
Perlahan Maya menggeliat dalam tidurnya ketika merasakan sentuhan hangat pada puncak kepalanya.
Netra hitam itu pun mulai membuka sedikit demi sedikit. Dan langsung disambut dengan pemandangan sosok pria tampan yang sebenarnya pagi itu terlihat sedikit berantakan, sedang memandangi wajahnya dengan penuh kelembutan.
Maya dapat menangkap kembali pandangan penuh cinta dari pria yang semalam ia tunggu-tunggu kedatangannya.
"Sam......" lirih Maya lemah.
Spontan saja ekspresi Maya berubah, cairan bening kembali mengalir keluar dan terjun bebas di kedua pipi chubbynya.
"Aku minta maaf jika aku salah...." Ujar Maya sembari terisak.
Maya meraih punggung tangan Samuel dan mendekatkannya di kedua pipinya. Sedetik kemudian Maya menciumi punggung tangan Samuel tanpa ada niat untuk melepasnya.
"Kamu jangan pergi lagi, Sam.... Jangan mengabaikan aku lagi, kumohon...." ucap Maya setengah memohon.
Samuel pun hampir saja menangis melihat apa yang dilakukan Maya saat ini. Ingin rasanya Sam meraih tubuh perempuan itu dan membawanya ke dalam pelukan eratnya. Menciumi puncak kepala dan menenggelamkan wajahnya dalam geraian surai hitam sebahu yang selalu beraroma kiwi.
Sam pun ingin sekali mendaratkan ribuan kecupan pada bibir yang selalu membuatnya mabuk, bahkan hingga saat ini.
Namun.... ego Samuel kembali muncul. Bayangan itu kembali hadir dalam kepala Samuel.
Bayangan jika Maya dan Dean sedang berdua dalam keakraban.
"A-aku---"
"Hussstt--- sudahlah, sekarang kamu makan dulu." Sam menjeda apa yang akan Maya ucapkan.
Sam berdiri sejenak guna mengambil baki berisi sarapan yang tadi ia letakkan di atas nakas samping ranjang.
"Kata bibik, kamu gak makan dari semalam." Sam meletakkan baki tersebut pada pangkuan Maya yang saat itu sudah duduk dengan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
"Kamu makan dulu," ucap Samuel yang sedikit memerintah. Dan kembali dengan ekspresi datar dan dingin.
Wajah Maya kembali melemah.
Kemana sikap lembut Samuel terhadapnya dulu? Sam bahkan tidak menawarkan untuk menyuapkan sarapan yang saat ini berada dalam pangkuannya.
Padahal biasanya Sam selalu melakukannya tanpa ia pinta.
Apakah suaminya itu sudah tidak mencintainya lagi? batin Maya.
Dia hanya terdiam tatkala Samuel kembali menyuruhnya untuk memakan makanan yang ada di hadapannya saat ini.
"Mau aku suapin?" tanya Samuel tiba-tiba.
Maya tercengang. Pertanyaan yang dari tadi ia tunggu-tunggu keluar dari bibir Sam, akhirnya terlontar juga.
Maya spontan menganggukkan kepalanya, senyuman bahagianya pun tertarik begitu saja dari kedua sudut bibirnya.
Sam kini mendekat dan memindahkan posisi baki berisi sarapan. Ia letakkan di atas ranjang, tepat di hadapannya. Sehingga Sam dengan mudah dapat memotong roti bakar madu dan menyuapkannya ke mulut Maya.
"Aaaa..... buka mulutnya...." ucap Samuel dengan potongan roti bakar yang sudah siap ia masukkan ke mulut Maya.
Maya pun membuka mulutnya lebar, guna menerima suapan demi suapan roti bakar dengan lelehan madu royal jelly yang begitu harum.
Ia mengunyah potongan roti tersebut dengan sangat lahap.
"Kenapa kamu selalu menyiksa diri kamu seperti ini, hm?!"
Satu pertanyaan dari Samuel terlontar begitu saja di sela-sela suapannya.
Maya masih terdiam, perempuan itu bahkan masih terlihat menikmati memandangi wajah Samuel yang berantakan namun tetap terlihat sangat tampan.
Maya merindukan senyuman pria itu. Bahkan saat ini senyuman itu entah kemana perginya.
Apakah aku melakukan kesalahan fatal yang aku sendiri tidak menyadarinya? batin Maya mengingat-ingat apa yang membuat Samuel mendiamkan dirinya.
Sam masih saja sibuk memotong kecil-kecil roti bakar lalu memasukannya ke dalam mulut Maya.
Sebenarnya Samuel sangat menyadari jika Maya memperhatikannya dengan sangat lekat. Dan sesungguhnya Samuel pun begitu merindukan untuk memanjakan istri tercintanya. Namun lagi-lagi ego sialan itu yang menjadi pemenangnya.
"Maafkan aku," ucap Maya lirih.
Perempuan itu akhirnya menjawab apa yang menjadi perkataan Sam tadi.
