
–11 November 3024–
Keesokan harinya, seribu tiga ratus tujuh puluh enam murid baru bergabung akhirnya bersama dengan para murid-murid yang terlebih dulu masuk ke dalam akademi tersebut pada tingkatan kelas mereka masing-masing.
***
Di sebuah lorong bangunan yang digunakan oleh para murid kelas Division Venerate tampak Zchaira sedang berjalan bersama Wenra dan Dorolia, yang merupakan teman pertama dari gadis tersebut ketika masuk ke asrama para murid perempuan kelas Division Venerate sebelumnya.
“Aku tidak menyangka ternyata bisa menguasai semua teknik sihir itu dengan cepat, padahal saat mendengar penjelasan di awal aku sedikit tidak percaya diri bisa menguasainya,” ucap Zchaira kepada kedua temannya, Wenra dan Dorolia.
“Kakak, aku juga tidak menyangka bahwa kau mampu menguasai teknik sihir persepsi… Padahal saat pelatihan awal, semua murid-murid baru ada satupun yang bisa menggunakan teknik itu,” respon Wenra mendengar pernyataan Zchaira.
“Benar sekali kakak… Padahal saat pertama kali aku mencoba sihir tersebut, hal itu malah membuatku langsung tak sadarkan diri,” sambung Dorolia, menceritakan pengalamannya saat berlatih sihir persepsi saat pertama kali masuk ke dalam akademi tersebut.
“Uakh…!”
Tiba-tiba saat berjalan di sebuah lorong tersebut, Zchaira bersama dua temannya lantas terkejut melihat seorang murid tiba-tiba terhempas keluar hingga menabrak dinding kemudian langsung tak sadarkan diri.
Tidak mau berdiam saja, Zchaira, Wenra serta Dorolia langsung menghampiri murid tersebut.
“Dorolia lihat…” Ucap Wenra, tiba-tiba menunjuk ke dalam ruangan tempat murid tersebut terhempas sebelumnya.
Disaat sedang memperhatikan keadaan dari murid tersebut, mereka bertiga menjadi lebih terkejut lagi ketika melihat beberapa murid, yang ternyata para murid-murid baru akademi, sedang terkapar tak sadarkan di dalam ruangan tersebut.
Disaat bersamaan mereka juga melihat tiga orang murid Division Venerate, yang terdiri dari dua laki-laki serta satu perempuan sedang berdiri di tengah-tengah murid-murid baru yang telah tidak sadarkan diri.
“Ini semua perbuatan kalian?” Tanya Wenra pada ketiga murid tersebut dengan ekspresi wajah serius.
Namun, ketiga murid tersebut tidak menjawab pertanyaan dari Wenra karena memang jelas walaupun tidak menjawabnya, semua orang pun tahu bahwa mereka yang melakukan hal tersebut dilihat dari keadaan mereka yang sedang berdiri di tengah-tengah para murid baru.
“Wenra siapa mereka?” Tanya Zchaira, penasaran melihat ketiga murid tersebut.
“Hechary, Reuley dan Alaissa… Anggota clan Spearbrow dari daerah Denvana… Mereka adalah murid-murid yang suka menunjukan kesombongan mereka, walaupun masih berada di tingkatan Division Venerate,” jawab Wenra, memberitahu identitas ketiga murid itu kepada Zchaira.
Salah satu dari ketiga murid itu tiba-tiba memasang senyuman menyeringai di wajahnya ketika melihat Zchaira.
“Jadi kau yah murid baru yang terlambat masuk akademi ini…” Ucap murid yang bernama Hechary itu.
“Seperti yang dikatakan oleh orang-orang ternyata kau memiliki wajah yang rupawan, namun apakah kemampuanmu bisa sebanding dengan penampilanmu,” lanjut murid tersebut berkata.
“Fiamma sillabare…”
Dalam sekejap, murid bernama Hechary tersebut langsung meluncurkan serangan elemen api ke arah Zchaira.
Disaat Zchaira tidak bisa mehindari serangan tersebut karena terlambat untuk meresponnya, seketika kalung es miliknya bereaksi hingga memancarkan cahaya yang cukup terang dan tiba-tiba dengan sendirinya menciptakan sebuah dinding es, membuat serangan elemen api itu dalam sekejap lenyap.
Semua orang yang melihat hal tersebut nampak terkejut, termasuk Zchaira, namun gadis itu langsung mengetahui bahwa kalung bunga es miliknya sebenarnya dengan spontan membuat sebuah pertahanan ketika dirinya sedang dalam bahaya.
