
Belum sempat Hefaistos mejelaskannya, tiba-tiba para Orcman kembali melancarkan serangan pasak-pasak es mereka.
Hefaistos, Artemis serta dua Venerate lainnya pun langsung menghindarinya hingga membuat mereka harus terpisah.
“Kemana mereka?” Baru saja Artemis sadar ternyata Hefaistos dan yang lain telah terpisah dengannya cukup jauh sampai bisa dilihatnya di tempat tersebut.
Beberapa ras Orcman datang menyerang Artemis menggunakan senjata mereka yang dibuat dari elemen es.
Artemis pun terpaksa harus melawan mereka terlebih dahulu sebelumnya mencari keberadaan para anggota timnya.
Perempuan itu dengan gesit menangkis semua serangan para Orcman yang dilancarkan kepadanya dan kemudian melancarkan serangan balik.
“Ventus sillabare… Wind blow arrow…” Artemis menarik dengan kuat tali busur panahnya hingga menciptakan hempasan angin yang kuat, membuat para Orcman langsung terpental.
Dia lalu memproyeksikan energi sihirnya menjadi beberapa anak panah dan meluncurkannya ke arah para Orcman tersebut.
Dengan sekejap, serangan tersebut langsung membuat para Orcman yang sedang terhempas menjadi tak berdaya.
“Artemis, jangan khawatir kami baik-baik saja… Kau fokus saja pada musuhmu…” Ucap Hefaistos memalui alat komunikasi yang berada di telinga mereka.
“Baiklah, aku mengerti,” balas Artemis.
“Eh… Apa-apaan ini?” Tiba-tiba kedua kakinya membeku hingga membuatnya tak bisa bergerak.
Seketika salah satu ras Orcman yang sebelumnya bersama dengan Silvan datang melayangkan kepalan tangannya.
Dengan refleks, Artemis langsung menangkis serangan tersebut menggunakan busur panahnya.
Tabrakan tersebut sontak menciptakan uap es yang tebal dan membuat Artemis pun terhempas akibat tekanan kekuatan yang kuat dari serangan Orcman itu.
Artemis tetap menjaga keseimbangannya agar tidak membuatnya terkapar setelah terhempas.
“Ice strike…” Baru saja perempuan itu akan kembali memfokuskan dirinya, tiba-tiba Orcman yang sebelumnya langsung melancarkan serangan pusaran elemen es tepat di depan matanya.
Artemis hanya bisa mengandalkan refeksnya untuk menghindari serangan Orcman itu. Dia juga langsung melompat jauh ke belakang untuk menjaga jarak dari Orcman tersebut.
“Ice strike…” Akan tetapi, Orcman itu tidak mudah menyerah, dia dengan cepat kembali melancarkan serangan pusaran esnya walau dalam jarak yang jauh.
Kecepatan serangan tersebut meluncur nampak sangat cepat hingga tidak membuat Artemis sempat untuk menghindarinya.
“Fiamma sillabare…” Dalam keadaan genting Artemis tanpa sadar melancarkan serangan elemen api.
Hal itu sontak membuat tabrakan serangan tersebut membuat serangan pusaran elemen es dengan cepat menguap akibat panasnya serangan elemen api yang dilancarkan oleh Artemis.
Akibatnya pandangan Artemis disekitar menjadi tertutup. Dia tidak bisa melihat Orcman yang dilawannya ataupun hal-hal yang berada disekitarnya.
“Sial…” Artemis pun mengerti mengapa sebelumnya Hefaistos memperingati perempuan itu untuk tidak menggunakan elemen api untuk melawan ras Orcman.
Dalam keadaan itu Artemis langsung mengaktifkan kemampuan observasinya.
Di dalam kepungan uap es yang tebal tersebut, Orcman yang sebelumnya, dengan cepat datang menyerang Artemis menggunakan pedang es, tetapi perempuan itu dengan gesit dapat menghindari serangan tersebut.
Beberapa kali Orcman itu datang kembali melancarkan serangannya, namun Artemis walau dalam keadaan pandangan yang terbatas mampu dengan mudah menghindarinya.
“Wah… Wah… Boleh juga kau gadis mudah…” Ucap Orcman tersebut dari balik kepungan uap es.
Artemis tiba-tiba kesulitan untuk bergerak. Ternyata uap es itu selain membuat pandangan menjadi terbatas, membuatnya perlahan-lahan membeku hingga membuat tubuhnya menjadi kaku.
“Akh…” Akibat hal tersebut, Artemis kini tidak bisa menghindari serangan dari Orcman itu walaupun dapat mengetahui posisinya.
Orcman itu berkali-kali menyerang Artemis hingga membuatnya tidak berkutik lagi.
