
“Ibu sudahlah, aku sebenarnya sudah mengetahui apa yang sedang terjadi disana… Aku mendengar bahwa daerah Xetas sekarang sedang menghadapi sebuah pemberontakan,” ucap Toner.
“Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?” Tanya Roselix, penasaran.
“Para tetua di akademi ini mengatakan bahwa mereka baru-baru mendapatkan informasi itu, walaupun hal tersebut masih belum diketahui oleh para presiden penyihir Lightio,” jawab Toner.
“Ibu sebenarnya aku akan datang kesana esok hari… Itu karena sebelumnya aku sempat terlibat pertarungan dan kemudian dihukum untuk menjalankan sebuah misi,” lanjut Toner berbicara, menjelaskan kepada ibunya.
“Apa? Kau terlibat pertarungan…” Mendengar pernyataan dari putranya, Roselix pun langsung terkejut.
“Apa kau baik-baik saja? Kau tidak sampai melepaskan gelangmu kan?” Tanya Roselix tentang keadaan dari Toner sambil membahas sesuatu yang berhubungan dengan benda yang dipakai oleh pemuda itu.
“Ibu… Kau terlalu mengkhawatirkanku, aku sebenarnya hanya ingin menghentikan pertarungan dari murid-murid Regional Venerate… Aku tidak mungkin sampai melepaskan hal itu sekalipun harus berhadapan atau mencoba menghentikan murid-murid Land Venerate,” jawab Toner, menjelaskan serta meyakinkan kepada ibunya tersebut agar jangan terlalu khawatir dengan keadaannya.
“Kau benar… Mungkin ibu yang terlalu khawatir sampai tidak ingat bahwa kau sebenarnya merupakan salah satu murid terkuat di akademi sihir,” respon Roselix.
“Toner, apa kau yakin akan menjalankan misi tersebut?” Lanjut Roselix, bertanya kepada putranya tersebut.
“Tentu saja… Ini adalah kewajiban yang harus kulakukan, suka atau tidak suka aku tidak bisa menolak misi ini… Lagipula, misi yang akan aku jalankan berada di daerah tempat tinggalku,” jawab Toner.
“Baiklah… Kalau begitu, sampai bertemu besok.”
Setelah pembicaraan mereka selesai, Roselix kemudian menutup sambungan komunikasi bersama putranya tersebut.
***
Masih di daerah Xetas, tampak pada salah satu kota kecil di daerah tersebut terlihat Aiver sedang berada di tempat yang luas sembari di depannya terlihat para Venerate bawahannya sedang membariskan para warga.
Selain membariskan para warga di depan Aiver, para Venerate itu kemudian mengikat kedua tangan dan kedua kaki para warga dengan erat serta kemudian menutup kedua mata mereka masing-masing.
Setelah semua warga yang telah dibelenggu berada di depannya, Aiver kemudian mengakses kekuatannya, menciptakan sebuah diagram sihir yang besar tepat berada di bawah para warga.
Pria itu perlahan-lahan mengucapkan sebuah kalimat yang panjang, yang bahkan sulit untuk dimengerti oleh orang-orang yang mendengarnya.
Tak berapa lama, tiba-tiba sebuah proyeksi energi keluar memancar dari dalam tubuh para warga, masuk ke dalam tubuh dari pria itu.
Cukup lama pancaran proyeksi energi terus keluar dari dalam tubuh para warga, melalui mata, hidung serta mulut mereka dan kemudian masuk ke dalam tubuh Aiver.
Tujuan dari hal tersebut, sama seperti dengan yang dikatakan oleh Venerate bernama Vahal, dimana Aiver memanfaatkan para warga yang bukanlah seorang Venerate demi memindahkan energi Mana mereka ke tubuh Aiver, demi untuk memulihkan keadaan karena energi Mana pria itu yang banyak terkuras akibat menggunakan teknik sihir aneh sebelumnya.
**
Tak jauh dari tempat itu, tetlihat Anmaguel, Perlex dan Winscarlo sedang berdiri memperhatikan apa yang dilakukan oleh Aiver.
“Entah kenapa aku harus mendukung kalian, apa lagi pemimpin kalian itu.” Anmaguel sedikit mengeluh untuk berada dipihak mereka karena melihat hal yang dilakukan Aiver kepada para warga.
“Aku juga sebenarnya tidak menyukai hal yang dilakukannya, tapi bagaimanapun juga, ini adalah cara agar dia bisa memulihkan diri dengan cepat,” ucap Winscarlo.
