The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 213 - Mengetahui pedang yang sementara diacungkan



“Ayah... Apakah tidak ada senjata yang lain?” Tanya Dierill.


Rox pun nampak terdiam karena merasa bingung melihat putranya tersebut telah menolak tiga senjata suci yang sudah diperlihatkan olehnya, dan kini masih hendak meminta memperlihatkan senjata yang lain.


“Ayah...” Panggil Dierill, karena hanya tetap diam, tidak mengatakan apapun.


“Eh... Sebenarnya ayah masih memiliki satu senjata lagi... Tapi, senjata ini cukup penting, dan sebenarnya ayah tidak memberikan pada siapapun...”


Mendengar pernyataan tersebut Dierill pun merasakan bahwa senjata terakhir yang akan diperlihatkan oleh Rox merupakan benda yang dicari-cari oleh para Venerate Lightio.


“Aku ingin melihatnya ayah... Ayo tunjukkan senjata itu...” Dierill pun lantas memaksa ayahnya untuk memperlihatkan senjata suci yang dibahas tersebut.


Akan tetapi, Rox nampak merasa ragu untuk menunjukkannya sambil membuatnya menggaruk kepalanya, tidak tahu bagaimana cara mengatakan kepada putranya bahwa sebenarnya dia enggan untuk menunjukkan senjata suci terakhir yang dimilikinya.


“Ayolah ayah...” Ucap Dierill, memohon kepada Rox agar mau memperlihatkan senjata suci tersebut.


Karena putranya memaksa Rox lantas memunculkan senjata tersebut. Ekspresi Dierill yang nampak antusias, seketika berubah menjadi kebingungan ketika melihat senjata suci terakhir yang diperlihatkan oleh Rox ternyata berbeda dari ekspektasinya.


“Ini sebenarnya adalah senjata suci utama milik ayah... Apa mungkin kau tertarik dengan senjata ini?” Rox memperlihatkan sebuah tombak kapak kepada Dierill sambil bertanya kepada putranya tersebut mengenai senjata yang diperlihatkannya.


“Tombak kapak...”


“Iya... Tombak kapak ini merupakan senjata yang sudah ayah gunakan sejak muda...”


“Apa tidak ada lagi senjata yang kau miliki?” Tanya Dierill.


Rox pun menggelengkan kepalanya, merespon bahwa senjata yang tengah dipegangnya tersebut adalah senjata terakhir yang disimpan di dalam ruang spasial miliknya.


Dierill pun lantas merasa kecewa karena tidak menyangka bahwa benda yang dicari oleh para Venerate Lightio memang tidak dipegang langsung oleh ayahnya.


“Jika itu senjata kesayanganmu, maka aku mengambil bola rantai ini saja...” Karena menghormati ayahnya yang memfavoritkan tombak kapak tersebut, Dierill pun mengambil bola rantai yang diperlihatkan yang diperlihatkan Rox pertama kali, sebagai alasan bahwa dia memang berniat ingin memiliki sebuah senjata suci.


“Benarkah kau menginginkan senjata itu?” Tanya Rox, ingin memastikan bahwa putranya menginginkan senjata tersebut.


“Iya... Lagipula senjata ini terlihat cukup menantang,” jawab Dierill sambil memutar-mutar bola rantai tersebut agar membuat ayahnya yakin bahwa dia benar-benar berniat mendapatkan sebuah senjata suci.


“Uwah...”


Tanpa diduga, Dierill yang memang kurang mahir memainkan senjata yang memerlukan pergerakan khusus itu, tiba-tiba meluncurkannya ke arah Rox, namun sempat ditepis oleh pria itu dengan tombak kapaknya.


“Hati-hati nak... Setidaknya kau harus berlatih menggunakan senjata itu terlebih dahulu...” Ucap Rox.


“Maaf ayah... Aku tidak bermaksud seperti itu.” Dierill pun meminta maaf pada Rox karena hampir membuat ayahnya terluka.


–8 Januari 3025–


Waktu berlalu, pada keesokan harinya Dierill tampak berjalan sendirian disekitaran kota Novacurve hendak menuju ke suatu tempat.


Hingga tak berapa lama, anak laki-laki itu sampai di depan sebuah bangunan, yang dimana merupakan penginapan dari para murid akademi sihir, para anggota tim Lightio, dan bertujuan untuk menginformasikan bahwa ayahnya tidak memegang benda yang dicari mereka setelah kemarin malam mencoba mencari tahu mengenai hal tersebut.


