MySam

MySam
More Love for CEO



Maya menarik napas lega, ketika Siska sang mama memberikan izinnya untuk Maya menginap semalam di mansion Sam. 'Ingat Maya, jangan berbuat yang tidak pantas. Kalian belum menikah dan apapun bisa terjadi nanti.' Nasehat yang diberikan Siska melalui selulernya.


Seulas senyum ia tarik tipis, lagipula ia percaya sama Sam. Tidak mungkin pria itu akan menyakitinya, Maya tahu sifat tunangannya tersebut.


Ponsel pipihnya kembali ia masukkan ke dalam saku celana kerja, tiba-tiba si bibik menghentikan langkahnya yang hampir saja menaiki kembali anak tangga. "Non Maya mau bibik siapkan makanan?" tanya si bibik sopan.


"Boleh bik, kalau tidak merepotkan," senyum Maya.


"Tidak repot kok non, bibik seneng malah ada non Maya di rumah besar ini. Sering-sering lah non main ke sini, kan sebentar lagi non dan tuan Sam mau menikah, bibik kasihan sama tuan muda," jawab si bibik sambil sibuk menyiapkan masakan buat Maya.


Ucapan bibik tadi membuat kening Maya sedikit berkerut, "Kasian kenapa, bik?"


"Tuan muda Sam, tiap hari kesepian di rumah sebesar ini. Nyonya dan Tuan besar jarang main kesini."


"Dulu sih banyak teman-teman tuan muda yang main kesini. tapi yah... gitu non, teman-teman tuan muda gak ada yang bener," si bibik kembali menjeda ucapannya, membuat Maya kembali penasaran.


"Gak bener gimana bik?"


"Ya gak bener gitu non, suka mabuk-mabuk, membawa perempuan kesini bahkan sering menginap dengan perempuan perempuan itu di kamar tamu. Pokoknya bibik gak suka sama mereka," jelas si bibik.


Maya mematung, berusaha mencerna apa yang baru saja diucapkan si bibik.


"Terus bik.... a...apa Sam juga pernah membawa perempuan ke kamarnya?" tanya Maya hati-hati, ekspresi wajahnya kini meremang, mendengar kenyataan tentang masa lalu Sam yang baru ia ketahui dari si bibik.


Si bibik terlihat salah tingkah, merutuki kesalahannya yang terlalu banyak bicara.


"Eh...i..ttu.... udah lama kok non, sebelum tuan muda kenal sama non Maya. Makanya bibik seneng non Maya yang akan menjadi istri tuan muda, bukan gadis lain," jelas si bibik.


"Dulu memang tuan muda sering gonta ganti kekasih, setelah non Freya berselingkuh. Tapi setelah mengenal non Maya perilaku tuan muda Samuel berubah drastis non," ekspresi wajah si bibik terlihat bersungguh-sungguh. Wanita setengah abad itu meraih pundak Maya dan mengusapnya lembut.


"Bahkan kemarin saat masih menikah sama non Martha, tuan muda Sam tetap terlihat kesepian tidak seceria seperti saat ini bersama non Maya."


"Lagipula selama bersama non Martha, tuan muda bahkan tidak tidur satu kamar sama non Martha," lanjut si bibik lagi.


"Tolong non Maya jangan pernah tinggalkan tuan muda Samuel, bibik tau betapa besarnya cinta tuan muda untuk non."


Maya tersenyum kecil, giliran meraih pundak kecil wanita tua itu. "Bibik tenang aja, aku gak akan ninggalin, Sam." Maya tersenyum.


"Syukurlah.... maaf non jika bibik lancang cerita soal tuan muda."


"Gak apa-apa kok bik, aku balik ke kamar Sam dulu," pamit Maya.


"Iya non, nanti makanan non Maya bibik antar ke atas."


Kembali ia melangkahkan kakinya, menaiki anak tangga melingkar. Maya mengedarkan pandangannya menyusuri rumah sebesar itu yang hanya ditempati oleh Sam dan beberapa orang maid. Pastilah pria arogan itu sangat kesepian, pantas saja dulu ia begitu menyebalkan dan bersikap sok paling berkuasa, batin Maya.


Maya kembali memasuki kamar utama, Dilihatnya Sam yang sudah terlelap, kamar dengan nuansa serba abu tua itu terlihat dingin. Lengkap dengan balkon yang menghadap langsung ke arah pemandangan indah sunset. Maya mengerjap, mendekat dan membuka perlahan pintu balkon kamar Samuel. Ia berharap pria yang tengah terlelap di atas ranjang besarnya tidak terbangun karenanya.


Dari atas balkon kamar Sam, Maya dengan leluasa menikmati pemandangan sunset yang begitu indah senja ini, sayang... Samuel masih terlelap. Jika pria itu masih terjaga tentunya mereka akan menikmati sunset berdua.


Maya menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, ia bisa merasakan kesepian yang dirasakan oleh Sam selama ini. Melihat ke arah heavy bag yang menggantung di sisi kanan balkon, mungkin samsak tinju itu yang menjadi teman kesepian Sam selama ini, pikir Maya.


Perhatian gadis itu kembali ke arah sunset di senja ini yang rasanya terlalu indah untuk ia lewatkan. Seandainya Sam terbangun dan menikmati setiap moment ini berdua... pikir Maya.


Samuel.....


Maya berpaling ke arah Samuel, tersenyum sebentar begitu dilihatnya pria itu masih terlelap. Ia sungguh tidak bisa mengabaikan sosok Sam. Gadis bersurai hitam sebahu itu mendekat, mengamati tiap inci lekuk wajah menawan Samuel.


