The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 186 - Yang ingin disampaikan



“Wah, lihat ini… Baru saja kami sedanf membahas tentangmu, kau sudah berada di tempat ini dengan cepat,” ucap Aelacia.


“Tentu saja… Karena aku disini akan menghentikan kalian yang ingin mengincar kekuatan yang berada pada putriku,” balas Artemis sambil mengangkat busur panahnya, dan mengarahkannya ke arah Lamiaman tersebut.


“Ternyata kau mendengar ucapan kami sebelumnya… Aku tidak menyangka bahwa kau memiliki kemampuan seperti ras Elfman…”


“Kalau begitu… Apa kau yakin bahwa pertarungan kita disini, tidak menciptakan sebuah masalah?” Aelacia pun tidak gentar dengan acungan senjata suci dari Artemis, dan sontak memunculkan sebuah tingkat sabit yang merupakan senjata suci miliknya, kemudian mengacungkan balik ke arah World Venerate Lightio tersebut.


Melihat Artemis serta Aelacia saling mengacungkan senjata suci mereka masing-masing, Lethis beserta semua Venerate Machora Tira lantas menjadi tegang, karena disaat bersamaan mereka mengetahui dengan pasti efek dari pertarungan dari dua World Venerate jika terjadi di kota tersebut, serta mereka juga berpikir apa yang akan terjadi jika para Venerate tingkat atas Fuegonia mengetahui hal tersebut.


**


“Hei… Hei… Mereka mau bertarung,” ucap salah satu Venerate Mormist, lantas merasa juga tegang ketika melihat Artemis dan Aelacia saling mengacungkan senjata suci mereka.


“Kita harus memberitahukan hal ini kepada para Venerate Fuegonia…” Sambung Venerate Mormist yang lain.


**


“Jangan berani kau sampai bergerak sedikitpun…” Mendengar ucapan tersebut, Artemis dan Aelacia secara bersamaan langsung memperingati Venerate Mormist itu.


Venerate tersebut lantas langsung terkejut hingga merasa ketakutan untuk bergerak sedikitpun.


“Nyonya Aelacia, sebaiknya anda tidak melawan wanita itu, karena mengingat kita sekarang berada di negeri Fuegonia… Kita akan mengalami kesulitan jika World Venerate berhadapan dengan kita…” Salah satu Continent Venerate ras Lamiaman yang datang bersama dengan Aelacia lantas langsung memperinngati wanita itu untuk tidak melanjutkan pertarungan yang hendak dilakukan mereka.


“Memangnya siapa World Venerate Fuegonia sekarang?” Tanya Aelacia, penasaran karena merasa bawahannya tersebut bersungguh-sungguh merasa khawatir memperingatinya.


“Mereka adalah Barbiond Cane dan Aguirre Noroh…” Jawab Lamiaman tersebut.


“Venerate bangsa Seremoschan itu dan ras Elfman dari clan Noroh…” Respon Aelacia merasa sedikit ragu ketika mendengar nama para World Venerate Fuegonia, yang diketahuinya memang memiliki julukan sebagai para World Venerate terkuat di benua Aizolica.


“Nyonya Artemis… Kurasa kita tunda dulu pertarungan kita, karena kita pasti akan kesulitan harus melawan World Venerate dengan kemampuan yang mungkin lebih unggul,” ucap Aelacia, menyarankan kepada wanita tersebut untuk mengurungkan niatnya.


Sejenak Artemis ingin menolak saran dari Lamiaman perempuan itu, namun setelah dipikir-pikir olehnya, Artemis pun lantas memikirkan murid-murid akademi sihir yang sedang mengikuti turnamen Venerate, karena jika dirinya ingin bersikeras, maka para murid akademi sihir akan mendapatkan masalah dengan hal tersebut.


“Baiklah… Aku akan membiarkan kau serta kalian semua untuk kali ini…” Ucap Artemis, menyetujui saran dari Aelacia sambil menurunkan busur panahnya.


“Namun, ijinkan aku berbicara dengan salah satu Venerate kalian…” Lanjut wanita itu berkata.


“Ayo ikut aku…”


“Eh…” Artemis sontak memegang tangan Lethis, kemudian menarik ibunya tersebut turun dari kapal Machora Tira.


“Kenapa dia membawa Lethis?” Tanya ras Lamiaman bernama Alexei, nampak bingung melihat Artemis menarik Lethis.


“Karena Lethis sebenarnya memiliki hubungan dengan wanta itu,” jawab Aelacia, kemungkinan mengetahui bahwa Lehits merupakan ibu dari Artemis.