Disaat keadaan tubuh Artemis sulit untuk bergerak karena perlahan-lahan telah membeku serta jatuh berlutut, Orcman tersebut kemudian melenyapkan uap es yang berada di sekitar.
Orcman itu mengangkat kapaknya dari samping dan kemudian menganyunkannya dari samping menuju ke arah kepala perempuan itu.
“Artemis…!” Teriak Hefaistos tiba-tiba datang menangkis ayunan kapak Orcman itu menggunakan palunya.
Hefaistos menepis kapak Orcman itu dengan kuat, lalu melompat dan menghantamkan palunya pada Orcman tersebut.
“Ukh…” Orcman itu pun terhempas ke jarak yang cukup jauh akibat tekanan kekuatan yang dikeluarkan oleh Hefaistos.
Tampak raut kesal terlihat di wajah Hefaistos, mengetahui bahwa perempuan yang disukainya hampir saja dibunuh.
Hefaistos pun dengan cepat meju ke hadapan Orcman dan melancarkan serangan api dari palunya.
Tanpa ampun Hefaistos menyerang Orcman tersebut sampai membuat tidak berkutik dhadapan pemuda Lightio itu.
Orcman tersebut mencoba menyerang Hefaistos dengan menggunakan elemen es, namun dalam sekejap es yang dilancarkannya menguap dan lenyap akibat panasnya api yang keluar dari palu pemuda itu dibandingkan serangan elemen api biasa.
“Sialan kau bocah… Apa kau memiliki dendam padaku?” Ucap Orcman dengan nada suara tinggi.
“Tanyakan saja pada dirimu sendiri…” Balas Hefaistos.
Keduanya pun kemudian saling menabrakan senjata suci mereka hingga menciptakan efek hempasan angin yang kuat di sekitarnya.
“Ukh…” Dalam keadaan itu, Orcman yang dilawan oleh Hefaistos langsung mencengkram leher pemuda itu dan membantingnya ke tanah.
Orcman itu dengan sigap mengangkat kapaknya dan menganyunkannya ke arah Hefaistos.
“Akh…!” Untung saja disaat bersamaan Artemis menolong Hefaistos dengan meluncurkan serangan pada Orcman tersebut.
“Sialan kau…” Umpat Orcman tersebut, mendapat serangan yang menyakitkan dari Artemis.
Mendapat kesempatan, Hefaistos berdiri kembali dan melancarkan serangannya lagi.
Hefaistos bersama Orcman itu dalam saling melancarkan serangan mereka masing-masing hingga kemudian Artemis datang membantu mengganggu fokus Orcman tersebut dengan meluncurkan serangan dari busur panahnya.
“Uakh…!” Hal tersebut membuat Hefaistos dengan mudah dapat menganyunkan palu dengan keras hingga Orcman itu pun terhempas ke jarak yang cukup jauh.
Belum puas saat serangan sebelumnya, Hefaistos kini berkonsentrasi membuat serangan yang lebih besar. Palu bergagang panjangnya tersebut seketika menciptakan kobaran api yang besar.
Begitu juga dengan Artemis yang berkonsentrasi membuat serangan yang besar dari busur panahnya.
Kedua serangan tersebut dilancarkan mereka mengarah pada Orcman yang mulai kelelahan tersebut.
“Kurang ajar…” Orcman itu hanya bisa pasrah melihat serangan yang diluncurkan oleh Hefaistos maupun Artemis dengan cepat meluncur ke arahnya.
Tiba-tiba Orcman itu beruntungnya diselamatkan oleh hempasan angin yang langsung menepis serangan Hefaistos dan Artemis.
“Apa-apaan ini…? Tidak ada yang mengatakan padaku kalau Lightio ternyata menyerang kita.”
Sontak salah satu ras campuran dengan ciri fisik memiliki sepasang sayap pada kedua tangannya serta sepasang kaki yang menyerupai kaki seekor burung muncul di depan Hefaistos dan Artemis.
“Hmph… Dibanding yang lain, sepertinya mereka setarah dengan kita.”
Tak lama kemudian, salah satu ras campuran lain dengan memiliki ciri fisik manusia setengah ular juga muncul di tempat itu.
Hefaistos dan Artemis tampak terkejut melihat ras manusia ular itu melilit tiga anggota mereka, Gahaelix, Nor dan Flophia yang sudah tak sadarkan diri dengan mengunakan ekornya.
“Ini kukembalikan teman kalian.” Ras manusia ular itu melempar tiga Venerate Lightio tepat di depan Artemis dan Hefaismereka
“Harphyman dan Lamiaman… Artemis, kali ini kita harus berhati-hati karena pergerakan mereka sangat gesit,” ucap Hefaistos, menjelaskan kemampuan dari ras manusia burung serta manusia ular yang berada di depan mereka.