MySam

MySam
Jealous CEO



"Rupanya seseorang di sini tidak mengerti bahasa Indonesia," ucap Elano tajam, menggenggam tangannya erat, siap meluncurkan pukulan di wajah Sam.


"Dan seseorang tidak mengerti kapan ia harus mundur," balas Sam dengan sikap yang sama. Setelah kejadian kemarin Sam tidak akan pernah melepas Maya lagi, dan menghadapi Elano adalah hal kecil dibandingkan jika ia harus berpisah dari gadis itu.


"Silahkan pergi, kehadiran lo sama sekali tidak diharapkan."


"Bukankah harusnya gue yang berkata demikian? Oh ya lagipula ini juga perusahaan gue, tentu saja lo gak melupakan hal itu, bukan?!" Sam menjawab ucapan Elano dengan ekspresi kaku, sedikit mendecih memandang El dengan pandangan meremehkan.


"Lo...." El mendekatkan tubuh tegapnya ke arah Sam, menantang pria itu untuk saling beradu kekuatan.


"Lo mau duel hah?! sekarang juga gue ladeni apa mau lo!" Sam membusungkan dadanya, wajahnya juga terlihat mengeras. Iris coklat Sam menatap tajam ke arah Elano.


"Elano...!" seru Maya, membuat kedua pria di hadapannya melirik ke arahnya yang sedang berjalan tergopoh.


Maya langsung menempatkan dirinya di hadapan Elano, menatap pria itu dengan tatapan memohon. "Kita harus bicara sebentar."


Alis El berkerut, menatap bergantian Maya dan Sam. Firasatnya berkata bahwa kali ini Sam dan Maya kembali berbaikan. Kehadiran Freya waktu itu rupanya tidak bisa menggoyahkan hubungan yang terjalin antara kedua manusia itu. Walau sebenarnya ia tidak ingin mendengar apapun tentang kemungkinan tersebut, El merasa harus mendengarkan apa yang akan Maya bicarakan. Akhirnya kepala El mengangguk samar menjawab perkataan Maya barusan.


"May..." lirih Samuel.


Kepala Maya menggeleng, memberi tanda agar pria itu tetap berdiri di sana sementara ia membawa El ke sudut lobi kantor yang cukup jauh dari Sam agar bisa berbicara dengan tenang.


"Biar kutebak, pria brengsek itu berhasil meyakinkanmu lagi," ucap El tajam.


Jari Maya saling meremas dalam genggaman dan mengangguk pelan. "Dia menjelaskan tentang Freya dan ciuman itu. Aku yakin jika Sam tidak bersalah."


"Dan kamu percaya begitu saja, hah?! May.... kamu terlalu naif jadi cewe." Seringai sinis El terbentuk, seolah meremehkan gadis itu.


"Aku percaya sama Sam dan aku sangat mencintai dia." Maya menatap penuh harap.


"Aku minta maaf soal Freya, aku harap kalian masih bisa memperbaiki hubungan kalian." Maya meneruskan kembali ucapannya.


Membuat Elano mengerang kesal, menghantamkan kasar kepalan tangannya ke dinding lobi kantor. Maya tersentak kaget melihatnya, gadis itu bergidik ngeri melihat ruas jari tangan El yang mengeluarkan darah.


"El.... kamu gak apa-apa? tangan kamu berdarah." Maya mendekati Elano, berniat memberikan syal silky miliknya untuk membalut luka yang ada di ruas jemari El.


"Maafkan aku El, tapi kamu udah tau kan perasaanku terhadap Sam. Aku ingin memberi dia kesempatan sekali lagi," ucap Maya, ia masih mengusap luka di tangan El dan mulai membalut luka itu dengan syal berwarna peach.


El berdecak kesal, menatap lekat ke arah Maya yang saat itu posisi mereka sangat dekat. Gadis itu terlihat seperti bidadari di mata El, pantas saja ia sangat sulit melepasnya.


Maya mengakhiri balutan luka tersebut dengan membuat simpul pita kecil dari syal silky tadi.


"Done," ucap Maya begitu balutan luka tersebut selesai ia kerjakan.


"El, aku sayang sama kamu."


Elano terbelalak mendengar ucapan Maya,


"Kamu sudah seperti saudara buatku El, Kita telah lama kenal dan kamu sudah seperti kakak buatku," lanjut Maya lagi.


Ekspresi Elano kini berubah, senyuman yang tadi hampir saja melengkung mendadak memudar.


