
Anita melangkah masuk ke dalam ruangan kerja Permana. Sesaat setelah meletakkan tas ber-merk miliknya, perempuan itu pun mengernyit heran dengan melemparkan satu pertanyaan ke arah Permana.
"Mas, aku tadi melihat seorang pria muda keluar dari kantor kamu, itu tadi siapa? Kok wajahnya gak asing ya?" tanya Anita sembari berdiri di sisi kanan suaminya yang tengah sibuk dengan urusan kerjanya.
"Oh-mungkin yang kamu lihat tadi Dean Sanjaya. Putra dari Sanjaya Hadiprawirya." Permana menjawab dengan netra yang masih fokus ke arah laptop tipis di hadapannya.
Anita ber-oh-ria saat mendengar jawaban dari suaminya.
"Kok aneh ya mas?"
"Aneh kenapa?" Permana kali ini mengalihkan sementara perhatiannya ke arah Anita.
"Kok aku seperti tidak asing dengan pemuda itu ya?"
Permana tersenyum kecil, "Mungkin saat kamu melihat dia, kamu teringat dengan Samuel, anak kita," jawab Permana sambil lalu.
Sebenarnya Permana pun merasakan hal yang sama dengan apa yang istrinya itu rasakan. Entah kenapa saat berhadapan dengan Dean Sanjaya, ia seperti pernah mengenal pria itu sebelumnya.
Apa benar karena wajahnya yang sedikit mirip dengan Samuel? pikir Permana.
"Mas......" ucap Anita yang sedikit mengejutkannya.
"Eh-i-ya?" gagap Permana.
"Iya juga ya, mungkin karena aku teringat dengan Sam. Lagipula udah lama dia gak main ke rumah kita." Kata Anita lagi.
Permana kembali tersenyum lalu mendekat ke arah istrinya dan memeluk pundak Anita dari belakang. "Sam mungkin lagi sibuk dengan pekerjaannya, apalagi saat ini Samudra juga lagi sakit, dan Maya pun sedang hamil kan...." ucap Permana menenangkan.
Anita kembali mengangguk, sedikit tersenyum ketika membalikkan badannya menghadap Permana. "Bagaimana jika kita ke rumah Samuel nanti sore?"
"Iya, nanti kita kesana," angguk Permana. Senyuman hangat pria itu kini melengkung ke arah istrinya.
"Oh ya kamu tumben ke sini, sayang?"
"Hm-aku tadi ada seminar di hotel sebelah perkantoran milik kamu, ya udah aku mampir aja dan sekalian mau ngajak mas makan siang bareng." Anita meletakkan kedua tangan nya ke pundak Permana lalu menepuk-nepuk pelan jas yang suaminya kenakan.
"Oh-ya udah kita makan siang sekarang? Kita ke kantin atau ke restoran sebelah?"
"Lebih baik ke kantin kantor aja ya?"
Permana kembali mengangguk dan meninggalkan pekerjaannya. Keduanya pun berjalan bergandengan keluar dari ruang kerja.
....
"Oma....!! Opa....!!" pekik Samudra begitu melihat sosok Permana dan juga Anita memasuki pintu utama mansion milik Sam.
"Halo cucu oma yang paling ganteng.... muuaahh..." cium Anita di kedua pipi Samudra.
"Hey nak, uuhh....!! kamu tambah gede ya sekarang. Opa sampai gak kuat gendong Am, hahahaha...!!" kini giliran Permana yang memeluk Samudra dan membawanya ke dalam gendongan lengan laki-laki setengah baya itu.
Meski telah berumur lima puluh tahunan, Permana terlihat masih sangat kuat menggendong Samudra.
"Mah-- apa kabar?" Samuel kali ini mendekat ke arah kedua orang tuanya dan mencium punggung tangan Anita, disusul dengan cipika cipiki di pipi wanita tersebut.
"Kami baik-baik aja," jawab Anita.
Sam kali ini memeluk Permana dan juga meraih punggung tangan laki-laki itu dan menciumnya hormat.
