MySam

MySam
In Love, Always



Samuel berjalan menyusuri koridor demi koridor rumah sakit, sesekali ia terlihat membalas senyuman dan juga sapaan dari beberapa orang suster yang berjalan di sepanjang koridor maupun suster yang bertugas menjaga lobi-lobi rumah sakit.


Seolah suster-suster cantik itu begitu terpana dengan pesona pria bertubuh tegap dengan rambut sedikit ikal itu. Ditambah lagi Sam yang selalu datang ke rumah sakit mengenakan setelan kemeja dengan blazer yang membalut dada bidangnya. Meskipun terkadang Ceo itu memadukannya dengan celana jeans model slimfit, sungguh membuat pesona pria itu sangat di atas rata-rata kriteria cowo ganteng.


Mereka bahkan sampai-sampai menghafal waktu berkunjung Samuel di rumah sakit swasta terbesar di Jakarta itu. Bahkan mereka sengaja berjalan memutar melewati koridor ruang VVIP rumah sakit hanya demi untuk bisa melihat sosok tampan bak dewa Yunani itu. Ah... ada-ada saja kelakuan suster-suster di sini, batin Samuel geli.


...


Sam membuka perlahan knop pintu kamar rumah sakit begitu ia sampai di ruangan Samudra. Bibirnya spontan saja menarik sebuah senyuman, begitu melihat sosok Maya yang tengah duduk di sofa panjang berwarna krem sembari membaca sebuah novel.


"Hey, sayang." Kecup Samuel di kening Maya, begitu ia memasuki dan mendekat ke arah istrinya.


"Hey, suami...." jawab Maya setelah menerima kecupan Samuel dan pelukan hangat suaminya.


"Kamu gak sibuk di kantor?"


"Gak," geleng Sam pelan.


"Capek?" tanya Maya begitu Samuel duduk di sofa panjang dengan mengusap wajah lelahnya.


"Sedikit." Sam tersenyum ke arah Maya sembari satu tangannya memberi isyarat agar Maya mendekat ke arahnya.


"Capek ku hilang begitu melihat kamu, dear...." bisik Samuel begitu Maya duduk dalam pangkuannya.


"Kamu emang paling pinter ngegombal ya Sam," kekeh Maya sembari melingkarkan kedua lengannya ke leher sang suami.


"Hehehehe...." Sam terkekeh geli dan semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Maya yang masih duduk dalam pangkuan.


"Am udah lama tidurnya?"


"Hm, lumayan."


Sam kembali menciumi ceruk leher serta surai hitam Maya yang selalu mengeluarkan aroma segar kiwi. Dan Maya sangat menikmati moment seperti ini, sentuhan yang Sam berikan selalu mampu membuatnya terhipnotis. Maya bahkan selalu tidak bisa menahan hasrat akibat dari sentuhan Samuel, Ah.... jika saja mereka tidak sedang ada di rumah sakit. Pikir Maya geli.


"Kamu kenapa?" tanya Samuel terkekeh menggoda nya.


Maya tersenyum tersipu sembari menggeleng pelan. Wajahnya kini memerah malu. Dan Sam tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya saat ini, menikahi Maya yang hampir selama empat tahun membuat Samuel menghafali sikap dan bahasa tubuh Maya.


"Kamu udah makan siang, dear?" bisik Samuel.


"Belum," geleng Maya.


"Kita ke kantin. Aku juga udah lapar."


"Tapi bagaimana dengan Am?"


Samuel menggandeng tangan Maya, lalu mengusap lembut pipi gadis itu. "Nanti aku bilang ke suster untuk mengawasi Samudra," ucap Samuel lagi.


"Hm," angguk Maya. Ia lalu berdiri dan menyambut uluran tangan Sam, menggenggamnya erat sembari menggelayut manja di lengan Ceo itu.


...


"Kenapa kamu gak makan, hm? Kenapa? Makanan di sini gak enak?" tanya Samuel begitu melihat istrinya hanya memainkan sendok dan garpu tanpa ada niat untuk menyantap makanan yang ada di hadapannya itu.


Maya menggeleng perlahan, "Bukan soal itu."


"Lantas? Oh--mau aku suapin?" tanya Samuel lagi.


Dan kembali Maya menggeleng, kali ini ia memandang lekat ke arah suaminya dengan kedua tangan yang menjadi tumpuan dagunya.


