
“Kral, apakah tidak bisakah kalian kembali? Ini bukan karena demi ibu kalian, tapi aku juga sangat menginginkan kalian kembali… Selama ini ayah sangat kesepian berada di Hawkingson sendirian, satupun keluarga,” ucap Hefaistos, memohon pada putra pertamanya tersebut.
“Hanya karena itu kau tidak perlu khawatir. Ibu dan dua adikku sudah kembali… Kau tidak perlu memiliki alasan lagi tidak memiliki keluarga di Hawkingson…”
“Jika tidak ada yang ingin kau katakan lagi… Aku pergi dulu.” Kral sontak menolak permohonan Hefasitos sendiri dan kemudian pergi meninggalkan ayahnya itu sendirian di tempat tersebut.
“Kau memang benar nak, tapi apakah tidak boleh seorang ayah menginginkan semua anak-anaknya berada di sampingnya?” Gumam Hefaistos setelah Kral pergi.
***
Kral pergi ke ruangan makan bergabung bersama dengan para anggota keluarganya yang lain.
“Kral, darimana saja kau?” Tanya Artemis.
“Aku hanya mencari udara segar saja ibu,” jawab pria itu.
“Apa kau melihat ayahmu? Dia sejak daritadi juga tidak kelihatan sama sepertimu…” Tanya Artemis sekali lagi.
Tak berapa lama orang yang ditanya oleh Artemis juga masuk ke ruangan tersebut bergabung bersama mereka.
“Oh, ternyata kau sudah datang…” Ucap Artemis.
“Darimana saja kau? Apa kalian sebelumnya bersama?” Lanjut Artemis, bertanya pada Hefaistos dan juga Kral.
“Iy…”
“Tidak ibu… Aku juga sedari tadi tidak meliihat ayah.” Baru saja Hefaistos hendak menjawab, anaknya tersebut langsung mendahuluinya.
Kral tampak berbohong mengatakan bahwa dirinya tidak bersama dengan Hefaistos, yang padahal mereka sebelumnya sempat berbincang tentang masalah yang akan segera diketahui oleh Artemis.
“Eh… Aku mencari udara segar diluar, tapi memang tidak bertemu dengan Kral sebelumnya.” Hefaistos lantas memberikan jawaban lain tanpa memberitahukan hal yang sebenarnya.
Hefaistos tidak mempermasalahkan kebohongan Kral tersebut dan lebih memilih bergabung bersama semuanya.
***
Beberapa saat kemudian semua orang yang ada masih belum meninggalkan ruangan tersebut. Mereka terus duduk sambil sambil tertawa tertawa satu sama lain.
Mereka semua tidak akan mengakhiri momen kebahagian itu dengan cepat karena jarang-jarang terjadi kepada mereka semua.
“Oh yah kakak, sebenarnya kita masih kekuarangan satu orang lagi karena sedang berada dalam sebuah misi.” Ucap Lucierence pada Artemis.
“Siapa orang itu memangnya?” Tanya Artemis, penasaran.
“Dia adalah Kenrow… Apa kau sudah lupa?” Jawab Lucierence.
“Kenrow…? Maksudmu ayah? Kau lancang sekali memanggil ayah hanya dengan namanya saja,” ucap Artemis.
“Ngomong-ngomong kenapa ayah masih aktif di usia tuanya? Dan kenapa dia pergi menjalankan misi?”
Lucierence menjelaskan bahwa ayah mereka, Kenrow Silkbar pergi bersama dengan pasukan Lightio membantu negeri pasukan Tsureya melawan negeri pasukan Geracie.
Walaupun dalam usia tuanya serta menjadi salah satu Continent Venerate tertua Lightio saat ini, pria tersebut masih tetap aktif menjadi prajurit Lightio, layaknya masih berada pada masa-masa keemasannya.
Selain itu, kedua negeri yang dibahas tersebut merupakan dua negeri serumpun yang terletak diantara perbatasan benua Greune dan Antikara, yang sudah saling bertentangan sejak dulu.
“Tapi tenang saja kakak… Aku yakin ayah tidak akan terlambat disaat upacara penobatanmu kembali menjadi menjadi wakil presiden penyihir Lightio,” ucap Lucierence.
“Iya, aku juga berharap dia hadir juga…” respon Artemis.
***
Beberapa saat kemudian, saat lebih larut malam, kegiatan berbincang mereka perlahan-lahan mulai selesai. Satu per satu orang yang berada di ruangan itu pun mulai pergi untuk masuk beristirahat.
Setelah semua orang pergi meninggalkan ruangan tersebut, kini tersisa Hefaistos dan Artemis yang masih bertahan.
“Kau belum tidur?” Tanya Artemis.
