
“Masuklah…” Ketika berada di depan asrama perempuan kelas Land Venerate, Kral pun langsung menyuruh Aphrodia untuk masuk.
Namun, Aphrodia hanya diam sambil menatap Kral, tidak hendak kunjung untuk masuk ke dalam asrama tersebut.
“Ada apa lagi?” Tanya Kral.
“Terima kasih karena sudah mengantarku sampai disini Kral,” jawab Aphrodia, yang ternyata ingin berterima kasih kepada pria itu.
“Tidak masalah… Kalau begitu, ayo masuklah aku akan tetap berada disini sampai kau benar-benar masuk ke dalam,” respon Kral.
Tiba-tiba suatu hal tersirat di dalam pikiran perempuan itu, yang membuatnya ingin hendak mengatakan kepada Kral, namun merasa kurang percaya diri.
“Aphrodia…” Panggil Kral, karena perempuan itu terdiam dan belum kujung-kunjung masuk ke dalam asrama.
Sejenak Aphrodia memperhatikan ke sekitaran, yang ternyata tidak ada orang satupun selain mereka berdua berada di sekitar situ. Aphrodia kemudian menatap Kral dengan ekspresi wajah yang serius, hingga membuat pria itu pun langsung merasa heran.
“Kral, aku ingin bertanya tentang satu hal… Apa mungkin kau masih memiliki perasaan itu kepadaku?” Tanya Aphrodia.
“Apa?” Mendengar pertanyaan itu, Kral pun lantas terkejut, karena tidak menyangka bahwa perempuan tersebut akan menanyakan mengenai hal itu.
“Tentu saja… Sampai sekarang aku masih tetap menyukaimu, aku pun selama ini masih terus mengingat tentangmu… Aku sangat senang bisa melihatmu kembali setelah tidak bertemu sekian lama Aphrodia,” jawab Kral sambil mengatakan beberapa hal yang mendukung jawabannya tersebut.
Mendengar hal tersebut, membuat wajah Aphrodia pun menjadi memerah, tidak menyangka bahwa pria itu ternyata masih menyukainya dan tidak pernah melupakannya.
“Bagaimana denganmu Aphrodia? Apakah kau masih memiliki perasaan yang sama denganku? Ataukah kau sudah lama melupakanku?” Ucap Kral, melontarkan beberapa pertanyaan kepada perempuan itu.
Aphrodia pun tiba-tiba memasang ekspresi yang nampak kesal ketika mendengar pertanyaan dari Kral.
“Eh…” Akan tetapi Aphrodia mendekat dan langsung memeluk pria itu dengan erat, membuat pria itu pun tiba-tiba langsung terkejut.
“Aphrodia…” Ucap Kral, dengan nada suara yang pelan, merasa canggung ketika dipeluk oleh perempuan itu.
“Tolong diam dulu seperti ini… Kau tahu betapa aku sangat merindukanmu selama ini. Aku juga masih memiliki perasaan yang sama kepadamu dan tidak berubah seperti yang dulu,” ucap Aphrodia.
Hal tersebut membuat Kral memasang ekspresi tersenyum, mengetahui bahwa mereka berdua sampai saat ini masih saling menyukai satu sama lain.
Kral langsung membalas pelukan Aphrodia, karena nampak merasa rindu bertemu dengan perempuan itu setelah sekian lama.
***
Beberapa saat kemudian, Kral dan Aphrodia duduk di sebuah taman yang berada di dekat tempat mereka sebelumnya.
“Kau tahu… Beberapa bulan yang lalu aku sempat bertemu dengan ayah dan ibumu,” ucap Aphrodia.
“Ekh… Kapan kau bertemu dengan mereka?” Tanya Kral sambil memasang ekspresi terkejut, mendengar Aphrodia bertemu dengan kedua orangtuanya.
Aphrodia pun menjelaskan bahwa dia bertemu dengan Hefaistos dan Artemis ketika hari pertama murid-murid akademi sihir masuk pada tahun sebelumnya, saat itu kebetulan para Venerate dari negeri Fuegonia yang merupakan para ras Elfman datang, dan melakukan sebuah pertarungan.
Ketika Aphrodia bersama dengan keempat murid Land Venerate lain tersudut karena hampir menerima serangan pamungkas dari para Elfman Land Venerate, mereka berlima tiba-tiba menghilang dan muncul di sebuah ruangan, dimana tempat beradanya Hefaistos, Artemis, serta Elfman World Venerate dari negeri Fuegonia tersebut.