“Boleh juga kemampuanmu itu… Bahkan tanpa mengucapakan mantra kau bisa menciptakan sebuah dinding seperti itu,” ucap Hechary, terkesima melihat kemampuan yang diperlihatkan oleh Zchaira, namun secara bersamaan dalam benak bahwa laki-laki itu nampak ragu untuk menantang gadis tersebut.
Zchaira pun langsung memperlihatkan ekspresi kesal mendengar ucapan dari laki-laki tersebut. Perlahan-lahan dirinya berjalan memasuki ruangan tersebut untuk sedikit mendekati ketiga murid itu.
“Kalau kalian ingin melihat kemampuanku yang lain, maka akan kutunjukan kepada kalian… Tak perlu menahan diri, aku dengan senang hati akan melawan kalian bertiga sekaligus,” ucap Zchaira dengan menunjukan ekspresi wajah yang serius, tiba-tiba langsung menantang ketiga murid itu untuk bertarung dengannya.
Ketiga murid tersebut sejenak saling menatap, merasa terkejut dengan pernyataan dari gadis tersebut, namun mereka kemudian mulai tersenyum ketika hal tersebut dirasa mereka merupakan pilihan yang salah.
“Baiklah kalau begitu… Kami akan melawanmu secara bersamaan,” ucap Hechary, menerima tantangan dari Zchaira.
Dalam sekejap kedua murid laki-laki dan perempuan yang bersamanya langsung meluncur ke arah Zchaira sambil menciptakan sebuah pedang dari proyeksi energi sihir mereka.
“Ventus sillabare…”
Seketika Zchaira langsung melancarkan serangan hempasan elemen agin ke arah murid perempuan yang mencoba menyerangnya hingga terpental menabrak dinding ruangan.
Kemudian Zchaira dengan sigap menghindar dengan melompat ke belakang ketika murid yang satunya menganyunkan pedang dari energi proyeksinya.
Akan tetapi, hal tersebut masihlah sebuah awal dari pergerakan murid tersebut, dia dengan cepat meluncur mendekati Zchaira sambil mengayunkan pedang energi proyeksinya.
Beberapa kali dengan sigap Zchaira menghindari ayunan serangan dari murid laki-laki itu, namun walaupun pergerakan dari gadis itu sendiri tampak cepat serta lincah, dia tetap perlahan-lahan mulai kesusahan menangani tiap serangan dari murid itu karena belum terlalu telatih bertarung dalam jarak sedekat itu.
“Difesa sillabare…”
“Akh…” Disaat Zchaira memunculkan sebuah perisai dari proyeksi energinya, dalam sekejap murid laki-laki itu memproyeksikan energi sihir lebih besar hingga ukuran dari pedang proyeksi energinya tersebut bertambah ukuran menjadi lebih besar lagi, membuat Zchaira pun tidak bisa menahan tekanannya dan langsung terhempas.
Zchaira yang terkapar di lantai setelah dihempaskan, perlahan-lahan mulai berdiri, namun disaat bersamaan murid laki-laki yang menyerangnya mendekat dan hendak melancarkan sebuah serangan kembali.
“Ukh…”
Tidak mau hanya berdiam saja, Wenra pun langsung meluncurkan serangan proyeksi energi sihirya ke arah murid laki-laki itu, membuatnya seketika terhempas.
“Kakak, jangan khawatir… Aku akan membantumu,” ucap Wenra sambil meluncur ke arah murid laki-laki yang sedang terhempas itu.
“Jangan memalingkan pandanganmu…” Tanpa disadari oleh gadis itu, murid perempuan yang sebelumnya menerima serangan elemen angin Zchaira, telah berada di depannya sambil menganyunkan pedang proyeksi energinya.
“Difesa sillabare…” Tiba-tiba Dorolia muncul menghalangi serangan murid perempuan itu menggunakan perisai proyeksi yang diciptakan olehnya.
Dengan sigap, Dorolia pun melapisi salah satu kakinya dengan energi sihir kemudian meluncurkannya pada murid perempuan tersebut hingga terhempas.
“Kakak… Aku juga akan membantumu,” ucap Dorolia, sambil tersenyum ke arah Zchaira.
Dorolia pun langsung meluncur ke arah murid perempuan itu untuk berusaha berhadapan dengannya.
Perhatian Zchaira kemudian tertuju pada murid bernama Hechary setelah Wenra dan Dorolia sedang menangani dua murid yang sebelumnya menyerangnya.