
Hari pun kembali berganti menjadi malam, terlihat Zchaira sedang berada di sebuah kamar dalam kediaman tersebut untuk mengeluarkan barang-barang yang dibawah gadis itu sambil dibantu oleh saudara perempuannya, Astrapi.
Tiba-tiba Astrapi mengambil sebuah kotak besi diantara barang-barang Zchaira yang menumpuk. Dengan penasaran perempuan itu langsung membuka kotak itu, hingga membuat sedikit terkejut ketika melihat isi di dalamnya.
“Zchaira, ini kalung macam apa?” Tanya Astrapi mengangkat isi kotak tersebut yang merupakan sebuah kalung kristal berbentuk bunga salju.
“Untung saja kau menemukannya kakak… Aku pikir lupa membawanya,” Zchaira mengambil kalung tersebut dari tangan Astrapi kemudian memakainya.
“Kalung ini cantik sekali… Darimana kau mendapatkannya?” Tanya Astrapi, lebih penasaran setelah memperhatikan kalung itu lebih seksama lagi.
“Kalung ini? Aku hanya tidak sengaja memungutnya beberapa tahun yang lalu,” jawab Zchaira.
“Memungutnya? Siapa juga yang teledor menjatuhkan kalung secantik ini,” ucap Astrapi.
Walaupun merasa penasaran bahwa cerita yang dikatakan oleh adiknya tersebut sedikit tidak akal, namun Astrapi tidak terlalu mempermasalahkannya. Dia pun kembali membantu Zchaira merapikan barang tanpa bertanya lagi.
*
Akan tetapi, sebenarnya cerita bagaimana gadis itu mendapatkan kalung tersebut memanglah bukan karena dia dengan tidak sengaja memungutnya.
Zchaira kembali teringat ketika beberapa tahun yang lalu seseorang misterius memberikan kalung tersebut kepadanya, dan entah kenapa hal tersebut tidak mau diceritakan oleh gadis itu kepada yang lain.
–19 Desember 3016–
Delapan tahun yang lalu, ketika Zchaira masih berusia tepatnya delapan tahun, gadis itu secara tidak sengaja berjalan jauh ke dalam hutan di daerah Wiaminnota hingga membuatnya tersesat tidak mengetahui jalan untuk kembali.
Awalnya Zchaira yang memiliki sifat pemberani masih bisa tenang mencari-cari jalan untuk kembali, namun gadis itu mulai ketakuatan dan putus asa ketika hari pun mulai berganti malam karena sudah tidak bisa lagi mengingat jalan yang dilewati sebelumnya akibat telah terhalang oleh kegelapan.
“Ibu…! Tolong aku!” Teriak Zchaira ketakutan memanggil Artemis.
Dia hanya bisa menangis di hutan yang gelap tersebut sambil berlajan tanpa arah berharap bisa menemukan jalan untuk kembali.
Ketika berjalan sedikit jauh dari sebelumnya, tiba-tiba gadis itu dicegat oleh sekelompok serigala.
“Aahh…! Tolong aku!” Teriak Zchaira meminta pertolongan sambil berlari dengan ketakutan dari kejaran sekelompok serigala yang ingin mengincarnya tersebut.
“Akh…” Sial baginya tiba-tiba terjatuh karena tidak memperhatikan sebuah akar pohon yang berada depannya.
Kaki Zchaira pun terkilir tidak bisa berlari lagi dari kejaran gerombolan serigala yang hampir mendekatinya itu.
“Tolong aku!” Zchaira sekali lagi meminta pertolongan kepada seseorang yang mungkin saja mendengar teriakannya.
Tiba-tiba saja sesuatu dari langit jatuh didekat gadis itu hingga menciptakan hempasan angin cukup kuat, yang langsung membuat segerombolan serigala itu ketakutan dan sontak pergi melarikan diri.
Zchaira terkejut dengan hal tersebut. Walaupun ketakutan dia perlahan-lahan mendekati sesuatu yang jatuh dari itu.
“Dasar naga sialan… Beraninya menolak memberikan kekuatannya padaku.” Tampak seorang pemuda dengan wajah rupawan tergeletak di tempat sesuatu yang sebelumnya jatuh dari langit.
“Sampai dimana dia menghempaskanku?” Gumam pemuda itu sambil berdiri dan membersihkan pakaiannya lalu memperhatikan sekitaran tempat itu.
Zchaira terkejut melihat ciri-ciri pemuda itu tampak sedikit berbeda dari orang-orang pada umumnya. Dengan memiliki rambut berwarna putih berkilau serta sepasang mata sebiru langit ketika siang hari.
“Eh…” Begitu juga dengan pemuda tersebut, tiba-tiba terkejut melihat seorang gadis berada di tengah hutan yang gelap itu.
