The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 202 - Bersama dengan para Venerate Lightio



Anak laki-laki bernama Dierill itu lantas membuka matanya, dan seketika langsung terkejut melihat dirinya sudah berada di tempat lain, berbeda dengan lorong perkotaan tempat dirinya berada sebelumnya.


“Kita berada dimana?” Karena merasa terkejut serta penasaran, Dierill pun lantas bertanya kepada Astrapi mengenai keberadaan mereka sekarang.


“Kita sekarang berada di pegunungan Galbrid... Akibat panik sebelumnya, aku tidak bisa memikirkan tempat lain selain tempat ini untuk kabur menggunakan teknik perpindahan ruang...” Jawab Astrapi, menjelaskan mengapa mereka berdua bisa muncul di tempat itu.


“Eh, maaf... Apa kau bisa melepaskanku...” Ucap Astrapi, menyuruh Dierill melepaskan pelukannya, karena Astrapi sudah merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut.


“Ekh... Maafkan aku nona... Aku tidak bermaksud seperti itu...” Menyadari bahwa dia sedang memeluk Astrapi, anak laki-laki bernama Dierill tersebut lantas melepaskan pelukannya, kemudian dengan cepat berdiri sambil membukkan tubuhnya beberapa kali, meminta maaf kepada Astrapi, serta merasa malu dengan wajah memerah akibat secara tidak sadar telah memeluk seorang perempuan.


“Iya-iya... Lupakan saja hal itu...” Respon Astrapi, tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, kemudian berdiri kemudian perlahan-lahan berjalan dengan Dierill, meninggalkan tempat kemunculan mereka.


***


Beberapa saat kemudian, mereka berjalan lebih jauh menyusuri pegunungan tersebut, dimana anak laki-laki bernama Dierill tersebut nampak merasa sedikit tidak nyaman harus mengikuti Astrapi karena dirinya menduga bahwa perempuan tersebut kemungkinan bukanlah orang baik, dimana anak laki-laki itu menduga bahwa Astrapi kemungkinan merupakan penyusup yang secara diam-diam menyamar menjadi pelayan di kediaman clan Drown.


“Ngomong-ngomong nona, siapa kau sebenarnya?” Ucap Dierill, memberanikan dirinya untuk bertanya mengenai identitas dari perempuan tersebut.


“Apa kau sebegitunya ingin tahu siapa aku sebenarnya karena merasa takut bahwa aku akan meninggalkanmu di pegunungan ini?” Tanya balik Astrapi, karena mengetahui bahwa anak laki-laki itu sebenarnya tidak mempercayai dirinya.


“Jika saja aku memiliki niat buruk kepadamu, aku pasti akan membiarkanmu dimangsa oleh para ras campuran itu, karena aku sangat mengetahui bahwa aku tidak akan bisa mengalahkan mereka semua,” lanjut Astrapi, menjelaskan serta meyakinkan kepada Dierill bahwa dirinya tidak akan berniat jahat kepada anak laki-laki itu.


“Aku merasa lega mendengarnya, namun aku tetap ingin mengetahui siapa kau sebenarnya... Setidaknya katakan namamu...” Dierill lantas memaksa ingin mengetahui identitas dari Astrapi, walau hanya memberikan alasan bahwa dia hanya ingin mengetahui nama Astrapi saja.


“Baiklah... Namaku adalah Astrapi... Aku bukan Venerate yang berasal dari negeri lain, dan kemari dengan sebuah alasan khusus, namun tidal bermaksud untuk mencelakakan siapapun,” jawab Astrapa, lantas memberitahukan namanya serta tujuannya datang ke negeri Fuegonia kepada anak laki-laki dari clan Drown tersebut.


“Jadi begitu yah... Setidaknya aku percaya padamu setelah melihat kau telah menyelamatkanku dari para makhluk seram itu.”


Astrapi pun sontak terkejut mendengar pernyataan dari pemuda tersebut yang lantas percaya bahwa tujuannya datang ke negeri Fuegonia tidak bermaksud untuk mencelakakan siapapun.


“Ngomong-ngomong namaku Dierill... Terimakasih sudah membantuku, dan maafkan atas sikapku semalam,” Respon Dierill sambil tersenyum, memperkenalkan namanya, berterima kasih karena telah menolongnya, serta meminta soal semalam ketika dirinya mencurigai Astrapi, walau hal tersebut memang benar adanya.


Melihat senyuman anak laki-laki tersebut, tiba-tiba saja Astrapi tersipu malu sampai membuat wajahnya memerah. Perempuan itu lantas menatap ke arah lain sambil melanjutkan perjalanannya untuk menemui Zchaira maupun Artemis yang kemungkinan masih berada di pegunungan tersebut.


