
–22 September sampai 1 Oktober 3024–
Keesokan harinya di hari yang kesebelas, setelah mempelajari tentang sihir pertahanan, para murid-murid baru akhirnya masuk ke dalam pelajaran sihir mereka yang kedua, dimana mereka kini akan mempelajari mengenai sihir penyerangan.
Para murid-murid baru kali ini diwajibkan untuk memproyeksikan Mana atau energi sihir mereka menjadi sebuah serangan. Dimulai dengan memfokuskan Mana ke salah satu anggota tubuh mereka yaitu tangan, para murid-murid diwajibkan memanipulasikan Mana mereka sendiri menjadi sebuah serangan proyeksi energi.
Selama percobaan tersebut, besar kecil energi sihir yang diproyesikan oleh para murid-murid diukur dari tingkatan Venerate mereka masing-masing, dimana sebagai murid yang berada dalam tingkatan tertinggi diantara murid-murid baru yang lain, Megathirio dan Lucia mampu dengan baik memproyeksikan Mana mereka menjadi sebuah serangan proyeksi energi dalam skala yang lebih besar dibandingkan para murid-murid lain.
Kemudian disusul para murid-murid yang berada pada tingkatan Division Venerate, dimana jangkauan proyeksi energi yang mereka lancarkan menjadi sebuah serangan lebih kecil dibandingkan serangan proyeksi yang dilancarkan oleh Megathirio dan Lucia.
Akan tetapi, sekali lagi Zchaira menjadi murid Division Venerate yang mampu melakukan hal tersebut lebih baik dibandingkan muid-murid Division Venerate yang lain. Jangkauan serangan proyeksi energi sihir yang dilancarkan oleh gadis itu mampu mengimbangi jangkauan serangan proyeksi energi sihir dari Megathirio serta Lucia yang menjadi murid dua tingkatan lebih tinggi dibandingkan dengan dirinya.
***
Di hari yang kedua belas, setelah mampu menguasai sihir penyerangan dalam memproyeksikan energi sihir mereka menjadi sebuah serangan, para murid-murid baru kini ditantang untuk memanipulasikan Mana mereka menjadi sebuah elemen alam yang akan digunakan untuk menyerang.
Sekali lagi semua murid pada awalnya harus memfokuskan Mana pada tangan agar dengan mudah dapat memproyeksikan dengan baik energi sihir mereka yang dimanipulasikan menjadi menjadi sebuah elemen alam.
Pada hari tersebut, semua murid-murid berlatih memanipulasikan Mana mereka menjadi elemen alam yang terdiri dari elemen air, elemen api, elemen angin serta eleman tanah secara bergantian.
Sesuai dengan kemampuan berpikir serta imajinasi yang dimiliki oleh para murid-murid baru, elemen alam yang dapat diproyeksikan serta dikuasai oleh mereka tampak bervariasi, dimana sebagian dari mereka mampu memproyeksikan elemen air serta elemen api, dan sebagian lain dari para murid-murid baru mampu memproyeksikan elemen api serta elemen tanah.
“Fiamma sillabare…” Ingin mengunjukan kemampuannya, Lucia pun seketika langsung memproyeksikan elemen api dari salah satu tangan yang diangkatnya ke atas, membuat semua murid terkejut melihat proyeksi elemen api tersebut berkobar dalam waktu yang lama.
Bukan hal yang mustahil bagi Lucia melakukan hal tersebut, dikarenakan teknik yang biasa digunakan oleh ras Vampireman saat menyerang juga menggunakan proyeksi elemen api yang bahkan memiliki temperatur lebih panas dibandingkan dengan saat dia memamerkan kemampuannya tersebut kepada para murid-murid yang lain.
“Aqua sillabare…” Tiba-tiba Megathirio memproyeksikan elemen air dalam skala yang sama besar menerjang proyeksi elemen api yang dikeluarkan oleh Lucia, hingga seketika padam serta membuat Vampireman perempuan itu menjadi basah kunyup.
Lucia yang kesal mendapatkan terjangan elemen air dari Megathirio lantas merasa kesal hingga langsung menatap tajam pemuda itu, namun Megathirio yang nampak tidak bersalah sedikitpun membalas tatapan tajam Lucia dengan memperlihat ekspresi senyuman menyeringai dari wajahnya.
