
Spontan saja kedua netra Elano membola tajam, melihat pemandangan yang membuat emosinya meluap. Ia kepalkan tangannya, hampir saja kepalan tangan itu menggedor pintu ruang kerja Maya.
Sialan! batin El, ia telah kecolongan lagi. Kini Sam dan Maya kembali berbaikan, seakan kedua manusia itu bagai pasangan yang sangat sulit untuk dipisahkan. Tatapan tajam El masih menyiratkan kekesalan dan juga luka.
Ia melangkah mundur, menutup kembali pintu ruang kerja Maya dengan pelan.
El tidak ingin melihat ekspresi Samuel yang sudah tentu akan merasa besar kepala ketika Maya kembali lagi dalam pelukan CEO itu.
Elano melangkahkan kakinya dengan perasaan bercampur aduk. Benci, marah dan juga cemburu.
___
"Sepulang kerja kamu pulang sama aku ya sayang," ucap Sam.
"Aku bawa motor Sam."
Terlihat wajah kecewa Maya, hingga senyuman kecil Sam menyeringai di bibirnya.
"Motor kamu tinggal aja disini, besok seninnya kamu aku jemput." jawab Sam, ia kembali mengelus pipi chuby Maya.
"Baiklah." Sedikit anggukan kepala tanda persetujuan dari Maya membuat Sam kembali mengulum senyuman manis di bibir tebalnya. "Ya udah, aku balik ke kantor advertising dulu, nanti sore aku jemput kamu."
Ucap Sam lagi, mendekat ke arah Maya dan mendaratkan kecupan kecil di puncak kepala gadis itu.
Maya mengangguk kecil dan tersenyum, memandang tubuh Sam yang kini menghilang dari balik pintu. Ia lega, setelah beberapa hari tidak menemui Sam di kantor property, tidak dipungkiri jika Maya rindu sosok Samuel. Untuk kesekian kalinya kemarahan Maya dikalahkan oleh rasa rindu yang menggebu dalam hatinya.
____
Sam menepati janji untuk menjemput Maya sore ini, Ia menunggu gadis itu di lobi kantor. Beberapa menit yang lalu Maya mengirimkan pesan singkat jika ia sudah berada di dalam lift dan akan keluar dalam beberapa menit lagi.
Sam bersandar pada pilar beton yang terletak di tengah lobi, melipat kedua lengan di atas pinggang. Original sunglass bermerk Oakley dengan frame berwarna hitam dan lensa biru elektrik menjadi pelengkap penampilan Sam yang sore itu hanya mengenakan Tshirt putih polos yang entah ukurannya kekecilan atau memang modelnya seperti itu, memperlihatkan dada bidang dan perut sixpack Samuel, celana jeans Slim Fit hitam dengan sedikit sobekan di bagian lutut menjadi kombinasi yang sempurna.
Membuat beberapa pasang mata para gadis yang sore itu berlalu lalang tertuju ke arahnya. Merasa kagum melihat sosok menawan dengan pahatan yang begitu sempurna, namun sayang Sam hanya mengacuhkan mereka. Hanya terlihat tersenyum kecil saat para gadis itu melayangkan senyuman menggoda ke arahnya.
Kerumunan orang terlihat mengalir keluar dari pintu lift setelah terdengar suara lift berdenting. Netra Sam berbinar begitu melihat Maya keluar dari lift bersama pegawai lain, pria itu bisa sedikit bernapas lega ketika dilihatnya tidak ada sosok Elano yang beberapa hari kemarin selalu mengikuti kemana Maya pergi.
"Hey, udah lama nunggu?" tanya Maya begitu ia mendekat ke arah Sam.
Sam memeluk sebentar tubuh Maya ketika gadis itu mendekat ke arahnya. "Gak lama, kita keluar sekarang?" tanya Sam yang diikuti dengan anggukan kepala dari Maya.
Mereka melangkahkan kaki keluar dari lobi kantor, menuju tempat dimana mobil Sam parkir.
