
“Majulah kalian semua sekarang,” tantang Lucierence pada semua orang yang berada di depannya.
Seketika para Vampireman berkonsentrasi hingga kedua kepalan tangan mereka memancarkan proyeksi elemen api berwarna biru. Mereka berdua dengan sekejap mata menghilang dan muncul di dekat Lucierence.
***
Ditempat lain, terlihat Rayvor dan Megathirio telah tersesat karena sebelumnya mencoba mengejar Artemis dan Lucierence.
“Kakak, bagaimana mungkin kita bisa mengejar Venerate yang bisa terbang dengan kecepatan tinggi?” Gumam Rayvor.
“Sebenarnya aku ingin menggunakan sayap sihirku untuk mengejar mereka, tapi aku terlanjur mengajakmu, dan juga ini sudah terlalu jauh.”
“Kakak, memangnya kau bisa menggunakan teknik itu? Bagaimana kau mempelajarinya?”
“Heh… Walaupun aku tinggal di daerah pedalaman ini dan tidak pernah melihat dunia luar, tapi aku lebih banyak belajar daripadamu.”
“Asal kau tahu, aku bisa mengetahui semuanya dengan hanya membaca diam-diam buku-buku yang dimiliki oleh ibuku serta tetua desa…”
“Eh…” Saat Megathirio berpaling ke belakang, tiba-tiba Rayvor sudah tidak bersamanya.
“Trevor…! Dimana kau?” Panggil Megathirio.
“Ah sial, aku lupa jika hutan di daerah ini sering membuat orang-orang tersesat…”
***
“Kakak…! Kakak…!” Di sisi lain, Rayvor nampak panik telah terpisah dengan Megathirio.
Dengan memberanikan diri, pemuda itu berjalan menyusuri hutan yang gelap itu berharap agar bertemu dengan Megathirio nantinya.
***
“Ternyata kalian kuat juga.” Lucierence yang mengalami kekalahan setelah melawan para Vampireman tampak tersandar lemah di depan sebuah pohon.
“Hei, mau kemana kalian?”
Tanpa menggubris ucapan Lucierence, para Vampireman serta clan Bridgehunts terus berjalan melanjutkan perjalanan mereka meninggalkannya sendiri pria itu sendirian di tengah hutan yang gelap tersebut.
“Sial… Ini tidak bisa dibiarkan…” Saking lemah kondisi dari pria itu sontak membuat dirinya seketika tidak sadarkan diri.
**
“Tunggu dulu sepertinya ada yang hilang diantara kita,” ucap Silvan tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Siapa yang hilang?” Tanya Edana.
“Aku tidak melihat Lucia.”
“Lucia… Eh… Kemana dia?”
Para Vampireman juga nampak kebingungan tidak menyadari bahwa perempuan yang dibicarakan oleh Silvan dan Edana tidak mereka lihat sedari tadi.
***
“Haah… Kemana anak itu pergi?” Ucap Megathirio nampak khawatir berjalan tanpa arah mencari keberadaan Rayvor.
“Eh…” Tiba-tiba di tengah hutan yang gelap itu, Megathirio melihat sebuah cahaya yang terang, jauh berada di depannya.
Merasa penasaran dengan cahaya tersebut, Pemuda itu secara perlahan-lahan berjalan mendekatinya.
Setelah dilihatnya, ternyata seorang gadis cantik sedang duduk di sebuah dahan pohon dengan dikelilingi oleh ribuan kunang-kunang disekitarnya.
*
“Siapa dia?” Megathirio tampak terkejut melihat gadis berkulit pucat itu.
**
Gadis yang duduk di sebuah dahan pohon tersebut merupakan Lucia, putri dari dari Silvan, yang sebelumnya dicari oleh Vampireman itu.
Walaupun dengan perasaan yang was-was pemuda itu memberanikan diri mendekati gadis tersebut.
“Hei, maaf jika menganggu. Apa boleh aku bertanya sebentar, apakah kau melihat seorang pemuda lewat di sekitar sini?” Tanya Megathirio.
Gadis itu tampak terkejut melihat Megathirio datang menghampirinya dan bertanya padanya. Dengan sekejap, perempuan itu menghilang di depan mata Megathirio.
*
“Hilang...? Sudah kuduga dia adalah roh penghuni hutan ini,” gumam Megathirio dalam hati.
**
“Aah...!” Dengan refleks, pemuda itu langsung menyerang gadis tersebut hingga terkapar.
“Ternyata kau bukanlah roh penunggu hutan ini,” ucap Megathirio sambil menekan tubuh gadis itu agar tidak kabur kemana-mana.
Namun, dengan kemampuan teleportasi, gadis itu membawah Megathirio berpindah tempat di atas permukaan udara.
