
“Eh…” Tiba-tiba sebuah penghalang muncul saat serangan dari Aiver hampir saja mengenai Illios.
“Ukh…” Penghalang tersebut bergerak mendorong Aiver hingga terhempas.
Tak berada lama, salah satu tetua di akademi itu muncul tepat di depan Ilios, layaknya mau menghalangi Aiver menyerang.
“Sialan kau tua bangka, cepat minggir dari sana… Jangan ikut campur dengan pertarunganku,” ucap Aiver dengan nada suara tinggi, merasa kesal tetua tersebut menghalanginya ingin mengakhiri Illios.
**
Kral yang melihat kemunculan tetua itu sontak hanya berdiam, membiarkan tetua tersebut menangani masalah yang ada.
**
“Aiver Portner, selama kau masih menjadi murid akademi ini, kau tetap menjadi tanggung jawab kami… Apalagi kau membuat masalah di dalam tempat ini,” ucap si tetua, memperingati pria itu.
“Kalau begitu, coba tangani ini tua bangka.” Aiver tidak mau mendengar ucapan si tetua tersebut dan malah memunculkan sebuah tombak yang merupakan senjata sucinya, hendak menantang tetua itu.
Aiver maju mendekat dengan cepat sambil mengacungkan tombak yang memancarkan pancaran energi ke arah tetua tersebut.
Dengan sigap tetua itu pun memunculkan sebuah perisai dari proyeksi energi sihirnya, menahan serangan Aiver.
Akan tetapi karena terlalu kuat tekanan dari serangan tersebut, perisai proyeksi dari tetua itu dalam sekejap hancur.
“Fulmine sillabare…” Ketika serangan Aiver hampir mengenainya, tetua itu melompat pun menghindar sambil melancarkan serangan elemen petir.
“Ukh…!” Aiver pun menjadi kejang-kejang menerima serangan elemen petir tersebut sampai membuatnya jatuh terkapar.
“Kral Silkbar, cepat bawa saudaramu menjauh dari sini,” ucap si tetua pada Kral untuk membawa Illios menjauh dari tempat tersebut.
Dengan cepat, Kral bergerak mengangkat saudaranya, Illios dan pergi menjauh dari tempat itu.
Tak berapa lama, Aiver kembali berdiri dengan ekspresi kesal. Dalam sekejap pria itu meningkatkan kekuatannya hingga proyeksi energi memancar dari tubuhnya.
“Semuanya cepat menjauh dari tempat ini!” Teriak si tetua memperingati semua murid yang berada di dekat tempat itu.
**
Dengan segera para murid yang masih berada di sekitar langsung menjauh setelah mendapatkan peringatan dari tetua mereka.
**
Setelah itu, Aiver pun meluncur ke arah si tetua sambil mengacungkan tombaknya yang memancarkan proyeksi energi.
“Incantesimo segreto… Coup de pousser…” Tetua itu langsung melancarkan serangan proyeksinya menahan serangan yang dilancarkan oleh Aiver.
Tabrakan kedua serangan tersebut menciptakan hempasan angin yang kuat, menerbangkan benda-benda ringan yang berada di sekitar tempat mereka bertarung.
Tak berapa lama kemudian, serangan yang dilancarkan oleh si tetua nampak lebih unggul hingga membuat menghempaskannya ke jarak yang cukup jauh.
Aiver yang terhempas dengan sigap mempertahankan keseimbangannya hingga pria itu pun bisa mendarat dengan sempurna.
Tiba-tiba sebuah proyeksi energi berbentuk aksara-aksara rune muncul di sekitar pria itu.
“Akh…” Dalam sekejap aksara-aksara rune itu menempel pada tubuh Aiver, membuatnya jatuh berlutut tidak bisa menggerakan tubuhnya.
Setelah hal itu terjadi, dua tetua yang pernah memperhatikan pria itu menemui Astrapi, datang mendekat menghampirinya.
Ternyata teknik yang diterima oleh Aiver adalah ulah dari mereka untuk membuat pria itu tidak melanjutkan pertarungannya.
Di saat yang bersamaan, tetua yang sebelumnya bertarung dengan pria itu juga datang menghampirinya.
Walaupun merasa kesal dengan ucapan tetua tersebut, Aiver tidak bisa melakukan apapun karena sudah terjebak di dalam teknik para tetua.
–Mei sampai Oktober 3019–
Aiver sejak hari itu benar-benar dikeluarkan dari akademi sihir dan dilarang menginjakan kakinya di kota Xemico, tempat akademi tersebut berada.
