
"Bik- bibik....!!" seru Maya begitu ia turun dari tangga.
Seorang perempuan tua berkebaya dan bersanggul dengan tergopoh-gopong sedikit berlari ke arah Maya.
"Iya non?"
"Tuan Sam dimana bik? Aku bangun dia udah gak ada?"
"Eemm-itu non--tuan muda tadi pagi-pagi benar sudah berangkat ke kantor." Bibik menjawab dengan ekspresi bingung. Tidak seperti biasa Samuel sang tuan mudanya pergi tanpa sepengetahuan oleh Maya, majikan perempuannya.
"Owh....." lirih Maya lemah, netranya kini sedikit meremang.
"Tuan muda gak titip pesen buat aku, bik?"
"Tidak tu non," geleng bibik.
Kembali wajah lesu Maya terlihat jelas di mata bibik.
"Ya udah, bibik lanjut aja kerjanya."
"Baik non."
Si bibik lalu berpamitan dengan sedikit membungkukkan badannya ke arah Maya.
Sementara Maya berjalan menuju taman yang ada di halaman belakang. Masih mengenakan piyama bermotif bunga-bunga kecil, Maya duduk di kursi taman dekat dengan rimbunnya pohon mawar merah yang kali itu tengah berbunga lebat.
Maya sedikit berfikir dan mengingat-ingat kembali. Apa ia telah melakukan kesalahan? Sehingga Samuel terlihat seperti tengah menjauhi dirinya.
Apa Sam mengetahui pertemuan dia dengan Dean waktu itu? batinya lagi.
Maya menarik keluar ponsel pipih dari dalam saku piyama yang ia kenakan. Melakukan panggilan ke nomor Samuel.
Beberapa kali Maya melakukan panggilan ke nomor suaminya, dan lagi-lagi selalu mesin penjawab otomatis yang menerima panggilannya.
Maya membuang napas kasar, baru kali ini ia merasa jika dia lebih menyukai saat-saat Samuel marah menggunakan nada tinggi padanya. Daripada Sam lebih memilih mendiamkan dia seperti sekarang ini.
Hingga jemari lentik Maya pun menuliskan beberapa kalimat melalui aplikasi pesan singkat.
^^^Sayang, aku berbuat salah ya? Aku minta maaf ya, plz....^^^
Maya mengirim pesan tersebut ke nomor Samuel dan berharap akan segera mendapat jawaban dari suaminya.
Beberapa menit hingga jam tidak ada respon dari pesan tadi, dan itu membuat Maya sangat panik.
Hingga tiba-tiba ponsel pipih berwarna putih itu pun berbunyi dengan nada panggilan.
Dengan semangat Maya meraih ponsel di atas meja taman.
Namun satu detik kemudian wajahnya berubah lesu. Bukan Samuel yang menghubunginya. Bukan nama suaminya yang tertulis di layar ponsel pintarnya.
....
Maya memasuki cafe miliknya dan langsung disambut hangat oleh beberapa karyawan yang ia temui. "Bu Maya, apa kabar?" tanya seorang karyawan perempuan begitu ia berpapasan dengannya.
"Alhamdulillah baik, oh ya gimana keadaan cafe? Imel menangani manajemen dengan baik kan?"
"Alhamdulillah semua lancar, Bu Maya. Cafe juga gak pernah sepi dan pembayaran gaji juga tidak pernah ada masalah."
Maya mengangguk sembari tersenyum kecil. "Oh ya syukur kalo gitu."
"Emm.... hari ini Imel udah datang?" tanya Maya lagi.
"Keliatannya belum, Bu."
"Ya udah kamu lanjutkan pekerjaan kamu ya."
"Baik, Bu Maya, saya permisi...." pamit sang pegawai perempuan yang berusia sekitar sembilan belas tahunan itu.
"Eh Risa...." Maya tiba-tiba menyela beberapa langkah pegawai tadi yang mulai menjauh darinya.
"Iya Bu?" Risa pun mendekat dengan sedikit membungkukkan badannya hormat.
"Nanti kalo ada yang mencari saya, namanya Dean Sanjaya tolong suruh tunggu di kursi dekat dengan bunga krisan itu ya."
"Baik, Bu," angguk Risa patuh.
"Kursinya di tandai aja Sa, biar gak ditempati pengunjung lain."
"Iya Bu Maya, nanti akan saya beri tanda ordered."
