
Martha memasuki mansion Harris, mendekap erat tubuh mungil malaikat kecil mereka. Sementara Harris menuntun Martha dengan sangat hati-hati hingga gadis itu dapat merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang nan empuk yang berada di taman belakang.
"Sini biar bibik yang gendong, non," si bibik mendekat ke arah Martha dan juga majikannya. Martha menggeleng pelan lalu tersenyum sebentar. "Gak usah bik, aku masih ingin bersama anakku." Si bibik mengangguk, kemudian membawa ke atas beberapa tas perlengkapan Martha selama di rumah sakit.
Harris masih saja berada di samping gadis itu, memegang pundak Martha dan menuntunnya ke arah sofa panjang dan nyaman. Menempatkan tubuh Martha yang masih lemah untuk duduk disana. "Hati-hati sayang," ada nada khawatir dari suara Harris. Kembali mencium puncak kepala gadis itu dan beralih mencium kedua pipi mungil bayinya. Memandang lekat dan haru wajah mungil yang berada dalam dekapan hangat Martha. Kedua mata mungil itu masih saja terlelap, hidung kecil yang nanti pastinya akan bertengger sempurna di wajah tampan anaknya, ketika ia sudah beranjak dewasa. Harris tersenyum takjub, kembali mencium gemas pipi sang baby, lalu beralih ciuman hangatnya ke arah bibir Martha.
"Aku bahagia saat ini, ada kamu dan juga anak kita yang menyempurnakan hidupku," lirih Harris, kembali membelai anak rambut Martha yang jatuh menjuntai menutupi wajah cantiknya.
"Aku juga bahagia om, kamu telah menyadarkan aku tentang arti cinta sesungguhnya," jawab Martha, membalas ciuman Harris di bibirnya lalu kembali menyatukan kedua kening mereka.
"Kamu masih aja panggil aku Om, sayang?" tanya Harris dengan wajah sedikit cemberut. "Maaf, lalu aku harus panggil apa?" sedikit mengedikkan bahunya, Martha tersenyum menggoda ke arah Harris.
"Terserah kamu, yang penting jangan Om." rajuk laki-laki itu.
"Iya kan sayang?, masa mommy panggil dady Om sih," kini Harris berbicara kepada bayinya, seolah makhluk mungil itu mengerti semua ucapannya.
Martha mengulumkan senyuman kecil melihat tingkah Harris, mengelus lembut rambut Harris yang masih berada dalam dekapan Martha bersama buah hati mereka.
"Ya udah, mommy panggil dady dengan sayang aja ya? atau abang?"
Harris mendongak sebentar, memandang wajah Martha yang kini nampak lebih berisi namun tetap terlihat sangat cantik. "Terserah kamu sayang," sedikit kecupan kembali Harris daratkan di ujung bibir Martha dan kecupan itu beralih ke pipi bayi yang terlihat sangat tenang berada dalam dekapan Martha.
"Aku suruh bibik untuk nyiapin makanan ya. Kamu kan belum makan dari tadi saat di rumah sakit." Kini Harris berdiri, berjalan ke arah pantry dan mencari wanita setengah baya bersanggul yang selalu menyiapkan segala kebutuhan rumahnya.
___
Harris memandangi raut wajah Martha saat terlelap, ia masih tidak percaya jika gadis yang kini berada di atas tempat tidurnya baru saja melahirkan anaknya, dan sebentar lagi gadis itu akan menjadi istrinya. Dia gadis yang sama dengan beberapa tahun yang lalu, ketika Harris sangat menaruh hati padanya namun ia takut untuk mengungkapkan, yang dulu seorang gadis kecil dengan segala sifat manja dan periangnya.
Namun kini gadis itu telah menjadi seorang wanita yang telah melahirkan darah dagingnya. Harris merutuki semua kelakuan bejadnya dulu, suka bergonta ganti tidur dengan banyak model cantik atau pun wanita bayaran. "I love you baby..." bisik Harris lembut di telinga Martha.
Membuat tubuh gadis itu menggeliat dan tersenyum dalam tidurnya. Seolah mendengar apa yang baru saja Harris bisikkan padanya.
Perlahan kedua netra Martha membuka sedikit, ia tarik senyuman di kedua sudut bibirnya begitu melihat sosok sempurna Harris yang berada di sampingnya dan memandangi wajahnya dengan lembut, membelai rambut gelombang kemerahan miliknya.
"Aku membangunkan kamu ya?" tanya Harris, mengelus lembut pipi Martha dan menyisipkan ke belakang telinga, anak rambut yang bermain di wajah cantik Martha.
"Enggak kok, aku emang sudah lama tidurnya," jawab Martha. Kini gadis itu mencari lengan Harris untuk ia dekap.
"Kamu lapar, sayang? aku buatin susu hangat?"
Martha menggeleng pelan, semakin mengeratkan dekapannya ke tubuh kekar Harris. Menenggelamkan kepalanya dalam pelukan dada bidang laki-laki itu.