Seumur-umur sejak akademi sihir itu didirikan lebih pada sepuluh abad yang lalu, tidak pernah ada seorang murid yang berani menantang salah satu tetua, sekalipun memiliki tingkatan yang setarah dengan para tetua seperti pria itu.
Setelah kepergian Aiver, kehidupan para murid di dalam akademi tersebut kembali menjadi damai. Kini sudah tidak ada lagi Aiver serta murid yang memiliki sifat sepertinya, yang sering membuat para murid menjadi tidak nyaman berada di tempat itu.
Sementara itu, murid yang pernah bertarung dengan Aiver sebelumnya, yang tidak lain adalah Illios juga mendapatkan hukuman walaupun tidak seberat yang diberikan kepada Aiver.
Illios mendapatkan hukuman yaitu harus berangkat bersama pasukan Lightio membantu negeri Tsureya yang sedang berkonflik dengan negeri Geracie di benua Greune.
Karena baru pertama kalinya turun dalam peperangan, Kral pun sontak meminta dirinya juga untuk pergi bersama dengan Illios.
Para tetua tidak bisa menolak permintaan dari Kral karena merupakan satu-satunya murid yang sangat mereka hormati akibat selalu bersikap baik selama berada di akademi tersebut.
–15 sampai 17 Oktober 3019–
Suatu hari karena Astrapi sendirian sudah tidak bersama dengan kedua saudara di dalam akademi, perempuan memutuskan untuk sementara kembali ke kota Hawkingson.
Astrapi sampai di kota Hawkingson dan mengetahui bahwa ayahnya, Hefaistos tidak berada di tempat karena telah berangkat ke negeri Tsureya.
Di hari itu juga, Astrapi tiba-tiba kedatangan seorang tamu yang tidak lain adalah Aiver Portner.
“Kenapa kau berada disini?” Ucap Astrapi, terkejut melihat pria itu.
“Memangnya ini sebuah kesalahan jika aku ingin melihat pujaan hatiku?” Balas Aiver sambil memasang ekspresi senyuman menyeringai.
Pria itu pun perlahan mendekat lalu membelai rambut Astrapi, namun Astrapi merasa terganggu dengan hal tersebut hingga membuatnya langsung mendorong pria itu dan menamparnya.
“Hahaha…” Aiver tiba-tiba tertawa setelah Astrapi menamparnya, pria itu tetap memperlihatkan ekspresi menyeringainya dan kembali mendekati Astrapi.
“Kuperigatkan, jangan mendekat… Jika tidak aku akan menyerangmu,” ucap Astrapi dengan ekspresi serius, memperingati pria itu.
Akan tetapi, Aiver tidak memperdulikan peringatan dari Astrapi dan tetap perlahan-lahan mendekatinya. Disaat Astrapi juga perlahan-lahan mundur menjauhi pria itu sedang mendekati, tiba-tiba sebuah diagram sihir muncul tepat berada di bawah perempuan tersebut.
“Akh…!” Dalam sekejap lingkaran sihir tersebut menciptakan ledakan yang cukup besar hingga membuat Astrapi terkepar lemah.
Astrapi dalam keadaan lemah, berusaha bergerak menjauhi Aiver yang sedang mendekatinya, namun usahanya tersebut sia-sia karena Aiver dengan cepat mendekapnya hingga perempuan itu hingga membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
*
“Tolong… Siapanpun...” Ucap Astrapi dalam hati karena sudah tidak kuat lagi untuk bersuara.
**
Akan tetapi, tidak ada yang bisa menolong karena sebelumnya Aiver sudah melumpuhkan semua orang yang berada di dalam kediaman tersebut.
***
Dua hari kemudian Hefaistos bersama dengan Kral dan Illios tiba di kota Hawkingson. Mereka terkejut menemui Astrapi yang telah mengalami depresi seakan-akan seperti seseorang yang telah mengalami sebuah penganiayaan.
Orang-orang yang berada di dalam kediaman masih belum mengetahui siapa yang telah membuat Astrapi menjadi seperti itu. Dua hari sebelumnya saat mereka semua tersadar, mereka menemukan Astrapi terkapar lemah tanpa seseorang berada di dekatnya.
Mendengar pernyataan tersebut Hefaistos pun menjadi geram dan ingin mencari tahu siapa orang yang berani melakukan hal itu pada putrinya.