"Maaf kami belum sempat ke rumah kalian," ucap Samuel bernada segan.
Anita dan juga Permana terlihat tersenyum sebentar lalu menepuk-nepuk pelan pundak anaknya.
"Gak apa-apa nak, kami mengerti kok," jawab Permana.
"Oh-iya bagaimana keadaan Am? masih sering pusing-pusing?"
"Udah agak mendingan, pah. Sudah beberapa hari ini sakit di kepala Am tidak lagi kumat." Samuel kini mengajak kedua orang tuanya memasuki mansion miliknya.
Sementara Samudra masih saja bergelayut manja pada lengan Anita.
"Oh-iya Sam, Maya mana? Dia dan bayi kalian sehat-sehat aja kan?" tanya Anita di sela-sela langkah kaki mereka.
"Maya ada di kamar tapi sebentar lagi juga turun kok, mah."
"Eh biar mama aja yang ke kamar kalian."
Samuel mengangguk menyetujui.
Anita kini melangkah menaiki anak tangga melingkar dan diikuti Samudra di sampingnya.
Setelah melihat Anita telah sampai pada lantai dua rumah tersebut, Permana dan juga Samuel berjalan menuju ruang keluarga. Permana duduk pada salah satu sofa panjang dengan sandaran empuknya.
"Bagaimana bisnis kamu, Sam?"
"Baik Pah, semuanya lancar." Sam menjeda sebentar kalimatnya.
"Papah mau minum apa? kopi? teh?--- maaf, Sam gak punya bir ataupun wine. Papah tau sendiri kan Sam udah gak minum minuman itu."
Permana mengangguk sembari tersenyum kecil.
"Iya papah tau."
"Papah minta kopi aja, tapi jangan kemanisan ya nak." ucap Permana.
Samuel mengangguk pelan dan berlalu menuju pantry untuk meminta tolong pada bibik untuk membuatkan satu gelas kopi hitam untuk ayahnya dan juga teh hangat buat Anita.
..
"Cafe milik Maya gimana?" tanya Permana lagi, begitu Sam berjalan kembali ke arahnya.
"Baik, cafe itu tetap ada pemasukan meski sekarang Maya jarang terlibat langsung ke sana."
Permana manggut-manggut mengerti sembari menyesap gelas kopi di tangannya.
"Oh ya Sam, apa benar kamu punya project dengan perusahaan milik Dean Sanjaya?" tanya Permana.
"Iya," angguk Sam akhirnya.
"Tapi-- bagaimana papah tahu jika dia klien ku? Yah.... bisa dibilang klien besar aku," tanya Sam heran.
"Tadi siang, Dean Sanjaya ke kantor papah dan menawarkan untuk menanam modal di proyek besar yang sedang papah tangani."
Samuel kembali mengernyit heran.
"Jadi dia juga udah masuk ke perusahaan papah?"
Permana mengangguk merespon.
"Memang kenapa Sam?"
"Hem---??" Sam seperti balik bertanya namun ia lalu menggeleng perlahan.
"Enggak--- Sam cuma heran aja darimana dia tahu soal proyek papah yang butuh investor baru?"
Permana mengedikkan bahunya. "Sam, bagaimana pun juga Sanjaya mempunyai banyak koneksi dan tentu saja dengan mudah mereka tahu soal proyek-proyek besar."
"Iya, masuk akal sih pah." Sam menjeda sebentar kalimatnya.
"Tapi apa papah tahu jika perusahaan Wijaya Group mengalami deflasi tinggi? mereka bahkan mengalami pailit."
Permana mengangguk kecil.
"Iya papah tahu hal itu, dan papah rasa Wijaya telah melakukan keputusan bisnis yang salah, itu aja...."
Kembali Permana menyesap gelas kopi di tangannya.
"Tapi Sam rasa--- jika ini semua ada kaitannya dengan Dean Sanjaya, pah."
