
“Ayah…” Ucap Kral, terkejut melihat Hefaistos datang.
Pemuda itu mengurungkan niatnya untuk menyerang Aiver lalu menghilangkan senjata sucinya.
“Ayah, orang ini baru saja masuk ke dalam pintu itu…” ucap Kral, menunjuk pintu yang sebelumnya dibuka oleh Aiver.
“Dan kau tahu sesuatu yang berada di dalam ruangan itu terdapat beberapa tempat ritual serta buku-buku kuno yang kemungkinan menyimpan sihir-sihir yang sudah dilarang di negeri ini sejak jaman dahulu,” lanjut pemuda, menjelaskan tentang isi ruangan yang dimasukinya tersebut.
“Buku yang menyimpan sihir-sihir kuno katamu?” Mendengar hal tersebut, Rayvery sontak terkejut.
Dia kemudian berjalan mendekati pintu itu kemudian memegangnya. Dia mencoba menggunakan kekuatannya untuk mengobservasi sesuatu yang berada di dalamnya, namun tidak bisa karena pintu serta ruangan yang berada di dalamnya seperti memiliki sebuah kekuatan yang kuat, yang tidak bisa sembarangan dirasakan oleh para Venerate.
“Memang sedari dulu kami tidak membiarkan bangunan tua peninggalan dari kerajaan Lightio ini dihancurkan, karena kami selalu penasaran dengan apa yang berada dibalik pintu ini… Pintu ini tidak bisa sembarangan dibuka, karena harus memiliki sebuah kunci khusus, dan selama ini kunci tidak pernah diketahui keberadaannya…”
“Bahkan kita tidak bisa menghancurkan dindingnya karena sihir penghalang yang melapisi ruangan di dalamnya sangatlah kuat,” ucap Rayvery, menjelaskan tentang sejarah pintu yang berada di dalam bangunan tua tersebut.
“Kunci itu ada padanya… Aku barusan saja melihat dia membuka pintu itu dengan beberapa permata.” Lantas Kral langsung memberitahukan bahwa Aiver telah memiliki kunci tersebut.
“Aiver, apa itu benar?” Tanya Rayvery.
“Tentu saja itu tidak benar ibu… Aku bahkan baru saja mengetahui kalau ada pintu rahasia di dalam bangunan ini,” jawab Aiver, membohongi ibu, yang padahal pria itu sebelumnya akan memberitahukan tentang ruangan yang berada di dalam saat Kral mengancamnya.
“Apa kau bilang? Beraninya kau berbohong seperti itu, padahal kau sebelumnya sudah tertangkap basah.” Mendengar pertanyaan bualan dari Aiver, Kral sontak menjadi geram dan ingin memukul pria itu.
“Kral Hentikan…” Namun, dalam sekejap Hefaistos langsung menahannya.
“Kral Silkbar, aku tahu kau kemari untuk memberikan perhitungan kepada soal Astrapi, tapi bukan dengan cara memfitnahku seperti ini,” ucap Aiver, memutar balikan fakta.
Kral menjadi lebih geram lagi dan sontak langsung menepis tangan Hefaistos yang mencoba menahannya. Dia memunculkan kembali pedangnya lalu mengacungkannya ke arah Aiver.
Akan tetapi, perbuatan yang akan dilakukan Kral selanjutnya seketika langsung dihalangi oleh Hefaistos.
“Dengarkan aku Kral, kau harus melawanku lebih dulu… Jika kau mencoba membunuhnya ataupun melukainya itu akan membuat adikmu sengsara karena tidak ada lagi yang bertanggung jawab…”
“Aku tahu bahwa kau geram mengetahui perbuatannya pada adikmu, begitu juga dengan ayah… Tapi, kita harus berbicara baik-baik karena clan Silkbar maupun clan Portner adalah clan utama di negeri ini,” ucap Hefaistos.
Kral kehabisan kata-kata untuk membuat dirinya memjadi benar. Pemuda itu kembali mengurungkan niatnya lagi untuk menyerang Aiver karena lebih memilih mengikuti kata dari ayahnya.
Setelah Kral mengurungkan niatnya tersebut, pemuda itu serta ayahnya kemudian perlahan berjalan meninggalkan bangunan tersebut.
“Dan untuk kau Aiver… Aku akan memaafkan serta melupakan kesalahanmu jika kau bertangung jawab atas perbuatan kepada Astrapi.” Hefaistos berhenti sejenak lalu memperingatkan Aiver tentang perbuatannya pada Astrapi.
Kral merasa kesal karena tidak bisa mengungkapkan kebohongan dari Aiver. Pemuda itu hanya melototi Aiver, nampak begitu kesal dengan kelicikan dari pria tersebut.
