
“Hei, pindahkan semuanya ke tempat yang aman, aku ingin mencoba sesuatu,” ucap Megathirio pada Lucia.
Mendengar ucapan dari Megathirio, Lucia pun lantas terkejut, Vampireman perempuan itu langsung mengetahui maksud dari pemuda tersebut bahwa dia harus menggunakan kekuatan teleportasi untuk memindahkan para rekannya ke tempat yang aman. Walaupun sempat ragu, namun Lucia lebih khawatir jika dia tidak melakukan hal tersebut, maka hal yang berbahaya akan terjadi kepadanya, serta para rekan-rekannya.
Dalam sepersekian detik Lucia memperhatikan keadaan disekitar untuk melihat Rayvor, Flogaz, Andras serta Shaevanjoe yang berada diantara para pasukan musuh. Dalam sekejap Lucia menghilang muncul di dekat Rayvor lalu memegang pemuda itu dan kemudian menghilang kembali muncul di tempat yang aman. Perempuan itu lalu melakukan hal yang sama kepada Flogaz, Shaevanjoe serta Andras.
Karena baru pertama kali berpindah-pindah tempat secara beruntun dalam kurun waktu yang sangat cepat, Lucia pun lantas kehilangan keseimbangannya ketika muncul bersama dengan Andras, yang tiba-tiba membuatnya hendak jatuh tersungkur bersama pemuda itu.
Andras pun dengan refleks memeluk Lucia dan membiarkan dirinya terseret ke tanah, sembari melindungi Lucia yang berada di atasnya.
“Sama-sama…” Tanpa mengharapkan ucapan terima kasih dari Vampireman perempuan itu, Andras lantas langsung meresponnya sambil memasang ekspresi tersenyum diwajahnya.
**
Setelah melihat bahwa semua rekan-rekannya telah berada di tempat yang aman, serta berada dalam jarak yang cukup jauh, Megathirio yang sedang melayang di udara kemudian meluncur ke bawah lalu menancapkan pedangnya ke tanah hingga dalam sekejap duri-duri kristal berukuran besar muncul dari dalam tanah disekitar pemuda itu tersebut.
Seketika sebagian besar para prajurit pemberontak terhempas dengan kuatnya setelah duri-duri kristal tersebut terus bermunculan, hingga mengalahkan sebagian dari mereka.
**
Dari kejauhan Lucia serta yang lain tampak terkejut serta terkesima melihat kemampuan yang diperlihatkan oleh Megathirio.
Tidak mau kalah dengan Megathirio, Andras pun langsung meluncur dan mengibaskan tongkat sabitnya berulang kali hingga meluncurkan beberapa serangan tebasan proyeksi energi berwarna merah, yang langsung mengalahkan beberapa prajurit musuh yang ada.
Disaat bersamaan Shaevanjoe datang lalu membantu saudaranya tersebut mengalahkan satu per satu dari pasukan pemberontak tersebut.
Begitu juga dengan Rayvor, Flogaz serta Lucia, yang dengan cepat kembali meluncur mendekati para prajurit musuh lalu melancarkan serangan mereka masing-masing.
Rayvor meluncur dengan cepatnya sambil mengacungkan tombaknya ke depan melewati beberapa prajurit musuh, hingga mereka menerima serangan proyeksi elemen petir dari pemuda itu hingga tak sadarkan diri.
Sedangkan Flogaz, bekerja sama dengan Lucia, untuk menahan serangan proyeksi energi berwarna hitam yang dilancarkan oleh beberapa prajurit menggunakan serangan proyeksi elemen api hitam dari senjata sucinya. Ketika serangan dari pemuda itu mampu mengungguli serangan dari para prajurit musuh, Lucia pun dengan sigap melancarkan serangan proyeksi elemen api berwarna emas, hingga mengalahkan para prajurit musuh.
**
Melihat Rayvor dan yang lain masuk kembali ke dalam pertarungan, Megathirio sontak mengurungkan niatnya untuk melancarkan teknik dari senjata sucinya, yang padahal memiliki rasio serangan yang luas serta mampu mengalahkan lebih banyak prajurit musuh.
Pemuda itu kemudian menyimpan kembali pedang senjata sucinya, kemudian beralih menggunakan serangan proyeksi elemen air bertekanan tinggi.