__
Keluar dari perusahaan property milik Sam dan juga El. Sam tidak langsung mengantar Maya pulang, pria bertubuh atletis itu mengarahkan mobilnya menuju kawasan Pantai Indah Kapuk.
"Kita mau kemana, Sam?" tanya Maya ketika menyadari mobil Samuel berlawanan arah dengan rumahnya.
"Menikmati malam minggu seperti ribuan pasangan yang lain di Jakarta." Jawab Sam ringan, menanggapi kebingungan di raut wajah Maya. "Tenang sayang, kamu pasti menyukainya."
Sam ingin merayakan perkembangan hubungannya dengan Maya yang kembali membaik, setelah kemarin sempat terjadi kesalahpahaman. Sam ingin merayakannya dengan sesuatu yang berbeda, sederhana dan akan selalu diingat oleh Maya.
Sam bisa saja menggunakan uangnya, memesan salah satu tempat di kapal pesiar Trans Luxury yang sedang viral di kalangan kaum jetset saat ini. Namun Sam sadar, Maya bukan tipe gadis yang mudah disuap dengan hadiah-hadiah mewah dan itu terbukti ketika gadis itu menolak mobil pemberian Elano tempo hari. Sam harus hati-hati jika tidak ingin mengacaukan lagi hubungan ini.
It's gonna be working.
Sam meyakinkan dirinya.
Perlahan mobil Sam mendekat ke kawasan Crown Golf Boulevard Pantai Indah Kapuk.
Pintu masuk cafe yang akan Sam tuju adalah gang kecil menuju lift yang membawa mereka menuju lantai lima.
Menggandeng tangan Maya dan membawa gadis itu memasuki kafe yang memiliki konsep suasana ala Santorini di Yunani.
Mereka duduk di atas rooftop sambil menikmati suasana sore menjelang senja. "Tunggu hingga kamu melihat matahari terbenam, kamu pasti menyukainya." ucap Sam sambil menyesap blue tea, salah satu minuman favorit cafe tersebut.
Maya mengerjap melihat pemandangan dari atas rooftop, menarik napas panjang untuk mengambil oksigen. Menikmati tiap-tiap semilir angin yang berhembus dari atas rooftop cafe. "Kamu suka kan tempatnya?" tanya Samuel.
Maya mengangguk senang, "Indah banget Sam, aku suka." ucap Maya dengan sorot mata berbinar.
Sore itu hanya ada mereka berdua dan dua pasangan lainnya. Menikmati suasana sore hari yang hari itu kebetulan sangat cerah, Maya menyesap summer tropical pesanannya dan juga menikmati makanan serta camilan yang Sam pesankan.
___
Keluar dari cafe di daerah PIK, lagi-lagi Sam mengarahkan mobilnya bukan menuju ke arah rumah Maya. "Ke kota tua sebentar ya." ucap Sam, melirik ke arah Maya. Gadis itu hanya mengangguk kecil, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil.
"Tunggu sebentar!" perintah Sam pada Maya begitu mereka sampai di depan sebuah tempat persewaan sepeda yang cukup ramai malam itu. Kawasan khusus untuk umum yang ingin merasakan bersepeda di sekitar kota tua di Jakarta. Sam terlihat memarkirkan mobilnya dan menyewa sebuah sepeda yang terdapat boncengan di belakangnya, Ia membayar sejumlah uang kepada penjaga tempat itu untuk menjaga keamanan mobilnya.
"Ayo." Sam mengulurkan tangannya saat membuka pintu mobil di sisi Maya, gadis itu ragu-ragu menatap Sam lalu meletakkan tangan di atas lengan kokoh Sam yang menyambutnya.
Sam membimbing Maya untuk duduk dengan nyaman di atas boncengan sepeda.
"Sam..." ucap Maya, keraguan kembali menyeruak di wajah Maya.
"Don't worry, aku ahli dalam mengendarai sepeda. Asal kau tau aku pernah memenangkan trofi Tour de Jakarta," kata Sam yang kemudian disusul sebuah cengiran canggung.