"Kita udah hampir empat tahun lho Sam nikahnya."


Samuel mengangguk sembari masih sibuk memasukkan potongan daging panggang ke mulutnya.


"Hm, gak terasa ya sayang," ucap Samuel dengan binar mata yang begitu cerah. Namun tidak begitu dengan Maya.


"Sejak keguguran itu, aku belum juga ada tanda-tanda hamil lagi," ucap Maya lemah, kepalanya tertunduk dalam. Membuat Samuel menghentikan sejenak kesibukannya memotong daging panggang di hadapannya saat ini.


"Kita jalani aja yang ada, May."


"Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, Sam? Aku juga pengen hamil, aku juga pengen merasakan kembali mengandung anak kamu-Anak kita....!" pekik Maya.


"Bukankah sekarang ada Samudra? Kamu bisa jadi ibu yang baik buat dia, sayang." Sam tetap berusaha membujuk istrinya dan mengembalikan mood baik Maya lagi saat ini.


"Iya, tapi aku maunya anak kita, aku pengen berbakti sama suamiku dan salah satunya dengan mengandung anak kamu," ucap Maya dengan menghembuskan desah napas berat.


"Sayang...."


Kali ini Samuel meraih jemari lentik Maya dan menggenggamnya erat-erat.


"Kamu tau, May? Dengan kamu selalu setia sama aku disaat aku tidak ada di rumah, selalu menemani aku saat aku lelah dan membutuhkan sosok lembut kamu--" Sam menjeda sejenak ucapannya.


Ia kecup jemari lembut itu lalu mengusapnya penuh cinta. "Kamu sudah berbakti sama suami kamu ini, sayang. Dan aku akan selalu mencintai kamu dengan segala kekuranganmu. Aku pun berharap hal yang sama dengan kamu, yang mau menerima segala kekuranganku." Sam melanjutkan, menandaskan semua ucapannya dengan ekspresi wajah serius namun kedua iris coklatnya menyorot Maya dengan penuh kelembutan.


"Maafkan aku, suami--Aku--"


"Sssttt.... gak ada yang perlu dimaafkan. Kamu gak salah, kita jalani semuanya berdua, okey?"


"Sekarang makanlah, mau aku suapin?"


Maya menggeleng, "Gak usah, emang aku anak kecil?" ucap Maya dengan bibir mengerucut lucu.


Gelengan kepala gemas Sam merespon ekspresi lucu wajah istrinya.


......................


 


"Sam, bagaimana dengan Am?"


"Ada bibik yang jagain," jawab Sam pelan.


"Tapi---"


"Tapi apa, hm? Aku kangen kamu malam ini," bisik Sam tepat di telinga Maya, sesekali gigitan-gigitan kecil Samuel bermain di cuping telinga Maya. Sehingga membuat istrinya itu merasakan sensasi geli yang menggelitik.


Samuel masih membopong tubuh Maya hingga memasuki kamar mereka. Sesekali kecupan-kecupan kecil Maya pun mendarat di ujung bibir tebal Samuel dan juga pipi dengan rahang tegas itu.


"Aku masih cemas sama Am."


"Gak ada yang perlu dicemaskan, kondisi Samudra udah stabil dan ada bibik serta suster yang bertugas menjaga Am," jawab Samuel. Setelah sampai di depan ranjang mereka yang berukuran kingsize, Sam menjatuhkan perlahan tubuh Maya.


"Malam ini aku ingin membuat kamu bahagia, sayang." Sam melanjutkan kalimatnya, ia daratkan kecupan kecil pada pipi dan ceruk leher Maya.


Maya mengangguk nurut, tatapannya kini menjadi sangat sayu. Merasakan sensasi di tiap sentuhan yang Samuel berikan.


Tangan Samuel bergerak turun membuka kancing mini dress Maya satu persatu hingga nampak dua bongkahan kembar Maya yang terbungkus lingerie berwarna hitam. Meski mereka telah menikah lumayan lama, bulatan kembar milik Maya masih terlihat sangat memukau. Membulat sempurna dan seolah sangat menantang untuk disentuh oleh Samuel.


Sam mencium dengan sangat lembut bagian atas dua bulatan kembar Maya yang tidak tertutup oleh lingerie dengan potongan kerah pendek. Tangannya meraba punggung Maya guna mencari resleting lingerie milik Maya. Setelah berhasil membukanya, Sam melemparnya ke sembarang arah.


