
Melbourne Australia
El melihat sekitar ruangan club malam ternama di kota Melbourne, hentakan musik dan kilauan lampu disco yang mendominasi dalam ruang gelap membuat El sedikit membolakan mata ketika melihat tiap wajah pengunjung club malam tersebut.
Cowo tinggi berwajah Asia itu langsung menuju ke meja bartender.
"One martini, please." Ucap El ke bartender bule berambut kemerahan.
Sang bartender hanya mengangguk dan sedikit tersenyum kecil ke arah El.
Malam ini El merasa sangat jenuh di apartemen, dia berniat mencoba club malam yang paling terkenal di kota Melbourne, The Toff In Town. Club yang sedikit lebih elegan dan tidak sembarangan orang yang dapat masuk ke tempat itu.
El mendapat rekomendasi club tersebut dari salah seorang rekan bisnisnya.
El masih mengarahkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan The Toff In Town malam itu.
Hingga akhirnya bola mata Elano menangkap sosok gadis yang sedang asik menari dengan seorang sahabat nya.
Tubuh gadis itu meliuk sangat luwes mengikuti semua alunan musik yang disuguhkan oleh DJ club.
El mengembangkan sedikit senyuman kecil di bibirnya. Sungguh gadis yang sangat bersemangat, batin El.
***
Rupanya gadis tersebut menyadari jika El mengamati semua gerak geriknya, sesekali manik mata gadis itu membalas lirikan El serta senyuman kecil pun tertarik di sudut bibir merah nya.
"Mel, lo tau siapa cowo yang duduk di sudut itu?" Tanya sang gadis ke sahabatnya yang kini masih menari mengikuti alunan music DJ.
"I don't know Fe, why?" Tanya Mela sahabat Freya dengan ekspresi sedikit tak peduli.
"He's always looking me all the time." Jawab Freya sambil tersenyum kecil.
"Dia suka sama lo kali, kenapa gak coba lo deketin?" Ucap Mela kali ini.
Freya sedikit mengedikkan bahunya lalu kembali melirik ke arah El yang saat itu masih saja memandangi Freya lekat.
"Ok I will try it." Kata Freya kemudian, gadis itu menghentikan tariannya dan berjalan mendekat ke arah meja El.
Freya berjalan mendekati El dengan senyuman kecil nya, Elano sedikit terkejut melihat gadis yang dari tadi diam-diam dia perhatikan kini sudah duduk tepat di depan matanya.
"Hey, sorry are you Chinese? Or Korean maybe?" Tanya Freya tanpa basa basi begitu gadis itu sampai di meja El.
Elano tersenyum kecil. "I am Indonesian." Jawab El dengan sedikit senyuman.
Freya membolakan kedua matanya lalu tersenyum girang.
"Seriously? I am Indonesian too."
Jawab Freya antusias. "Lo dari kota mana? Jakarta? Bandung? Surabaya?" Kembali Freya bertanya dengan ekspresi muka yang sangat menarik.
Gadis itu sungguh penuh semangat dan entah kenapa El menyukai semangat itu.
"Jakarta dan kamu?" Kini El balik bertanya.
"Aku juga dari Jakarta, senang nya bisa ketemu orang Indo malam ini." jawab gadis itu semangat, dia lalu menjulurkan tangannya ke arah El.
"Gue Freya, lo bisa panggil gue Fe."
Senyuman semangat masih saja terukir di kedua sudut bibir Freya.
"Elano, panggil El aja." Balas Elano.
Freya menyambut jabatan tangan El dengan senang hati.
Kini kedua manik mata mereka saling menatap lekat, iris yang sama-sama berwarna kecoklatan.
"Lo kuliah disini atau..."
"Gue kerja." Potong El, Freya hanya mangut-mangut pelan.
"Keren, gue disini kuliah dan yah... kurang dua tahun lagi sih kuliah gue." Balas Freya.
Elano masih memandangi manik mata gadis di hadapannya kini. kedua netra yang beda dengan Maya, batin El.
"Lo datang ke club sendirian?" Kali ini Freya kembali membuka obrolan, El mengangguk pelan. "Iya gue sendiri, lagi suntuk di apartemen so gak ada salahnya mencoba cari hiburan." Jawab El sedikit tertawa kecil.