"Kalo kamu gak mau makan, apa kamu gak kasian sama bayi yang ada di dalam perut kamu itu?" tanya Samuel lagi, masih dengan ekspresi datar tanpa kelembutan seperti biasanya.
"Bayi ini anak kamu, Sam."
Suara Maya kali ini terdengar sedikit berat. Dia menatap ke arah Sam dengan ekspresi hampir menangis.
"Kenapa kamu gak menyebut dia dengan sebutan anak kita saja, Sam? seperti yang biasa kamu ucapkan sebelumnya?" Maya bertanya dengan ekspresi sendu.
Sam terdiam, tangannya pun berhenti memotong roti bertoping madu murni itu.
Satu tarikan napas, Sam tarik begitu saja lalu menghembuskan nya dengan sangat berat.
"Kamu sungguh-sungguh gak tau apa salah kamu?" tanya Samuel setelah membuang napas kasar.
Maya menggeleng.
"Enggak...." gelengnya, bibirnya pun ia kerucutkan lucu, mencoba membuat suaminya itu tertawa dengan ekspresi wajah anak kecilnya. Namun apa yang Maya harapkan pupus sudah, Sam bahkan tetap memasang muka datar.
Kembali Sam menghela napas panjang.
"Aku melihat kamu sama Dean saat kalian ada di restoran Pizza."
"Kamu salah paham, Sam." Maya cepat-cepat menjawab.
"Apa yang salah paham, May? Kalian bahkan terlihat begitu akrab May." Sam terdiam sejenak.
"Aku juga melihat kalian di cafe kamu hari itu. Dan kamu gak pernah cerita ke aku soal pertemuan kalian."
Sam memandang tajam ke arah Maya.
"Aku gak ada hubungan apa-apa sama Dean." Maya melanjutkan. Ia meraih tangan Samuel dan kembali menciumi punggung tangan itu lembut.
"Sebenarnya ada penjelasan kenapa aku terlihat sering menemui Dean," kembali Maya menjeda ucapannya. Sementara Samuel hanya terdiam dan pasrah ketika Maya selalu menciumi punggung tangannya dan sesekali perempuan itu mengelus-eluskan punggung tangannya ke arah pipi chubby yang selalu merona merah muda itu.
"Aku menemukan fakta jika----"
Ddrrttt.....!!
Tiba-tiba saja ponsel Samuel berdering, memutus ucapan Maya barusan.
Sam menarik keluar ponselnya lalu terlihat begitu serius dengan benda berbentuk tipis tersebut.
"Aku harus ke kantor."
"Tapi, Sam....." Maya mencoba hendak protes, entah sejak kapan urusan pekerjaan lebih penting buat Samuel daripada dia.
"Aku pengen kamu di sini Sam, please....."
"Kamu tau sendiri kan, Bayu udah cuti dan jika aku tidak ke kantor siapa yang akan mengurus segala permasalahan di sana?" ucap Samuel sembari berdiri dari duduknya dan langsung menyambar blazer bersih dari almari pakaian.
Entah apa yang membuatnya terburu-buru sehingga dia bahkan tidak membersihkan tubuhnya terlebih dahulu pagi itu.
Maya kembali meremang. Ekspresi kecewa kembali terlihat jelas di wajahnya.
Sam bahkan begitu saja meninggalkannya tanpa satu kecupan yang dulu biasa pria itu lakukan.
Kembali air mata mengalir di kedua pipi mulus Maya.
.....
"Dean.... aku gak bisa menemui kamu di cafe siang ini, maaf ya___ iya aku nanti vidio call aja dari rumah___Hhmm... kamu kabari aja kalo mama Anita dan papa Permana udah datang___iya-iya beres___ aku gak kenapa-napa kok.... cu-mmaa.... kecapean aja___ iya__ bye...."
Klik....
Maya memutus sambungan selulernya, begitu Dean juga menghentikan percakapan.
Ia menarik napas panjang, setelah apa yang Samuel lakukan pagi ini, entah kenapa Maya merasa tidak ingin melakukan apa-apa. Meski hanya sekedar berjalan ke lantai bawah ataupun ke kulkas yang ada di sudut kamar untuk mengambil minum ataupun cemilan.
Beruntung Samudra sudah memasuki fase sekolah, dan artinya Maya bisa leluasa menyembunyikan kesedihannya di hadapan bocah itu.
Maya saat ini hanya ingin berbaring di tempat tidur dan kembali mengingat-ingat saat-saat dia dengan Sam sebelum pria itu berubah sikap karena kesalahpahaman ini.
Maya menyesali kenapa dia tidak berterus terang saja kepada Sam soal Dean.... atau Daniel.
Aarrgghhh.... Maya menyesali kebodohannya.
Perlahan kedua netranya pun kembali memejam dengan sisa air mata yang keluar dari kedua pelupuk mata hitamnya.
*Sam....
Sam....
Sam*....
Maya menyebut-nyebut nama suaminya dalam tidur. Tapi sayangnya Samuel tidak mengetahui hal tersebut.
to be continue....