“Ventus sillabare…” Seketika Zchaira yang sedang berlatih memproyeksikan elemen angin, tiba-tiba tidak sadar ketika Megathirio tepat berada di depannya.
“Uwaah…!” Dalam sekejap Megathirio pun terhempas terbawah oleh proyeksi elemen angin yang diciptakan oleh Zchaira hingga membuat terkapar di tanah.
“Zchaira…!” Sekali lagi, Megathirio merasa kesal karena kedua kalinya harus mendapatkan serangan dari adik perempuanya yang dilakukan secara tidak sengaja kepadanya.
“Maaf kakak… Ampuni aku Megathrio…” Zchaira pun merasa ketakutan dan kemudian lari dari kejaran Megathirio.
***
***
Kemudian untuk hari keenam belas sampai dengan hari yang kesembilan belas, para murid-murid baru kemudian lebih menyempurnakan sihir penyerangan mereka selanjutnya, dimana mereka akan ditantang untuk memanipulasikan Mana mereka menjadi sebuah elemen turunan.
Kali ini Zchaira menjadi lebih percaya diri karena dalam hal tersebut dirinya memiliki sebuah bantuan untuk dapat dengan mudah memproyeksikan salah satu elemen turunan.
“Glacies sillabare…” Dengan mudah karena mendapatkan bantuan dari kalung bunga es yang dikenakan olehnya, Zchaira mampu menciptakan sebuah bongkahan es yang besar, membuat semua murid-murid baru lantas terkejut meihat kemampuan dari gadis tersebut.
“Sialan… Dia bermain curang,” ucap Megathirio, tampak tidak terima melihat kemampuan yang diperlihatkan oleh adik perempuannya itu karena mengetahui bahwa Zchaira mampu memproyeksikan elemen es tersebut karena memakai sebuah kalung bunga es yang pernah diberikan oleh seorang pemuda misterius di masa lalu.
“Fulmine sillabare…” Tidak mau kalah, anak laki-laki bernama Haniwa lantas mengunjukan kemampuannya dalam memproyeksikan elemen petir.
Haniwa dengan cepat meluncur dengan mengunjukan tangannya ke depan sambil memancarkan proyeksi elemen petir pada bongkahan es yang diciptakan oleh Zchaira hingga hancur berkeping-keping.
“Aahh…!” Tidak menyangka serangan dari Haniwa, Zchaira lantas terkejut sampai membuatnya langsung berteriak ketakutan.
“Bocah… Beraninya kau mengagetkanku,” ucap Zchaira, menunjukan ekspresi kesalnya akibat berhasil dikagetkan oleh anak laki-laki itu.
Zchaira dalam sekejap memunculkan pasak-pasak disekitarnya kemudian meluncurkannya ke arah Haniwa.
“Uwaah…!” Dengan sigap, Haniwa mengakses kemampuan elemen petirnya, membuat pergerakannya menjadi lebih cepat hingga dapat menghindari satu per satu pasak es yang diluncurkan ke arahnya.
***
Kemudian di hari yang kedua puluh, para murid-murid baru akhirnya sampai pada pengujian sihir penyerangan mereka dengan harus berusaha menghancurkan sebuah penghalang proyeksi yang diciptakan oleh Brynzel.
Satu per satu dari mereka mulai mencoba melakukan hal tersebut dan sebagian kecil diantara mereka mampu menghancurkan penghalang proyeksi yang diciptakan oleh Brynzel, namun sebagian dari murid-murid yang lain gagal menghanncurkan penghalang proyeksi yang mengurung diri mereka.
***
“Fiamma sillabare…” Setelah murid-murid yang lain selesai, kini giliran Lucia yang melakukan hal tersebut, dimana Vampireman perempuan itu langsung melancarkan sebuah serangan proyeksi tebasan elemen api, namun penghalang tersebut tidak bisa dihancurkan oleh serangan yang dilancarkan olehnya.
“Fiammazul sillabare…” Tidak mau menyerah, Lucia kemudian memakai kesempatan keduanya, dengan melancarkan serangan elemen api berwarna biru hingga dalam sekejap penghalang proyeksi tersebut lenyap diterjang serangan proyeksi dari Vampireman perempuan itu.
Hal tersebut lantas membuat semua murid baru pun terkejut karena tidak menyangka bira melihat serangan elemen api dalam warna yang berbeda serta memiliki tingkatan suhu yang lebih besar.