El mengangguk cepat menyetujui ucapan freya.
"Lo sering main kesini?" Kali ini pertanyaan El sedikit menyelidiki. Anggukan kepala Freya dengan cepat tercipta saat mendengar pertanyaan El tadi.
"Iya gue lumayan sering lah kesini sama temen-temen. Tapi kebetulan malam ini hanya gue dan Mela sahabat gue yang sempet main yang lain pada sibuk sama cowoknya." Kekeh Freya kali ini.
Sungguh El bagai terhipnotis melihat pesona Freya malam itu.
Gadis cantik dengan tubuh proporsional, tidak terlalu tinggi juga pendek. Kulit putih bersih dan sepasang mata oriental berwarna kecoklatan yang sangat jernih. Rambut ikal kemerahannya dia biarkan jatuh tergerai seakan sangat cocok saat menempel di bahu putih Freya yang malam itu mengenakan rok pendek dan tanktop warna macha.
"Lo sendiri kenapa gak bareng sama cowo lo?" Tanya El kali ini.
Pertanyaan yang basa basi atau mencoba menyelidiki? Ah El gak peduli.
"Hahaha lo ngejek gue? Gue belom punya cowo." Freya sedikit tertawa ke arah El.
Elano sedikit terkejut dengan jawaban Freya lalu membalas senyuman gadis itu.
"Serius? Lo cantik kenapa belum punya cowo?"
"Hahaha." Freya kembali tertawa kecil, lagi-lagi El sangat terpesona dengan tawa gadis dihadapannya yang begitu natural tanpa dia buat-buat.
"Emang cewe cantik gak boleh gitu jomblo? Lagian gue gak cantik, biasa aja kok." Jawab Freya.
Fix... satu lagi gadis ini sungguh low profile.
"Menurut gue lo cantik, serius." Ucap El.
"Thanks." Jawab Freya tersenyum.
"Sorry El, gue harus pergi ke teman gue, dia bete deh kayaknya." Balas Freya tiba-tiba sambil menunjuk ke arah Mela yang kini terlihat sedikit kesal karena ditinggal sendirian.
"Okey, nice to meet you Fe."
"Me too, see you El."
Freya melambaikan tangan sebelum melangkah jauh meninggalkan meja Elano.
El masih melihat jika Freya menoleh ke arahnya setelah langkah gadis itu mulai jauh.
Elano tersenyum sendiri, sungguh gadis yang menarik, pikir El.
"Kenapa gue gak minta nomor telfonnya tadi?" gumam El pelan, cowo itu mendesis kesal begitu menyadari kebodohan yang baru saja ia lakukan.
***
Elano kembali memasuki apartemen miliknya, malam ini dia ingin segera berbaring diatas bed berukuran king size dan melepaskan semua kelelahan yang menderanya.
Tiba-tiba bayangan Freya kembali hadir dalam pikiran El, berkali-kali El berusaha menghapus semua jejak gadis itu namun entah kenapa begitu sulit.
Bahkan kini bayangan Maya seakan mulai hilang entah kemana.
"Freya..." guman El pelan dengan senyuman kecil yang kini terbentuk di kedua sudut bibirnya.
Kepala El kini serasa sedikit berat, mungkin akibat minuman alkohol yang tadi dia minum, El merebahkan tubuh atletis nya ke atas tempat tidur dan tak lama kemudian netranya perlahan terpejam.
"Fe..."
Cowo itu mengigau menyebut nama Freya, pesona gadis itu kini sudar benar-benar menguasai kepala dan hati El.
***
Freya mengenakan bathrobe warna putih lalu duduk di tepian balkon apartemen miliknya. Gadis itu perlahan mengembangkan senyuman kecil saat mengenang kembali kejadian di club hari ini.
'El.... cowo yang menarik.' Gumam Freya.
"God damned kenapa gue gak minta nomor telfonnya tadi."
Kali ini Freya berdecih kesal akan kebodohan yang dia lakukan.
"Well, semoga kita bisa bertemu lagi El." Kembali Freya bermonolog, senyuman kembali tertarik sempurna di kedua sudut bibirnya.
>>>> To be continue