
Para penonton sontak kembali bersorak mendengar informasi mengenai kemenangan Rourke, salah satu anggota dari tim kebanggaan mereka, ditambah mengenai perolehan poin dari seluruh tim pada layar, memperhatikan bahwa tim Fuegonia-lah kini yang paling unggul diantara semua tim yang ada.
Fuegonia (13), Lightio (9), Machora Tira (9), Cielas (7), Mormist (6), Vielass (6), Neodela (4), Asimir (3).
**
“Dibandingkan tim Cielas, ternyata tim Fuegonia tampak lebih menakutkan... Diantara sembilan pertandingan yang sudah usai, mereka bahkan memenangkan tiga diantaranya,” ucap Zchaira sedikit terkejut dengan persentase kemenangan dari tim Fuegonia yang membuat tim tersebut memiliki perolehan poin tertinggi.
“Jangan khawatir... Kita masih bisa mengimbangi poin mereka untuk pertandingan terakhir babak pertama pertama,” sambung Rayvor, meyakinkan kepada Zchaira serta para anggota timnya, dimana tim Lightio masih bisa mendapatkan penambahan poin, agar bisa seimbang dengan tim Fuegonia jika saja Aphrodia bisa memenangkan pertandingan yang menjadi gilirannya.
“Rayvor benar, kita masih memiliki kesempatan untuk seimbang dengan tim Fuegonia... Aku yakin bisa memenangkannya...” Sambung Aphrodia, kemudian meyakinkan kepada para anggota timnya bahwa dengan percaya diri perempuan itu akan berusaha untuk bisa memenangkan pertandingan gilirannya.
“Semangat kakak...” Ucap Zchaira, memberi semangat kepada Aphrodia.
“Terima kasih Zchaira...” Respon Aphrodia, tersenyum pada gadis itu.
***
Beberapa saat kemudian, setelah pertandingan sebelumnya usai, tampak sang pembawa acara memasuki tengah arena untuk mengumumkan pertandingan selanjutnya.
“Baiklah... Waktunya kita lanjut pada pertandingan terakhir dalam tingkat Land Venerate, serta babak pertama... Bagi peserta yang namanya tertera pada layar, diharapkan untuk segera bersiap menuju ke tengah arena.”
Setelah mengumumkan hal tersebut, layar yang berada di arena turnamen langsung memperlihatkan empat nama para peserta yang akan saling berhadapan, tanpa perlu mengacaknya terlebih dahulu.
Lightio, Aphrodia Piercethorn, 24 tahun, 167 cm, Human, Land Venerate.
Mormist, Iezig Wakor, 35 tahun, 185 cm, Goblinman, Land Venerate.
Vielass, Berassor Ephidris, 22 tahun, 187 cm, Tricloman, Land Venerate.
Asimir, Fegant Nomos, 24 tahun, 254 cm, Giantman, Land Venerate.
**
“Baiklah... Waktunya kakak Aphrodia akan menunjukkan kemampuannya,” ucap Illios diantara para penonton yang berada di tribun, tampak antusias ingin melihat Aphrodia bertarung pada pertandingan yang akan segera dimulai.
“Aku juga tidak sabar ingin melihat kakak Aphrodia bertarung...” Sambung Astrapi, juga merasa antusias pada pertandingan yang akan diikuti oleh Aphrodia.
Disamping itu, Artemis yang berada dengan anak-anaknya tersebut tampak sedikit bingung saat melihat ekspresi wajah Kral yang terlihat khawatir.
“Apa kau merasa khawatir pada Aphrodia? Jika ibu bisa menebak kemungkinan Aphrodia adalah pemilik senjata legendaris dari clan Piercethorn,” tanya Artemis pada Kral karena mengetahui sesuatu.
Kral pun sedikit terkejut mendengar pertanyaan ibunya, dan lantas merespon dengan menganggukkan kepalanya bahwa hal tersebut memang benar adanya.
***
Tak berapa lama kemudian, satu per satu para peserta mulai datang ke tengah arena dimulai Aphrodia, kemudian anggota tim negeri Mormist bernama Iezig yang merupakan salah satu ras Ogreman, yang teah siap dengan memegang sebuah senjata sepasang belati yang ditekuknya ke belakang, lalu anggota dari tim Asimir bernama Fegant, merupakan ras Giantman yang memiliki tinggi badan sekitar dua setengah meter, telah bersiap dengan memegang sebuah gada yang ukurannya hampir sebesar Giantman tersebut.