“Permisi tuan… Apakah kau peri penghuni hutan ini?” Tanya Zchaira pada pemuda misterius itu.
“Peri…? Penghuni hutan?” Tanya balik pemuda itu, tidak mengerti dengan pertanyaan dari Zchaira.
“Mungkin kau sudah salah paham gadis kecil… Bagaimana denganmu? Kenapa kau berada di tengah hutan malam-malam seperti ini?” Tanya lagi pemuda itu.
“Aku… Aku tidak tahu jalan pulang… Aku mohon bantu aku,” ucap Zchaira memohon sambil meneteskan air mata karena tidak punya harapan lagi.
“Tunggu, jangan menangis nak.” Melihat Zchaira bersedih, pemuda tersebut mendekatinya sambil menghapus air mata diwajah gadis itu.
*
“Tapi gadis ini tidak terlihat berbohong… Bagaimana caraku menolongnya?” Pemuda itu berpikir cara agar gadis itu bisa pulang ke tempatnya tanpa dirinya sendiri harus diketahui oleh orang-orang yang tinggal di sekitar daerah tersebut.
**
“Gadis kecil, jangan menangis lagi…”
“Ice shaping…” Pemuda itu tiba-tiba menciptakan sebuah kalung yang terbuat dari es yang nampak terlihat sulit untuk mencair walau dalam udara yang panas.
“Ambil ini,” ucap pemuda itu memberikan kalung es itu pada Zchaira.
“Aku tidak memerlukannya… Aku hanya ingin pulang.” Akan tetapi, Zchaira menolak pemberian pemuda itu karena tujuannya bukanlah mendapatkan benda tersebut.
“Tidak… Maksudku kalung ini akan menuntunmu untuk pulang,” ucap pemuda tersebut menjelaskannya pada Zchaira.
“Bagaimana caranya?” Tanya Zchaira, tidak mengerti.
“Ambil ini dan pakailah.”
Zchaira mengikuti cara kata pemuda itu dengan mengambil dan kemudian memakai kalung es tersebut.
“Sekarang coba lihat dibelakangmu…”
Saat Zchaira menoleh ke bagian belakangnya, gadis itu pun terkejut melihat jalan yang pajang terbentuk dari es.
“Tenang saja… Es itu akan menuntunmu untuk pulang,” ucap pemuda itu.
“Terima kasih tuan…” Ucap Zchaira sambil tersenyum dengan manis pada pemuda itu.
Pemuda tersebut juga merespon ucapan terima kasih Zchaira dengan tersenyum.
***
Beberapa saat kemudian, Zchaira berjalan mengikuti jalan es tersebut dan percaya bahwa dirinya akan menemukan jalan menuju ke pedasaan tempatnya tinggal.
Jauh di belakang gadis tersebut, pemuda berambut putih yang sebelumnya ternyata sedang memperhatikan gadis tersebut.
Walaupun khawatir jika dirinya akan ketahuan oleh orang-orang yang tinggal di daerah Wiaminnota tersebut, namun dia tetap tidak tegah untuk membiarkan Zchaira berjalan sendirian di tengah hutan yang gelap itu.
**
Tak berapa lama, setelah terus mengikuti jalan es tersebut Zchaira akhirnya melihat pedesaan tempatnya tinggal.
Ketika tujuannya telah tercapai, seketika jalan es tersebut lenyap tak bersisa.
Zchaira berlari memasuki pedesaan dan langsung menemui ibunya yang sementara bersiap dengan para warga untuk mencari gadis itu.
“Ibu…” Ketika menemui Artemis, gadis itu langsung memeluknya.
“Zchaira… Syukurlah…” Artemis pun akhirnya legah dari kekhawatirannya karena putrinya tersebut akhirnya kembali ke pedesaan dengan sendiri.
**
Tidak jauh dari pedesaan itu, tampak pemuda yang sebelumnya terlihat legah ketika Zchaira telah bertemu dengan keluarganya.
“Ibu gadis itu… Adalah World Venerate…” Akan tetapi, ekspresi pemuda itu menjadi khawatir ketika merasakan tekanan kekuatan yang berasal dari Artemis.
**
“Tunggu dulu…” Artemis tiba-tiba melepaskan pelukan Zchaira ketika merasakan sebuah tekanan kekuatan yang setarah dengannya berada tidak jauh dari tempat tersebut.
“Siapa disana?” Tiba-tiba Artemis tidak samar-samar melihat seseorang dari luar pedesaan.
Benar saja kekhawatiran pemuda itu akhirnya terjadi. Salah satu Venerate yang berada di daerah itu lantas langsung dapat merasakan hawa keberadaannya.