Maya mengangguk sekali lagi dan kembali berjalan menuju ke ruang kerjanya yang terletak di lantai dua cafe tersebut.
Dan belum ada tanda-tanda Samuel menghubunginya, pesan yang ia kirimkan pagi tadi pun belum berwarna centang biru.
Untuk kesekian kalinya Maya menarik napas panjang. Harus ada kesibukan untuk melupakan sejenak masalah ini. Ia pun membuka laptopnya dan mengecek semua laporan pemasukan dan pengeluaran cafe yang telah dikirimkan oleh Imel, pegawai kepercayaannya.
Maya merasa sedikit penat dengan laporan angka-angka yang tertulis di layar laptop miliknya, hingga sebuah potret bergambar wajah dua anak laki-laki kecil, Maya tarik dari dalam dompetnya. Ia melihat dengan seksama wajah kedua bocah dalam gambar tersebut.
Sam-Dean.... apakah kalian ada hubungannya dengan potret masa lalu ini?
Gumam Maya.
Ddrrttt..... drrrttt....
Ponsel Maya bergetar di atas nakas. Telepon dari seseorang, dan Maya terlihat mengangguk ketika menerima dan bicara dengan sang penelfon.
"Okey aku turun sekarang," ucap Maya.
....
Maya mempersilahkan Dean untuk kembali duduk, setelah pria itu sejenak berdiri ketika melihatnya berjalan mendekat.
"Kamu sendirian? Tidak bersama Samudra?"
Maya menggeleng. "Am masih ada di sekolah," jawabnya singkat.
"Bagaimana kabar kamu, May?"
"Baik."
"Oh-syukurlah." Dean sedikit tersenyum. Meski ia sedikit merasa tidak menyukai akan sikap Maya padanya kali ini.
"Dean....." Maya memulai bicara terlebih dahulu, meski akhirnya ia menjeda sejenak kalimatnya.
"Kamu tau kan jika Sam mempunyai seorang kakak laki-laki yang hilang dua puluh tahun yang lalu? Aku yakin kamu pun menyelidiki akan hal itu, iya kan?"
Dean mengangguk. "Aku tau."
Maya kembali menarik napas panjang, dan menatap lensa mata Dean dengan lekat.
"Aku ingin tau, apa warna mata kamu memang kebiruan seperti itu? Atau...."
"Hehehehe...." Dean tertawa kecil menyela perkataan Maya.
"Aku pakai kontak lens May."
"Benarkah? Kenapa?"
"Sejak kecil mataku mengalami gangguan syaraf ringan. Mirip seperti ketika kamu mengalami minus di mata kamu."
"Oh---"
"Itu sebabnya aku lebih suka memakai kontak lens daripada kaca mata," terang Dean lagi.
Maya kini tersenyum kecil.
"Sebenarnya alasan aku pengen ketemu kamu, tidak ingin membicarakan hal-hal gak penting seperti ini May." Dean kembali mencoba agar Maya tidak mengalihkan point penting dari pertemuan mereka.
Maya menghela napas sebentar.
"Kamu udah tau jawaban aku, Dean."
Dean menautkan kedua alisnya tak mengerti.
"Tapi perasaan aku serius sama kamu May."
"Aku sudah menikah Dean, aku mempunyai Sam dan Am." Maya menjeda sebentar.
"Dan juga anak ini, aku memiliki orang-orang yang sangat aku cintai." Maya menunjuk ke arah perut buncitnya.
Dean membisu, seolah tak sanggup lagi untuk berkata-kata. Dia memang mencintai perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Namun Dean tidak akan pernah tega menyakiti perempuan bersuami itu. Cinta Dean tidak se-picik itu.
"Aku yakin perasaan kamu ke aku hanya sesaat Dean."
"Kamu salah, May...." jawab Dean dalam hati.
"Percayalah suatu saat nanti, entah kapan--- kamu akan menemukan seseorang yang benar-benar tulus mencintai kamu." Maya melanjutkan ucapannya.
Dean Sanjaya hanya bisa membisu. Seorang Dean yang hebat, yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Kali ini telah kalah di hadapan seorang perempuan bersurai hitam legam.
Maya lalu meletakkan sebuah potret di atas meja dan menggeser potret tersebut ke arah Dean.