Semua masa lalu Sam yang ia ketahui dari si bibik tadi, anehnya tidak membuat hati Maya memanas. Yang ia rasakan saat ini malah semakin mencintainya, Maya ingin hanya Sam yang akan menemaninya menghabiskan hari tua bersama.


Ia raih sofa kecil yang berada di samping nakas, mendekatkan sofa tersebut tepat di sebelah pria yang kini lelap tertidur pulas.


Ini pertama kalinya ia memandangi wajah Sam saat tertidur seperti saat ini, gadis itu merasakan kedamaian bersama pria yang dulu selalu bersikap menyebalkan. Menarik sedikit senyuman ketika memori itu tiba-tiba menyeruak hadir dalam benaknya.


Suara lirih bibik menyadarkannya, menoleh ke arah wanita itu dan tersenyum kecil. "Ini makanan non, dimakan dulu," bisik bibi dengan suara pelan, seolah takut sang majikan terbangun karenanya.


"Terima kasih, bik." Maya tak kalah berbisik pelan.


Ia mulai menyantap makanan yang kini berada di hadapannya, memakan perlahan nasi goreng buatan si bibik yang lengkap dengan berbagai lauk.


Kedua netra hitamnya tidak pernah bisa lepas dari Samuel, pria itu masih nyaman dengan mimpi-mimpinya.


"I love you, Sam..." bisik Maya pelan.


....


Netra Samuel meremang melihat sosok tubuh mungil yang terlelap di atas sofa kecil berwana dusty pink. Kepala gadis itu tertunduk dan bersandar di sebelah lengannya. Sam meraih puncak kepala itu dan mengelus pelan.


"Hey.... sory aku membangunkan kamu?" tanya Sam lirih begitu gadis itu menggeliat dan membuka perlahan iris berwarna hitam pekat itu.


"Gak kok, maaf aku tertidur sebentar." Maya menguap kecil, rambut sebahunya terlihat sedikit acak-acakan. Maya merenggangkan otot-otot punggungnya yang terasa kaku akibat tidur dengan posisi duduk dengan kepala menelungkup di atas kasur Samuel.


"Aku yang minta maaf, sayang. Sudah menyusahkan kamu untuk menjagaku," lirih Sam.


"Apa sih kamu, sama sekali gak menyusahkan kok. Oh, ya demam kamu gimana, Sam?" Tangan Maya kembali menempel di dahi Samuel, guna mengukur kembali suhu tubuh pria itu.


"Udah mendingan."


Sam mulai bergerak pelan, bangun dari posisi semula. Juga mencoba merenggangkan otot-otot kakunya. "Sudah jam berapa ini?" Maya melihat jam tangannya, "Jam tujuh malam, Sam. Emang ada apa?" Maya menarik sedikit alisnya, memandang ke arah Samuel yang terlihat panik.


"Aku meninggalkan waktu sholatku, May."


Maya terkesikap mendengar jawaban dari pria itu, memandang haru wajah pria yang malam itu terlihat begitu polos, bukan seperti sosok Sam yang dulu. Tadinya Maya ingin membangunkan Samuel begitu adzan maghrib berkumandang dari ponselnya, namun ia melihat wajah sayu Sam masih terlelap dan Maya takut untuk membangunkannya.


"Maaf, Sam. Tadinya aku mau membangunkan kamu tapi aku lihat kamu tertidur pulas. Jadi..." Maya tidak meneruskan ucapannya, wajahnya terlihat begitu bersalah.


"It's ok, sayang." Sam tersenyum sekilas, mengelus lembut dagu Maya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Maya panik, begitu melihat Samuel yang kemudian terburu-buru bangkit dari ranjang berukuran kingsize tersebut.


Maya memegang pundak kekar itu dengan cekatan.


"Aku mau ambil air wudhu, sayang. Kamu ikut sholat bareng aku?"


Iris mata Maya hampir saja berair, mendengar pertanyaan Sam. Pria itu benar-benar telah berubah, semula Maya mengira Sam tidak akan se-serius itu dengan kebiasaan barunya sebagai seorang mualaf.


Maya pikir pria itu akan bersikap seperti pria-pria lainnya, yang walaupun menjadi muslim sejak lahir tapi jarang melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.


Dan kenyataannya, tunangannya itu berbeda, dia tidak seperti teman-teman kantor atau teman-teman kuliahnya dulu.


"Sayang.....? gimana? kamu mau jadi makmum aku? Yah... walau aku masih tahap belajar tapi kalau untuk menjadi imam sholat kamu... Insya Allah aku bisa." Samuel tersenyum tipis, memandang lembut wajah kekasihnya.


"Aku mau, Sam..." Maya mengangguk berkali-kali, netranya mulai berkaca-kaca.


"Ya udah aku ambil wudhu dulu ya, kamu mintalah peralatan sholatnya bibik. Terus kita sholat sama-sama di sini." Sam menghapus lembut jejak air mata Maya, tersenyum penuh arti ke arah gadis itu.


Maya menurut ucapan Samuel, bergegas keluar dari kamar luas itu dan turun menapaki tiap jengkal anak tangga melingkar tersebut.


Dia bahagia, Samuel selalu membuat hatinya membuncah.


Pria dengan masa lalu kelam itu kini sedikit demi sedikit telah berubah, membuatnya luluh dan mencinta dengan hebatnya.


to be continue....