
Beberapa saat kemudian Zchaira dan yang lain, ditambah Illios beserta dua teman Astrapi yang merupakan murid Land Venerate kini berada di sebuah tempat yang dipenuhi oleh beberapa kendaraan.
“Apa tidak apa-apa jika kita memakai kendaraan-kendaraan ini?” Tanya salah satu teman Astrapi yang bernama Charlett, terkejut mereka dengan mudah bisa diijinkan untuk memakai kendaraan yang berada di tempat tersebut untuk pergi ke kota Xemico.
“Tentu saja… Lagipula aku dan Illios bisa dibilang adalah murid yang setarah dengan para tetua akademi,” jawab Astrapi.
Mereka kemudian memilih dua kendaraan tercepat, dimana Astrapi serta Illios masuk terlebih dahulu ke masing-masing kendaraan tersebut karena yang akan bertugas untuk mengemudikannya.
“Kakak, kuharap kau bisa pelan-pelan karena ini pertama kalinya aku menaiki kendaraan seperti ini,” ucap Megathirio, hendak membuka pintu depan kendaraan tersebut yang bersebelahan dengan pengemudi.
“Hei, kau naik bersama kakak Illios sana.” Namun Astrapi langsung menghentikannya karena pemuda itu lebih pantas untuk naik bersama dengan Illios.
“Maaf tampan untuk kendaraan ini khusus bagi para gadis saja.” Disaat yang bersamaan Charlett pun mendorong Megathirio untuk duduk disamping Astrapi yang akan mengemudikan kendaraan tersebut.
Setelahnya Zchaira dan Auphia langsung menduduki kursi bagian belakang hingga kendaraan yang akan dikemudikan oleh Astrapi pun telah penuh.
Tanpa pikir panjang, Astrapi langsung menjalankan kendaraan tersebut hingga melaju dengan kencang keluar dari akademi sihir.
“Meagthirio cepat naik… Atau akan kutinggalkan kau sendirian disini,” ucap Illios menyuruh Megathirio untuk segera naik ke kendaraan yang akan dikemudikan oleh pria itu.
“Baik-baik…” Dengan cepat Megathirio pun masuk dan duduk di bagian belakang kendaraan bersebelahan dengan Flogaz.
Illios pun langsung menjalankan kendaraan tersebut hingga melaju dengan kencang melewati jembatan penyebrangan keluar dari dalam akademi sihir tersebut.
**
Ketika berada di jalan, Illios langsung menancap gas dengan kuat hingga kecepatan dari kendaraan itu pun bertambah tinggi melewati kendaraan yang dikemudikan oleh Astrapi.
**
“Dasar gila… Apa dia mau mencelakakan Megathirio dan yang lain?” Ucap Astrapi, terkejut melihat kendaraan dari Illios melewati mereka dengan kecepatan tinggi.
Akan tetapi, walaupun mengatakan berbahaya jika mengemudikan kendaraan tersebut kecepatan tinggi, namun Astrapi tidak mau kalah dan langsung menambah kecepatan kendaraanya hingga dapat mengimbangi kecepatan kendaraan dari Illios.
**
“Kakak… Tolong pelan-pelan sedikit,” ucap Rayvor, nampak takut ketika kendaraan yang dinaikinya tersebut melaju dengan begitu kencang.
“Tenang saja adik, kau cukup berpegangan dengan kuat saja dan percaya saja kepadaku,” ucap Illios.
Illios serta Astrapi pun berlomba mengemudikan kendaraan mereka masing-masing dan tidak mau kalah ketika berada pada posisi paling belakang. Beberapa kali kedua orang yang mengemudikan kendaraan mereka masing-masing tampak saling menyalib satu sama lain hingga membuat penumpang yang menaiki kendaraan mereka merasa ketakutan.
**
“Astrapi…! Pelan-pelan!” Teriak Charlett, tampak ketakutan berada dalam kecepatan sekitar sembilan puluh hingga seratus kilometer per jam menuju ke kota Xemico.
“Hahaha… Tenang saja sayangku, kita pasti akan segera melewati para laki-laki itu,” ucap Astrapi, merespon teriakan Charlett.
