The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 30 - Hefaistos menjadi presiden penyihir



“Artemis… Maafkan ibu, karena sudah terikat janji dengan Machora Tira, ibu tidak bisa pergi bersamamu…”


“Tapi…”


Artemis pun menggenggam kedua tangan Lethis, tidak mau membiarkan ibunya tersebut pergi meninggalkannya. Perempuan itu tidak mau berpisah dengan ibunya, setelah sepuluh tahun lamanya kehilangan orang itu.


Akan tetapi, Lethis tidak bisa mengindahkan permintaan dari Artemis, dia sebenarnya juga ingin tetap bersama dengan putrinya tersebut, namun karena kini telah menjadi salah satu bagian dari Machora Tira, dia pun mempunyai kewajiban pada negeri tersebut.


“Hei nak… Apa kau bisa menahannya agar tidak mengejarku?” Ucap Lethis pada Hefaistos.


Hefaistos pun hanya bisa terdiam, tidak tahu harus melakukan apa.


Lethis perlahan-lahan mencoba melepaskan genggaman tangan Artemis yang dengan erat memegang tangannya.


“Maaf putriku… Setelah ini selesai, ibu pasti akan segera menemuimu, dan akan tetap bersamamu untuk waktu yang lama…”


Pegangan Artemis pun tiba-tiba terlepas dari Lethis, hingga membuat perempuan itu berlari sekencang-kencangnya bersama Calevan meninggalkan putrinya, tanpa sekalipun juga menengok ke belakang, namun ekspresi Lethis tampak sangat sedih ketika terpaksa harus meninggalkan putrinya tersebut.


“Ibu…!” Teriak Artemis sambil mengejar Lethis.


Sontak Hefaistos pun langsung memegang perempuan itu untuk tidak membiarkan dia mengejar ibunya tersebut.


Hefaistos terpaksa melakukan hal tersebut demi Lethis agar Artemis tidak mengejarnya sampai masuk lebih dalam ke wilayah Machora Tira.


“Tidak ibu…! Jangan pergi…!” Teriak Artemis, memanggil ibunya agar tidak meninggalkannya.


“Ibu…!” Artemis menangisi melihat ibunya perlahan-lahan menjauh hingga tidak bisa dilihatnya lagi.


***


Beberapa saat kemudian, setelah sebagian prajurit Machora Tira melarikan diri, sebagian ras keturunan campuran yang masih tertinggal di kota dibiarkan para prajurit Lightio melarikan diri.


**


Salah satu Venerate Fuegonia yang bernama Rox nampak sedang berjalan diantara puing-puing bangunan. Ketika pria itu sedang memperhatikan keadaan sekitar, tiba-tiba perhatiannya tertuju pada suatu benda yang berkilau dibalik puing-puing tersebut.


Dia mengangkat satu per satu puing-puing yang menghalanginya, kemudian memungut benda yang berkilau tersebut.


“Benda apa ini?” Ternyata benda yang dipungutnya tersebut merupakan sebuah batu kristal.


“Rox... Ada apa?” Tiba-tiba dari arah belakangnya muncul Venerate Fuegonia lain yang bernama Argus.


Mendengar suara memanggilnya, pria bernama Ros tersebut langsung menyimpan batu kristal tersebut menggunakan kekuatan spasialnya agar tidak dilihat oleh rekannya tersebut.


“Tuan Argus…” Ucap Rox, sambil menengok rekannya tersebut.


“Apa yang kau lakukan disana?” Tanya Argus.


“Tidak… Aku hanya jalan-jalan melihat keadaan sekitar saja…”


Pria bernama Argus itu tampak curiga dengan gerak-gerik rekannya tersebut, namun dia sebenarnya tidak terlalu memperdulikan tentang apa yang sedang dilakukan oleh pria itu.


***


Waktu pun berlalu, setelah peperangan tersebut para pasukan Lightio akhirnya dapat mengusir pasukan Machora Tira serta mendapat sedikit wilayah dari negeri tersebut.



Pasukan yang tidak lagi bertugas, akhirnya pergi menggunakan armada pesawat mereka meninggalkan kota yang mereka rebut tersebut.


***


Di dalam salah satu armada pesawat tempur Lightio, terlihat Hefaistos yang sedang menemani Artemis yang masih sedang bersedih.


“Artemis, ibumu pasti bisa kita bawah kembali ke Lightio…”


“Aku berjanji padamu, jika aku berhasil mencapai tingkatan World Venerate dan menjadi orang berpengaruh di negeri ini, aku pasti akan berusaha membawah kembali ibumu…”


“Jangan khawatir, aku juga tetap akan terus ada di sampingmu sampai ibumu kembali nanti.”


