
Setelah Lucia selesai dan dinyatakan lulus dalam tahap pelatihan sihir penyerangan, murid yang selanjutnya akan memperlihatkan kemampuannya, tidak lain adalah Megathirio.
Pemuda itu dengan ekspresi datar mulai berkonsentrasi ketika sebuah penghalang tercipta dan langsung mengurungnya dari dalam.
“Aqua sillabare… Ocean projection…” Dalam sekejap Megathirio memproyeksikan elemen air dalam volume yang besar hingga dalam sekejap memenuhi seluruh ruang yang berada di dalam penghalang tersebut.
**
“Dia akan kehabisan nafas…” Ucap Zchaira, nampak khawatir melihat saudaranya berada di dalam air yang memenuhi ruang penghalang tersebut.
**
Akan tetapi, Megathirio dengan santai menahan nafasnya sambil terus memproyeksikan energi sihirnya menjadi elemen air sampai-sampai membuat penghalang proyeksi tersebut seketika hancur akibat tidak bisa lagi menahan tekanan air yang berada di dalamnya.
Air dalam volume yang besar tersebut memancar keluar hingga mengguyur semua murid-murid baru yang ada.
Walaupun basah kuyup akibat perbuatan Megathirio, namun para murid-murid langsung bertepuk tangan karena terkagum dengan pemuda itu yang mampu memanipulasikan energi sihirnya dalam jumlah yang besar hingga dapat memproyeksikan elemen air dalam volume yang besar pula.
*
Disaat murid-murid baru sedang bertepuk tangan terkagum oleh aksi yang dilakukan Megathirio, Zchaira terlihat tersenyum ketika teringat kembali bahwa dia tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Megathirio ketika berada di dalam air terlalu lama, dimana pada saat beberapa tahun yang lalu, Zchaira yang sedang menaiki perahu di atas sebuah danau, tiba-tiba dengan tidak sengaja menjatuhkan kalung bunga esnya hingga tenggelam dengan cepat ke dasar danau yang dalam.
Gadis itu sempat meminta tolong kepada ibunya Artemis untuk mengambilkan kalung tersebut karena dirinya pada saat itu masih menguasai cara untuk berenang. Akan tetapi, Artemis menolak hal tersebut dan berjanji akan memberikan kalung yang baru, yang bahkan lebih jauh bagus dari kalung bunga es tersebut.
Melihat ekspresi dari adiknya tersebut yang nampak sedih kehilangan kalungnya, Megathirio yang berada bersama mereka lantas melompat ke air dan menyelam ke dasar danau yang dalam untuk mencari kalung tersebut.
Hingga beberapa menit berlalu Zchaira dan Artemis pun khawatir ketika Magethirio masih belum kunjung naik ke atas air.
Saat Artemis melompat ke dalam air, tiba-tiba saja Megathirio muncul sambil megangkat kalung es yang berusaha dicarinya di dasar danau.
**
“Zchaira, kenapa kau tersenyum?” Lucia yang sedang duduk disamping Zchaira lantas penasaran hingga langsung bertanya kepada gadis itu.
“Tidak, aku hanya kembali memikirkan bahwa Megathirio bahkan bisa menahan nafas lebih lama dibandingkan yang diperlihatkan sebelumnya,” jawab Zchaira.
“Apa mungkin dia sebenarnya keturunan ras Mermaidman?” Ucap Lucia, merasa penasaran walaupun hal yang dipirkannya tersebut merupakan sesuatu yang acak.
“Mungkin saja… Tapi, ras Mermaidman itu seperti apa?” Respon Zchaira kemudian bertanya pada Vampireman perempuan itu ketika mendengar nama ras yang masih asing baginya.
“Mereka adalah ras dari negeri Mormist yang bisa mengubah kaki mereka menjadi layaknya ekor ikan ketika bersentuhan dengan air,” jawab Lucia.
Zchaira kemudian tersenyum mendengar penjelasan dari Lucia kemudian kembali memperhatikan Megathirio yang masih belum beranjak dan tetap berdiri dengan gaya yang sok keren.
***
Beberapa saat kemudian, kini giliran Zchaira untuk mennunjukan kemampuannya menggunakan teknik sihir penyerangan yang dilatihnya selama sembilan hari sebelumnya.
Ketika Zchaira sampai di tempatnya, sebuah penghalang proyeksi tiba-tiba muncul dan langsung mengurung dirinya dari dalam.