Aphrodia juga menceritakan pada bahwa saat itu, mereka sempat mendengar Hefaistos langsung megusir World Venrate Fuegonia tersebut karena meminta sebuah persetujuan yang pernah ditolak oleh sang presiden penyihir Lightio itu.
Setelah itu, Hefaistos melihat ke arah mereka dan langsung mengenali Aphrodia bahwa prempuan itu disukai oleh Kral. Karena mendengar Hefaistos berbicara seperti itu di depan rekan-rekannya, membuat Aphrodia pun langsung merasa malu.
“Jadi ayahku mengatakan hal seperti itu?” Tanya Kral.
“Haah… Dasar si pak tua itu… Tapi, apa yang dia katakan memanglah benar,” gumam Kral, kemudian menatap Aphrodia dengan tersneyum.
Melihat hal tersebut, Aphrodia pun membalas senyuman Kral dengan memperlihatkan ekspresi senyuman juga, walaupun wajahnya nampak memerah.
“Kral… Tahun ini adalah tahun terakhirmu sebagai murid akademi… Dan tahun depan adalah tahun terakhirku menjadi murid akademi sihir ini… Aku ingin terus bersamamu setelah kita berdua keluar dari akademi ini,” ucap Aphrodia, memberitahukan keinginannya setelah lulus dari akademi sihir tersebut.
“Tentu saja… Aku juga ingin bersama denganmu…” Respon Kral, menyetujui keinginan dari Aphrodia, karena hal tersebut merupakan keinginan darinya juga.
Aphrodia pun langsung tersenyum serta merasa senang mendengar pernyataan dari pria yang disukainya itu.
Akan tetapi, dalam benak Kral nampak ragu karena janji mereka tersebut tidak akan ditepati jika pria itu masih menjadi Venerate wilayah barat Lightio. Satu-satunya cara agar janji mereka bisa ditepati adalah wilayah barat serta timur bisa dipersatukan dan tidak memiliki sebuah pertentangan lagi.
“Kurasa ini sudah terlalu larut… Sebaiknya kau masuk saja ke dalam,” ucap Kral.
“Baiklah…” Aphrodia pun berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan meninggalkan Kral.
Tiba-tiba perempuan itu menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah Kral sambil tersenyum.
“Cepatlah masuk…” Ucap Kral.
Karena pria tersebut terus menyuruhnya masuk, Aphrodia pun pergi berjalan meniggalkan Kral, masuk ke dalam asrama untuk beristirahat.
**
Setelah Aphrodia pergi meninggalkannya, Kral kemudian mengambil sebuah alat komunikasi, lalu menghubungi seseorang.
***
Berpindah ke kota Angeloses, dimana terlihat sambungan komunikasi terhubung ke salah satu World Venerate wilayah barat, yang tidak lain merupakan Levianther.
“Ada apa Kral?” Tanya pria itu.
“Tuan Levianther… Kurasa kita memiliki sebuah misi yang bagus kali ini,” jawab Kral.
“Misi… Misi seperti apa itu?” Tanya Levianther kembali, karena merasa penasaran dengan jawaban dari Kral.
“Dua hari kedepan beberapa murid akademi sihir akan mengikuti sebuah turnamen Venerate di kota Novacurve, Fuegonia… Kau tahu kan apa yang kumaksud?”
Mendengar pernyataan tersebut, World Venerate bernama Levianther itu pun langsung memasang ekspresi senyuman menyeringai, mengerti dengan maksud dari Kral.
“Apakah Illios dan Astrapi bersama denganmu disana?”
“Tentu saja… Kami bermaksud untuk ikut bersama dengan mereka, dan menyelinap sebagai Venerate biasa untuk memasuki negeri itu…”
“Bagus sekali… Jika untuk mencari benda itu kalian memang harus melakukan hal tersebut,” respon Levianther.
“Baik tuan Levianther… Kalau begitu, kami akan melakukan misi pencarian itu.”
***
Setelah memberitahukan kepada Levianther bahwa mereka akan mengikuti para murid-murid akademi sihir ke negeri Fuegonia, Kral kemudian langsung menutup sambungan komunikasinya tersebut.
Tak berapa lama, pria itu berdiri dari tempat duduknya, kemudian pergi beranjak dari taman itu.