"Ini adalah foto masa kecil Sam dengan Daniel, kakak Sam yang hilang." Maya menggeser foto lama itu ke arah Dean.
"Aku mendapatkan foto ini dari mama Anita kemarin." Ucap Maya lagi.
Dean melirik sekilas ke arah foto tersebut dan entah demi apa, kedua netra berlensa kebiruan itu membola penuh.
"Fo-tto.... ini...." Dean terlihat begitu terkejut melihatnya.
"Kenapa Dean?"
"I-ni fo--tto-- Samuel dan kakaknya?" Dean seolah tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.
"Iya, ini foto masa kecil Samuel dan Daniel."
"Gak--- gak mungkin---!!" Dean beberapa kali mencoba menolak fakta yang terungkap.
"Kenapa Dean?"
Dean menggeleng berkali-kali.
"Kamu pasti salah, May...."
Dean berdiri sembari terus menggeleng menolak jika foto yang Maya tunjukkan adalah foto Samuel dan sang kakak yang hilang dua puluh tahun silam.
Tanpa bisa berfikir lagi, Dean pergi menjauh dari Maya.
"Dean.....!!"
Bahkan panggilan Maya pun tidak Dean hiraukan.
Maya tetap berusaha mengejar pria itu.
"Dean tunggu.....!!"
"Dean....!! Please.... masih ada yang ingin aku tunjukan...!!" Teriak Maya sekali lagi.
Akhirnya membuat Dean menghentikan langkah panjangnya.
Tepat di parkiran cafe, Dean kembali berbalik menghadap Maya yang saat itu tengah berjalan perlahan ke arahnya.
"Selama ini aku merasa kamu dan Sam mempunyai hubungan di masa silam, Dean." Maya menjeda sejenak guna mengatur kembali napasnya.
"Bekas luka di lengan kanan kamu, dan kunci di kalung kamu yang kamu sendiri gak mengingat kunci apa itu....." Maya melanjutkan.
"Menurut cerita Sam, Daniel dulu pernah mempunyai bekas luka di lengan kanannya akibat ia berkelahi dengan beberapa anak berbadan besar yang mengganggu Sam." Maya menjelaskan, memandang ke arah Dean yang masih terdiam seolah begitu terkejut akan bukti-bukti yang Maya ungkap.
"Dan kunci yang ada di dada kamu itu, kemungkinan besar adalah kunci gudang saat kamu menyelamatkan Sam dulu. Mungkin kamu ingin Sam selamat dari penculikan itu."
Dean kini menatap Maya tak percaya, namun entah kenapa ada semacam beberapa keping memori yang tiba-tiba saja berkelebatan dalam benaknya.
"Aku sangat berharap bisa menemukan orang yang sangat berarti dalam hidup Sam di masa kecilnya."
Dean terdiam, seolah apa yang terjadi saat ini adalah sebuah kejutan besar.
"Dan orang itu adalah Daniel, kakak Sam." Maya melanjutkan kembali ucapannya.
"Entah kenapa aku merasa yakin jika kamu adalah Daniel."
Dean memandang Maya nanar.
"Ini helaian rambut milik Sam." Maya menyodorkan sebuah plastik bening dengan beberapa helai rambut milik Samuel di dalamnya.
"Kamu bisa mencari jawabannya dengan rambut ini, Dean."
Tidak ada respon dari Dean, pria itu hanya mematung dengan pandangan mata ke arah lain.
"Please...." Maya kembali memohon agar Dean mau menerima plastik kecil dari tangannya.
Hingga akhirnya Dean merespon tanpa berkata apapun. Pria itu hanya meraih plastik bening dari tangan Maya dan memasukkan benda itu ke dalam saku blazer mahalnya.
Dean berjalan begitu saja meninggalkan Maya, kepalanya tertunduk lemah.
BMW X1 berwarna hitam mengkilat itu pun melaju kencang meninggalkan cafe milik Maya.
Maya masih berdiri mematung memandangi kepergian Dean, kembali ia menghela napas panjang.
.....
Sementara di seberang jalan-- seseorang melihat Maya tengah berbicara berdua dengan Dean dari dalam mobil mewahnya.
Iris kecoklatan itu menyala, seolah ada percikan amarah di sana. Tangannya yang terkepal kencang, berkali-kali memukul bundaran stir kemudi.
Hingga kedua netra itu kini terlihat berkaca-kaca.
to be continue....