Zchaira memejamkan kedua matanya mulai berkonsentrasi memfokuskan Mana miliknya sambil mengangkat kedua tangannya ke samping.
“Ventus sillabare… Blowing spring breeze warms heart and soul…” Saat Zchaira tiba-tiba melakukan gerakan memutar, seketika hempasan elemen angin yang besar tercipta membentuk sebuah pusaran angin yang kencang.
Pusaran angin tersebut terus berhempus betahan hingga waktu yang lama, namun tetap saja masih belum bisa menghancurkan penghalang proyeksi yang mengurung Zchaira di dalamnya.
“Aahh…!” Karena pusaran angin tersebut tidak kunjung berhenti, Zchaira yang tiba-tiba melangkah ke depan menjauhi titik tengah tiba-tiba langsung terbawah berputar oleh pusaran angin yang diciptakan olehnya.
**
Bukan mendapatkan pujian, gadis itu malah langsung ditertawai oleh semua murid yang ada karena layaknya seperti melakukan sebuah lelucon.
**
Merasa malu Zchaira sejenak ingin mengangkat tangannya untuk menyerah, namun seketika dirinya teringat bahwa dia masih memiliki teknik yang lain, yang kemungkinan bisa menghancurkan penghalang yang mengurungnya.
Zchaira kemudian memejamkan matanya kembali sambil memegang kalung bunga es yang dipakainya.
“Glacies sillabare…” Seketika Zchaira menciptakan sebuah bongkahan es yang dalam sekejap bertumbuh semakin tinggi hingga langsung menghancurkan bangian atas dari penghalang proyeksi tersebut.
Sejenak Zchaira tiba-tiba termenung melihat bongkahan es tersebut perlahan-lahan mulai bertumbuh menjadi besar.
**
Saat memperhatikan hal yang dilakukan oleh Zchaira, Megathirio tiba-tiba mengingat kejadian masa lalu ketika adiknya tersebut terluka akibat menciptakan bongkahan es seperti itu.
“Zchaira…! Awas!” Teriak Megathirio.
**
Mendengar teriakan dari saudaranya, lantas merunduk hingga pada saat yang bersamaan bongkahan es tersebut bertumbuh membesar dengan cepat hingga langsung menghancurkan penghalang proyeksi yang mengurung Zchaira.
Untung saja bagian bawah dari bongkahan es tersebut tidak membesar, hingga tidak dapat melukai Zchaira yang sedang merunduk.
**
Megathirio pun lantas merasa legah karena masih sempat memperingati adiknya pada teknik berisiko yang diciptakan oleh Zchaira sendiri.
***
Setelah Zchaira selesai menunjukan kemampuan sihir penyerangannya, kini giliran dari anak laki-laki bernama Haniwa yang menjadi murid terakhir yang akan menunjukan kemampuannya.
Haniwa berjalan dengan percaya diri menu ke tempatnya kemudian penghalang proyeksi kembali tercipta langsung mengurungnya dari dalam.
Haniwa berkonsentrasi memfokuskan energi sihir pada tangannya kemudian mulai memejamkan matanya.
“Fulmine sillabare…” Dalam sekejap sebuah pancaran elemen petir keluar dari salah satu tangan yang diacungkannya ke depan.
Haniwa meluncur ke atas menembus penghalang peroyeksi tersebut layaknya sebuah kertas.
Beberapa kali anak laki-laki tersebut terus meluncur menerjang penghalang proyeksi tersebut, memamerkan kemampuannya yang berbeda dengan yang dilakukan oleh para murid-murid yang lain sebelumnya.
Hingga pada suatu saat ketika dia tidak bisa mengontrol pergerakannya, anak laki-laki tersebut lantas dengan acak meluncur ke arah para murid-murid.
Melihat hal tersebut dengan sigap, Brynzel pun mendahului anak laki-laki itu dan langsung melancarkan sebuah tendangan yang kuat hingga Haniwa pun terhempas ke tempat yang lain.
Brynzel terpaksa melakukan hal tersebut karena tidak punya pilihan lain dan jika dia membiarkan hal tersebut maka itu akan berdampak kepada para murid-murid lain.
***
Setelah giliran dari Haniwa selesai, kini pengujian sihir penyerangan dari para murid-murid baru pun selesai. Satu per satu dari mereka mulai meninggalkan tempat tersebut hingga tidak ada yang tersisa diantara mereka.