The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 62 - Pertarungan fisik



“Majulah sekarang, aku tidak takut padamu… Lagipula kau hanya seorang perempuan, mana mungkin menang melawanku,” ucap Megathirio menantang Lucia bertarung.


Lucia pun sejenak tersenyum kemudian dengan cepat meluncur ke arah pemuda itu sambil melancarkan sebuah tendangan.


“Ukh…” Walau dengan refleks menahan tendangan dari perempuan itu bahkan dengan menggunakan kedua tangannya, Megathirio tetap saja terhempas dalam jarak dekat hingga jatuh tersungkur.


Megathirio, Lucia serta murid-murid baru yang saling berpasangan hanya menggunakan murni kekuatan fisik mereka saling berhadapan, dikarenakan tempat bertarung mereka telah memiliki sebuah mantra sihir yang mampu mengekang kekuatan Venerate mereka.


Belum puas dengan tendangan sebelumnya, Lucia kini meluncurkan kepalan tangannya ketika Megathirio masih terkapar.


Dengan sigap Megathirio menghindari serangan Lucia lalu kembali berdiri. Pemuda itu mencengkram salah satu kaki perempuan tersebut dan menariknya dengan kuat hingga jatuh berlutut.


Akan tetapi, walaupun Megathirio terus melakukan hal tersebut, namun dia tidak bisa membuat perempuan tersebut roboh ataupun tersungkur.


“Apa yang sebenarnya mau kau lakukan?” Tanya Lucia dengan ekspresi heran, melihat pemuda itu masih bersikeras terus menarik kakinya.


Lucia pun menggerakan kakinya hingga membuat Megathirio langsung terhempas menabrak dinding pembatas tempat mereka bertarung.


“Baiklah… Waktunya menyerah,” ucap Lucia sambil menghampiri Megathirio yang sedang terkapar.


“Ada yang ingin kukatakan…” Ucap Megathirio.


“Kau mau menyerah? Baiklah, cepat katakan…” Lucia pun membungkuk, mendekatkan telinganya ke mulut pemuda itu.


“Maaf, tapi terpaksa aku harus melakukan ini…”


Dengan cepat Megathirio berdiri, bergerak ke bagian belakang Lucia lalu melingkari leher perempuan itu menggunakan tangannya.


“Urgh…” Lucia pun tidak kuat menahan cengkraman tangan Megathirio yang kuat hingga membuat mereka berdua jatuh tersungkur.


Megathirio terus mencekik leher Lucia hingga perempuan itu merasa kesakitan dan sontak menghentakan tangannya berulang kali ke lantai, menyatakan bahwa dia tidak kuat lagi menahan cekikan pemuda itu.


Melihat pernyataan menyerah dari Lucia, Megathirio pun sontak melepaskan tangannya ke leher perempuan itu, kemudian menyingkirkan perempuan tersebut dari atasnya.


“Uhuk… Uhuk…” Lucia seketika mengalami batuk-batuk setelah Megathirio melepaskan cekikannya.


“Aku bahkan harus melakukan hal itu kepada perempuan,” ucap Megathirio.


“Jadi, apa sekarang kau sudah mau menyerah?” Lanjut Megathirio, bertanya pada Vampireman perempuan itu.


“Uwaah…!” Tiba-tiba Lucia menyandung kaki Megathirio hingga jatuh tersungkur.


Lucia seketika mengangkat Megathirio lalu menabrakan pemuda itu ke dinding dengan keras. Megathirio pun terkejut, tidak menyangka bahwa dirinya yang merupakan seorang laki-laki dengan mudah dapat diangkat oleh perempuan itu.


“Akh!” Dengan kuat Lucia membanting Megathirio ke sisi belakang hingga pemuda itu menjerit kesakitan.


Lucia menarik Megathirio untuk kembali berdiri kemudian melayangkan kepalan tangannya dari arah bawah, menghantam dagu pemuda itu hingga dia terlempar keluar dari tempat pertarungan mereka.


“Megathirio… Keluar…” Ucap Raumian, menghampiri Megathirio, mengumumkan bahwa pemuda itu telah dikalahkan oleh Lucia.


Megathirio yang tengah terkapar tidak percaya dengan serangan yang dilancarkan oleh Lucia terakhir kali hingga membuatnya terlempas keluar.


***


Di sisi lain, terlihat pertarungan lain yang adalah pertarungan antara Zchaira melawan anak laki-laki bernama Haniwa.


“Kakak, maaf jika aku harus bertindak kasar kepada pada seorang perempuan,” ucap Haniwa, memohon maaf terlebih dahulu sebelumnya memulai pertarungannya dengan Zchaira.


