normal menuju salah satu rumah sakit swasta terbesar di kota itu.


Terlihat kekhawatiran mendominasi raut wajah Maya, saat ini pikirannya hanya fokus tentang Samuel.


Hanya pria itu.


to be continue....