The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 113 - Menuju ke tempat persembunyian para pemberontak



“Uhuk… Uhuk…” Astrapi pun mengalami batuk-batuk karena cengkraman tangan dari Zeidonas tersebut nampak sangat kuat mencengkram lehernya.


“Dasar bodoh... Padahal aku sudah memulihkan keadaanmu, tapi kau malah membuatku hampir saja mati,” ucap Astrapi membentak pria itu.


“Maafkan aku nona… Aku tidak mengira bahwa kau ternyata berniat baik… Kalau begitu, terimalah ucapan terima kasihku.” Zeidonas pun lantas meminta maaf kepada Astrapi sambil membungkukan badannya.


“Iya-iya… Sama-sama…” Balas Astrapi, menerima permintaan maaf serta rasa terima kasih dari Zeidonas.


Zeidonas bersama yang lain pun kemudian langsung membantu Astrapi untuk berdiri kembali.


Tak berapa lama, Megathirio pun datang menghampiri Astrapi dengan ekspresi khawatir karena sempat melihat kakaknya tersebut dicekik oleh Zeidonas.


“Hei cantik, apa kau baik-baik saja?” Tanya Megathirio mengenai keadaan dari kakaknya tersebut.


“Iya aku tidak apa-apa,” jawab Astrapi, tidak mau berkata lebih karena takut akan kembali digoda oleh adik laki-lakinya tersebut.


**


“Baiklah… Kurasa waktunya kita berangkat sekarang,” ucap Illios.


“Apa kalian sudah siap?” Lanjut pria, bertanya kepada para murid-murid akademi sihir.


Para murid pun lantas mengangukan kepala mereka, merespon kepada Illios bahwa mereka sudah siap untuk pergi menyerang para pemberontak kembali, serta berusaha menyelamatkan Lucia yang mengikuti para pemberontak.


Semua murid-murid akademi sihir tersebut lantas mengakses kekuatan sihir mereka, membentuk sepasang sayap proyeksi mereka.


**


Melihat para murid-murid akademi menciptakan sepasang sayap tersebut, Zeidonas serta para rekan-rekannya lantas merasa kebingungan.


“Tunggu…” Ucap Zeidonas.


“Ada apa?” Tanya Illios.


“Kami tidak memiliki kemampuan untuk bisa terbang… Apakah kalian memiliki solusinya,” jawab Zeidonas.


Mendengar jawaban dari pria tersebut, Illios pun langsung memikirkan sebuah cara agar bisa membuat pria bernama Zeidonas itu serta para rekan-rekannya agar bisa menyusul mereka lebih cepat ketika sedang terbang.


“Astrapi… Tolong bantu mereka menciptakan sayap proyeksi agar mereka bisa memiliki kemampuan untuk terbang seperti kita,” ucap Illios.


Mendengar perintah dari kakaknya tersebut, Astrapi tiba-tiba langsung memegang tanganya Zeidonas.


“Hei nona, apa yang kau lakukan?” Zeidonas seketika merasa salah paham dan langsung melepaskan tangannya dari genggaman Astrapi.


“Hei bodoh… Jangan berpikir macam-macam, aku hanya ingin membantu kalian menciptakan sebuah sayap menggunakan kekuatan kalian masing-masing… Ayo cepat pegang tanganku lagi… Kalian juga…”


Astrapi pun kembali memgang tangan Zeidonas lagi sambil salah satu tangannya dipegang oleh salah satu rekan pria itu. Keempat Venerate tersebut bersama dengan Astrapi kemudian saling berpegangan membentuk sebuah lingkaran.


“Aku ingin kalian memfokuskan Mana kalian setidaknya di bagian belakang punggung kalian masing-masing,” ucap Astrapi pada keempar Venerate tersebut.


“Mana… Apa-apaan itu?” Tanya Zeidonas, karena tidak mengerti dengan istilah yang diucapkan oleh Astrapi.


“Itu adalah energi kalian sendiri… Kami di Lightio sering menyebutnya seperti itu,” ucap Astrapi mulai merasa kesal pada pria itu.


“Cepat lakukan yang kukatakan sebelum aku berubah pikiran…” Karena kesal, perempuan itu pun langsung mengeluarkan tekanan kekuatannya.


Keempat Venerate tersebut, termasuk Zeidonas lantas menjadi tegang dan langsung melakukan apa yang disuruh oleh Astrapi.


“Proyeccion sillabare…” Astrapi megakses kekuatan sihirnya untuk membantu para Venerate tersebut membentuk sepasang sayap proyeksi menggunakan energi mereka masing-masing.