Permana tersenyum kecil mendengar ucapan Samuel. Laki-laki itu merasa jika Sam terlalu berlebihan menilai Dean.
"Oh-come on Sam--- Sanjaya dan Wijaya tidak pernah ada masalah bisnis sebelumnya. Setahu papah, keluarga Sanjaya juga tidak pernah ikut campur dalam bisnis property dan juga tekstil milik Wijaya."
"I don't know, dad.... it's just my feelings, that's all," jawab Samuel.
Di tengah perdebatan keduanya, terlihat Maya dan juga Anita berjalan menuruni anak tangga. Anita menggandeng erat lengan Maya, menjaganya agar tidak terjatuh saat menuruni anak tangga.
Sementara Samudra terlihat berlari menuruni anak tangga mendahului keduanya.
"Am...!! Hati-hati... !!" pekik Maya khawatir.
Samudra hanya terkekeh kecil ketika telah sampai di lantai dasar dan berada dalam pangkuan Samuel.
"Am....!! mommy gak mau ya Am lari-lari kayak gitu lagi. Bahaya tau gak?" omel Maya dengan wajah cemberut ke arah Samudra.
"Iya mommy... maafin Am," ucap Samudra dengan penuh rasa bersalahnya.
Membuat baik Permana dan juga Anita tersenyum melihat wajah tanpa dosa bocah itu.
"Am gak boleh diulang lagi, promise?" ucap Samuel tegas.
Samudra lalu mengangguk patuh, dengan ekspresi wajah bersalahnya.
"Good boy.... ini baru cucu opa..."
"Cucu oma juga dong...." Anita menimpali ucapan suaminya. Yang lalu diikuti dengan senyuman dari Samuel dan juga Maya.
Permana meraih lengan Samudra dari pangkuan Sam. Kali ini bocah itu beralih posisi berada dalam pangkuan Permana.
"Am ini mengingatkan papah sama kakak kamu....."
Ucap Permana yang kelepasan berbicara.
Spontan saja ucapan Permana membuat Anita berekspresi lain. Tak terkecuali dengan Samuel dan juga Maya.
Ketiganya seketika itu memasang wajah terkejut dengan ucapan Permana.
"A-apa maksud ucapan papah barusan?" tanya Samuel dengan nada serak.
Ia tidak bisa memahami ucapan ayahnya barusan. Berkali-kali ia berusaha mencerna kalimat itu, berkali-kali pula ia semakin tidak pernah bisa memahaminya.
"Jadi--- see-la-ma ini.... Sam punya kakak?" tanya Samuel dengan suara parau nya.
Mata kecoklatan itu kini memancarkan kilatan amarah dan ketidakpercayaan terhadap kedua orang tuanya.
"Eh-gak-bbukan-gitu Sam, Maksud papah tadi---" gagap Permana.
Sementara Anita masih mematung karena syok atas apa yang diucapkan oleh Permana beberapa detik yang lalu.
"Gak pah, Sam denger sendiri tadi." Sam menjeda kalimatnya.
Netranya kini memandang nanar ke arah Anita.
"Ma....!! apa bener Sam punya kakak? Jawab ma....!!" seru Samuel sedikit berteriak.
"Sam...." cicit Maya, ia mendekat ke arah Samuel, memegang bahu kekar Sam dan berusaha menenangkan suaminya.
"Kamu tenang dulu ya..."
"Gak May, gimana aku bisa tenang jika selama ini orang tuaku sendiri telah berbohong, hah...?!!" teriakan Samuel membuat Maya spontan mengedikkan bahunya karena kaget. Baru kali ini Sam membentaknya seperti itu.
"Sam, papah minta maaf. Kami minta maaf...."
"Tapi kami gak berniat membohongi kamu, Sam." Permana melanjutkan, ia melirik Anita yang tetap saja membisu. Pandangan wanita itu kini seolah kosong, menatap sesuatu yang tidak bisa fokus ia pandangi.
"Papah bisa jelaskan ini Sam...."
to be continue....