
Beberapa saat kemudian, tiga dari peserta yang akan saling berhadapan telah berada di tengah arena, sementara salah satu peserta yang tidak lain merupakan Neyndra, masih tetap berada di tribun khusus para peserta.
Disaat yang bersamaan, wasit datang memasuki tengah arena, namun tidak bisa memulaikan pertandingan tersebut sampai semua peserta yang akan saling berhadapan berada di tempat tersebut.
**
“Kakak, apa yang masih kau tunggu? Cepatlah, semua peserta, bahkan wasit sudah berada duu tengah,” ucap salah satu anggota tim Fuegonia bernama Rourke, memperingati perempuan tersebut untuk segera bersiap pergi ke tengah arena.
Akan tetapi, Neyndra nampak tidak mendengarkan ucapan dari pemuda tersebut, akibat sedang memperhatikan ke sekitar tribun yang mengelilingi arena turnamen.
Ketika melihat pada suatu arah, perempuan itu tiba-tiba tersenyum karena sebenarnya melihat pria yang bernama Drakon ternyata berada diantara para penonton.
“Kakak…” Panggil Rourke sekali lagi, karena perempuan tersebut masih belum kunjung pergi ke tengah arena.
“Eh… Baik…” Balas Neyndra, sontak menyadari bahwa ketiga peserta serta wasit sudah berada di tengah arena.
Tanpa pikir panjang, Neyndra seketika melompat hingga sampai ke tengah arena dan menghampiri wasit serta ketiga peserta yang akan saling berhadapan dengannya.
“Kupikir kau sudah menyerah…” Ucap salah satu anggota tim Machora Tira, yang merupakan ras Orcman.
“Tenang saja… Aku tidak menyerah sebelum memulai pertandingannya,” balas Neyndra.
“Baiklah… Kalau begitu, bersiap… Mulai…” Karena semua peserta yang akan saling berhadapan telah berada di tengah arena, sang wasit pun kemudian langsung memulaikan pertadingannya.
Setelah pertandingan tersebut dimulai oleh sang wasit, Neyndra tiba-tiba melompat ke atas dan seketika mengakses kekuatan miliknya, menciptakan sebuah bola api berukuran cukup besar.
“Flame projection… Flame ball…” Perempuan itu meluncurkan bola api tersebut ke permukaan, hingga dalam sekejap membentur, dan memancarkan kobaran api ke arah tiga petarung yang lain.
Dengan sigap, masing-masing dari ketiga petarung tersebut langsung menangani kobaran api yang memancar tersebut dengan menggunakan teknik mereka masing-masing.
“Ice strike…”
“Water manipulation… Water wall…”
Orcman perempuan bernama Morn menggunakan teknik elemen es miliknya, serta Fairyman bernama Brock menggunakan teknik elemen air untuk memadamkan kobaran api yang memancar kea rah mereka.
Sedangkan perempuan bernama Chiera melancarkan serangan proyeksi energi, hingga pancaran kobaran api yang memancar ke arahnya seketika lenyap.
Setelah berhasil menangani serangan dari Neyndra, kini Morn tiba-tiba mengakses kekuatannya, menciptakan pasak-pasak es yang melayang disekitarnya.
Dalam sekejap Orcman perempuan itu meluncurkan pasak-pasak esnya tersebut ke arah Neyndra, hingga membuat perempuan itu harus menghindarinya dengan bergerak ke permukaan.
Ketika melihat hal tersebut, Morn dengan cepat mengakses kembali kekuatannya, menciptakan dua pedang yang terbentuk dari elemen es, kemudian langsung melancarkan serangan tebasan.
“Uwaah…!” Walaupun sempat terkejut, namun serangan yang dilancarkan oleh Orcman tersebut dengan tepat waktu bisa dihindari oleh Neyndra.
Akan tetapi, Morn kembali menganyunkan dua pedang esnya secara beruntun ke arah Neyndra, yang membuat perempuan tersebut harus bergerak ke arah belakang untuk menghindarinya.
Semakin Neyndra menghindari serangan dari Morn, Neyndra pun merasa bahwa pergerakan dari Orcman tersebut lama kelamaan semakin lebih cepat serta gesit, padahal memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan dengannya.
