MySam

MySam
Pertemuan dengan Anita 2



Maya tak berkedip menatap wanita berparas tegas yang berjalan ke arahnya. Tangan Maya masih erat berada dalam genggaman Samuel, pria itu berusaha menguatkan Maya seolah berkata Kamu tidak sendirian, honey... walau tidak terucap langsung dari mulut Sam tapi Maya tahu arti genggaman tangan Samuel yang saat ini berdiri di sampingnya.


Wanita anggun yang terkesan dingin itu kini mendekat ke arah Maya, berdiri tepat di hadapan mereka dan menatap tajam iris Maya. Bisa Maya rasakan hawa dingin yang mengalir dalam seluruh nadinya, Ia tersenyum sedikit ke arah Anita.


Untuk sesaat Maya berusaha mengusir ketidak nyamanan yang tercipta.


Tiba-tiba tanpa Maya duga sebelumnya, Anita meraih pundak kecil Maya, masih menatap dalam iris hitam berkilau Maya, perlahan tatapan Anita sedikit lebih melembut. Sedetik kemudian Anita membawa tubuh Maya ke dalam pelukannya. Membuat tubuh Maya meremang, mendapat perlakuan dari Anita yang tidak ia duga sebelumnya. Sangat berbeda dengan pertemuan pertama mereka, kesinisan itu menghilang.


Anita merenggangkan pelukannya, kembali menatap dalam iris hitam Maya, tersenyum sebentar kemudian membelai lembut rambut lurus sebahu gadis itu. "Maafkan tante ya, tante sudah salah menilai kamu dan hubungan kalian," lirih Anita kemudian.


Maya mengangguk pelan dan membalas senyuman Anita. "Tante gak salah, saya bisa memahami sikap tante kemarin. Bagaimana pun seorang ibu menginginkan yang terbaik untuk anaknya."


Anita kembali tersenyum, mengelus lembut pipi Maya dan kembali memeluk gadis itu.


Samuel menarik senyuman kecil di sudut bibirnya, Ia lega melihat kecanggungan yang awalnya menyelimuti pertemuan dua perempuan yang paling berarti dalam hidup Sam. "Udah dong mama peluknya, lama-lama mama bisa bikin Sam cemburu," celetuk Sam.


Yang kemudian diikuti oleh gelak tawa ringan dari kedua perempuan itu.


"Iya-iya... yuk sayang kita masuk, papa kamu udah nunggu di dalam."


Sam mengangguk, kembali meraih tangan Maya dan menggenggam erat. Membawa gadis itu masuk lebih dalam lagi ke mansion besar dengan dekorasi bergaya eropa.


**


Sam membawa Maya ke arah sebuah meja makan panjang, semua makanan favorit Maya ada disana. Siomay, martabak manis, dan tak lupa burger dengan ukuran besar lengkap dengan ekstra saus sambal, oh ya jangan lupakan kentang goreng kesukaan Maya. Semua makanan itu berdampingan dengan makanan lain yang lebih berkesan kebarat-baratan.


Mata Maya membola melihat menu favoritnya ada di atas meja. Ia menoleh sebentar ke arah Sam, memberikan kode seakan bertanya Ini ulah kamu Sam?


"Kemarin tante Anita tanya ke Samuel, soal makanan favorit kamu apa aja," ucap Permana menjawab ekspresi terkejut Maya.


"Terima kasih," jawab Maya dengan wajah bersemu merah.


"Anggap saja rumah sendiri, Maya. Jangan sungkan-sungkan sama kami."


Anita meraih jemari Maya dan menuntun gadis itu menuju salah satu kursi di depan meja makan.


____


Setelah makan malam usai, Sam membawa Maya menuju rumah kaca yang berisi berbagai macam warna bunga mawar milik Anita. Netra Maya mengerjap melihat bermacam-macam warna bunga mawar yang tumbuh di sana. Semua bunga itu sungguh terawat dengan baik, Maya mendekati salah satu bunga mawar berwana unggu. Sangat unik menurut Maya, Ia menunduk sedikit mencium aroma mawar yang menyeruak memenuhi indra penciumannya. "Kamu suka mawar juga?" tanya Anita yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Maya dan Samuel.


"Suka tant, tapi saya tidak menyangka jika ada warna mawar yang secantik ini," jawab Maya yang kini tanpa rasa canggung sedikit pun.


"Iya, cantik ya?" lirih Anita, wanita itu kini mendekati Maya


Maya kini merasakan kelegaan yang luar biasa setelah bertemu dengan Anita. Rasa canggung dulu kini berubah menjadi kenyamanan yang menghangatkan. "Kamu sering-sering main ke rumah tante ya, ajak Samuel untuk mampir kesini." Anita melirik sebentar ke arah Sam, pria itu hanya tersenyum kecil, merotasikan netranya ke arah lain.