***
Illios dan Astrapi memarkir kendaraan mereka masing-masing di suatu tempat kemudian pergi berkeliling kota Xemico hanya dengan berjalan kaki. Mereka semua melakukan berbagai hal sembari terus berkeliling di kota tersebut.
***
Setelah mulai lelah terus-terusan berjalan berkeliling kota, Zchaira dan yang lain pun masuk ke dalam sebuah kedai untuk beristirahat.
Ketika mereka semua duduk melingkari sebuah meja yang ada, tiba-tiba Illios terkejut melihat salah seorang tetua akademi sihir masuk ke dalam kedai tersebut dan kemudian duduk di depan bartender.
“Astrapi, Charlett, Auphia, lihat disana… Itu tuan Anmaguel,” ucap Illios, menunjuk seorang tetua akademi sihir.
“Benar juga… Kenapa si pak tua ada disini?” Ucap Astrapi.
Illios dengan cepat menaruh salah satu tangannya ke atas meja kemudian mengaktifkan sebuah sihir yang mampu membuat tekanan kekuatan semua orang yang duduk melingkari meja tidak dapat diketahui ataupun dideteksi oleh sang tetua tersebut.
Tak berapa lama setelah tetua bernama Anmaguel itu duduk di depan bartender, tiba-tiba seseorang misterus dengan menggunakan jubah panjang serta tudung yang menutupi kepalanya datang menghampiri tetua tersebut dan duduk disampingnya.
Melihat hal tersebut Illios dan yang lain nampak curiga, bertanya-tanya siapa orang misterius tersebut serta untuk apa mereka melakukan pertemuan di tempat itu.
**
“Kau datang… Jadi apa yang mau kau bicarakan Aiver,” ucap tetua bernama Anmaguel itu, menyebut orang misterius itu sebagai Aiver.
Benar saja ketika orang misterius itu menoleh ke arah sang tetua, dimana orang tersebut ternyata merupakan Aiver Portner, salah satu Continent Venerate Lightio, serta merupakan orang yang pernah menjadi sumber masalah atas perginya Astrapi bersama kedua kakaknya ke wilayah barat.
“Lama tak berjumpa tuan Anmaguel… Apa kau masih sehat…”
“Tak usah beromong kosong, cepat katakan apa tujuanmu menghubungiku hingga harus bertemu di tempat ini.” Tetua itu lantas memotong sapaan Aiver karena tidak mau mendengar ucapan basa-basi dari pria tersebut.
“Baiklah, aku langsung saja apa intinya… Kau tahu kan apa yang sedang terjadi di daerah Xetas sekarang ini? Bisa dibilang semua itu adalah rencanaku,” ucap Aiver, mengakui bahwa masalah yang terjadi di daerah Xetas yang pernah dibahas oleh Vertorn bersama dengan para Venerate Pavonas merupakan perbuatannya.
“Tunggu dulu… Jadi masalah pemberontakan yang terjadi, semuanya adalah perbuatanmu?” Tanya Anmaguel, tampak terkejut mendengar pernyataan dari pria tersebut.
“Aku melakukan itu karena sebuah alasan… Aku terpaksa melakukannya demi membuat perpecahan antara para Venerate wilayah barat agar para Venerate wilayah timur serta selatan bisa mencampuri urusan tersebut,” jawab Aiver.
“Bukan itu masalah yang membuatku terkejut… Apa mungkin praktik sihir yang menyimpang semuanya berasal darimu?” Tanya Anmaguel, kini dengan memasang ekspresi wajah yang serius.
“Tentu saja hal itu bisa kulakukan,” jawab Aiver sekali lagi.
“Dasar bodoh… Darimana kau mendapatkan kemampuan seperti itu? Sihir yang kau berikan pada para Venerate itu merupakan hal yang dilarang,” ucap Anmaguel.
**
“Apa yang mereka bicarakan?” Ucap Illios, bertanya-tanya tentang pembicaraan Anmaguel bersama dengan orang misterius tersebut karena tidak bisa didengar olehnya akibat posisi mereka terlalu jauh.
**
“Untuk hal itu kau masih belum bisa mengetahuinya… Hanya saja aku harus meminta bantuanmu karena ternyata Vertorn Nomos telah mengirim Venerate Pavonas untuk menangani orang-orang yang telah memberontak,” ucap Aiver.