"Aku hanya ingin memeluk anakku, bisa tolong kamu bawakan dia kemari?" jawab Martha lembut.
"Tentu saja, sayang."
Harris bangkit dari tidurnya, menuruni ranjang berukuran kingsize dan melangkah menuju box bayi tak jauh dari ranjang mereka.
Meraih tubuh mungil itu mendekapnya erat, lalu menggedong tubuh mungil itu dan membawanya ke dalam dekapan Martha.
"Hello baby... mommy kangen sama kamu," mencium kening dan pipi anaknya lalu kembali mendekap hangat putranya. Harris ikut membelai lembut pipi merah muda bayi mereka.
"Kamu udah punya nama yang bagus buat anak kita?" tanya Harris, masih membelai lembut bayinya lalu beralih mencium kening Martha.
"Samudra,"
"Samudra Baskoro Pratama," lanjut Martha.
"Aku suka aja nama itu, unik dan aku mau anak kita nanti punya cinta dan hati seluas samudra," jelas Martha.
"Bukan karena kamu ambil dari nama Sam kan?" selidik Harris, dengan wajah curiganya.
"Ya enggak lah, sayang. Kamu kok jadi cemburuan gitu?" Martha tersenyum, semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang Harris.
"Kamu milikku sayang, wajar kalau aku cemburu," dengus Harris.
"Untuk sekarang dan selamanya aku cinta sama kamu, gak ada lagi Samuel."
Martha mendekatkan bibirnya, mencium ringan pipi Harris.
"Kamu memberi nama ayah kamu didalam nama anak kita?"
Kali ini Martha mengangguk, wajahnya kini meremang. Terlihat kesedihan di mata gadis itu. "Iya, biar anak kita nanti tahu kalau dia punya kakek seorang Baskoro, pengusaha dan seorang pekerja keras." Tersenyum sebentar dan kembali membelai lembut wajah bayi mungilnya.
"Dan Permana, diambil dari nama kamu sayang. Kamu gak keberatan kan?"
Harris tersenyum, mencium kecil puncak kepala Martha. "Tentu saja tidak, aku senang nama belakang ku menjadi nama belakang anak kita," ucap Harris.
___
"Maaf non, ada surat buat non." ucap sang bibik yang berjalan dengan tergopoh ke arah Martha.
Martha mengernyit sebentar, menerima sebuah amplop putih panjang dari tangan bibik.
Mengulurkan bayi mungilnya ke arah si bibik dengan hati-hati.
"Tolong sebentar ya bik." ucap Martha yang dibalas oleh anggukan kepala patuh dari si bibik.
Martha membuka amplop putih tersebut, Dari pengadilan... batin Martha. Membacanya dengan ekspresi serius, hembusan napas lega keluar dari mulut Martha. Senyuman kecilnya kini mengembang sempurna. "Surat dari siapa sayang?" tanya Harris begitu ia turun dari anak tangga.
"Pengadilan," jawab Martha.
Menyodorkan ke arah Harris agar laki-laki itu bisa membaca isi surat yang baru saja ia terima.
"Aku sudah sah bercerai dari Sam," lanjut Martha. Dia tersenyum kecil ke arah Harris.
"Itu artinya kita sebentar lagi bisa menikah?" jawab Harris girang, Martha mengangguk pelan, menerima pelukan dari Harris dan beberapa kecupan di puncak kepalanya.
Tiba-tiba wajah Martha terlihat muram, kesedihan nampak di iris coklat gadis itu. "Kenapa sayang? kamu gak seneng?" Pertanyaan Harris ia jawab dengan gelengan kepala. "Aku sedih papa sama mama masih marah sama kita," lirih Martha.
Harris mendekap bahu kecil Martha, menempatkan kedua tangannya disana. " Dengar sayang, kamu gak sendiri, ada aku dan Samudra yang akan melindungi kamu. Aku yakin Baskoro dan juga Elsi nantinya akan memaafkan kita dengan restunya pada kita." Harris meyakinkan, memberi semangat pada Martha.
"Kamu gak usah sedih lagi ya, kasian Samudra kalau kamu banyak bersedih." Harris tersenyum menghibur, mendaratkan banyak ciuman kecil ke wajah gadis itu. Martha tertawa kecil, merasa geli dengan apa yang Harris lakukan.
Harris benar, ada dia dan Samudra anaknya yang akan selalu menjadi kebahagiaan buatnya. Karena sekarang ini hanya ada mereka, Harris dan Samudra Baskoro Pratama.
Saat ini mereka telah bersatu menjadi sebuah keluarga kecil, keluarga yang tidak pernah gadis itu duga sebelumnya. Ia telah menjelma menjadi seseorang yang lebih dewasa kini. Bukan lagi Martha yang dulu, gadis manja dan egois. Harris telah merubah semuanya, laki-laki itu juga telah memberikan segalanya. Cinta, kebahagiaan dan juga Samudra...
Samudra Baskoro Pratama.
to be continue....