The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 68 - Murid perempuan terkuat



“Rayvor, seharusnya aku yang memandu mereka, bukan kau…” Ucap Astrapi, sedikit kesal.


“Kukira kau mengajakku tadi agar supaya aku menjelaskannya kepada Zchara dan kakak Megathirio?”


Di belakang mereka terlihat Megathirio dan Flogaz nampak tidak peduli sembari Rayvor dan juga Astrapi sedang berdebat tentang siapa yang akan menjadi pemandu diantara mereka.


Megathirio menaruh curiga terhadap pemuda bernama Flogaz tersebut, yang seperti dirasanya menyukai adiknya Zchaira.


“Hei Flogaz, apa mungkin kau menyukai Zchaira?”


“Apa maksudmu kakak?” Ucap Flogaz, tampak terkejut sambil berpura-pura bahwa dia tidak paham dengan maksud dari pertanyaan Megathirio.


“Jangan berbohong, aku tahu bahwa kau menyukai adikku itu…”


Flogaz tidak mau menjawab pertanyaan dari Megathirio bahwa hal tersebut memang benar ataupun tidak. Pemuda itu nampak menjadi salah tingkah ketika Megathirio ternyata mengetahui tentang hal tersebut.


“Kau pikir kita seperti para kaum Elfman dari utara sana? Jika kau bisa merasakan hal itu, mungkin saja aku juga yakin bisa tertarik dengan si Astrapi itu, walaupun dia adalah kakakku sendiri.”


“Apa yang kau pikirkan kakak? Dia itu adalah saudaramu sendiri. Bagaimana bisa kau menyukainya?” ucap Flogaz, terkejut mendengar pernyataan dari Meagthirio.


“Walaupun kami memang bersaudara, tapi kami baru saja bertemu setelah sekian lama… Saat ini aku hanya melihatnya sebagai perempuan saja dan bukan sebagai saudaraku.”


Megathirio berjalan menghampiri Astrapi yang sedang berdebat dengan Rayvor, kemudian tiba-tiba merangkul pundak saudara perempuannya itu.


“Baik kakak cantik, tak usah berdebat… Ayo kita lanjutkan saja, sekarang kau saja yang memandu kami,” ucap Megathirio, tersenyum sambil berjalan bersama Astrapi, membuat saudara perempuannya itu tiba-tiba merasa canggung.


**


“Dasar gila… Apa yang dipikirkannya? Ternyata apa yang dia katakan memang benar,” gumam Flogaz, melihat kelakuan dari Megathirio, merasa bahwa pernyataan dari pemuda itu memang benar adanya.


***


Mereka kemudian menyebrang melewati sebuah jembatan penghubung ke salah satu bangunan yang khusus digunakan oleh para murid yang berada di kelas Division Venerate untuk berlatih kekuatan sihir mereka. Disaat mereka sedang berjalan di dalam salah satu lorong bangunan tersebut, Astrapi pun hanya bisa terdiam serta merasa canggung melihat Megathirio masih terus merangkul pundaknya.


“Kakak, kenapa kau hanya diam? Katakan tempat macam apa ini…” Lantas Megathirio langsung menyuruh saudara perempuannya itu untuk segera menjelaskan mengenai tempat yang mereka datangi tersebut.


“Eh iya… Sekarang kita berada di tempat pelatihan para murid-murid akademi yang berada di kelas Division Venerate… Para murid-murid yang berada di tempat ini bukan hanya berlatih untuk memanipulasi kekuatan sihir mereka saja…”


“Mereka yang berada di kelas Division Venerate bahkan juga mulai melatih kemampuan mereka untuk mengaktifkan kekuatan pelepasan pertama dari senjata suci milik mereka,” ucap Astrapi.


“Kakak, memangnya apa itu kekuatan pelepasan pertama? Apa mungkin kekuatan pelepasan kedua atau lanjutannya juga ada?” Tanya Zchaira, penasaran karena istilah tersebut masih nampak asing baginya.


“Para Venerate umumnya memiliki senjata suci mereka masing-masing… Di setiap senjata suci mereka masing-masing memiliki sebuah kekuatan yang tersegel didalamnya, dimana untuk kekuatan pelepasan pertama merupakan kekuatan yang bisa mereka proyeksikan, yang umumnya digunakan untuk menyerang serta bertahan…”


“Sedangkan untuk pelepasan kedua adalah tingkat lanjutannya, dimana para Venerate memanfaatkan kekuatan dari senjata suci itu pada diri mereka sendiri, layaknya bergabung dengan senjata suci tersebut dengan tujuan untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar,” ucap Astrapi secara panjang lebar kepada mereka semua, khususnya kepada Megathirio dan Zchaira sebagai murid baru.