“Wah… Ini hebat…” Ucap Zeidonas, merasa senang kini dirinya memiliki kemampuan melayang di udara ketika memiliki sepasang sayap proyeksi tersebut.


**


“Baiklah, waktunya kita berangkat sekarang,” ucap Illios.


Setelah pria itu mengatakan hal tersebut, Illios terbang terlebih dahulu diikuti oleh semuanya karena memiliki gelang untuk dapat mendeteksi keberadaan dari salah satu gelang dipakai oleh Lucia.


**


Sembari semuanya terbang di udara, Para Continent Venerate, tidak lain merupakan Illios, Astrapi serta Joker, yang mampu terbang tanpa menggunakan sayap proyeksi tampak berada di depan karena memiliki kecepatan yang lebih unggul dari pada yang lain.


Tiba-tiba Astrapi dan Joker yang berada di belakang Illios terkejut ketika melihat Zchaira, satu-satunya Venerate dibawah tingkatan Continent Venerate mampu mengimbangi kecepatan terbang mereka berdua, dengan menggunakan sepasang sayap proyeksi energi yang berada pada kedua kakinya.


“Hei, bagaimana kau bisa secepat ini? Kau sebenarnya berada di tingkatan mana?” Tanya Joker pada Zchaira, karena merasa penasaran.


“Tentu saja aku adalah World Venerate…” Jawab Zchaira dengan percaya diri.


Karena mendengar jawaban dari gadis tersebut, Joker tiba-tiba mengingat kejadian saat dia menyerang Zchaira, yang sebelumnya dipikirnya sudah tidak bisa ditolong lagi, tiba-tiba kembali bangkit langsung mengalahkannya.


“Jangan berbohong… Kau pikir aku tidak bisa mengetahui tingkatan kekuatanmu sekarang…”


Joker sebenarnya tahu bahwa jawaban dari Zchaira sebenarnya tidaklah benar, namun Vampireman nampak penasaran akan kemampuan yang dimiliki oleh gadis tersebut mampu membuatnya sejenak mengimbangi serta mengungguli kemampuan dari Venerate tingkat atas seperti dirinya.


Astrapi pun hanya bisa diam memperhatikan Zchaira nampak sedikit akrab dengan pria yang tidak pernah dikenal atau ditemui olehnya sebelumnya. Padahal tanpa perempuan itu tahu bahwa sebelumnya, Joker pernah hampir saja membunuh adiknya tersebut.


***


Waktu pun berlalu, Zchaira dan lain kini hampir sampai di tempat persembunyian utama dari para Venerate pemberontak.


***


Di sisi lain, dimana tempat persembunyian utama dari para Venerate pemberontak terlihat Aiver tiba-tiba merasakan tekanan kekuatan besar yang nampak setarah dengannya. Aiver yang sedang duduk bersilah seketika berdiri dan pergi keluar dari ruangan tempatnya berada.


***


“Tuan Anmaguel…” Saat sedang berjalan tiba-tiba Aiver berpapasan dengan Anmaguel yang telah mengenakan topengnya kembali.


“Apa kau juga merasakan tekanan kekuatan yang besar menuju kemari?” Tanya Aiver.


“Tentu saja…”


“Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mereka bisa menemukan kita di tempat ini?” Aiver pun bertanya-tanya mengenai alasan mengapa para Venerate penyerang itu bisa menemukan tempat persembunyian mereka.


Padahal tanpa pria itu ketahui, dia sebelumnya tidak memperhatikan bahwa salah satu gelang yang dilepaskannya pada Lucia sebelumnya adalah alasan mengapa Zchaira dan yang lain bisa menemukan tempat persembunyian mereka.


***


Di sebuah ruangan, Lucia tampak sedang terkurung di dalam sebuah penghalang proyeksi. Lucia yang terkurung di dalam penghalang tersebut tidak bisa menggunakan kemampuan perpindahan ruangnya sama seperti saat dirinya bersama dengan para Vampireman lain sebelumnya.


Akan tetapi, kali ini berbeda, dimana Lucia kini telah menguasai teknik dari para Venerate Lightio, yang membuatnya kemungkinan bisa lepas dari penghalang proyeksi yang mengurungnya tersebut.


Lucia pun kemudian memejamkan kedua matanya dan mulai berkonsentrasi untuk mengakses kekuatan sihirnya.


“Penetrans sillabare…”


Dengan bersamaan mengaktifkan kemampuan teleportasinya, Lucia yang menggunakan sebuah teknik penembus, tiba-tiba berhasil keluar dari dalam penghalang proyeksi tersebut ketika dirinya meluncur.