MySam

MySam
Kenekatan Freya



Sam menghentikan sedan hitam mengkilatnya tepat di depan rumah minimalis Maya. Membukakan pintu untuk Maya dan kembali memeluk tubuh mungil itu.


"Aku akan menjemputmu besok pagi."


Sam membelai pipi Maya lembut, enggan untuk beranjak dari sana. Namun akhirnya ia melepaskan sentuhan dan tersenyum sekilas. "Masuklah."


Maya menggeleng.


"Tidak, kali ini biarkan aku yang melihatmu pergi." Ia menatap lembut ke arah Sam, membiarkan senyuman merekah sekali lagi dari sudut bibirnya.


Senyum Sam melebar dan mundur perlahan sebelum berbalik dan menuju mobilnya. Maya menatap hingga sedan hitam itu hilang di balik tikungan, meninggalkan rasa kehilangan pada hatinya. Setidaknya, besok mereka akan bertemu lagi.


Setelah beberapa saat menatap jalanan kosong. Maya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Namun, sebuah sedan berwarna merah berhenti tepat di depan pintu pagar rumahnya membuat Maya urung melanjutkan langkah.


Pintu bagian kemudi terbuka dan sosok berambut merah bergelombang sepanjang punggung, keluar.


Gaun yang sewarna dengan mobil, terbelah hingga paha, memamerkan kaki jenjang sementara coat warna capuchino memberikan kehangatan. Bibirnya penuh dipulas dengan lipstick merah merona. Tangannya begitu anggun ketika membuka kacamata hitam Gucci yang bertengger di hidungnya, menampilkan sepasang mata lentik di baliknya.


Maya terkesikap, gadis itu adalah Freya. Untuk apa dia mendatanginya?


Maya tak berkedip memandang gadis tinggi semampai di hadapannya. Meski ini adalah pertemuan keduanya, baru kali ini Maya memperhatikan betul sosok Freya. Sangat cantik, batin Maya. Pantas saja dulu Samuel sangat tergila-gila pada dia, batin Maya lagi.


Dengan dada bergemuruh lebih karena kesal, Maya menghampiri Freya.


"Jadi lo tunangan Samuel?" Freya tersenyum sangat manis saat mereka berhadapan. Sebuah senyuman manis namun terkesan sinis Freya tujukan untuk Maya.


"Iya dan sebentar lagi kami akan menikah," jawab Maya singkat.


"Berapa pria yang sudah lo manfaatkan?" lanjut Freya lagi, semilir angin malam yang saat itu begitu dingin tidak mengugurkan sikap anggun Freya. Tampaknya dingin tak mengganggu meski Freya mengenakan gaun yang memamerkan kaki jenjang indahnya. Nyaris tak terlihat kecemburuan atau amarah di wajah Freya. Namun, Maya sadar betul gadis di hadapannya saat ini.


"Apa maksud kamu?" Maya menjawab pertanyaan Freya dengan pertanyaan balik.


Freya berdecih sekilas lalu kembali memasang wajah sok innocence nya.


Memandang Maya dari ujung rambut hingga kaki, pandangan yang terlihat sedikit meremehkan.


"Dulu Elano sekarang Samuel, dua CEO muda kaya raya yang jadi incaran lo. Gue tau gadis macam lo sengaja kan mencari mangsa kelas kakap buat naikin drajat lo, hah...?!" wajah sinis Freya memandang Maya tajam.


"Anda salah menilai saya." Maya menjaga jarak dalam kalimatnya. "Samuel lah yang pertama kali mendekati saya."


Maya berusaha menjaga integritasnya. Ia tidak boleh kalah tenang. Memang ia tidak semenakjubkan Freya yang mampu membuat siapapun yang melintas menoleh sejenak. Namun ia tak boleh gentar. Samuel mencintainya bukan Freya.


"Dan soal Elano... bukankah ia sudah bersama kamu sekarang? Aku tidak pernah mengharapkan Elano lagi." Lanjut Maya.


"Oh..." Freya mengangkat alis kanannya yang tersulam sempurna.


"Bukan hanya jelek tapi kamu juga bo_doh berkhayal kalau Sam benar-benar mencintai kamu."


Maya merasakan hatinya mengkerut dan nyeri. Namun napas yang halus dan tenang tetap dia pertahanan. "Saya tidak butuh penilaian Anda. Lalu ada keperluan apa sampai Anda mendatangi saya?" Maya diam sejenak.


"Atau Anda susah-susah datang ke sini hanya untuk berbicara soal ini?" Maya melanjutkan ucapannya, ketenangan masih terlihat di raut wajah gadis itu.


"Gue kesini hanya mau memberi lo peringatan!" Freya meletakkan tangannya di pinggang. Badannya yang tinggi menjulang di atas Maya. mau tidak mau memberi aura intimidasi yang kentara. "Lepaskan Samuel, lo jauhi dia atau lo akan gue buat nyesel pernah mengenal gue," bisik Freya dengan aura membunuh.


Maya menarik napas berusaha menenangkan dirinya. Seenaknya saja gadis di hadapannya saat ini menyuruhnya menyingkir. Samuel lah yang dulu pantang menyerah mendekatinya, bahkan segala rintangan yang datang silih berganti dalam hubungannya dengan Sam tidak pernah membuat Samuel gentar dan menjauh darinya.