“Urgh…”
“Aqua sillabare… Ocean projection…” Merasa muak harus mengalahkan satu per satu prajurit musuh, pemuda itu lantas berputar-putar melancarkan serangan pusaran elemen air hingga menghempaskan prajurit musuh, bahkan juga langsung menghempaskan Rayvor dan yang lain karena berada di sekitar pemuda itu.
“Incantesimo segreto… Coup de poing…” Belum puas, Megathirio kemudian melancarkan serangan teknik sihir rahasia ke arah beberapa prajurit musuh.
Saking banyaknya, prajurit yang ada dan terus mencoba untuk menyerangnya, Megathirio pun tidak memiliki pilihan selain terus melancarkan serangan tersebut berulang-ulang kali.
Tiba-tiba beberapa prajurit musuh datang meluncur ke arah Megathirio sambil hendak melancarkan serangan. Megathirio yang tidak bisa menghindar karena telah kelelahan, nampak pasrah dengan keadaannya tersebut.
Tiba-tiba dalam sepersekian detik, Lucia muncul dan langsung memegang Megathirio. Lucia pun dalam sekejap kembali menghilang bersama pemuda itu, hingga para prajurit pemberontak itu gagal untuk menyerang.
**
Lucia dan Megathirio kemudian muncul di tempat yang sedikit jauh dari para prajurit pemberontak.
“Megathirio, tenang saja… Sisanya serahkan saja kepada kami. Kau sudah bekerja keras mengalahkan sebagian besar diantara mereka,” ucap Lucia sambil menepuk bagian belakang pemuda itu.
Lucia kemudian kembali bergabung bersama dengan para murid yang lain berhadapan dengan pasukan musuh yang masih tersisa.
Sementara itu, Megathirio pun nampak terkejut tidak bisa berkata apa-apa setelah Vampireman perempuan itu telah menolongnya. Megathirio memang merasa bahwa Lucia menyelamatkannya karena sempat berhutang budi akibat Megathirio pernah menolong menyembuhkan luka perempuan itu sebelumnya. Akan tetapi, entah kenapa Megathirio tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda kepada Lucia.
***
Di sisi lain, tampak keempat murid Land Venerate, Eliadryn, Pedrobal, Charlett serta Auphia masih tetap berusaha melawan dua Venerate pemberontak.
“Haah… Haah…” Keempat murid Land Venerate itu tampak mulai kewalahan, walaupun sedari tadi masih mampu melawan serta bertahan saat berhadapan dua Venerate pemberontak yang telah mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua mereka.
“Boleh juga kemampuan kalian…” Ucap Venerate bernama Olirvine, nampak terkesima dengan kemampuan keempat murid Land Venerate tersebut.
“Akan tetapi, sekuat apapun kalian mencoba… Kalian tetap tidak bisa mengalahkan kami,” ucap Venerate bernama Olirvine tersebut sambil mengacungkan senapannya ke arah Eliadryn dan yang lain.
Tiba-tiba Toner yang ternyata masih belum kalah seketika muncul di belakang pria tersebut. Anehnya, kedua warna mata dari pemuda itu berubah menjadi warna merah, dia juga terlihat telah menumbuhkan kuku yang cukup panjang di seluruh jari tangannya.
“Olirvine! Di belakangmu!” Teriak Venerate bernama Grovenzo, memperingati rekannya tersebut bahwa tanpa dia sadari Toner kini tepat berada di belakangnya.
“Uakh…!” Karena tidak menyadari kehadiran pemuda tersebut, Olirvine tiba-tiba mendapatkan serangan tebasan dari cakar Toner hingga membuatnya seketika terhempas.
Olirvine pun terkapar tak berdaya setelah mendapatkan serangan tebasan yang membekas dari pemuda itu. Pria itu pun tiba-tiba kembali ke wujudnya semula sambil mengalami kejang-kejang.
Hal tersebut lantas membuat Grovenzo pun khawatir dan pergi menghampiri rekannya tersebut.
“Olirvine ada apa dengamu?” Tanya Venerate bernama Grovenzo.
Akan tetapi, rekannya tersebut tetap mengalami kejang-kejang dan tidak menjawab pertanyaan dari pria itu.
***
Di lain tempat, pada saat yang bersamaan, terlihat Aiver sedang menggunakan teknik sihirnya untuk memantau serta menerawang keadaan dari kelompok Venerate bawahannya yang tersebut di beberapa wilayah Xetas.