Dengan cepat Haniwa pun bergerak menghampiri Zchaira hendak menyerang gadis itu, tetapi dengan sigap Zchaira langsung menahan kepala anak itu hingga dia tidak bisa maju.


Haniwa berusaha melancarkan kepalan tangannya, mencoba menendang gadis itu namun tidak dapat dijangkaunya, karena tangan serta kakinya masih lebih pendek dibandingkan dengan tangan Zchaira yang sedang mencengkram kepalanya.


Haniwa pun berusaha melepaskan tangan Zchaira dari kepalanya, namun tidak bisa karena kekuatan cengkraman tangan gadis itu nampak sangat kuat.


“Kakak, kenapa jari-jarimu sangat sulit dilepaskan?” Tanya Haniwa.


“Itu karena sudah sangat terbiasa bergelantungan di atas pohon,” jawab Zchaira.


“Begelantungan di atas pohon… Kalau begitu, bagaimana jika dahan pohon itu patah?”


“Eh…” Zchaira tiba-tiba kehilangan keseimbangan ketika Haniwa menarik tangannya yang sedang mencengkram kepala anak laki-laki itu.


Hal tersebut membuat cengkraman tangan Zchaira terlepas dan kemudian jatuh tersungkur menghantam lantai dengan keras.


“Maka kau akan jatuh seperti ini,” ucap Haniwa sambil memasang ekspresi menyeringai, tidak menyangka bahwa hal tersebut dapat membuat gadis itu jatuh tersungkur.


“Beraninya kau…” Dengan kesal Zchaira kembali berdiri lalu mengejar anak laki-laki itu.


Haniwa pun lari dari kejaran Zchaira, dengan lincah anak laki-laki itu bergerak ke bagian belakang Zchaira lalu menendang dengan kuat.


“Akh…” Zchaira pun langsung terhempas menabrak dinding pembatas dengan kuat.


Belum menyerah dan merasa kesal dengan perbuatan Haniwa, Zchaira pun kembali mengejar anak laki-laki itu.


Beberapa kali ketika Zchaira terus mengejarnya, Haniwa selalu saja mengelabui gadis itu dengan menendangnya hingga menabrak dinding pembatas, serta menarik kakinya hingga jatuh tersungkur.


***


Hingga pada kesekian kalinya Zchaira pun hanya bisa terduduk bersandar pada dinding pembatas karena sudah tidak kuat lagi mengejar anak laki-laki itu.


“Aku menyerah…” Ucap Zchaira, menyatakan kekalahannya karena merasa kesakitan akibat beberapa bagian tubuhnya serta wajahnya yang cantik kini telah memar akibat selalu terbentur dinding pembatas serta lantai.


“Aku menyebut teknik ini sebagai teknik penghukuman dari alam,” ucap Haniwa sedikit berbicara omong kosong.


“Zchaira… Keluar…” Tak berapa lama, Raumian datang dan mengumumkan kekalahan Zchaira dari Haniwa.


“Eh…” Raumian tiba-tiba terkejut melihat luka memar pada tubuh Zchaira tiba-tiba sembuh dengan sendirinya, padahal disekitar mereka tertanam sebuah mantra sihir pengekang kekuatan dari Venerate.


Raumian datang menghampiri Zchaira, memegang satu per satu tangannya kemudian kakinya, lalu memegang kedua pipi Zchaira dan menatap gadis itu dengan ekspresi yang heran.


“Apa yang kau lakukan tuan? Apa kau mau melecehkanku?” Ucap Zchaira, menjadi salah paham terhadap guru itu.


“Tentu saja tidak… Aku hanya heran mengapa luka memarmu bisa sembuh dengan sendirinya,” ucap Raumian, menjelaskan maksudnya kepada Zchaira.


Mendengar hal tersebut, Zchaira lantas terkejut dan langsung mengetahui bahwa luka memarnya disembuhkan oleh kekuatan makhluk suci yang berada pada dirinya.


“Apa mungkin mantranya kurang berfungsi dengan baik?” Gumam Raumian kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Walaupun disekitar tempat tersebut telah tertanam sebuah mantra pengekang kekuatan Venerate, namun hal tersebut tidak akan berpengaruh pada kekuatan makhluk suci yang ada pada diri Zchaira, karena kekuatan tersebut jauh lebih kuat hingga bisa menolak mantra yang tertanam di sekitar tempat itu.


Haniwa pun datang menghampiri Zchaira lalu mengulurkan tangannya sambil memasang ekspresi senyuman.


Walau masih merasa kesal, Zchaira pun tetap meraih tangan anak laki-laki itu untuk kembali berdiri.