The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 93 - Menyelinap



“Salah satu Continent Venerate Lightio… Siapa kira-kira orang itu?” Ucap Kral, bertanya-tanya mengenai Continent Venerate Lightio yang membantu Aiver, yang tidak diketahui merupakan salah satu tetua dari akademi sihir.


“Jika kusebutkan satu per satu para Continent Venerate Lightio yang ada dimulai dari kita bertiga, nyonya Leagerenza…” Ucap Astrapi.


“Kurasa orang itu bukanlah nyonya Leagerenza, karena dia bukanlah Venerate asli dari negeri ini,” sambung Illios, menyatakan bahwa Leagerenza, Continent Venerate yang berpihak wilayah barat Lightio bukanlah orang yang mereka curigai.


“Kau benar… Kalau begitu dari wilayah timur, ada kakek Kenrow, paman Lucierence, tuan Gahaelix, tuan Jaimeburg dan Aiver itu sendiri… Sisanya adalah para tetua akademi sihir yang berjumlah tujuh orang,” lanjut Astrapi.


“Hmph… Kurasa aku tahu siapa Continent Venerate misterius itu…” Ucap Kral, nampak yakin seseorang yang kemungkinan merupakan orang misterius tersebut dari antara para Continent Venerate yang disebut oleh Astrapi.


“Siapa dia?” Tanya Illios dan Astrapi secara bersamaan, karena penasaran dengan jawaban dari Kral.


“Tidak salah lagi, dia adalah tuan Jaimeburg, ayah dari Aiver itu sendiri,” jawab Kral, sangat merasa yakin walaupun pria itu sudah salah besar menyangka seseorang.


“Tuan Jaimeburg yah… Kemungkinan besar orang itu adalah dia,” respon Illios.


Setelah mendengar hal tersebut, Illios tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan berjalan perlahan untuk meninggalkan ruangan tersebut.


“Kau mau kemana?” Tanya Kral, penasaran.


“Aku tidak tahu apakah aku mungkin bisa menandingi kemampuan Aiver yang telah menguasai sihir kuno itu… Tapi, aku tetap tidak mau membiarkan pria itu bertindak sejauh yang dia inginkan,” jawab Illios, nampak ingin pergi menuju daerah Xetas untuk membantu menuntaskan masalah pemberontakan di daerah tersebut.


“Kakak, aku juga ikut.” Lantas Astrapi pun langsung berdiri dari tempat duduknya, mengikuti Illios meninggalkan ruangan tersebut.


***


Berpindah ke wilayah Xetas, dimana Zchaira beserta para murid akademi yang lain kini telah di dekat sebuah kota kecil, tempat dimana mereka akan menyerang serta menyelamatkan para warga kota tersebut yang sedang ditahan oleh para Venerate pemberontak.


Para murid-murid akademi bersembunyi sambil mengintip dari balik tebing yang berada di dekat kota tersebut. Mereka melakukan hal tersebut agar tidak ketahuan oleh para Venerate pemberontak yang sedang berjaga di luar kota.


Para murid tidak boleh ketahuan oleh para Venerate yang sedang berjaga tersebut dan harus mengetahui terlebih dahulu tempat dimana para warga.


Sesuai dengan perkataan dari Roselix, bahwa para Venerate pemberontak tersebut sangat sensitif dengan sebuah penyerangan yang akan membuat mereka terlebih dahulu membawa lari para warga menggunakan sihir ruang, yang dapat memindahkan mereka ke tempat lain.


Dari sudut pandang para murid-murid akademi, tampak seorang Venerate pemberontak yang sedang berkeliling kini berada di dalam jangkauan serangan mereka.


Dengan cepat Toner mengakses kekuatan sihir miliknnya untuk memunculkan sebuah pistol yang tersimpan pada ruang spasial di dalam gelang yang dikenakannya.


“Apakah itu senjata suci?” Tanya Andras, penasaran.


“Bukan… Ini hanyalah senjata biasa,” jawab Toner sambil mencoba membidik Venerate yang berada di depan mereka.


“Kakak Toner, kau mau membunuhnya?” Tanya Andras lagi, nampak khawatir melihat Toner membidik Venerate tersebut menggunakan pistol yang dipegang oleh pemuda tersebut.


“Ini bukanlah peluru api… Orang yang menerima tembakan dari peluru pistol ini tidak akan terluka, mereka hanya akan tertidur dalam waktu yang cukup lama,” jawab Toner.