Maya spontan tertawa mendengar kalimat candaan yang sama sekali tidak lucu itu, cukup efektif menenangkan detak jantung Maya yang mulai berdebar kencang.
Embusan angin menerpa wajah Maya, membuat helai-helai anak rambut yang tergerai itu melambai menutupi sebagian wajah Maya. Sam mengambil sejumput rambut itu lalu menyelipkannya di belakang telinga Maya.
Sam menyampirkan blezer yang ia bawa dari mobil tadi, mengeratkan blezer miliknya ke tubuh Maya. "Pakai ini sayang. agar kamu gak kedinginan."
"Kamu bagaimana? Nanti kamu kedinginan Sam," protes Maya.
"Aku gak apa-apa dear, kamu bisa memelukku supaya aku gak kedinginan," kilah Sam.
Maya tertawa kecil, mencubit pelan pinggang Sam hingga membuat pria itu terdengar mengerang kesakitan.
Memakai blezer dari Sam, aroma musk yang lembut memenuhi indra penciumannya. Aroma Samuel, semburat warna merah jambu menghangatkan pipinya kala ia membayangkan aroma tubuh pria itu yang kini menghangatkannya lewat blezer yang melekat di tubuhnya.
Samuel tidak main-main saat mengatakan ahli dalam mengendarai sepeda, pria itu tampak bersemangat mengayuh sepeda yang lebih berat karena menopang tubuh dua orang. Sesekali ia melepas setang dan merentangkan dua tangannya bagai gerakan burung terbang.
Maya yang awalnya ngeri, secara refleks memeluk pinggang Sam, mencari pegangan dan keamanan dari tubuh kokoh di hadapannya.
"Hati-hati Sam...." ucap Maya sedikit berteriak. Lengan kekar Samuel yang hanya terpisah sehelai Tshirt terasa kencang menggenggam tangan Maya. Berusaha memberikan rasa nyaman pada gadis itu.
Maya mengeratkan pelukannya pada punggung hangat Sam yang memberikan rasa nyaman dan perlindungan dari terpaan angin.
Sam menghentikan sepedanya, ia menuntun Maya untuk duduk pada kursi-kursi taman yang memang disediakan di sepanjang jalan kota tua. Lengannya memeluk bahu Maya, memberikan kehangatan di tengah udara malam Jakarta.
Beruntung pemandangan malam itu sangat indah untuk dinikmati, dengan taburan berbagai rasi bintang serta bangunan kuno yang terlihat masih begitu kokoh berdiri. "Besok kamu siapkan?, ketemu sama mama aku?" tanya Sam, semakin ia eratkan pelukannya di bahu Maya.
"Aku takut Sam."
Memandang sebentar ke arah Maya, Sam kembali mencium puncak kepala gadis itu lalu kembali memandang wajah teduh Maya dan tersenyum. "Ada aku sayang, aku gak akan biarin kamu sendirian," jawab Sam kemudian. Terlihat senyuman kecil dari bibir Maya, melengkung hangat di hati Sam.
"Besok aku jemput kamu jam tujuh malam."
Maya mengangguk pelan, meraih lengan Sam yang masih memeluknya erat. "Kita pulang sekarang? aku gak mau kamu kedinginan dan acara besok gak boleh gagal," imbuh Sam lagi.
Samuel berdiri dan menaiki kembali sepeda, diikuti Maya yang kembali duduk di atas boncengan belakang. "Pegangan yang erat," titah Sam.
Maya hanya menurut, menyilangkan kakinya dan melingkarkan erat lengannya pada pinggang Samuel. Menempelkan salah satu pipinya ke punggung Sam yang selalu memberikan rasa nyaman dan hangat ke dalam hati Maya.
to be continue....
___
Kebanyakan ngehalu tokoh Samuel, penulis jadi takut lupa lautan 😁🤭 semoga suka sm ceritanya ya akak, happy reading dn jngn lupa dukungannya y 😘