“Eh... Uawaah...!” Megathirio yang tidak memiliki tempat untuk berpijak lagi, jatuh meluncur ke bawah hingga menghantam tanah dengan kerasnya, hingga membuat pemuda itu seketika tak sadarkan diri.
***
Jauh dari negeri Lightio, Artemis tiba-tiba terkejut telah berada di dalam suatu ruangan, yang tidak di ketahuinya.
“Dimana ini?” Gumam Artemis.
Wanita itu berjalan terus ke depan hingga sampai di sebuah balkon yang berada di ujung ruangan tersebut.
Dia pun terkejut melihat dirinya kini telah berada di atas bangunan kastil di tengah sebuh kota yang dikelilingi oleh pegunungan es di sekitarnya.
“Apa-apaan tempat ini? Sepertinya ini bukan Lightio,” ucap wanita itu melihat pemandangan yang asing baginya.
“Penyusup...!” Tiba-tiba beberapa prajurit dengan postur tubuh lebih dari dua meter dan berambut putih datang menyergap wanita itu.
Dengan sekejap mereka memunculkan sebuah lingkaran dan meluncurkan sebuah serangan proyeksi elemen es arahnya.
Artemis yang berada di balkon seketika melompat dari ketinggian tujuh puluh kaki menghindari serangan tersebut dan mendarat dengan mulus ke permukaan.
Tidak sampai disitu, prajurit-prajurit tersebut mengikuti langkahnya sambil melancarkan serangan proyeksi elemen es mereka kembali ke arah Artemis.
“Ventus sillabare...” Dengan sigap Artemis memunculkan sebuah pusaran angin hingga serangan yang dilancarkan oleh para prajurit itu terhempas ke segala arah.
“Flamma sillabare...” Artemis lalu melancarkan serangan balik dengan meluncurkan proyeksi elemen api ke arah prajurit-prajurit tersebut.
Dengan mudah prajurit-prajurit tersebut menangkis serangan Artemis menggunakan proyeksi lingkaran sihir mereka.
Mereka kemudian terlihat memainkan jari-jari mereka memunculkan sebuah penghalang di sekitar Artemis.
*
“Sebuah penghalang?” Gumam Artemis dalam hati.
**
Setelah Artemis terkurung di dalam penghalang tersebut, para prajurit itu lalu mendekati wanita itu.
“Siapa kau? Dan apa tujuan datang kemari?” Tanya salah satu prajurit berambut putih tersebut.
“Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu, jika aku saja tidak tahu ini berada dimana?” Balas Artemis.
“Jangan mencari alasan, cepat katakan apa tujuanmu datang kemari?” Prajurit itu pun nampak tidak setelah senang mendengar ucapan Artemis.
“Sudah kukatakan pada kalian jika aku juga tidak mengerti dengan yang telah terjadi sekarang.” Merasa kesal mendengar prajurit itu terus bertanya tentang tujuannya datang ke tempat itu, Artemis pun seketika mengeluarkan tekanan kekuatannya, hingga membuat tempat tersebut bergoncang.
“Apa...? Venerate tingkat atas,” ucap salah satu prajurit sontak terkejut merasakan tekanan kekuatan yang mengintimidasi dari wanita itu.
“Cepat panggil tuan Elvendaur, nona Lymedha, atau putri Ackerlind. Sepertinya orang-orang Greune kembali menyerang kita,” lanjutnya berkata, memerintahkan salah satu prajurit untuk memanggil bantuan.
“Baik... Ekh...” Baru saja prajurit yang disuruh untuk memanggil bantuan itu akan bergerak, tiba-tiba dia berpapasan dengan seorang perempuan yang memiliki tinggi badan lebih dari seratus delapan puluh sentimeter.
“Yang mulia?”
Tampak perempuan cantik dengan rambut putih panjang serta bola mata berwarna biru tanpa merasa terintimidasi oleh kekuatan Artemis berjalan perlahan-lahan mendekati wanita itu.
“Yang mulia, hati-hati,” ucap salah satu prajurit memperingati perempuan yang disebutnya sebagai Yang mulia itu.
Tidak mau kalah, perempuan itu sontak mengeluarkan tekanan kekuatannya juga hingga goncangan di tempat itu menjadi kuat lagi.
*
“Apa...? Perempuan ini sepertinya setarah denganku,” gumam Artemis dalam hati.
**
“Nyonya, bagaimana kau bisa ada ditempat ini?”
“Aku juga tidak mengerti mengapa aku tiba-tiba berada di tempat ini.” Artemis menghempaskan tangannya membuat penghalang yang mengurungnya seketika lenyap.
“Lebih baik aku yang bertanya sekarang, ini sebenarnya dimana?” Dia kemudian mendekat, mengangkat wajahnya ke atas menatap tajam perempuan yang tampak lebih tinggi darinya itu.