Tidak mau terus berdiam diri saja, Hefaistos pun mencoba sebisanya untuk membuat semangat perempuan yang disukainya itu kembali lagi.


Akan tetapi, tidak ada respon yang keluar dari mulut Artemis. perempuan itu tetap diam merenung memikirkan keadaan ibunya yang berada di negeri ras campuran itu.


*


“Eh, sial… Kenapa juga mengatakan itu? Jelas saja dia tidak akan peduli dengan ucapanku saat ini,” gumam Hefaistos dalam hati, malah merasa malu setelah Artemis tidak merespon ucapannya.


**


“Eh… Bagaimana yah?” Pemuda itu pun menjadi salah tingkah serta kebingungan ingin melakukan apa.


“Aku pergi dulu kalau beigtu…”


Saat Hefaistos hendak beranjak untuk meninggalkan Artemis sendirian di tempat itu, tiba-tiba perempuan tersebut langsung menggapainya dan memeluknya dengan erat dari belakang.


“Artemis…” Hefaistos pun heran tiba-tiba merasakan pelukan dari orang yang sukainya itu.


“Benarkah, kau akan selalu berada disampingku?” Tanya Artemis.


“Eh… itu, eh…” Hefaistos pun bingung harus berkata apa dalam suasana yang dirasanya canggung tersebut.


“Jawab aku…” Ucap Artemis, masih tetap memeluk erat pemuda itu.


Seketika pemuda itu melepaskan pelukan Artemis. Dia kemudian berbalik dan menatap mata perempuan itu.


“Tentu saja aku akan selalu berada disampingmu… Karena kau adalah orang sangat berharga bagiku…”


“Artemis… Saat pertama kali kita bertemu, aku hanya menganggap itu sebagai pertemuan yang biasa saja… Namun, setelah perlahan-lahan memperhatikanmu terus, aku mulai sadar bahwa kau sudah mencuri hatiku…” Ucap Hefaistos, akhirnya mengungkapkan perasaannya kepada Artemis.


Sejenak Artemis terdiam mendengar pengungkapan dari pemuda itu. Dia tidak percaya bahwa pemuda yang selama ini memiliki sikap yang dingin kepadanya itu, ternyata diam-diam sudah menyukainya.


Artemis pun menjadi terharu hingga kembali memeluk pemuda itu lagi dengan erat.


Mereka berdua pun berpelukan dengan erat di dalam pesawat yang sedang mengudara menuju ke wilayah timur negeri Lightio.


–Tahun 3000 sampai 3002–


Setahun kemudian Hefaistos akhirnya menikah dengan Artemis dan hidup bersama dengan orang yang dicintainya itu di daerah Workyen, kediaman para clan Silkbar.


Disamping itu, mereka berdua terus berlatih dengan keras hingga setelah dua tahun berlalu, pasangan itu pun akhirnya berhasil mencapai tingkatan tertinggi dalam rana Venerate, yaitu World Venerate secara bersama-sama.


Dengan hal tersebut membuat negeri Lightio yang selama kurang dari tiga tahun lamanya dipimpin oleh para Continent Venerate akhirnya mendapatkan calon yang akan mengisi jabatan sebagai presiden penyihir, pemimpin dari negeri tersebut.


Tiga dari empat kawasan besar negeri Lightio mendukung dengan penuh Hefaistos dan Artemis untuk maju menjadi pemimpin mereka, sedangkan satu-satunya wilayah yang sebagian besar penduduk tidak mendukung serta menentang kedua orang itu merupakan wilayah barat.


Wilayah tersebut tidak mendukung Hefaistos dan Artemis karena sebelumnya telah memilih calon pemimpin mereka yang merupakan salah satu ras Giantman, Vertorn Nomos.


Namun, karena telah didukung oleh para penduduk yang berada di tiga wilayah besar sekaligus, Hefaistos pun akhirnya menjadi presiden penyihir Lightio, sementara Artemis menjadi wakil presiden penyihir Lightio, orang paling berpengaruh kedua di negeri itu.


Akan tetapi, setelah menjadi pemimpin dari negeri Lightio, Hefaistos ternyata masih mengalami kesulitan untuk bisa mewujudkan keinginan Artemis untuk mengembalikan ibunya.


Hefaistos berusaha berunding dengan negeri Machora Tira untuk mengembalikan ibu dari Artemis, tetapi para petinggi negeri itu tidak mau untuk mengembalikan Lethis kembali ke negeri asalnya dengan alasan perempuan tersebut telah menjadi prajurit yang penting bagi negeri ras keturunan campuran tersebut karena kekuatan sihirnya.