"Punya kamu selalu memukau, sayang," de-sah Samuel dengan suara seraknya. Membuat Maya semakin meremang. Tangannya menarik-narik kaos yang Sam kenakan. Sam pun paham dengan maksud Maya dan langsung membuka kaos yang entah kekecilan atau memang ukurannya sangat pas di dada bidangnya.


Maya berdecak kagum melihat tubuh atletis Sam dari bawah. Suaminya itu memang sangat pandai merawat tubuhnya. Maya selalu membayangkan jika perut sixpack Samuel selalu seperti roti sobek yang sangat lezat untuk ia nikmati.


Tangan Maya bergerak untuk menyentuh perut sixpack Samuel yang membuat gairah Samuel semakin memuncak


Sam mencium bibir Maya. Tangan kanannya membelai pelan bukit kembar Maya yang dirasa sangat pas dalam genggamannya. Membuat Maya mengerang tertahan dalam ciuman Samuel.


Sam turun untuk men**su seperti bayi. Dia memainkan pu*ing Maya dengan lid*hnya tanpa henti. Tak lupa satu tangannya yang lain untuk memainkan sebelah lagi bulatan kecil dari bongkahan kembar Maya.


"Eeuumm... Sam...." Maya tak kuasa menahan erangannya.


Samuel melepas lingerie berbahan chifon yang menutupi aset Maya. Hingga nampak aset Maya yang membuat Sam semakin terpana oleh pesona sang istri.


Samuel melakukan pemanasan terlebih dulu, menekan dan bermain dengan inti sensitif milik Maya. Membuat Maya melayang, leguhan demi leguhan pun tercipta dari bibir Maya, merasakan nikmat yang tiada tara ini. Maya mencoba menahan leguhannya namun kenyataannya ia selalu tidak bisa menahan hasratnya begitu saja disetiap sentuhan yang Samuel berikan.


Sam memandang wajah istrinya yang terlihat begitu cantik dari atas. Bibir Samuel mendekat, kali ini memberikan sentuhan pada bibir peach Maya. Samuel sedikit mendekap erat tubuh istrinya namun tetap menahan tubuh kekarnya dengan salah satu lengannya. Ia hanya tidak ingin Maya kesakitan akibat tertindih tubuh atletisnya.


"Kamu siap, sayang?" tanya Sam ketika melepas pagutan bibirnya.


Anggukan pelan dengan tatapan mata sayu Maya merespon pertanyaan Samuel.


Sam menurunkan celana boxer nya dan membuka seluruh kain yang membungkus asetnya. Terlihatlah pusaka miliknya yang sudah mene--gang.


Sam membelai tubuh Maya mulai dari atas, sedikit ciuman kecil ia daratkan di bibir Maya. Hingga bibirnya beringsut turun dengan gerakan perlahan. Dia mencium perut rata Maya dan terus turun hingga area paling sensitif punya Maya.


Maya membelai dan menangkup wajah Samuel.


"Lakukan dengan perlahan ya, sayang," pinta Maya.


Sam mengangguk. Sam mulai mendorong asetnya yang sedari tadi tidak sabar untuk bertamu kedalam aset milik Maya. Baru beberapa centi dan Sam sudah merasa sensasi luar biasa karena Maya menje-pit miliknya erat. Samuel semakin melakukan pergerakan dengan perlahan. Tidak ingin menyakiti Mayanya.


Maya meringis merasakan sensasi atas pergerakan Samuel. Ia suka dengan cara Samuel yang bermain lembut. Sam memainkan lembut bukit kembar Maya dan mengecup bibir Maya untuk mengalihkan rasa sakitnya.


"Aaahh.... sshhh...."


"Kamu suka, sayang?" tanya Samuel.


Maya mengangguk, kedua tangannya kini melingkar pada leher Samuel, berusaha membuat Sam lebih meningkatkan tempo permainannya.


"I love you, honey...." bisik Sam disela-sela pergerakannya.


Kamar mereka pun kini dipenuhi oleh erangan demi erangan dan suara kedua aset yang saling bertumbuk. Nafas mereka berdua memburu kencang dan semakin hangat.


to be continue....


....


Othor notes:


Jujur buat ++ scene disini sangat susah acc, males klo2 reviewnya lama dn gk lolos😁