
Tak lama kemudian, teman-teman yang memperhatikan Aiver menemui perempuan itu sontak datang menghampirinya.
“Astrapi, kenapa orang itu menemuimu?” Tanya salah satu temannya.
“Dia hanya memperkenalkan dirinya saja, kemudian pergi… Memangnya siapa pria bernama Aiver Portner itu?” Jawab Astrapi lalu bertanya balik kepadanya teman-temannya.
“Apa? Kau tidak mengenalnya… Orang itu adalah salah satu murid Continent Venerate sama seperti kedua saudaramu.” Teman-teman Astrapi lantas terkejut mengetahui bahwa Astrapi tidak mengenal pria dari clan Portner tersebut.
*
“Continent Venerate…?” Ucap Astrapi dalam hati, juga terkejut ketika mendengar pernyataan dari salah satu temannya.
“Kenapa dia datang menemuiku?” Dia tidak menyangka serta bertanya-tanya mengapa seorang murid tingkatan Continent Venerate datang menemuinya.
**
“Aku baru pertama kali menemuinya… Aku juga heran kenapa dia menemuiku?” Ucap Astrapi, menjawab pertanyaan temannya.
–Tahun 3018 sampai 3019–
Mulai hari itu, Aiver terus saja menemui Astrapi. Ditambah juga Astrapi akhirnya telah mencapai tingkatan Continent Venerate dan masuk ke kelas yang lebih tinggi hingga membuat dirinya selalu bertemu dengan pria itu.
Astrapi awalnya merasa risih dengan pria tersebut yang terus saja datang menemuinya, namun perlahan-lahan Astrapi menerimanya hingga mereka berdua pun menjadi akrab.
–17 Februari 3019–
Suatu hari Aiver menemui Astrapi dan langsung menyatakan perasaannya bahwa dirinya menyukai gadis itu.
Sayang sekali, Astrapi langsung menolak pria itu dengan alasan bahwa perempuan tersebut memiliki seseorang yang disukainya.
Aiver pun merasa kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Astrapi. Dia pergi meninggalkan Astrapi tanpa megatakan apapun.
***
“Kenapa Aiver menemui putri tuan Hefaistos?”
“Akhir-akhir ini aku selalu melihatnya bersama putri tuan Hefaistos.”
Dari kejauhan terlihat dua orang Continent Venerate Lightio yang menjabat sebagai tetua di dalam akademi sihir tersebut nampak memperhatikan Aiver menemui Astrapi. Bahkan salah satu dari tetua tersebut memang sering kali memperhatikan Aiver datang menemui Astrapi sebelumnya.
“Apa kita harus melaporkan ini pada tuan Hefaistos? Kau kan sudah mengetahui sendiri bagaimana sifat dari pria itu.” Tanya salah satu tetua, menyarankan bahwa hal tersebut harus diberitahukan oleh Hefaistos karena yang sebenarnya, para tetua sudah mengetahui sifat asli dari pria bernama Aiver itu.
“Kurasa kita tidak perlu dulu memberitahukannya kepada tuan Hefaistos… Jika orang itu berbuat macam-macam kita yang seharusnya menanganinya,” jawab tetua yang satunya, tidak mau terlebih dahulu memberitahukan kepada Hefaistos karena mereka yakin masih dapat menangani pria itu.
–Februari sampai 6 Mei 3019–
Semenjak ditolak oleh Astrapi pada hari itu, Aiver akhirnya menjadi kasar dan memperlihatkan sifat aslinya yang kejam.
Dia selalu menganiaya serta menghina murid-murid yang lebih lemah dibandingkan dengannya. Dia melakukan hal tersebut untuk melampiaskan kekecewaannya karena ditolak oleh Astrapi serta ingin menunjukan bahwa dirinya merupakan murid terkuat diantara semua murid yang berada di akademi tersebut.
Kelakuannya tersebut pernah sempat dihentikan oleh Astrapi, namun tetap tidak membuahkan hasil, pria itu terus melakukan hal tersebut hingga sulit untuk bisa dihentikan.
Astrapi tidak menyangka bahwa pria itu bisa berubah menjadi kasar setelah ditolak olehnya. Astrapi sebenarnya merasa sedikit bersalah, namun langsung mengetahui bahwa Aiver bersikap baik kepadanya hanya untuk mendapatkan perhatian serta simpati darinya.
Sifat baik yang diperlihatkan oleh Aiver selama ini adalah sebuah kiasan, dimana pria itu sebenarnya memiliki sifat buruk sejak dulunya. Untungnya Astrapi saat itu tidak menerima perasaan yang dinyatakan oleh pria itu.