Aiver pun membalas ekspresi Kral itu dengan memasang senyuman menyeringai di wajahnya tanpa disadari oleh Hefaistos dan Rayvery.
Setelah Hefaistos dan Kral pergi, Rayvery kemudian menatap Aiver dengan tatapan curiga, serasa bahwa wanita itu mengatahui ada yang disembunyikan oleh anaknya tersebut.
“Ada apa denganmu ibu?” Tanya Aiver, bingung melihat ekspresi dari ibunya.
“Tentu saja tidak ibu, apakah kau sudah memiliki pemikiran yang sama seperti putra sulung presiden penyihir itu?” Jawab Aiver sambil berdiri dan beranjak dari tempat itu.
–19 sampai 25 Oktober 3019–
Dua hari kemudian setelah Hefaistos dan Kral pergi ke daerah New Hammershine, tiba-tiba terdengar kabar rencana pernikahan Aiver dan Astrapi yang akan segera dilaksanakan lima hari ke depan.
Mendengar hal itu Astrapi lantas terkejut dan menolak mengenai rencana pernikahannya dengan Continent Venerate dari daerah New Hammrshine tersebut.
Akan tetapi, suka ataupun tidak Astrapi tetap harus menikah dengan Aiver karena kesepakatan yang dilakukan Hefaistos dengan Rayvery agar Astrapi bisa terbebas dari pandangan buruk, serta menjaga kehormatan Hefaistos juga sebagai pemimpin dari negeri Lightio.
Walaupun menolaknya, Astrapi tidak bisa berbuat apa-apa dan harus menerima hal tersebut.
***
Di suatu tempat, tampak Kral bersama Illios sedang membicarakan sesuatu mengenai Aiver.
“Artefak-artefak dan tempat ritual kuno yang berada di kota Erestmanch?” Ucap Illios, terkejut mendengar pernyataan dari kakaknya, Kral.
“Entah bagaimana caranya orang itu bisa mendapatkan kunci pertama untuk membuka pintu itu, yang pasti dia membual bahwa tidak memilikinya waktu itu…”
“Sesuai yang kita tahu bahwa Lightio dulunya memiliki penyihir yang menggunakan ilmu sihir hitam, yang membuatnya berubah menjadi jahat… Aku tidak menyangka sihir-sihir hitam itu bisa ditemukan lagi setelah beberapa abad menghilang,” ucap Kral.
“Kau bilang di ruangan itu terdapat sebuah penghalang yang kuat kan… Tentu saja orang yang membuat ruangan tersebut tidak mau ilmu itu lenyap begitu saja,” sambung Illios.
Disaat mereka sedang membahas hal tersebut, tiba-tiba Astrapi datang dengan ekspresi sedih.
“Astrapi, ada apa?” Tanya Illios, melihat ekspresi dari adik perempuannya tersebut.
“Bagaimana caraku agar tidak bisa menikah dengan bajingan itu?” Tanya balik Astrapi.
“Benar juga, itu juga yang harus kita pikirkan. Kita tidak bisa meyakinkan ayah tentang hal ini karena dia harus menjaga kehormatannya sebagai presiden penyihir dibandingkan putrinya sendiri,” ucap Illios.
“Kalau begitu, lebih baik kau pergi melarikan diri dari tempat ini,” sambung Kral, menyarankan agar Astrapi meninggalkan kota Hawkingson.
“Tapi, kemana aku harus pergi?”
“Kemana lagi kau harus pergi kalau bukan wilayah pedalaman utara.”
Mendengar pernyataan dari Kral, Astrapi dan Illios pun tampak terkejut karena wilayah yang disebut oleh pemuda itu merupakan tempat ibu mereka tinggal bersama dengan kedua saudara mereka.
“Wilayah utara… Tapi, aku tidak bisa pergi kesana. Aku tidak membuat ibu sedih mendengar tentang keadaanku,” ucap Astrapi menolak tawaran dari Kral.
“Kalau begitu, kau masih memiliki satu tempat lagi untuk lari… Yaitu wilayah barat, dimana tempat yang bahkan presiden penyihir sekalipun tidak mau berurusan dengan orang-orang yang berada disana,” ucap Illios, kini yang memberikan sebuah saran pelarian dari Astrapi.
“Apa kau yakin jika mereka akan menerimaku?” Tanya Astrapi.
“Tentu saja, kau adalah Continent Venerate, salah satu Venerate terkuat Lightio. Bagaimana mungkin mereka akan menolakmu jika kau bergabung dengan mereka,” jawab Illios.