“Eh, iya aku masih mau bersantai dulu… Bagaimana denganmu?” Jawab Hefaistos, kemudian bertanya balik.
“Aku juga berpikiran hal yang dengamu.”
Baik Hefaistos maupun Artemis tampak tidak mau beranjak dari ruangan tersebut. Mereka sepertinya ingin mengatakan sesuatu kepada satu sama lain.
“Ada yang ingin kutanyakan…”
“Kau dulu…” Ucap Hefaistos.
“Tidak, kau saja yang duluan…” Balas Artemis.
“Baiklah…” Hefaistos pun mengalah sebagai seorang pria.
“Selama enam belas tahun lebih ini apakah…”
“Apakah apa?” Artemis menjadi penasaran ketika pria itu tiba-tiba berhenti berbicara.
“Itu… Eh… Apakah kau masih merindukanku?” Tanya Hefaistos, sedikit terbata-bata.
Artemis pun sedikit tekejut mendengarnya, hingga membuatnya juga langsung terdiam memikirkan sesuatu.
“Aku tahu kau waktu itu sangat marah karena aku lebih mementingkan negeri ini dibanding putri kita… Tetapi, hari demi hari aku tidak berhentinya memikirkan tentang Megathirio dan Zchaira… Termasuk kau juga…”
“Kau pikir aku juga tidak? Kau pikir mudah hidup jauh dengan orang yang dicintainya? Aku juga berhari-hari memikirkan tentangmu… Juga sangat merindukanmu…”
Hefaistos hanya bisa terdiam menyimak pernyataan dari Artemis. Dia tidak menyangka bahwa wanita itu akan merespon ucapannya dengan seperti itu.
“Eh…” Artemis tersadar dengan apa yang dia katakan dan sontak membuat wajahnya memerah.
Disaat yang bersamaan Hefaistos dan Artemis memegoki Zchaira yang sedang berdiri dengan canggunggnya di depan pintu masuk ruangan itu.
“Aku juga ingin jujur… Aku sebenarnya ingin menyuruh kalian untuk beristirahat…”
“Maaf karena daritadi berdiri disini dan tidak sengaja mendengar semua yang kalian bicarakan…” Ucap Zchaira.
Artemis dan Hefaistos pun nampak merasa malu ternyata salah satu anak mereka mendengarkan pernyataan rindu mereka satu sama lain.
“Tunggu dulu… Tetaplah disitu…” Artemis hendak berdiri dari tempatnya duduk, namun langsung dhentikan oleh Zchaira.
Gadis itu keluar menengok kedaan diluar ruangan yang ternyata tidak ada satupun orang yang lalu lalang.
“Oke… Silahkan lanjutkan saja apa yang ingin kalian bicarakan…”
“Tapi, setelah kalian selesai segeralah beristirahat, ibu… tuan Hefaistos…” Setelah mengucapkan hal tersebut Zchaira langsung kabur dari tempat itu meninggalkan mereka.
***
“Sial… Aku sampai harus mendengarkan pembicaraan mereka berdua,” gumam Zchaira, merasa tidak nyaman mendengar pembicaraan pribadi dari kedua orangtuanya.
“Kau belum tidur Zchaira?”
“Ah…!” Zchaira beteriak tiba-tiba mendengar seseorang berbicara kepadanya.
Setelah Zchaira tenang, ternyata Kral, saudara tertuanya berada di dekatnya.
“Eh… Kau belum tidur,” tanya gadis itu.
“Padahal aku yang bertanya padamu duluan…”
“Aku… Sebelumnya terbangun dan menyadari bahwa ibu tidak bersamaku… Jadi aku mencarinya,” jawab Zchaira.
“Jadi kau masih suka tidur bersama ibu? Yah, memang tidak ada salahnya bagi anak termuda…” Ucap Kral.
“Ngomong-ngomong aku mendengar kau memanggil ayah dengan sebutan tuan… Kenapa?” Lanjut pria itu, bertanya.
“Maafkan karena aku masih agak canggung untuk memanggil tuan Hefaistos dengan sebutan ayah…”
“Apa Megathirio juga seperti itu?”
“Iya…” Ucap Zchaira, agak canggung.
Kral sejenak tersenyum mendengar penjelasan Zchaira memanggil ayah mereka dengan sebutan tuan, namun ekspresinya pun berubah menjadi serius.
“Zchaira… Ayah mungkin bisa kau panggil seper itu, namun aku tidak akan menerima jika kau juga memanggilku tuan,” ucap Kral.
“Kalau begitu aku ingin mendengarmu memanggilku kakak…”
Zchaira terdiam menyimak ucapan dari saudaranya tersebut. Sebenarnya gadis itu juga merasa canggung harus memanggil saudaranya yang baru saja ditemuinya itu dengan sebutan kakak.