Saudara? gue ingin lebih dari itu, Maya, batin Elano.


"Elano...."


Suara Maya membuyarkan lamunan pria itu, wajah nanar El berusaha ia sembunyikan.


"Aku ingin lebih dari itu, May. Tidakkah kau tau apa yang selama ini aku rasakan hah...?!" Elano berteriak, mencengkeram kedua lengan Maya, sorot kemarahan terlihat jelas di iris coklat Elano. Kebencian pria itu memuncak.


Membuat Maya kembali bergidik ngeri melihat raut wajah El yang mengeras. Mata yang biasa memandangnya lembut kini terlihat sangat mengerikan.


"Lo milik gue Maya, apa lo lupa masa lalu kita, hah...?!" lanjut Elano, kedua lengannya masih mencengkeram Maya erat.


Suara teriakan El membuat Sam segera mendekati mereka, Berusaha menyingkirkan tangan El yang masih mencengkeram lengan Maya.


Sam menyingkirkan tangan El dari lengan Maya dan ...


Bugh...!!


Pukulan keras Sam mendarat di pipi kanan El, membuat tubuh tegap pria itu sedikit bergeser ke belakang.


"Apa-apaan lo hah...?!" erang Sam.


Bugh....!!


Sekali lagi pukulan Sam tepat mengenai wajah kanan Elano tanpa bisa pria itu menghindari.


Sam meraih kemeja Elano dan mencengkeram kuat, membawa tubuh pria itu mendekat ke arahnya. Hampir saja pukulan Sam kembali menghantam wajah tampan El, dengan cepat Maya mencegah aksi brutal Samuel.


"Sam.... cukup!"


Maya memegang pundak Sam, membuat CEO itu sedikit tenang. Ia lepas cengkeraman kemeja formal El dan menghempaskan tubuh yang sama-sama kekar itu menjauh.


"Jangan pernah coba-coba lo nyakitin Maya, atau lo berurusan dengan gue. Paham lo, hah?!!" ancam Samuel. Tentu saja tidak membuat El takut. Elano mendecih kasar, mengusap darah segar di kedua sudut bibirnya.


"Gue belum selesai dengan lo, Sam!!" ancam Elano, telunjuknya ia acungkan ke wajah Samuel yang mengeras.


El melirik sebentar ke arah Maya, memandang gadis itu dengan ekspresi menakutkan. Tidak seperti Elano yang selama ini Maya kenal.


Beberapa detik kemudian El melangkah pergi meninggalkan keduanya.


Maya hanya bisa memandang pilu kepergian El, ia sungguh tidak bermaksud menyakiti pria itu.


"Sayang, kamu gak apa-apa kan?" Sam meraih pundak Maya, membawa gadis itu kembali ke dalam pelukannya.


Maya menggeleng pelan, lebih mengeratkan pelukan Samuel.


"Aku gak apa-apa, maafkan aku jika masalah ini semakin rumit."


"It's Ok, baby. Kita akan melewati bersama. Yang penting sekarang kamu gak terluka." Jawab Samuel, menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi chubby Maya, menatap lekat iris hitam gadis itu hanya sekedar memastikan jika saat ini gadis itu benar baik-baik saja.


....


Sam menggenggam erat tangan Maya ketika mereka berjalan masuk ke sebuah cafe untuk makan siang.


Mata coklatnya melembut ketika Maya bercerita bagaimana gadis itu menghabiskan masa kecilnya dulu, tanpa seorang ayah mendampingi. Hanya bersama ibunya ia menjalani hidup yang tidak mudah bagi mereka. Hingga Maya bercerita tentang sosok Elano, pria itu hadir dalam hidup Maya, seperti sahabat dan juga kakak laki-laki yang tidak pernah ia miliki. Elano bagai sosok pelindung keluarganya, walau waktu itu hubungan mereka ditentang oleh kedua orang tua Elano.


Namun kini kehidupan Maya serasa lengkap bersama Samuel. Kadang senyuman kecil keduanya terbentuk ketika mereka saling mengenang kenangan pertama mereka bertemu. Tawa kecil Sam tergelak, mengacak lembut puncak kepala Maya ketika ingatannya tentang mereka hadir dalam pembicaraan keduanya.


Sam merasa hidupnya lebih bermakna sekarang, menjalani kehidupan baru sebagai seorang mualaf, bukan hanya karena Maya namun kini pria itu lebih merasa tenang dengan keyakinannya yang sekarang.


