
“Haah… Kenapa juga kita harus berjalan seperti ini?” Ucap Pedrobal, nampak megeluh mengenai sesuatu.
“Hei kalian berdua, cepatlah sedikit... Kalian pikir kita sedang bertamasyah?”
**
Sedikit jauh di belakang mereka, tampak dua murid perempuan yang tidak lain merupakan Chalett dan Auphia sedang berjalan dengan perlahan-lahan menyusul Eliadryn dan Pedrobal akibat tidak telah kelelahan menyusuri padang stepa tersebut.
Ternyata setelah mendengarkan bahwa Eliadryn dan Pedrobal hendak pergi secara diam-diam dari akademi sihir, mereka berdua pun kemudian terus memperhatikan serta mengikuti kedua murid laki-laki sampai berhasil keluar dari akademi tersebut.
“Uh… Aku juga tahu bodoh…” Ucap Auphia, nampak mengeluh mendengar ucapan dari Pedrobal.
**
“Dasar para perempuan. Padahal jika kita terbang menggunakan sayap proyeksi, pasti kita sudah sampai membantu Toner dari tadi,” ucap Eliadryn.
“Eliadryn… Ayo kita tinggalkan saja mereka… Aku lebih khawatir dengan Toner dan yang lain. Tidak menutup kemungkinan jika mereka bertemu dengan musuh di tingkatan Land Venerate juga,” ucap Pedrobal.
Kedua murid Land Venerate itu pun lantas memunculkan sayap proyeksi energi sihir mereka dan terbang ke langit dengan kecepatan penuh tanpa memperdulikan harus menunggu Charlett dan Auphia untuk menuju ke kota tempat Toner dan yang lain bertarung.
**
“Dasar para laki-laki bodoh! Hei… Tunggu kami!” Teriak Charlett, mencoba memanggil kedua murid laki-laki itu, yang sudah terbang jauh meninggalkan mereka.
Tanpa pikir panjang, Charlett beserta Auphia pun langsung memunculkan sayap proyeksi sihir mereka untuk mengejar kedua murid Land Venerate tersebut.
***
Kembali ke kota tempat Zchaira dan yang lain berada, dimana Toner dengan berusaha keras melawan serta menahan dua Venerate pemberontak yang telah mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua mereka.
“Akh…” Tampak Toner beberapa kali mendapatkan serangan fisik hingga membuatnya seketika terhempas, namun tetap berusaha untuk menghindari tembakan peluru dari kedua Venerate tersebut.
**
“Apa kita tidak bisa membantunya melawan mereka?” Tanya Lucia, nampak khawatri melihat keadaan dari Toner yang terus saja mendapatkan serangan dari kedua Venerate pemberontak itu.
“Walaupun kita merasa khawatir, itu tetap hanya akan mengganggunya… Kita tidak bisa berbuat banyak jika harus membantu melawan dua Venerate itu,” ucap Megathirio, menjelaskannya kepada Lucia.
Karena khawatir melihat Toner terus saja mendapatkan sebuah serangan, Andras dan Shaevanjoe langsung melancarkan serangan tebasan proyeksi energi berwarna merah dari masing-masing senjata suci mereka, berniat untuk menyerang salah satu dari Venerate pemberontak tersebut.
“Hei, jangan menyerang mereka…” Ucap Rayvor, memperingati Andras dan Shavanjoe, namun hal tersebut sudah terlambat.
**
“Akh…” Melihat dua serangan tebasan meluncur ke arah rekannya, Venerate bernama Olirvine dengan cepat mencengkram leher Toner dan langsung menghempaskannya ke arah Venerate bernama Grovenzo.
“Uakh…!” Dalam sekejap, Toner pun menerima serangan proyeksi tebasan yang diluncurkan oleh Andras dan Shaevanjoe hingga membuatnya terhempas ke jarak yang cukup jauh.
Setelah Toner terhempas, Venerate bernama Grovenzo tersebut kemudian mengacungkan salah satu pistolnya ke arah Megathirio dan yang lain. Dalam sekejap, Venerate tersebut meluncurkan serangan proyeksi cahaya dari salah satu pistolnya, yang dengan cepat meluncur ke arah Megathirio dan yang lain.
Tiba-tiba Eliadryn, Pedrobal, Charlett dan Auphia muncul dan menggabungkan kekuatan mereka, menciptakan sebuah perisai proyeksi untuk menahan serangan yang dilancarkan oleh Grovenzo.