“Eh, kakak... Tunggu aku...” Ucap Dierill, mengejar Astrapi, dan kini langsung mengubah panggilan kepada Astrapi dari nona menjadi kakak.


***


Astrapi serta Dierill terus berjalan menyusuri pegunungan tersebut hingga membuat Dierill lantas kewalahan terus-terusan melewati medan yang cukup terjal karena tidak terbiasa dengan hal tersebut.


“Kakak... Apakah tidak ada jalan yang lebih dekat? Aku merasa bahwa kita sedari tadi hanya memutar pegunungan ini,” ucap Dierill, mengeluhkan mengenai jalan kembali ke kota Novacurve yang berada diluar ekspektasinya karena Astrapi sebenarnya bertujuan untuk menemui adik serta ibunya terlebih dahulu.


“Aku mengatakan padamu bahwa kita harus mencari seseorang terlebih dahulu sebelum kembali ke kota...”


“Jadi ternyata kita belum mau kembali... Kalau begitu, memangnya siapa yang tinggal atau menetap di pegunungan ini?” Tanya Dierill, sambil terkejut tidak menyangka bahwa ternyata merek masih belum memulai perjalanan untuk kembali ke kota Novacurve.


Baru saja Astrapi mengatakan hendak bertemu seseorang, tiba-tiba perempuan itu merasakan sebuah tekanan kekuatan yang lebih kuat dibandingkan dengannya.


Astrapi lantas tersenyum karena mengetahui bahwa tekanan kekuatan yang dirasakannya tersebut merupakan tekanan kekuatan dari Artemis ibunya.


“Ayo ikut aku...”


“Ekh...” Perempuan itu langsung menarik Dierill berlari untuk menghampiri Artemis yang dirasanya telah dekat.


**


“Ibu... Zchaira...”


Tak berapa lama, terlihat Artemis berjalan bersama dengan Zchaira, dan langsung dihampiri oleh Astrapi yang datang bersama dengan Dierill.


“Astrapi... Kau ada disini...” Ucap Artemis terkejut melihat putri tertuanya berada di pegunungan tersebut, menemui dirinya dan Zchaira.


“Iya ibu, karena suatu alasan aku tiba-tiba harus berada di tempat ini,” balas Astrapi.


Setelah mendengar penjelasan dari Astrapi, Artemis serta Zchaira lantas kebingungan melihat Dierill datang bersama dengan Astrapi, dimana mereka bahkan tidak mengenali anak laki-laki yang bersama dengan perempuan itu.


Karena penasaran, Zchaira perlahan mendekat, kemudian mendekatkan wajahnya pada Dierill, membuat anak laki-laki itu merasa canggung dan langsung memalingkan wajahnya.


“Siapa dia kakak?” Tanya Zchaira.


“Dia adalah salah satu anak dari ketua clan Drown,” jawab Astrapi.


“Apa? Dia adalah anak Rox Drown...” Ucap Artemis, terkejut mendengar jawaban Astrapi.


Astrapi kemudian menjelaskan bahwa ketika mata-matai para Aelacia dan yang lain, tiba-tiba anak laki-laki tersebut muncul dihadapan para Venerate Machora Tira, dan tanpa pikir panjang langsung mencoba untuk menyerang mereka.


Ketika berada dalam bahaya, Astrapi seketika muncul menghentikan para Venerate Machora Tira, namun mereka harus kabur menggunakan teknik perpindahan ruang karena Astrapi tidak akan sanggup untuk melawan tiga Venerate tingkat atas sekaligus, dimana salah satunya memiliki tingkatan yang lebih tinggi, yang tidak lain merupakan Aelacia.


“Pasti Rox Drown sedang mencarinya...” Ucap Artemis.


Artemis kemudian mendekati Dierill sambil memasang ekspresi wajah serius, membuat Astrapi lantas menghalangi Artemis tersebut karena merasa bahwa ibunya hendak melakukan sesuatu kepada anak laki-laki itu.


“Ibu, apa yang mau kau lakukan?” Tanya Astrapi.


“Kita harus membuat dia melupakan apa yang terjadi... Karena hal ini akan menggangu misi kita,” jawab Artemis sambil menaruh tangannya pada kepala Dierill.


“Jangan ibu... Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya...” Seketika Astrapi langsung menarik tangan Artemis dari kepala Dierill, membuat Artemis terkejut dengan apa yang dilakukan oleh putrinya tersebut.