
“Sudah-sudah, kenapa kau malah murung begini? Ayo… Lebih baik kita berangkat sekarang.” Kral langsung mengambil alih untuk hendak mengemudikan kendaraan yang sebelumnya telah dipilih karena melihat Illios menjadi murung setelah mengingat Anmaguel.
“Ayo naik… Megathirio… Rayvor, Flogaz…” Pria itu pun menyuruh Megathirio, Rayvor serta Flogaz untuk naik ke dalam kendaraan akan dikemudikan olehnya.
Megathirio pun naik ke kendaraan dan duduk disamping Kral akan mengemudikan kendaraan tersebut, sementara Rayvor dan Flogaz duduk pada tempat duduk yang dibelakang.
Tanpa pikir panjang, Kral pun langsung menancap gas kendaraan tersebut, yang seketika melaju dengan kencangnya meninggalkan Illios dan yang lain.
“Dasar Kral… Padahal sebelumnya dia sempat ragu untuk keluar dari akademi sihir, karena takut ketahuan,” ucap Astrapi, nampak sedikit terkejut, tidak menyangka bahwa kakak pertamanya tersebut ternyata bisa bersemangat untuk hal itu juga.
“Kakak… Ayo kita kejar dia, kau yang menyetir… Zchaira, Lucia ayo masuk juga.” Astrapi pun langsung mendorong Illios masuk ke dalam kursi pengemudi sambil menyuruh Zchaira dan Lucia untuk masuk ke dalam kendaraan tersebut juga.
Astrapi masuk ke dalam kendaraan dan duduk di samping Illios yang akan mengemudikan kendaraan tersebut, sedangkan Zchaira dan Lucia duduk di kursi belakang kendaraan itu.
Setelah semuanya telah berada di dalam kendaraan, Illios seketika menancap gas kendaraan tersebut hingga melaju dengan kencangnya meninggalkan akademi sihir.
***
Di dalam perjalanan, kendaraan yang dikemudikan oleh Kral sempat menurunkan kecepatannya, yang membuat kendaraan yang dikemudikan oleh Illios pun langsung melambungnya.
“Apa? Karena merasa bersemangat, aku juga tidak mau kalah…” Ucap Kral sambil menancap kembali gas kendaraannya hingga mampu melaju lebih kencang untuk mengejar kendaraan Illios dan yang lain.
“Haah, sial… Kumohon jangan membuatku mati karena aku baru saja berhasil mencapai tingkatan Land Venerate…” Gumam Megathirio, nampak khawatir melihat kendaraan mereka melaju dengan sangat kencang.
“Kakak… Setidaknya kau harus tenang dulu. Kita sebenarnya perlu berlomba seperti ini,” ucap Rayvor.
“Tenang saja adik… Percayakan saja kepadaku, kalian pasti akan baik-baik saja…” Namun, Kral pun langsung meyakinkan kepada adik-adiknya tersebut untuk tetap tenang sambil dirinya berkendara melambung kendaraan yang dikemudikan oleh Illios.
**
Ketika kendaraan yang dikemudikan oleh Kral melaju melewati kendaraan yang dikemudikan oleh Illios, semua yang berada di dalam kendaraan tersebut lantas terkejut bahwa ternyata Kral bisa bersemangat seperti itu dalam berkompetisi.
“Kakak… Cepat kejar mereka,” ucap Astrapi.
“Aku tahu… Jangan mengganggu fokusku,” balas Illios.
Pria itu pun langsung menambah kecepatan dari kendaraan yang dikemudikannya, dan sontak mendahului kendaraan yang dikemudikan oleh Kral.
Masih tidak mau kalah, Kral pun juga menambah kecepatan dari kendaraan yang dikemudikan olehnya, hingga kembali melambung kendaraan dari Illios.
Beberapa kali kendaraan yang dikemudikan oleh Kral dan Illios terus saja saling menyalib satu sama lain, serta tidak mau kalah dalam berkompetisi.
Karena tidak ada yang mau mengalah, kendaraan yang dikemudikan oleh Kral maupun Illios melaju dengan kecepatan penuh hingga bersampingan satu sama lain.
Tanpa mereka sadari sebuah kendaraan lain melaju dengan kencang dari arah depan mendekat ke arah mereka.