Tidak lupa juga dengan salah satu tim negeri Vielass bernama Berassor, merupakan salah satu ras yang disebut sebagai ras Tricloman, tampak berkumpul ke tengah arena bersama dengan tiga peserta lain.
**
**
Setelah semuanya berkumpul, sang wasit yang akan memulai pertandingan memasuki tengah arena menghampiri keempat peserta yang akan saling berhadapan.
“Baiklah... Bersiap... Mulai...” Ucap sang wasit memulai pertandingan.
Tanpa pikir panjang, Fegant langsung mengayunkan gada besarnya ke arah Aphrodia ketika wasit memulai pertandingan tersebut.
“Ukh...” Dengan sigap, Aphrodia langsung melompat menaiki ayunan gada Fegant, kembali melompat sambil menendang Giantman tersebut hingga terhentak ke belakang.
“Hei cantik, ternyata pergerakanmu cukup lincah untuk seorang perempuan dari ras manusia,” ucap Fegant, memuji kegesitan Aphrodia yang langsung menghindari ayunan gadanya serta sempat melancarkan serangan yang membuatnya sedikit terkejut.
“Tapi, aku juga tidak kalah cepat denganmu...”
Dalam sekejap, Fegant mengayunkan gadanya ke tanah, membuat Aphrodia terkejut betapa cepatnya serangan ayunan yang hampir saja diterima olehnya itu.
Fegant dalam kecepatan tinggi, seketika mengayunkan gadanya secara berulang kali ke arah Aphrodia, hingga perempuan itu harus melakukan pergerakan dengan kecepatan ekstra untuk menghindarinya.
“Difesa sillabare... Holy eldritch shield...” Ketika ayunan gada dalam kecepatan tinggi dari Fegant meluncur, Aphrodia dengan sigap mengakses kekuatan sihirnya, menciptakan sebuah perisai proyeksi.
“Ukh...” Perisai tersebut langsung didorong oleh Aphrodia, sampai membuat Fegant pun terhempas.
“Fiamma sillabare... Holy flame hawk...” Masih belum cukup untuk bisa melancarkan serangan berarti kepada Giantman yang memiliki kekuatan fisik besar, dengan sigap Aphrodia pun langsung melancarkan serangan proyeksi elemen api berbentuk seekor burung elang.
Serangan elang api dari Aphrodia meluncur sembari Fegant kembali berdiri, membuatnya langsung menahan serangan tersebut menggunakan gadanya, sampai membuat Giantman itu terseret beberapa meter ke arah belakang.
“Urgh...” Fegant mengibaskan gadanya dengan kuat, hingga serangan elang api itu lenyap, namun seketika Giant itu dibuat terkejut melihat Aphrodia telah berada di depannya sambil hendak melancarkan serangan kembali.
“Incantesimo segreto... Coup de pousser...”
Ketika Aphrodia melancarkan serangan proyeksi energi dalam skala besar, dalam sepersekian detik Giantman tersebut mengakses kekuatannya, melapisi gadanya dengan proyeksi energi, lalu mengayunkannya untuk menahan serangan yang hendak dilancarkan oleh Aphrodia.
Sontak tabrakan serangan Fegant maupun Aphrodia, menciptakan efek ledakan yang besar, membuat mereka berdua secara bersamaan terhempas ke udara menuju ke tribun penonton.
**
Dari dalam ruangan khusus, Achilles yang melihat kedua peserta yang saling berhadapan hendak mendarat ke tribun penonton, lantas dengan sigap mengakses kekuatannya, kembali memunculkan sebuah penghalang proyeksi yang melapisi tengah arena.
**
Saat penghalang proyeksi aktif, Aphrodia dan Fegant yang terhempas, sontak menabrak penghalang tersebut, kemudian jatuh bersamaan ke permukaan.
**
Berpindah ke sisi lain, dimana dua peserta yang menjadi petarung dalam pertandingan tersebut, terlihat hanya berdiam diri memperhatikan pertarungan dari Aphrodia dan Fegant.
“Hei... Aku penasaran kemampuan dari ras Tricloman, apakah kau mau memperlihatkannya?” Karena merasa bosan hanya memperhatikan pertarungan dari peserta lain, anggota tim Mormist bernama Iezig lantas menantang anggota tim Vielass bernama Berassor dengan alasan penasaran dengan kemampuan dari pria yang merupakan ras Tricloman itu.