***


Setelah turun dari kapal Machora Tira, Artemis melepas tangan Lethis, dan langsung memeluknya, karena merasa rindu serta baru kali ini dirinya bisa bertemu kembali dengan ibunya.


“Ibu… Aku bersyukur bisa bertemu denganmu lagi setelah dua puluh tahun lebih setelah waktu itu,” ucap Artemis.


“Apa selama ini kau baik-baik saja berada di Machora Tira?” Lanjut Artemis, bertanya mengenai keadaan dari bunya.


“Jangan khawatir… Ibu baik-baik saja…” Jawab Lethis.


Artemis sontak mengangukkan kepalanya, merespon pertanyaan Lethis bahwa dirinya dalam keadaan yang baik-baik saja sambil memperlihatkan ekspresi tersenyum.


“Ibu tidak menyangka sejak terakhir kali bertemu, kau kini sudah menjadi ibu dari tiga orang anak.”


“Lima orang anak ibu… Aku sekarang memiliki tiga putra dan dua putri, walaupun tiga anakku baru saja bertemu denganku setelah sekian lama.”


“Ibu… Aku juga ingin memperingatimu bahwa jika kau juga mengincar salah satu putriku, maka aku tidak akan segan-segan untuk melawanmu.” Artemis sontak mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius karena mengerti posisi Lethis yang merupakan Venerate Machora Tira.


“Artemis… Tujuan ibu kemari hanya untuk mengincar sang naga merak, dan tidak sekalipun berniat untuk mengincar putrimu… Namun, jika Venerate Machora Tira akan melakukan hal tersebut, ibu sebenarnya tidak bisa menghentikan mereka,” ucap Lethis, menjelaskannya kepada Artemis mengenai situasinya yang merupakan salah satu Venerate negeri Machora Tira.


“Maaf… Ibu harus pergi sekarang… Kita bisa bertemu lain kali lagi.” Karena tidak bisa berlama-lama, Lethis pun langsung berjalan kembali naik ke kapal Machora Tira, meninggalkan Artemis sendirian.


***


Sementara itu di pegunungan, Zchaira telah menyelesaikan latihannya dan sontak ingin berpamitan kepada sang naga merak untuk bertemu dengan ibunya kembali, yang dikira olehnya masih berada di pegunungan tersebut.


“Shydhie… Kalau begitu aku pergi dulu…” Ucap Zchaira.


“Nak… Sebelumnya ibumu mengatakan bahwa dia akan pergi ke suatu tempat padaku.”


“Eh… Memangnya dia mau kemana? Dan kapan dia memberitahukannya padamu?” Tanya Zchaira, kebingungan mendengar ucapan dari Shydhie.


“Sebelumnya dia berbicara denganku menggunakan kemampuan telepati… Tapi, ibumu tidak memberitahukan kepadaku akan pergi kemana…” Jawab Shydhie.


“Kembali ke kota, aku akan memperhatikanmu dari sini sampai kau sampai,” lanjut sang naga merak.


Zchaira paham dengan penjelasan Shydhie kemudian mulai mengakses kekuatannya, memproyeksikan energi sihir menjadi sepasang sayap di kedua kakinya.


“Sampai jumpa Shydhie…” Ucap Zchaira, berpamitan pada naga merak, lalu terbang menuju kota Novacurve.


***


Beberapa saat kemudian, terlihat Flogaz yang sedang sendirian di lantai atap tempat penginapan para murid akademi sihir.


“Eh…” Ketika sedang memperhatikan ke sekitaran, pemuda itu lantas terkejut melihat Zchaira terbang ke arahnya.


“Zchaira… Apa kau baru saja dari pegunungan sana?” Tanya Flogaz ketika gadis tersebut datang menghampirinya.


“Tapi, bukankah setahuku kau bersama dengan bibi Artemis… Kemana dia?” Lanjut Flogaz, bertanya mengenai Artemis karena mengetahui bahwa gadis itu sebelumnya pergi bersama dengan ibunya.


“Aku juga tidak tahu… Setelah aku berlatih, naga merak mengatakan padaku bahwa dia pergi ke suatu tempat,” jawab Zchaira.


“Begitu yah…” Respon Flogaz.


*


“Apa mungkin aku harus mengatakan hal itu kepadanya?” Disamping itu, Flogaz nampak berpikir bahwa saat tersebut merupakan keadaan yang tepat untuk hendak mengatakan perasaannya pada gadis tersebut.


**


“Ngomong-ngomong Zchaira… Karena kau sudah berada disini, sebenarnya ada yang ingin kukatakan kepadamu…” Ucap Flogaz.