The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 57 - Menetap di akademi sihir



Tiba-tiba warna merah dari diagram sihir tersebut kembali berubah menjadi warna jingga, terus berubah hingga ke hijau, biru muda kemudian berhenti di warna biru tua.


Warna tersebut hingga beberapa lama kemudian tidak berubah kembali sampai membuat Zchaira sudah tidak kuat lagi untuk menhan, lalu menghentikan mengeluarkan tekanannya.


Para tetua saling bertatapan karena tidak mengerti dengan situasi tersebut, mereka merasa bingung untuk menentukan tingkatan Venerate dari gadis tersebut.


“Division Venerate…” Lantas sang tetua kepala langsung mengambil kesimpulan bahwa tingkatan Venerate dari Zchaira adalah Division Venerate dengan melihat warna terakhir yang nampak pada diagram sihir tersebut.


**


“Artemis, kau juga merasakan itu kan?” Tanya Hefaistos.


“Iya… Bagaimana mungkin tidak? Itu adalah tekanan kekuatan kesuburan abadi yang diberikan oleh naga merak itu pada Zchaira… Aku tidak menyangka bahwa tekanan kekuatannya bisa meningkat sampai setarah dengan World Venerate,” jawab Artemis, terkejut serta terkesima melihat kemampuan tersembunyi yang ada pada Zchaira.


**


Para murid sontak bertepuk tangan serta bersorak walau akhirnya tekanan Venerate yang dinyatakan oleh para tetua kepada gadis itu hanyalah Division Venerate. Para murid baru terkesima melihat perubahan warna pada diagram sihir yang merespon tekanan kekuatan Zchaira, yang bahkan sangat berbeda terjadi kepada mereka semua.


Walaupun sedikit kecewa dengan hasil tersebut, namun Zchaira akhirnya mau menerima dan merasa puas setelah mendapatkan pujian dari para murid-murid baru.


*


“Aku yakin tekanan kekuatan yang besar itu berasal dari kekuatan makhluk sucinya… Walaupun sedikit iri, tapi aku harus mengakui bahwa Zchaira memang berpotensi akan menjadi Venerate yang kuat,” ucap Megathirio dalam hati, terkejut mengetahui bahwa adiknya tersebut memiliki kekuatan tersembunyi yang kemungkinan mampu membuatnya menjadi kuat dalam waktu singkat.


*


“Jadi kemungkinan itu kekuatan yang diincar oleh petinggi Machora Tira selama ini… Pantas saja mereka menginginkannya karena seorang Division Venerate sekalipun bisa memiliki kekuatan yang lebih untuk mengalahkan tingkatan yang tinggi di atasnya,” ucap Lucia juga dalam hati, terkejut mengetahui potensi dari kekuatan tersebut.


***


“Jadi dia gadis yang bernama Zchaira itu?” Tanya Flogaz kepada kakaknya Rayvor, dimana mereka masih memperhatikan para murid baru mengukur tekanan kekuatan sampai akhirnya giliran dari Zchaira.


“Iya… Sayang sekali tingkatannya hanyalah Division Venerate. Padahal lingkaran proyeksi sihir itu sampai menunjukan warna merah sebelumnya,” jawab Rayvor sambil tidak percaya bahwa tekanan kekuatan Zchaira bisa berpotensi setarah dengan tekanan kekuatan milik World Venerate.


*


“Mirip seperti kakak Astrapi, namun dia jauh lebih cantik dan lebih menarik… Eh, aku bicara apa? Kenapa aku memandangnya sebagai perempuan, padahal dia adalah saudaraku?” Ucap Flogaz dalam hati, memiliki pendapat berbeda dibandingkan yang lain karena terpesona melihat kecantikan dari gadis itu.


**


“Kakak, apa mungkin di negeri kita menyukai saudara itu adalah hal yang wajar?” Tanya Flogaz.


“Apa maksudmu? Jelas itu tidak wajar… Kau pikir ini adalah Blueland?” Jawab Rayvor, menyatakan bahwa hal tersebut tidaklah wajar.


“Begitu yah…”


“Ayo kita pergi… Itu sudah selesai.” Flogaz pun pergi beranjak lebih dulu meninggalkan saudaranya sendiri.


“Flogaz, tunggu aku…” Lantas Rayvor pun langsung menyusul adiknya.


***


“Baiklah… Setelah penentuan tingkatan Venerate kalian selesai maka itu juga membuat kalian tahu akan berada di kelas mana nantinya…” ucap sang tetua kepala.


“Hari ini sudah selesai… Pelajaran pertama kalian akan dimulai besok hari. Untuk sekarang persiapkan diri kalian, dan ucapkan salam perpisahan terlebih dahulu kepada orangtua kalian jika mereka datang kemari karena mulai hari ini kalian akan tinggal di akademi ini,” lanjut tetua itu menjelaskan.


