The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 51 - Hari pertama di akademi sihir



“Eh… Memangnya kenapa?” Tanya Zchaira, kebingungan serta terkejut tiba-tiba kedua orang tuanya melarangnya untuk meniup seruling tersebut.


“Kau harus melatih cara menggunakannya dulu. Ibu memberikannya padamu untuk disimpan terlebih dahulu,” jawab Artemis, menjelaskannya pada Zchaira.


“Iya… Jika kau membunyikan seruling itu, entah apa yang akan terjadi pada para pengemudi pesawat ini jika mereka mendengar suaranya,” sambung Hefaistos.


Zchaira pun paham kemudian menyimpan seruling tersebut pada gelang yang diberikan oleh Hefaistos.


***


Beberapa menit pun berlalu, pesawat berkecepatan tinggi yang dinaiki oleh Zchaira dan yang lain kini sampai dan mendarat di kota Xemico. Mereka semua turun dari dalam pesawat tersebut dan kemudian masuk ke dalam kendaraan yang telah disiapkan.


Kendaraan mereka berjalan melintasi perkotaan yang didominasi oleh gedung-gedung tinggi, sama seperti suasana ketika berada di kota Workyen.


***


Hingga tak berapa lama, Zchaira menjadi sedikit gelisah ketika wilayah perkotaan Xemico telah mereka lewati, namun mereka tidak kunjung sampai di akademi sihir tersebut.


“Berapa lama lagi kita sampai?” Karena tidak kunjung sampai, Zchaira lantas bertanya.


“Sebentar lagi… Jangan khawatir, kita tidak akan tersesat,” jawab Hefaistos.


Walaupun Hefaistos sudah meyakinkan Zchaira untuk sabar menunggu, tetapi gadis itu tetap merasa khawatir ketika mereka kini melewati jalan di tengah hutan yang cukup lebat.


Kendaraan tersebut kemudian menuruni sebuah jalan terjal, dimana disekitarnya tertutupi oleh sebuah kabut yang tebal.


Setelah jalan yang mereka lewati pun kembali lurus, kabut yang menutupi disekitaran mulai menghilang.


“Apakah itu tempatnya?” Tanya Zchaira tiba-tiba terkejut melihat sesuatu di depannya.


“Selamat datang di akademi sihir…” Ucap Hefaistos, menjawab pertanyaan dari Zchaira.


Zchaira dan Megathirio terkejut hingga tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat bangunan akademi sihir Lightio itu nampak besar dan luas dengan beberapa bangunan kecilnya sangat tinggi menjulang ke langit.


Akademi sihir itu terlihat terpisah dari daratan dengan beberapa jembatan besar menjadi satu-satunya jalan untuk masuk.


“Memang ini sedikit terlambat dengan usia kalian dari usia para murid-murid baru yang masuk di akademi ini… Namun, jangan khawatir usia kalian masih lebih muda dari ibu saat masuk ke akademi ini,” ucap Artemis.


“Jadi ibu pernah masuk kesini juga?” Tanya Zchaira, penasaran.


“Iya, saat usia ibu masih sekitar delapan belas tahun saat itu,” jawab Artemis, menjelaskan bahwa dirinya juga pergi masuk ke akademi sihir tersebut setelah peperangan dengan negeri Machora Tira sekitar dua puluh lima tahun yang lalu.


Kendaraan yang dinaiki mereka sejenak berhenti di depan jembatan penghubung ke bangunan utama akademi sihir tersebut untuk menurunkan Megathirio dan Zchaira.


“Sampai disini saja kami mengantar kalian… Untuk saat ini kalian adalah murid baru, dan lupakan dulu bahwa kalian berdua adalah anak dari para pemimpin negeri Lightio,” ucap Hefaistos.


Setelah Hefaistos berpesan kepada dua anaknya, kendaraan tersebut kemudian kembali berjalan lalu memasuki jembatan lain yang dikhususkan bagi para tamu yang akan masuk.


“Jadi walaupun orangtua kita adalah anak dari presiden penyihir, tetap saja harus sama dengan para murid lainnya,” ucap Zchaira.


“Sudahlah… Ayo kita masuk sekarang.” Megathirio lantas mengajak Zchaira untuk segera masuk ketika mendengar adiknya tersebut mengoceh tentang status asli mereka.


Kedua saudara itu kemudian melintasi jembatan penghubung dan masuk ke dalam akademi sihir bersama dengan para murid baru.


***


Tak berapa lama kemudian sebuah kendaraan lain berhenti di depan jembatan penghubung tersebut.


“Tuan Rayvor, apa kau yakin dengan ini?” Tanya Lucia kepada Rayvor, yang ternyata berada satu kendaraan bersamanya.