Zchaira dan Megathirio pun meganggukan kepala mereka bersama-sama nampak mengerti dengan penjelasan dari kakak perempuan mereka itu.


“Mengenai senjata suci itu, apakah yang seperti ini?”


“Vocare sillabare…” Megathirio seketika mengakses kekuatan sihirnya untuk memunculkan pedang yang pernah disimpan ke dalam gelang yang dipakai olehnya.


“Pedang Aquamarine… Bagaimana bisa senjata suci milik ayah bisa dipegang oleh mu?” Tanya Astrapi.


“Tentu saja tuan Hefaistos yang memberikannya sendiri padaku,” jawab Megathirio.


“Ini tidak adil, padahal aku juga dulu sangat menginginkannya pedang ini,” ucap Astrapi, merasa iri melihat pemuda itu memiliki senjata suci tersebut.


“Bisakah aku mencobanya sekali saja?”


“Vocare sillabare…” Megathirio seketika menyimpan kembali pedang tersebut ke dalam gelangnya ketika Astrapi ingin mencobanya.


“Maaf kakak cantik, aku tidak akan membiarkan senjata ini dipegang oleh orang lain,” ucap Megathirio.


Walaupun merasa kesal, namun Astrapi tidak bisa berbuat apa-apa karena senjata tersebut telah disimpan kembali oleh Megathirio.


**


Mereka kemudian sedikit berjalan ke depan, kemudian sampai di depan pintu masuk sebuah ruangan yang cukup luas, dimana di dalam ruangan tersebut sedang berada para murid-murid Dvision Venerate yang sedang berlatih memproyeksikan kekuatan sihir mereka.


“Wenra…” Panggil Zchaira ketika gadis itu melihat teman satu kamarnya, yang merupakan murid kelas Division Venerate.


“Eh, kakak Zchaira…” Anak perempuan bernama Wenra tersebut sontak merespon panggilan Zchaira lalu pergi menghampiri gadis itu.


“Kakak, bukankah pelajaran awalmu masih belum selesai?”


“Sebenarnya aku hanya sedang berkeliling saja sambil ditemani oleh orang-orang ini yang menjadi pemanduku.”


“Oh, aku tahu kalian berasal dari kelas Regional Venerate,” ucap Wenra melihat Rayvor dan Flogaz.


Akan tetapi, ketika melihat Megathirio, anak perempuan tersebut sedikit bingung karena tidak pernah melihatnya sebelumnya.


“Kau kan…” Namun, Wenra seketika terkejut ketika melihat perempuan yang dirangkul oleh Megathirio yang merupakan murid perempuan terkuat di dalam akademi sihir tersebut karena menjadi satu-satunya murid perempuan dalam kelas Continent Venerate.


“Mengenai kakak yang satu ini, dia adalah Astrapi dari clan Silkbar daerah Workyen,” ucap Zchaira, memperkenalkan Astrapi kepada Wenra.


“Iya, sebenarnya juga aku tahu… Semua murid-murid lama di akademi ini tidak ada yang tak mengetahuinya,” ucap Wenra, tentu saja mengenal perempuan tersebut tanpa harus diperkenalkan oleh Zchaira.


“Kakak, bagaimana kau bisa mengenal kakak ini?” Tanya Wenra.


“Sebenarnya dia adalah kakak kandungku,” jawab Zchaira.


“Haah… Bukankah kau berasal dari clan Hairowl? Tapi tunggu dulu… Jika kau dari clan Hairowl dan dia adalah saudara kandungmu yang berasal dari clan Slkbar…”


“Hairowl… Silkbar… Apa mungkin kau adalah putri dari dua pemimpin negeri Lightio?”


“Walaupun aku tidak mau mengatakan padamu sebelumnya, tapi karena kau sudah mengiranya, jadi aku akan mengatakan bahwa hal itu memang benar.”


Anak perempuan bernama Wenra tersebut lantas terkejut mendengar pernyataan dari Zchaira bahwa dirinya merupakan anak dari dua pemimpin negeri Lightio yang merupakan Hefaistos dan Artemis.


“Aku tidak menyangka bahwa kau adalah anak dari dua Word Venerate sekaligus,” ucap Wenra, masih tidak percaya dengan pernyataan dari Zchaira.