Di dalam penginapan para Venerate Lightio, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, yang lantas membuat Astrapi yang sedang berada di dalam berjalan untuk membukakan pintu tersebut.


“Eh...” Ketika berada di depan pintu, Astrapi dengan siaga terlebih dahulu mencoba menengok keluar melalui sebuah lubang dari pintu tersebut, yang lantas membuatnya sedikit terkejut, tidak menyangka bahwa orang yang mengetuk pintu itu tidak lain adalah Dierill.


“Dierill... Kau datang kemari sendirian?” Tanya Astrapi, setelah membukakan pintu untuk anak laki-laki tersebut.


Dierill pun menganggukkan kepalanya, merespon pertanyaan Astrapi sambil tersenyum karena merasa senang bahwa perempuan itu ternyata masih mengingat namanya.


“Ngomong-ngomong, ada apa kau datang kemari?” Tanya Astrapi kembali, sambil mempersilakan anak laki-laki itu masuk ke dalam.


“Sebenarnya aku mau mengatakan pada kalian bahwa ayahku tidak memegang langsung benda yang kalian cari... Aku sudah mencoba berpura-pura menginginkan sebuah senjata suci hingga membuat ayahku memperlohatkan semua senjatanya dari ruang spasial miliknya, namun batu kristal yang kalian katakan memang tidak ada diantara senjata-senjata yang dia miliki,” jawab Dierill.


Mendengar hal tersebut Astrapi pun tersenyum karena tidak menyangka bahwa anak laki-laki tersebut mau membantu mereka mencari hal tersebut.


“Maaf kakak... Setidaknya aku hanya ingin membantu kalian...”


“Tenang saja... Informasi yang kau berikan mengenai tempat penyimpanan di kota ini memang sudah sangat membantu...” Ucap Astrapi sambil tersenyum dan mengelus kepala Dierill hingga membuat wajah anak laki-laki itu memerah karena merasa canggung.


“Kami sudah menemukan benda yang dicari... Ternyata itu disimpan di kastil tua pinggir kota.” Astrapi kemudian memberitahukan mengenai batu kristal yang telah berhasil ditemukan serta diambil oleh Kral pada kemarin malam.


“Benarkah...”


Astrapi pun mengangguk, merespon ucapan dari Dierill bahwa mereka akhirnya telah berhasil menemukan benda yang berbentuk sebuah batu kristal tersebut.


**


Astrapi lalu mengajak Dierill ke rungan utama pada penginapan mereka untuk memperlihatkan batu kristal yang sudah mereka temukan, dimana pada ruangan tersebut telah berada Kral serta Aphrodia tengah duduk bersama, yang tampak sudah lebih akrab dari sebelumnya, sedangkan di sisi lain, nampak Illios tengah sibuk mengelua pedang senjata suci hasil jarahannya di museum kemarin malam.


Sementara itu, batu kristal yang menjadi tujuan utama mereka, terlihat diletakkan pada meja yang berada diantara Kral, Aphrodia serta Illios.


“Ternyata kalian sudah mendapatkannya...” Ucap Dierill.


“Dierill Drown... Ternyata kau datang kemari... Terima kasih karena sudah memberikan informasi sebelumnya...” Ucap Kral, lantas berterima kasih ketika melihat anak laki-laki itu.


“Tuan Illios... Apakah kau yang menemukan batu ini?” Tanya Dierill pada Kral dengan sebutan Illios.


“Iya... Kemarin hari saat aku datang ke kastil tua itu,” jawab Kral.


Illios lantas merasa risih ketika mendengar Dierill menyebut saudaranya dengan namanya sendiri. Karena ingin meluruskannya pria itu sontak berdiri lalu mengacungkan pedang yang dipegangnya ke arah Dierill, sampai membuat anak laki-laki itu terkejut.


“Kakak... Apa yang kau lakukan?” Tanya Astrapi sambil menghalangi Illios yang sedang mengacungkan pedang pada Dierill.


“Dierill Drown... Satu hal yang harus kau tahu bahwa pria itu bukanlah Illios... Dia bernama Kral, sedangkan akulah Illios yang sebenarnya,” ucap Illios.


“Jadi kau adalah tuan Illios, dan tuan Illios adalah tuan Kral... Baiklah aku mengerti tuan Illios...” Ucap Dierill, lantas mengerti sambil gemetar karena pria itu mengacungkan pedang ke arahnya.


“Eh...” Tiba-tiba Dierill menunjukkan ekspresi bingung karena nampak mengetahui pedang yang sementara diacungkan oleh Kral ke arahnya.