“Awas…!” Teriak Zchaira, memperingati kedua kakaknya yang sedang mengemudikan kendaraan mereka masing-masing.
Dengan sigap, Kral serta Illios, membelokkan kendaraan mereka ke arah samping, yang hampir saja menabrak kendaraan yang melaju dari arah depan mereka.
**
“Ada apa?” Tanya pengemudi yang berada di samping guru akademi sihir tersebut.
“Dua kendaraan yang yang dilewati oleh kita itu sepertinya dikemudikan oleh murid-murid kelas Continent Venerate,” jawab Raumian.
“Karena mendapatkan perlakuan khusus, murid-murid Continent Venerate itu selalu saja melakukan hal sesuka mereka,” respon sang pegemudi pada Raumian.
Akan tetapi, tanpa mereka ketahui bahwa di dalam dua kendaraan yang dikemudikan oleh Kral dan Illios berada para murid-murid dibawah kelas Continent Venerate yang sebenarnya tidak bisa diijinkan untuk meninggalkan akademi sihir tanpa sebuah alasan yang pasti.
***
“Illios, menyeralah… Kau tidak akan bisa menandingi kemampuan berkendara milikku,” ucap Kral kepada Illios yang sedang mengemudikan kendaraan di sampingnya.
“Hahaha… Jika harus menggunakan kemampuan, maka akan kutunjukkan kepadamu,” balas Illios.
Pria itu kemudian yang langsung mengakses kekuatan sihir milknya, hingga mampu membuat kendaraan yang dikemudikannya melaju diatas kecepatan maksimal dari kendaraannya tersebut.
**
“Apa? Aku tidak terima ini…” Tidak mau kalah, Kral juga langsung mengakses kekuatan sihirnya juga hingga mampu melaju di atas kecepatan maksimal dari kendaraannya tersebut.
Saking cepatnya kendaraan yang dikemudikan oleh Kral maupun Illios, membuat kedua kendaraan mereka sontak terbang ke langit.
**
“Kakak… Ini bukan pesawat… Kenapa kalian melakukan sampai sejauh ini?” Astrapi yang sebelumnya bersemagat sambil memberi semangat kepada Illios untuk melambung Kral, kini merasa khawatir serta takut ketika kedua kakaknya tersebut sudah terlalu berlebihan dalam berkompetisi.
“Jangan takut… Aku bisa menangani ini, serta mengalahkan si Kral itu.” Namun, Illios pun tetap bersemangat sambil mempertahankan kecepatan dari kendaraannya yang melaju dengan kencangnya hingga terbang ke langit.
Begitu juga dengan Kral yang tidak mau menyerah sambil tetap mempertahan kecepatan kendaraannya hingga setarah dengan kecepatan kendaraan dari Illios.
***
Di akademi sihir, terlihat salah satu murid kelas Land Venerate yang tidak lain merupakan Aphrodia, sedang menuju ke bangunan dari para tetua akademi.
“Penetrans sillabare…” Karena pintu masuk dari bangunan tersebut memiliki sebuah penghalang proyeksi, yang membuat murid-murid dibawah kelas Continent Venerate tidak bisa melewatinya dengan mudah, Aphrodia pun lantas menggunakan teknik sihir penembus miliknya hingga bisa masuk ke dalam bangunan tersebut.
Perempuan itu pun berjalan di dalam lorong bangunan tersebut dan tak berapa lama kemudian sampai di depan sebuah ruangan dari salah satu tetua akademi sihir bernama Anelsa.
Aphrodia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut menemui tetua akademi yang berada di dalamnya.
“Oh, Aphrodia… Akhirnya kau datang…” Ucap sang tetua yang bernama Anelsa tersebut.
“Salam nyonya Anelsa… Aku datang atas panggilan darimu… Kira-kira ada sesuatu apa anda memanggilku?” Ucap Aphrodia, memberi salam kemudian bertanya kepada tetua akedemi tersebut.
“Karena semua murid kelas Land Venerate kini sedang berada dalam sebuah misi, maka hanya kau yang harus menjalankan misi kali ini,” jawab Anelsa.
“Kira-kira misi seperti apa itu nyonya Anelsa?” Tanya Aphrodia sekal lagi, karena ingin mengetahui dengan jelas mengenai misi yang akan dijalankan olehnya.