***
Kelakuan Aiver semakin menjadi-jadi hingga akhirnya dia mendapatkan peringatan dari para tetua akademi.
Akan tetapi, karena sifat yang telah mendarah daging, Aiver tetap saja melakukan tindakan buruknya kepada para murid-murid di dalam akademi tanpa peduli peringatan dari para tetua.
***
Illios yang sudah tidak melihat tindakan pria itu merasa geram tampak dan hendak ingin melabraknya.
“Illios… Jangan lakukan itu, kau juga akan disalahkan nantinya.” Namun, Kral langsung menahan adiknya agar tidak pergi menghampiri Aiver yang sedang menyiksa beberapa murid.
“Entah aku akan disalahkan nantinya atau tidak, yang pasti aku muak melihat tindakan orang itu,” ucap Illios, langsung menepis tangan Kral yang menahannya hingga terlepas.
Dia kemudian dengan cepat berlari dan melompat ke arah Aiver.
“Ukh…” Tanpa disadari oleh pria itu, Illios tiba-tiba menandang kelapanya hingga terhempas.
“Illios Silkbar… Apa-apaan kau? Beraninya menendangku seperti itu…” Ucap Aiver dengan ekspresi kesal sambil dia kembali berdiri.
“Jika tidak ada yang memberikan pelajaran seperti ini padamu, maka kau tidak akan pernah berhenti,” balas Illios.
“Jadi kau mau melawanku… Kalau beigtu, majulah serang aku sekarang,” ucap Aiver menantang Illios.
Tanpa pikir panjang, Illios bergerak mendekati Aiver sambil berkonsentrasi menciptakan sebuah serangan.
“Fiamma sillabare…” Illios kemudian meluncurkan serangan elemen api ke arah Aiver.
“Aqua sillabare…” Aiver pun membalas serangan elemen api Illios dengan serangan elemen air.
Tabrakan antara kedua serangan tersebut, membuat serangan elemen air Aiver menguap.
“Glacies sillabare… Iceberg…” Dengan menggunakan kekuatan sihirnya, Aiver pun mengubah uap tersebut menjadi bongkahan es berduri dan dengan cepat berkembang hingga ke arah Illios.
Walaupun Illios melompat ke belakang untuk menghindarinya, namun salah satu duri dari bonghakan es tersebut menancap ke salah satu pundaknya.
Tidak berakibat fatal baginya, Illios dalam sekajap menghancurkan bongkahan es tersebut menggunakan kekuatan proyeksi energi sihirnya.
“Fiamma sillabare… fire horse…” Illios melompat tinggi ke atas dan melancarkan serangan elemen api berbentuk seekor kuda ke arah Aiver.
Orang-orang yang berada di sekitar tempat itu pun langsung berlarian untuk menghindari efek dari serangan tersebut.
Akan tetapi, Aiver hanya berdiam sambil memasang ekspresi senyuman menyeringai menanti serangan elemen api Illios tanpa harus berusaha menghindar.
Dalam sekejap serangan tersebut menghantam permukaan bersamaan dengan Aiver yang berada di tempat itu hingga menciptakan ledakan yang cukup kuat.
“Apa?” Tiba-tiba saja Illios terkejut melihat Aiver ternyata masih baik-baik saja karena lebih dulu melindungi dirinya dengan menggunakan sebuah perisai dari proyeksi energi sihirnya.
Aiver kembali memasang ekspresi menyiringainya melihat Illios nampak terkejut. Pria itu lalu meluncurkan perisai proyeksinya menjadi sebuah serangan tembakan.
Illios yang kini berada di permukaan dengan sigap langsung menghindari semua serangan yang diluncurkan oleh Aiver.
Baru saja dia sadar, ternyata sebuah diagram sihir muncul tepat dibawahnya.
“Incantesimo segreto… Coup de explosion…”
“Akh…!” Diagram sihir yang berada dibawah Illios dalam sekejap meledak hingga membuatnya terkapar tak berdaya.
Setelah Illios mengalami kekalahan, Aiver perlahan-lahan datang meghampirinya sambil melapisi salah satu tangannya dengan sebuah proyeksi energi berniat untuk mengakhiri Illios.
**
“Kakak…!” Teriak Astrapi, nampak khawatir melihat saudaranya.
“Astrapi tunggu… Biar aku saja.” Saat Astrapi akan menghentikan Aiver, tiba-tiba Kral menahannya.
Kral kemudian dengan cepat meluncur ke arah Aiver untuk menghentikan pria itu yang akan menyerang saudaranya tersebut.
Akan tetapi, pemuda itu masih kurang cepat untuk bisa mencapai Aiver.