
“Bagaimana kau yakin bahwa benda itu diambil oleh premier Camburstile?” Tanya Aphrodia, penasaran.
Kral kemudian menjelaskan bahwa beberapa tahun yang lalu, Venerate Fuegonia yang merupakan salah satu premier pernah datang ke negeri Lightio.
Saat itu, dia sempat mengatakan bahwa saat peperangan negero Lightio bersama negeri Fuegonia melawan negeri Machora Tira usai, salah satu Venerate Fuegonia yang tidak lain merupakan Rox, premier dari daerah kota Novacurve tersebut pernah dipergoki oleh Venerate tersebut memungut sebuah batu kristal yang menyala-nyala.
Dari hal tersebut, para Venerate Lightio pun langsung mengetahui bahwa batu kristal yang disimpan di dalam akademi sihir yang sebelumnya sudah dianggap hilang ternyata diambol oleh pria bernama Rox tersebut.
Kral menjelaskan bahwa batu kristal yang mereka cari di kota Novacurve itu memiliki kekuatan layaknya seperti sebuah senjata suci. Akan tetapi, tidak bisa sembarangan Venerate yang bisa menggunakan kekuatan dari benda tersebut, selain para Venerate penyihir yang memiliki sebuah mantra khusus untuk bisa menghilangkan segel yang membuat kekuatan dari batu kristal tersebut tidak bisa keluar.
“Tapi, aku bertujuan mengambil batu kristal itu untuk memberikannya pada presiden penyihir, ayahku… Karena dia akan menggunakannya sebagai pertukaran kepada negeri Machora Tira, agar mereka tidak akan lagi mengincar kekuatan makhluk suci yang berada pada diri Zchaira,” ucap Kral.
“Zchaira pemegang kekuatan dari makhluk suci…” Respon Aphrodia.
Disaat yang bersamaan, perempuan itu mengingat kemarin hari, dimana dirinya sempat terkejut ketika merasakan tekanan kekuatan dari Venerate tingkat atas, yang ternyata merupakan Zchaira. Aphrodia pun lantas percaya bahwa kekuatan yang digunakan oleh Zchaira adalah merupakan kekuatan dari makhluk suci yang ada pada diri gadis tersebut.
“Iya… Karena mengalami sebuah penyakit yang akan membuat organnya perlahan-lahan melemah akibat menyerap energi alam… Maka dari itu, ayah dan ibuku meminta tolong kepada seekor makhluk suci untuk memberikan Zchaira kekuatannya,” ucap Kral, menjelaskannya kepada Aphrodia.
“Jadi kalian ingin mengambil benda itu karena ada hubungannya denganku…”
Mendengar seseorang berbicara dari arah belakang, Kral dan Aphrodia pun langsung menoleh, dan melihat ternyata orang tersebut merupakan Zchaira.
“Zchaira…” Ucap Kral, sedikit terkejut melihat adiknya tersebut.
“Kakak… Jika hal itu sulit, kurasa kau dan kakak Illios, serta kakak Astrapi jangan terlalu memaksakan diri, karena aku akan berusaha menjadi lebih kuat lagi,” ucap Zchaira, menyakinkan Kral.
“Zchaira… Jangan khawatir, kami akan baik-baik saja… Aku dan kedua kakakmu akan berjuang mengambil benda itu demi melindungi kau yang diincar para Venerate Machora Tira,” balas Kral.
“Aku tidak bisa memaksa kalian… Tapi sektidaknya kalian harus berhati-hati mencari benda itu.”
Kral pun lantas menganggukkan kepalanya, merespon ucapan Zchaira bahwa dia beserta Illios dan Astrapi akan tetap berhat-hati menncari serta mengambil senjata tersebut.
“Karena kau sudah ada disini aku ingin menunjukan sesuatu kepadamu,” ucap Kral.
“Coba kemari…”
Mendengar Kral memanggilnya mendekat, Zchaira pun langsung berjalan menghampiri Kral dan Aphrodia.
“Lihat pegunungan yang berada disana…” Ucap Kral, sambil menunjuk sebuah pergunungan yang berada di depan mereka.
“Pegunungan yang bernama Galbrid tersebut, merupakan tempat menetapnya seekor naga yang memberikan kekuatan kepadamu.”