Mereka dengan sigap langsung mendorong perisai proyeksi tersebut, hingga meluncur dengan cepat menghantam Grovenzo sampai terhempas.
“Tenang adik-adik… Kakak-kakak sudah datang membantu kalian,” ucap Eliadryn sambil tersenyum ke arah Megathirio dan yang lain.
“Kalian para murid Land Venerate? Kenapa kalian berada di tempat ini?” Tanya Rayvor, penasaran melihat keempat orang itu, karena setahunya bahwa para murid Land Venerate masih belum memiliki hak kebebasan untuk keluar dari akademi sihir sama seperti murid yang berada di kelas Continent Venerate.
“Kami kemari secara diam-diam, setidaknya untuk membantu kalian,” jawab Auphia.
“Serahkan mereka kepada kami… Kurasa kalian lebih baik mengurus pasukan yang sedang menuju ke kemari…” lanjutnya Auphia.
“Apa? Ada pasukan lain yang sedang menuju kemari?” Tanya Rayvor, terkejut.
Begitu juga dengan yang lain, tampak terkejut setelah mendengar bahwa masih ada pasukan Venerate pemberontak, padahal sebelumnya mereka sudah mengalahkan para Venerate lain yang berjaga di seluruh kota ini.
“Saat terbang, kami melihat ada segerombolan pasukan Venerate yang datang… Tapi jangan khawatir, mereka sepertinya berada dibawah tingkatan Regional Venerate…” Jawab Auphia.
Disaat Auphia sedang menjelaskan kepada para murid Regional Venerate, tiba-tiba Venerate yang menerima serangan mereka kembali bersama rekannya, serta siap untuk menyerang mereka semua.
“Cepat pergi dari sini… Biar kami yang melawan mereka,” ucap Eliadryn.
Para murid Regional Venerate pun langsung mengikuti perkataan tersebut untuk meninggalkan tempat itu dan membiarkan keempat murid Land Venerate itu untuk menangani kedua Venerate pemberontak itu.
Dengan cepat Eliadryn, Pedrobal, Charlett serta Auphia langsung memunculkan senjata suci mereka yang tersimpan di dalam sebuah gelang yang dikenakan oleh mereka masing-masing. Auphia memunculkan sebuah pedang lengkap dengan sebuah perisai, layaknya seperti seorang kesatria, Pedrobal memunculkan sebuah pedang dengan ukuran yang lebih besar dan Charlett memunculkan sebuah tongkat sihir.
Sedangkan untuk Eliadryn, pemuda itu memunculkan senjata yang unik, dimana menggunakan sebuah sarung tangan besi yang mampu memproyeksikan sebuah energi yang berbentuk layaknya sebuah bilah pedang.
Keempat murid Land Venerate itu kemudian memaduhkan pergerakan mereka dengan menggunakan sayap proyeksi agar mampu untuk menyerang kedua Venerate pemberontak itu yang kini mampu untuk melayang setelah mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua.
Mereka saling melancarkan serangan di udara secara bergantian, dimana keempat murid Land Venerate itu membagi kelompok menjadi untuk berhadapan dua lawan satu bersama Venerate-Venerate pemberontak tersebut.
***
Di sisi lain, Megathirio dan yang lain akhirnya sampai di depan kota dan seketika terkejut, mengetahui bahwa pasukan bala bantuan dari para pemberontak tersebut ternyata lebih banyak dari yang mereka kira.
Akan tetapi Lucia, satu-satunya murid perempuan diantara mereka dengan sigap menggunakan kekuatan teleportasinya dan dalam sekejap berpindah tempat diantara para pasukan bala bantuan tersebut.
“Fiammazul sillabare… Blue purgatory…” Setelah berada diantara para pasukan pemberontak, Vampireman perempuan itu melancarkan serangan proyeksi elemen api berwarna biru ke segala arah, hingga langsung diterima oleh beberapa Venerate tersebut.
**
Tidak mau kalah, Rayvor, Flogaz, Andras dan Shaevanjoe seketika meluncur mendekati pasukan bala bantuan tersebut kemudian melancarkan serangan proyeksi mereka masing-masing, yang langsung mengalahkan beberapa dari pasukan tersebut.
**
Selanjutnya Megathirio yang masih belum meluncur ke arah para pasukan bala bantuan sontak memunculkan sayap proyeksi energi sihirnya dan terbang mendekati Lucia yang berada diantara para pasukan tersebut.