“Jangan menggangguku lagi… Aku sedang fokus membidiknnya,” lanjut Toner, memperingati Andras ataupun para murid lain untuk tidak mengganggu fokusnya ketika sedang membidik.


Toner kemudian menarik pelontar peluru yang berada di bagian belakang pistol tersebut, yang terhubung bersama pelatuk. Ketika pemuda itu menarik pelatuk pistol tersebut, pelontar peluru yang ditariknya sebelumnya dalam sekejap meluncurkan peluru tanpa membuat sebuah suara sedikitpun.


**


“Oke, ayo kita bergerak sekarang… Para perempuan tunggu disini dan perhatikan tempat sekitar.” Toner pun langsung menyuruh para murid laki-laki untuk mengikutinya, sambari pemuda itu menyuruh para murid perempuan untuk menunggu di tempat tersebut.


Toner, Andras, Shaevanjoe, Megathirio, Rayvor dan Flogaz dengan cepat bergerak memasuki kota dengan tidak lupa memperhatikan keadaan disekitar mereka.


“Andras dan Shaevanjoe, kalian pergi ke arah kiri… Rayvor dan Flogaz pergi ke sebelah kanan… Sedangkan aku dan Megathirio akan lurus ke depan,” ucap Toner, memberi perintah untuk membagi mereka menjadi beberapa kelompok.


Mereka kemudian bergerak sesuai dengan arahan dari Toner dan secara berhati-hati memperhatikan sekitaran mereka.


Para murid-murid akademi yang terbagi menjadi tiga kelompok dengan lincah membuat beberapa Venerate pemberontak yang sedang berjaga seketika tak sadarkan diri dengan memukul bagian belakang leher mereka.


Mereka satu per satu mulai memeriksa bangunan yang mereka lewati dengan berharap agar para warga yang ditangkap berada pada salah satu bagunan tersebut.


Akan tetapi, setelah beberapa bangunan yang mereka periksa, mereka belum kunjung mendapatkan serta merasakan keberadaan dari para warga pada bangunan-bangunan tersebut.


Para murid laki-laki pun tidak belum menyerah karena bangunan-bangunan yang mereka periksa bahkan belum mencapai setelah dibandingkan semua jumlah bangunan yang berada di dalam kota tersebut.


Para murid laki-laki kembali melakukan aksi mereka, menyelinap serta melumpuhkan beberapa Venerate pemberontak yang mereka lewati.


***


Berpindah ke sebuah bangunan yang merupakan sebuah kedai minuman, tampak dua orang pria sedang duduk sambil menikmati minuman keras.


“Olirvine… Apa kau tahu, kota ini sebenarnya terlalu sempit untuk kita berdua,” ucap salah satu pria kepada rekannya tersebut.


“Kalau begitu, mari kita buktikan siapa yang pantas berada di kota ini,” balas pria bernama Olirvine tersebut.


Mereka berdua kemudian secara terang-terangan saling bergantian menuangkan minuman keras, lalu meminumnya untuk saling bersaing siapa yang lebih kuat meminumnya lebih banyak.


“Aku Grovenzo, tidak akan kalah bersaing denganmu!” Seru pria yang satunya, nampak bersemangat meneguk meminuman keras, walaupun perlahan-lahan hal itu membuatnya mabuk.


***


Berpindah ke sisi Zchaira serta para murid perempuan lainnya, dimana mereka nampak meresa bosan terus-terusan menunggu di tempat itu.


“Apakah kalian tidak memiliki cara untuk mengetahui para warga yang sedang disekap?” Tanya Zchaira.


“Sebenarnya anggota-anggota dari clanku memiliki kemampuan sihir observasi yang lebih besar dari batas jarak tingkatan Venerate mereka masing-masing… Namun, aku masih kurang percaya bisa melakukan hal itu,” ucap Dorolia.


“Berarti ini saatnya kau membuktikan kalau kemampuan siihir observasimu bisa lebih kuat diandingkan dengan yang lain,” balas Zchaira.


“Tapi…”


“Ayolah… Daripada para murid laki-laki itu sedang melakukan hal yang percuma, dan akhirnya hanya membuat mereka ketahuan, lebih baik kita cari para warga dari sini saja.” Zchaira pun langsung meyakinkan Dorolia untuk percaya dengan kemampuan sihir observasinya.