Jari mereka saling bertaut dan suara Maya mengalun membelai telinga. Senyum gadis itu membuat hati Sam menghangat dan bibir berwarna peach itu selalu mengundang untuk dikecup.


Sam harus menahan hasratnya, walau sering ia tidak sanggup mengabaikan bibir peach merona itu.


"Sam, kamu mau makan apa?"


Samuel terkesikap dari lamunannya ketika menyadari bahwa mereka sudah duduk di sebuah meja kecil dekat jendela cafe dan Maya memegang buku menu.


Sam berdehem guna menutupi salah tingkahnya. Netranya mulai mengamati satu persatu menu yang tertera dalam sebuah buku yang disediakan oleh pihak cafe. Namun sebelum sempat ia memilih, ponselnya bergetar.


Sam menarik keluar ponsel dari dalam saku blezer miliknya. Melihat nama yang tertera di sana.


"Freya?" tanya Maya dengan wajah memucat. Gadis itu bisa melihat nama si pe-nelepon begitu Samuel meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja.


Sam tersenyum menenangkan sambil mempererat genggamannya pada tangan Maya sebelum ia mengangkat telepon.


"Ada apa?" tanya Sam dingin, menusuk tajam.


Mata coklat Sam memandang Maya sementara Freya berceloteh. Tangan putih Maya berkeringat, membuat Sam meradang. Oh terkutuk Freya yang telah membuat gadisnya merasa gelisah.


"Sudah kubilang, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dan aku akan segera menikah!" balas Sam pada Freya di seberang dengan nada final.


"Apa hebatnya gadis murahan itu di mata kamu Sam? dia gadis terburuk yang pernah kamu kencani Sam, apa sekarang selera kamu menjadi serendah itu hah?!" balas Freya.


"Aku tau saat ini kalian sedang makan siang bersama, apa harus aku menghampiri kalian, hhmm?"


Mata Samuel membulat penuh, mengamati jendela yang meloloskan cahaya matahari yang saat ini temaram oleh sedikit mendung. Di balik kaca, kota Jakarta berjalan cepat. Taksi, mobil, motor dan ribuan orang berlalu lalang mengejar waktu. Sam mencari-cari sosok yang mungkin dikenalnya. Freya selalu mencolok di manapun ia berada, itu salah satu alasan mengapa ia menjadi salah satu selebgram yang banyak di idolakan oleh kebanyakan para netizen Indonesia. Tapi kali ini Sam tidak menemukan gadis itu. Beberapa orang memakai topi dan kaca mata yang menarik perhatiannya, namun tidak ada dari mereka yang menyerupai Freya.


"Brengsek kamu, Fe," desis Sam tajam sambil terus mencari-cari.


"Maya jauh lebih baik daripada kamu yang menggunakan segala cara untuk menarikku kembali. Dan Maya tidak seperti kamu yang dengan rendahnya menyerahkan tubuh ke semua pria." lanjut Sam lagi.


"Kita akan liat, Sam. Siapa yang akan tertawa paling akhir."


Sambungan telepon terputus dan hati Sam terasa panas. Hanya ketika Maya membalas genggamannya, Sam dapat kembali merasa tenang.


"Apakah semua baik-baik saja?" tanya Maya berusaha menekan segala pikiran buruknya. Hatinya terasa ngilu setiap kali Freya masuk ke dalam hidup Sam. Bayangan jika mereka pernah satu ranjang selalu menggerogoti pikiran Maya, membangun rasa benci dalam benak.


"Semuanya baik-baik saja, sayang," ucap Sam menenangkan. "Akan kupastikan Freya tidak akan pernah mengganggu kita."


Maya mengangguk walau keraguan masih menggantung kuat.


"Aku sangat berharap jika hubungan Freya dan El kembali baik-baik. Jadi mereka juga bisa sama-sama bahagia," lirih Maya.


Perkataan Maya barusan membuat kedua netra Sam membola penuh. "Maksud kamu, El dan Freya pernah bersama?" tanya Samuel kaget.


"Iya, kamu belum tau?"


Sam hanya menggeleng pelan, pikiran buruk kini tiba-tiba saja menggerogoti benak Sam.


"Sam... are you ok?"


Pertanyaan Maya membuyarkan lamunan Sam.


"I,am ok." Samuel mengangguk.


to be continue....