"Kamu tidak perlu mengancam, saya rasa dari sikap anda ini sudah ketahuan siapa yang terlihat murahan dan bo_doh di sini."


Maya melengkungkan bibir peachnya dengan sempurna.


Terlihat Freya berdecih kesal, aura menakutkan kembali hadir dalam sorot mata kecoklatan miliknya.


"Lo..." Freya naik pitam, tangan kanannya langsung terangkat ke atas.


Maya menyadari jika Freya hendak melayangkan tamparan ke arahnya. Maya dengan cepat menggeser tubuhnya ke belakang.


Tangan Freya yang diayun sekuatnya hanya bisa memukul angin. Tubuh tinggi yang menggunakan stiletto 12 sentimeter itu kehilangan keseimbangan.


Mengakibatkan tubuh Freya menjadi limbung ke arah kanan dan jatuh tertelungkup di atas jalan beraspal kasar, gadis itu gemetar memegangi lengan dan dan kaki jenjangnya.


Rintihan terdengar jelas. Freya berusaha bangkit tapi rasa sakit membuatnya kembali jatuh. "Sialan!!" Freya mengumpat tapi tak banyak suara terdengar. Saat itulah Freya melihat darah yang keluar dari kening, tangan kanan serta kaki jenjangnya yang menghantam jalanan beraspal kasar tadi.


"Da-darrraahh....!" Suaranya mencicit. Tiba-tiba bola mata coklat itu terbalik ke atas dan memutih.


Freya jatuh pingsan.


Maya bergegas menelepon 119 berharap ambulans segera datang.


Ia tak berani macam-macam pada Freya. Maya terlihat panik tapi gadis itu meyakinkan diri sendiri untuk menunggu tenaga medis datang, daripada memperparah keadaan.


Maya tidak menyukai gadis yang terkapar di atas trotoar beraspal itu. Namun, ia tak bisa membiarkan ada selebgram terkenal terjungkal di depan rumahnya. Bisa-bisa ada orang yang melihat dan memelintir berita dan menjadikannya sebagai gadis beringas yang menyerang seorang selebgram cantik. Membayangkan hal itu saja membuat Maya bergidik ngeri.


Untungnya ambulans datang lebih cepat dari dugaan Maya. Kini Freya sudah mendapatkan pertolongan pertama dan meluncur ke rumah sakit terdekat.


"Sam, aku butuh bantuanmu. Freya jatuh di depan rumahku dan sekarang ia tidak sadar di rumah sakit." Maya setengah terisak. Gadis itu masih merasa ketakutan dengan kejadian itu.


Samuel lebih mencemaskan Maya yang terisak daripada Freya. Ia mengutuk Freya yang telah lancang berani mengganggu Maya hingga mendatangi rumahnya.


"Sekarang aku akan kesana, sayang. Kamu tenanglah." Sam segera memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas menyusul Maya juga Freya.


.....


Di depan ruang UGD Maya mondar-mandir tak karuan. Bagaimanapun ia merasa bertanggung jawab dengan keadaan ini. Andai saja Maya tidak menanggapi semua ucapan Freya malam ini dan jika saja Maya menuruti semua kehendak gadis berambut kemerahan itu mungkin saja kejadian buruk tidak menimpa Freya


"Maya..."


Suara bariton khas yang sedari tadi dirindukan Maya kini dengan jelas terdengar. Gadis itu langsung menoleh dan berhambur ke dalam pelukan hangat Sam.


"Freya terjatuh dengan sepatu stiletto. Kepalanya membentur aspal trotoar depan rumahku dan ia pingsan." Maya menangis dalam dekapan Samuel. Bayangan jika kejadian ini akan menjadi kasus pidana yang mungkin saja akan membawa nama Maya menjadi tersangka tindak penyerangan membuat Maya kalut.


Belaian Sam di puncak kepala Maya menguatkan gadis itu. "Kamu tenang aja, sayang. Freya akan baik-baik saja dan kamu tidak bersalah." Samuel berbisik lembut. "Aku akan selalu ada di samping kamu, okey....? everything is gonna be ok, baby." Sam semakin mengeratkan pelukannya. Membuat hati Maya sedikit merasa lega.


Maya mempererat pelukannya, menenggelamkan kembali kepalanya ke dalam dada bidang Sam.


"Seandainya kubiarkan dia menamparku pasti tidak akan begini kejadiannya."


Sam terbelalak, dijauhkannya tubuh Maya sebentar. Tangan kokohnya sedikit gemetar kala membelai pipi pucat Maya. Amarah menggeliat jelas menyusuri dada dan naik ke kepalanya.


"Wanita ular itu berani menamparmu?" Samuel tidak bisa menyembunyikan getaran kemurkaan yang terdengar dalam setiap kata yang didesiskan.


Maya menggeleng pelan. "Aku menghindar, makanya, dia.... dia..." Maya tak mampu meneruskan kata-katanya. Sam langsung menariknya kembali dalam dekapan. Maya terlalu baik, bahkan yang dikhawatirkan oleh gadis itu saat ini adalah keselamatan Freya.


Rahang Sam mengeras seiring janjinya untuk menyelesaikan masalahnya dengan Freya secepatnya. Kalau perlu ia tak segan membuat gadis bermuka dua itu menyesal karena datang kembali di kehidupannya dan mengganggu hubungan dia dengan Maya.


"Tenang saja sayang, semua akan baik-baik saja. I promise you," bisik Sam lembut.


to be continue....