“Aku juga tidak menyukai hal yang dilakukannya, tapi demi menguasai daerah ini kita memerlukan kekuatan sihir dari Aiver,” sambung Perlex, memikirkan hal yang sama seperti Winscarlo.
***
Kembali ke akademi sihir, dimana Arlias yang sedang berada di dalam ruangannya tiba-tiba dihampiri oleh Raumian.
“Maaf mengganggu tuan Arlias, tapi ada yang ingin aku sampaikan padamu,” ucap salah satu guru dari akademi sihir itu.
“Sepertinya ada sesuatu yang aneh dari tuan Anmaguel akhir-akhir ini.”
“Ada apa dengan Anmaguel?”
“Sejak kemarin tuan Anmaguel tidak berada di tempatnya,” ucap Raumian.
“Apa mungkin dia sedang pergi ke Enoel Nova?” Arlias pun langsung memperkirakan bahwa salah satu tetua akademi sihir itu sedang mengunjungi daerah asalnya untuk sebuah alasan.
“Tuan Arlias karena aku sedang memelurkan hal yang penting dengan tuan Anmaguel, jadi aku berpikir hal yang sama sepertimu dan langsung menghubungi ke daerah asalnya, namun mereka mengatakan bahwa tuan Anmaguel tidak berada disana.” Namun, Raumian langsung menjelaskan bahwa tetua akademi sihir itu tidak berada di daerah asalnya.
“Dia tidak berada disana… Kenapa dia pergi?” Arlias pun nampak sedikit terkejut dan bertanya-tanya tentang keberadaan dari salah satu tetua akademi tersebut, yang tidak diketahuinya kini sedang berada di daerah Xetas.
–12 Desember 3024–
Keesokan harinya, Zchaira serta para murid-murid yang sebelumnya mendapatkan hukuman untuk menjalankan sebuah misi akhirnya telah berkumpul untuk bersiap berangkat ke daerah Xetas.
Bersama dengan Anelsa yang berada di tempat tersebut, Zchaira dan yang lain kemudian memperhatikan kedatangan sebuah pesawat yang perlahan-lahan mulai mendarat di dalam akademi itu.
“Setelah misi kalian selesai, kalian akan langsung kembali diantar ke akademi ini lagi… Dan ingat satu hal bahwa kalian harus mengikuti perintah dari ketua kalian yaitu Toner, karena dialah satu-satunya murid Land Venerate serta bisa dikatakan terkuat diantara kalian semua dalam misi ini,” ucap Anelsa.
Semua murid-murid pun langsung menganggukan kepala mereka bersama-sama, mengerti dengan penjelasan dari tetua tersebut, walaupun hanya terlihat bahwa Megathirio-lah nampak tidak mau setuju dengan hal tersebut.
**
“Baiklah… Kalian bisa berangkat sekarang,” ucap Anelsa.
Setelah pesawat tersebut mendarat dengan sempurna, satu per satu murid kemudian mulai masuk ke dalam pesawat tersebut.
**
Setelah berada di dalam, para murid kemudian satu per satu mulai megambil tempat duduk mereka masing-masing.
Disaat Andras melihat Lucia sedang duduk sendiri pemuda itu seketika perlahan mendekat dengan tujuan ingin duduk samping Vampireman perempuan itu.
“Lebih aku duduk disini.” Namun, Rayvor seketika mendahului Andras menduduki kursi disamping Lucia.
Andras pun langsung berpura-pura lanyaknya tidak bertujuan untuk duduk di sebelah perempuan itu, dan lebih memilih duduk di belakang Rayvor dan Lucia.
Di sisi lain, Flogaz yang ingin duduk disamping Zchaira, tiba-tiba langsung didahului oleh saudara laki-laki dari gadis itu.
*
“Sial…” Umpat Flogaz dalam hati, tidak mendapatkan kesempatan untuk duduk disamping Zchaira.
**
“Hei Flora… Cepat duduk kemari.” Ketika melihat tinggal Flogaz yang belum kunjung duduk, Toner pun lantas menyuruh pemuda itu untuk duduk disampingnya.
Flogaz pun tidak mempunyai pilihan lain dan terpaksa harus duduk disamping pemuda tersebut.
**
Setelah selesai, pesawat tersebut perlahan naik ke udara, lalu terbang dengan kecepatan penuh meninggalkan akademi sihir.