“Flame martial… High kick…” Tidak mau tinggal diam, Neyndra pun langsung memeproyeksikan elemen api yang sontak memancar dari salah satu kakinya, kemudian mengangkatnya ke atas, menepis kedua pedang es Morn hingga hancur berkeping-keping.
“Flame martial… Straight punch…” Dengan cepat, perempuan itu kembali memproyeksikan kekuatan elemen apinya pada salah satu tangannya, kemudian menyerang Morn, hingga membuat Orcman perempuan itu terhempas menabrak dinding arena.
“Flame projection… Multiple flame ball…” Tida tangung-tanggung, perempuan itu langsung melancarkan serangan bola api secara beruntun, meluncur ke arah Morn.
Hal tersebut lantas membuat Orcman perempuan itu pun langsung berusaha untuk menghindari serangan beruntun dari perempuan Fuegonia tersebut.
“Ice strike…” Disamping menghindari serangan bola-bola api tersebut, Morn menyempatkan diri melancarkan serangan pusaran elemen es.
Ketika serangan dari elemen es dari Morn bertabrakan dengan salah satu bola api milik Neyndra, hal tersebut lantas membuat serangan elemen es dari Orcman tersebut sontak mennguap menciptakan kabut yag cukup tebal.
Dibalik kabut Morn pun langsung berantisipasi akibat kesulitan untuk menemukan keberadaan dari Neyndra, yang walaupun sempat dilihatnya masih berada di depannya.
**
Sedangkan Neyndra pun memanfaatkan keadaan tersebut dengan mengakses kekuatan observasi miliknya, untuk mampu mendeteksi keberadaan dari Orcman perempuan tersebut dengan merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh ras campuran itu.
Neyndra pun meluncur mendekati Morn, samil menyerap energi yang berada di alam dengan jumlah yang banyak.
“Flame projection… Orca phoenix…”
“Uakh…!” Dengan energi besar yang sebelumnya diserap olehnya, Neynda lalu melancarkan serangan proyeksi elemen api berbentuk seekor paus, yang langsung menerjang Morn, membawanya terbang ke udara.
Setelah menerima serangan tersebut, Morn pun kemudian jatuh ke permukaan dan tak sadarkan diri, membuat dirinya menjadi peserta pertama yang tumbang dalam pertandingan tersebut.
Perhatian Neyndra pun kemudian tertuju pada dua peserta dari tim Neodela maupun Cielas, dimana mereka kini nampak berada di dalam pertarungan yang sengit.
**
“Water manipulation…”
Peserta tim Neodela ras Fairyman bernama Brock melancarkan serangan elemen air, yang sontak langsung dibalas oleh peserta tim Cielas bernama Chiera dengan melancarkan serangan proyeksi energi.
Elemen air yang dilancarkan oleh Brock dalam sekejap musnah ketika diterjang oleh serangan proyeksi energi milik Chiera.
Ketika serangan dari anggota tim Cielas tersebut menerjang Brock, tiba-tiba Fairyman itu berubah menjadi butiran-butiran air.
“Ukh…”
Disaat yang bersamaan, tiba-tiba sebuah tangan dari bawah permukaan muncul dan mencengkram salah satu kaki dari Chiera. Dengan kuat, tangan tersebut menarik kaki perempuan Cielas itu hingga masuk ke dalam tanah.
“Apa-apaan ini?” Ucap Chiera, terkejut serta bertanya-tanya tiba-tiba kaki ditarik masuk ke dalam tanah.
Akibat hal itu, perempuan tersebut mengalami kesulitan untuk menarik kakinya tersebut.
Belum sampai disitu, tiba-tiba gumpalan tanah kental naik ke permukaan, membekukan tubuh Chiera hingga hanya menyisakan kepalanya saja.
“Hei… Hei… Ada apa ini?” Ucap Chiera sekali lagi, kebingungan ketika gumpalan tanah yang kental sebelumnya tiba-tiba menjadi keras, hingga dirinya tidak bisa menggerakan tubuhnya.
Tak berapa lama kemudian, Brock seketika muncul dari bawah permukaan, tepat berada di hadapan perempuan Cielas itu.
Melihat Fairyman itu muncul tepat di depannya, Chiera pun barusaha mengakses kekuatannya, memancarkan proyeksi energi untuk menghancurkan tanah padat yang melapisi tubuhnya.
Akan tetapi, Chiera tiba-tiba terdiam ketika Brock mengangkat tangannya ke arah perempuan itu.