Setelah penjelasan dari tetua kepala selesai, semua murid-murid baru pun bubar dari tempat itu, dimana sebagian dari mereka terlebih dahulu menemui orangtua mereka yang datang ke akademi tersebut untuk mendukung mereka.


**


Zchaira melihat ke sekitaran mencoba mencari kedua orangtuanya, namun yang dilihatnya hanyalah seorang anak bernama Haniwa datang menghampirinya.


“Nona, ternyata kita akan berada di kelas yang sama,” ucap Haniwa.


“Kalau begitu apakah kita bisa menjadi teman sekarang?” Tanpa pikir panjang Haniwa langsung memegang tangan Zchaira, memohon agar mereka bisa berteman.


“Hei, beraninya kau memegang tangannya…”


“Ukh…”


Tiba-tiba Megathirio datang menghampiri mereka sambil mendorong Haniwa hingga pegangann anak itu terlepas pada tangan Zchaira.


“Siapa kau berani ikut campur? Apakah kau adalah pacarnya?” Tanya Haniwa dengan ekspresi kesal setelah Megathirio mendorongnya.


“Iya aku adalah pacarnya… Memangnya kenapa? Ada masalah untuk itu pendek?” Jawab Megathirio yang sontak membuat Haniwa terkejut.


“Eh… Maaf, aku tidak menyangka kau memiliki pacar yang cantik kakak… Tapi, setelah kuperhatikan wajah kalian begitu mirip…”


“Apa kalian sebenarnya adalah saudara bukan sepasang kekasih?” Tanya Haniwa, mencurigai sesuatu.


“Sudah jangan banyak tanya lagi pendek, cepat pergi dari sini…” Ucap Megathirio, mengancam Haniwa dengan gaya hendak ingin menamparnya.


Haniwa pun sedikit merasa ketakutan hingga tidak mempunyai pilihan selain pergi meninggalkan mereka.


Melihat anak itu sedikit ketakutan hingga terpaksa meninggalkan mereka, Zchaira pun nampak terlihat kasihan kepadanya.


“Kakak seharusnya kau tidak kasar seperti itu… Anak itu terlihat ketakutan tadi, padahal dengan bilang bahwa kau adalah saudaraku dia pasti akan meninggalkan kita dengan sendirinya,” ucap Zchaira.


“Biarkan saja dia…” Balas Megathirio.


Pemuda itu lalu saling bertatapan dengan Lucia yang berada bersama Zchaira. Sontak Megathirio tiba-tiba mengingat kejadian sebelumnya, dimana dia menyerang Vampireman perempuan itu hingga membuatnya tiba-tiba menangis.


Di kepala Megathirio seketika terngiang-ngiang dengan ekspresi dari Lucia sebelumnya sampai membuatnnya membuang mukanya tidak mau menatap Lucia lagi.


Tak berapa lama, Hefaistos dan Artemis datang menghampiri mereka.


“Kalau begitu waktunya kita mengucapkan salam perpisahan karena kalian akan berada lama di tempat ini,” ucap Hefaistos.


“Ibu apa kau akan sering-sering datang kemari?” Tanya Zchaira.


“Eh, jika ada keperluan saja,” jawab Artemis.


“Kalau begitu aku akan sangat merindukanmu… Dan tuan Hefaistos juga,” respon Zchaira pada jawaban dari Artemis.


“Jangan khawatir ibu… Tuan Hefaistos, aku akan menjaga si bungsu ini,” ucap Megathirio.


“Kalau begitu kau jaga juga gadis ini,” balas Hefaistos sambil menunjuk Lucia.


“Eh, kenapa juga aku harus menjaganya?” Megathirio seketika tekrejut mendengar ucapan dari ayahnya untuk menjaga Lucia juga selain Zchaira.


“Kau juga baik-baik di tempat ini… Jangan khawatir, mereka berdua tidak akan membongkar identitasmu yang sebenarnya…”


“Karena kau sudah menjadi bagian dari Lightio, maka kau juga harus mempelajari teknik-teknik kami juga,” ucap Hefaistos pada Lucia.


“Terima kasih tuan… Aku sangat menghormatinya. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu serta tuan Gahaelix yang sudah memberikanku serta keluargaku kesempatan,” balas Lucia merasa berterima kasih sambil membungkukan badannya pada pemimpin negeri Lightio itu.


“Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu… Semangatlah kalian bertiga,” ucap Artemis.


Mereka berdua pun kemudian pergi meninggalkan Zchaira, Megathirio serta Lucia untuk kembali lagi ke kota Hawkingson.


***


Beberapa saat kemudian, Zchaira dengan membawa perlengkapannya sampai di depan sebuah bangunan yang merupakan asrama putri para murid-murid kelas Division Venerate di akademi tersebut.