"Sam itu jarang mampir ke rumah ini, padahal ini juga rumah dia," sindir Anita, membuat Sam kembali tersenyum kecil dan menggaruk tengkuk yang tentu saja tidak terasa gatal. "Maaf ma..." Samuel merajuk.


"Kamu mau ya sayang, main ke rumah ini lagi. Biar Sam yang anterin kamu ke sini," lanjut Anita.


Maya mengerjap mendengar kata sayang yang keluar dari bibir Anita. Gadis itu mengangguk dan tersenyum, "Iya tante, kapan-kapan saya akan mengajak Sam kemari," jawab Maya.


Anita kembali memeluk Maya, "Kalian kalau masih mau disini silahkan, tante tinggal dulu ya. Sam, kamu temani Maya."


Samuel kembali tersenyum lega, masih menatap kepergian Anita yang perlahan menghilang di balik tembok ruangan.


Samuel mempererat dekapannya di bahu Maya, kini meyakinkan gadis itu bahwa semuanya baik-baik saja. Semua sudah berakhir. Ketakutan, keresahan dan ketegangan di antara Maya dan Anita kini telah lenyap.


"Makasih ya Sam."


"Buat?" Sam menoleh ke arah Maya, mengernyitkan kening sebentar.


Maya terbawa luapan kebahagiaan karena masalah-masalahnya perlahan sudah menemui titik terangnya. Maya mencondongkan wajahnya, Ia mengecup singkat pipi Samuel.


Sam terbelalak melihat Maya yang masih tersenyum lebar ke arahnya. Aliran hangat terasa memenuhi rongga dadanya. Ia mengelus pipi yang tadi dikecup oleh Maya.


Merasakan hangat yang menjalar dari sana hingga ke hati. Sam tersenyum ketika melihat Maya yang tersenyum malu menatapnya.


"Makasih kamu selalu ada untuk aku Sam, aku bahagia ada di samping kamu," jawab Maya kini, masih terlihat semburat merah jambu di kedua pipi Maya.


"May..." Sam menarik napas dalam, seakan apa yang akan dikatakannya adalah sebuah hal yang berasal dari perasaannya.


"Aku sangat mencintai kamu sayang, aku akan melindungi dan menjagamu, tidak akan kubiarkan. seseorang melukaimu. Dan aku akan membuktikan jika aku layak menjadi laki-laki yang akan menemani hingga kita sama-sama tua nanti."


Rasa haru menyeruak dari dada Maya hingga membuat matanya berair. Sam membelai pipi halus itu, mengusap air mata yang jatuh dan mengecup lembut kulit putih itu.


"Aku percaya padamu, Sam," bisik Maya pelan, namun jelas. "Dan aku mencintaimu."


Sam tersenyum, menyatukan dahi mereka. Saat ini, dia merasa seluruh semesta berhenti sejenak, memberi mereka waktu untuk saling merasa. Dadanya terasa penuh dan hidupnya terasa lengkap.


"Sebentar lagi aku bisa bercerai dari Martha. Ia sudah melahirkan kemarin."


Maya mendongak, memandang iris Samuel. Ada rasa terkejut, keningnya sedikit mengernyit bertanya-tanya.


"Kemarin dia ke kantorku dan tiba-tiba Martha merasakan kesakitan."


"Aku membawanya ke rumah sakit dan langsung ditangani oleh Harris," lanjut Samuel.


Maya ber-oh-ria, kembali menatap netra Sam lembut.


"Dan status ku akan jelas sekarang, kamu tidak perlu lagi merasa bersalah pada orang-orang saat jalan bersamaku," ucap Sam lagi.


Maya mengangguk pelan, ada rasa lega dalam diri Maya. Tidak dipungkiri banyak suara sumbang yang berbicara di belakangnya, menyebut dirinya gadis ******, pelakor atau apalah itu, dia beruntung ada Sam selalu menguatkan dirinya. Menyuruhnya mengabaikan semua perkataan yang keluar dari mulut mereka.


"Kamu mau anterin aku menengok Martha?" tanya Maya. Sam memandang sebentar paras Maya.


"Kamu yakin?"


"Iya Sam, aku ingin menjenguk dia dan si baby serta mengucapkan selamat pada Martha."


Sam mengangguk, kembali meraih tubuh Maya dan membawanya ke dalam pelukan hangat Sam.


to be continue....


Thanks u for reading....😘😘 masih belum perfect dan butuh 'Krisan' dari akak2 smua😁