The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 7 - Aku ingat sekarang



“Oh, ternyata hanya seperti ini kekuatan dari World Venerate Lightio yah…” Tiba-tiba Silvan telah berada di salah satu pohon yang berada di dekat Artemis dan Lucierence.


“Teknik teleportasi yah… Aku lupa bahwa kalian bisa berpindah tempat dengan mudahnya,” ucap Artemis, merespon Vampireman itu dengan santai karena telah memperkirakan hal tersebut sebelumnya.


Silvan kemudian memasang ekspresi senyuman menyeringai di wajahnya saat mendengar ucapan wanita itu, tapi seketika ekspresi tersebut berubah menjadi terkejut ketika pria itu mengedipkan sekali kedua matanya melihat bahwa kini yang tersisa di depannya tinggallah Lucierence.


*


“Apa…? Dimana wanita itu?” Gumam Silvan dalam hati, kebingungan mencari keberadaan Artemis dengan melihat-lihat ke sekitaran.


**


“Tapi aku juga sebenarnya bisa melakukan itu.”


Dengan mata yang melotot, Silvan tiba-tiba terkejut menyadari wanita itu kini telah berada tepat dibelakangnya.


Tanpa pikir panjang, Artemis memunculkan sebuah lingkaran sihir dari salah satu tangannya, yang kemudian mengeluarkan sebuah serangan proyeksi hingga membuat Vampireman itu seketika terhempas ke jarak yang cukup jauh menabrak pepohonan yang berada di depannya.


“Lucierence, kau tangani mereka semua,” ucap Artemis seketika melompat dan berlari mendekati Vampireman yang diserangnya.


“Haah… Kukira kita akan membicarakan ini dengan baik-baik… Kalau begitu majulah kalian,” tantang Lucierence.


Baru saja Hayliver berserta para anggota clannya akan bersiap untuk menyerang pria itu, tiba-tiba para Vampireman satu per satu mulai menghilang di depan mata mereka.


Para Vampireman kemudian satu per satu bermunculan dihadapan Lucierence dan langsung melancarkan serangan pada pria itu.


Namun, dengan mudah Lucierence dapat menghindari serangan para Vampireman karena memprediksi kemunculan mereka. Pria itu lalu melancarkan sebuah serangan balik pada ras campuran itu hingga mereka satu per satu dari mereka terhampas dihantamnya.


Melihat para Vampireman menyerang pria itu, Hayliver serta para anggota clannya hanya bisa terdiam melihat pertarungan tersebut.


“Uwaah…” Seketika Lucierence dikejutkan dengan kemunculan tiba-tiba Edana, istri dari Silvan yang langsung melancarkan sebuah serangan padanya.


Saat Lucierence hampir saja menyerang balik perempuan itu, Edana pun seketika menghilang. Perempuan itu kemudian mendadak muncul kembali dan melancarkan serangannya. Namun, Lucierence kali langsung menepis serangan perempuan itu.


“Akh…” Pria itu seketika memunculkan lingkaran sihirnya dan menyerang perempuan tersebut hingga menghantam tanah dengan kerasnya.


“Pergerakkanmu nampak lebih cepat. Apa kau mungkin lebih kuat dari yang lain?” Tanya Lucierence sambil menginjak perempuan itu.


“Heh… Mungkin hanya aku satu-satunya Land Venerate di kelompok kami, tapi Continent Venerate di kelompok kami bukanlah hanya suamiku saja,” jawab perempuan itu.


“Continent Venerate bukanlah hanya suamimu saja…?” Lucierence sontak menjadi kebingungan mendengar ucapan dari perempuan itu.


Tiba-tiba seorang pemuda muncul dan langsung melancarkan serangan kepalan elemen api berwarna biru pada pria itu hingga membuatnya terhempas.


“Ibu kau tidak apa-apa?” Tanya pemuda itu sambil mengulurkan tangannya pada perempuan yang disebutnya sebagai ibu itu.


“Joker, walaupun kau sekarang Continent Venerate, tapi jangan meremehkannya. Pria itu adalah orang yang pernah mengalahkan ayahmu sekali,” ucap perempuan itu.


“Aku tahu itu… Lebih baik kita serang dia secara bersamaan,” ucap pemuda bernama Joker itu.


***


Tak jauh dari tempat itu nampak Silvan terkapar setelah menerima serangan sebelumnya.


“Uh… Sialan wanita itu,” umpat pria itu dengan kesalnya.


“Hei Vampireman, lebih baik kau pergi dari sini sebelum terjadi hal yang buruk pada kalian,” ucap Artemis telah berada di tempat itu, mengancam Vampireman tersebut.


“Maaf nyonya, tapi aku bukanlah tipe orang yang akan pergi begitu saja sebelum mendapatkan tujuanku,” ucap Silvan sambil dia kembali berdiri.


“Kalau begitu, berusaha keraslah.”


“Akh...!” Baru saja Vampireman itu kembali berdiri, seketika Artemis langsung menyerangnya hingga membuat pria itu kembali terkapar.