“Kakak, sudah kukatakan panggil saja aku dengan namaku… Dan jangan khawatir, masih bisa diterima di akademi ini karena usiamu masih belum mencapai batas,” balas Rayvor, mengatakan pada perempuan itu untuk perlu memanggilnya dengan sebutan formal serta berusaha untuk meyakinkan perempuan itu.


“Tapi maksudku bukan itu… Kau tahu kan siapa aku sebenarnya, bagaimana jika orang-orang tahu tentangku,” ucap Lucia, khawatir jika orang-orang tahu sebenarnya dirinya merupakan Vampireman.


“Asalkan kau tidak mengumbar-ngumbar siapa dirimu sebenarnya, dan ingat bahwa kau tidak boleh melepaskan gelang itu… Aku hanya mengingatkan kembali pesan dari tuan Gahaelix…”


Ternyata beberapa bulan lalu, Gahaelix Dirkcourt, Continent Venerate Lightio yang bertanggung jawab atas para Vampireman sebelumnya, menginginkan Lucia untuk masuk ke dalam akademi sihir Lightio walaupun perempuan itu sebenarnya merupakan ras Vampireman.


Alasan utama mengapa Gahaelix bertujuan seperti itu karena mengetahui usia Lucia masih cukup untuk bisa masuk ke akademi sihir.


Sebenarnya Gahaelix juga ingin Joker, kakak dari perempuan itu untuk masuk juga, namun Joker malah menolak hal tersebut, berbeda dengan Lucia yang tidak menolak walaupun ragu dengan hal tersebut.


“Tenang saja, di dalam pasti kau akan bertemu dengan Megathirio dan Zchaira, anak-anak dari presiden penyihir itu,” ucap Rayvor meyakinkan Lucia.


“Semangatlah di hari pertamamu…” Setelah Rayvor memberinya semangat, kendaraan yang dinaiki Rayvor pun kembali berjalan meninggalkan Lucia masuk ke jembatan penghubung yang dikhususkan untuk para murid-murid lama.


“Justru mereka yang membuatku sangat khawatir… Bagaimana jika mereka mengenaliku nanti,” gumam Lucia, nampak khawatir jika dirinya dilihat oleh Megathirio dan Zchaira.


Walaupun ragu dengan hal tersebut, Lucia pun tetap berjalan melewati jembatan penghubung bersama dengan murid-murid baru yang masih berdatangan.


***


Lucia sampai di dalam akademi sihir kemudian bersama dengan para murid baru diarahkan berkumpul ke sebuah tempat yang luas, berhadapan dengan sebuah bangunan panggung yang tinggi.


**


Tak jauh dari situ, nampak Megathirio dan Zchaira berada diantara para murid-murid akademi tersebut.


Megathirio yang sedang memperhatikan sekitaran tiba-tiba terkejut ketika melihat Lucia, yang seperti diketahui olehnya berada tidak jauh dengan mereka.


“Zchaira, kau lihat perempuan itu. Apakah kau pernah melihatnya?” Tanya Megathirio, sambil menunjuk Lucia diantara murid-murid baru.


“Perempuan itu… Memangnya siapa dia? Jangan bilang bahwa sudah mau melirik perempuan-perempuan ditempat ini.” Karena tidak mengenali Lucia, Zchaira pun langsung mengambil kesimpulan bahwa kakanya tersebut sebenarnya hanya ingin berkenalan dengan perempuan yang ditunjuknya.


“Tunggu dulu… Dia kan Vampireman yang pernah kau tangkap waktu itu.” Zchaira mengingat wajah Lucia dan langsung mengatakannya pada Megathirio.


“Sudah kuduga…” Tanpa pikir panjang Megathirio langsung berjalan diantara para murid baru untuk mendekati Lucia.


**


Lucia yang melihat Megathirio datang mendekatinya, seketika terkejut dan ketakutan. Perempuan itu langsung pergi menjauh, namun kemana pun dia pergi Megathirio tetap berusaha mengikutinya.


**


“Kakak, tunggu…” Di belakang, mereka nampak Zchaira sedikit kesulitan mengejar Megathirio yang sudah berjalan lebih jauh dengannya.


“Akh…” Karena terburu-buru mengejar Megathirio, Zchaira tiba-tiba menabrak seorang anak laki-laki hingga terjatuh.


“Maafkan aku…” Dengan sigap Zchaira pun langsung membantu anak itu untuk berdiri.


Anak laki-laki yang dibantu berdiri oleh Zchaira tiba-tiba terpesona ketika melihat kecantikan gadis itu.