“Eh… Jadi pegunungan itu adalah tempat tinggal dari ‘Shydhie…”
“Tentu saja… Aku bahkan sudah beberapa kali bertemu dengannya hanya melawati alam bawah sadar,” jawab Zchaira.
“Aku ingin pergi kesana menemuinya…” Lanjut Zchaira berkata.
“Tunggu dulu… Jangan sekarang, setidaknya kita lakukan besok hari saja.” Akan tetapi, Kral pun langsung menolak, dan menyuruh Zchaira untuk menemui makhuk suci tersebut setidaknya pada hari berikut.
“Karena malam ini kami bertiga akan segera pergi menyelinap ke kediaman clan Drown yang berada disana,” lanjut Kral berkata sambil menunjuk kediaman clan yang berada di kota tersebut.
“Baiklah… Yang pasti kalian harus berhati-hati,” respon Zchaira sambil memperingati kakak pertamanya itu untuk tetap berhati-hati.
Ketika sedang berbincang, tiba-tiba mereka semua mendengar sebuah dari pesawat, yang langsung membuat mereka menoleh ke arah langit, dan sontak langsung melihat dua pesawat nampak sedang mendekati kota Novacurve.
“Negeri Cielas dan negeri Asimir…” Aphrodia pun langsung mengetahui bahwa kedua pesawat tersebut merupakan pesawat dari negeri Cielas serta negeri Asimir yang berasal dari bagian selatan benua Aizolica dengan melihat lambang yang berada pada masing-masing pesawat tersebut.
Pesawat dari negeri Cielas tampak memiliki sebuah lambang bintang berwarna putih dengan berlatarkan lingkaran biru serta dedaunan yang melingkari lingkaran tersebut.
Sedangkan lambang yang berada di pesawat negeri Asimir tampak sebuah lambang berbentuk lingkaran oval dengan memiliki beberapa warna horizontal merah, putih, biru, putih yang berulang, dimana terdapat sebuah bintang berwarna emas, serta delapan bintang dengan ukuran lebih kecil yang di luar melingkari lingkaran oval tersebut.
***
Di dalam sebuah ruangan dari pesawat negeri Asimir, tampak dua orang pria, yang salah satunya memiliki tinggi sekitar seratus enam puluh sentimeter, merupakan ras Dwarfman, sedangkan pria yang satunya memiliki tinggi sekitar dua setengah meter, dan merupakan ras Giantman, terlihat sedang memperhatikan pesawat negeri Cielas yang sedang terbang tak terlalu jauh di samping mereka dari balik jendela pesawat.
“Hmph… Apa-apaan mereka? Seperti peguntit saja, mengikuti kita seperti itu,” ucap pria yang merupakan ras Giantman nampak mengeluh melihat pesawat negeri Cielas ada di samping pesawat mereka.
“Fegant, kau terlalu sensitif sekali… Jangan berbuat macam-macam jika kau tidak senang dengan hal itu.” Pria yang merupakan ras Dwarfman sontak memperingati Giantman bernama Fegant tersebut untuk tidak mengeluh mengenai pesawat Cielas yang berada di samping pesawat mereka.
Akan tetapi, Giantman tersebut langsung membuka jendela pesawat, yang lantas membuat hempasan angin yang cukup kuat masuk ke dalam pesawat mereka.
“Hei, para makhluk langit…! Cepat singkirkan pesawat kalian! Aku tidak bisa melihat pemandangan kota yang berada dibelakang!” Teriak Giantman tersebut kepada para Venerate yang berada di dalam pesawat negeri Cielas.
“Fegant… Apa kau bodoh? Cepat tutup jendelanya,” ucap sang Dwarfman, memperngati Giantman bernama Fegant tersebut untuk segera menutup jendela itu, karena hempasan angin terus masuk ke dalam pesawat mereka, yang membuat Dwarfman tersebut perlahan-lahan kesulitan untuk bernafas.
“Uakh…”
Tiba-tiba pesawat negeri Cielas dengan cepat meluncur dalam kecepatan tinggi hingga tekanan yang memancar dari pesawat tersebut langsung dirasakan oleh Fegant yang sedang membuka jendela, hingga membuatnya sedikit terhentak ke belakang.
“Dasar makhluk-makhluk langit… Mereka berani menyerang padahal turnamen masih belum dimulai… Awas saja, aku pasti akan menghajar mereka, terutama untuk para Land Venerate mereka,” ucap Fegant sambil memperlihatkan ekspresi wajah yang kesal.