***


“Hei anak muda, apa kau tidak punya sopan santun? Seranganmu barusan itu cukup sakit,” ucap Lucierence keluar dari balik kegelapan.


Lucierence pun menyalurkan energi sihirnya hingga kedua tangannya memancarkan proyeksi energi.


Dalam satu kedipan semua Vampireman seketika menghilang secara bersamaan. Mereka kemudian muncul di dekat Lucierence dan langsung melancarkan serangan pada pria itu.


Lucierence sontak menepis serangan mereka satu per satu sambil menghindari serangan lain yang datang padanya.


Ketika semua Vampireman dibuat tak berdaya olehnya, Edana serta Joker mendadak muncul dihadapannya dengan langsung melancarkan sebuah serangan proyeksi elemen api berwarna biru.


Dengan sigap pria itu langsung memunculkan sebuah lingkaran sihir menjadikannya sebagai tameng untuk menahan serangan proyeksi yang dilancarkan oleh dua Vampireman tersebut.


“Flamma sillabare...” Proyeksi energi sihir yang memancar pada kedua tangannya seketika berubah menjadi kobaran api.


“Uakh...!” Baru saja pria itu hendak melancarkan serangan elemen apinya, tiba-tiba Silvan terhempas dan terkapar tepat didepannya.


“Akh...!” Silvan kembali menjerit di saat Artemis seketika muncul dan langsung menginjaknya dengan kuat.


“Kakak, ternyata kau tidak kalah,” ucap Lucierence nampak senang melihat Artemis.


“Dasar bodoh, bagaimana mungkin aku bisa kalah hanya melawan kroco ini?” Ucap Artemis sambil menginjak Vampireman itu dengan keras.


Silvan yang tidak bisa melakukan perlawanan sontak menghilang dan muncul di dekat Edana dan Joker.


“Ayah, kau tidak apa-apa?” Tanya Joker.


“Kita tidak bisa menang jika wanita itu masih ada disini,” ucap Lucierence.


“Aku harus menyingkirkannya segera.”


“Ayah, kau mau menggunakan teknik itu?” Tanya Joker sedikit berbisik.


“Tapi, memangnya apa kau yakin bisa melancarkan teknik itu disaat yang tepat?” Sambung Edana.


“Karena itu kita butuh umpan untuk agar bisa mengelabui perhatian wanita itu,” jawab Silvan.


Silvan sontak menatap para anggota clan Bridgehunts. Dalam sekejap Vampireman itu menghilang dan muncul di dekat mereka. Dia seketika melancarkan sebuah serangan proyeksi elemen api biru hingga menghempaskan beberapa anggota clan Bridgehunts.


Masih belum puas, Silvan seketika mendekati Hayliver hendak melancarkan serangan pada pria itu. Pemimpin clan Bridgehunts itu nampak hanya bisa terdiam tidak percaya dengan perbuatan Vampireman itu.


“Ukh...!” Namun, mendadak hal tersebut digagalkan oleh Artemis, dengan langsung menyerang Vampireman itu hingga dia pun terhempas menabrak pohon yang berada di depannya.


“Sudah kubilang padamu untuk segera tinggalkan tempat ini. Kali ini aku tidak akan segan-segan lagi,” ucap Artemis dengan ekspresi serius sambil mendekati Silvan yang telah tersandar di sebuah pohon.


“Jawabanku masih sama nyonya... Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang kumau.”


Saat wanita itu telah berada tepat dihadapannya, seketika Silvan mengeluarkan sebuah proyeksi energi berwarna merah dari tubuhnya.


Akibat hal tersebut Artemis yang berada di dalam jangkauan pancaran energi tersebut seketika lenyap.


“Apa...? Apa yang terjadi?” Lucierence sontak dibuat terkejut melihat Artemis seketika menghilang.


Setelah Artemis lenyap tak bersisa, Vampireman itu kemudian kembali berdiri.


“Tuan Silvan, apa yang kau lakukan pada para anggota clanku?” Tanya Hayliver.


“Maaf tuan Hayliver, tapi aku terpaksa melakukannya demi untuk menyingkirkan World Venerate itu,” jawab Silvan.


“Aku ingat sekarang...” Tiba-tiba Lucierence berbicara.


“Setelah melihat teknik itu, aku baru ingat bahwa beberapa puluh tahun yang lalu ada Vampireman yang pernah menggunakan teknik tersebut kepada para prajurit Lightio maupun Fuegonia, dan hasilnya semua prajurit itu seketika menghilang... Apakah mungkin itu adalah kau, Silvan Blowner?” Ucap Lucierence.


“Heh... Akhirnya kau ingat juga sekarang,” respon Silvan.


“Ini bukan hari keberuntungan, karena telah bertemu dengan orang yang pernah mengalahkanmu waktu itu.”


Seketika tubuh Lucierence memancarkan pancaran energi sihir, bersiap untuk melawan mereka semua yang berada di tempat itu.