The World Of The Venerate: Everwhite

The World Of The Venerate: Everwhite
Chapter 94 - Lucia terdesak



“Baiklah, akan kucoba…” Dorolia pun kemudian memejamkan matanya mencoba berkonsentrasi mengakses kekuatan sihirnya.


“Bagaimana? Apa kau merasakan hawa keberadaan para warga di kota ini?” Tanya Zchaira.


“Sebentar kakak, aku tidak bisa mencapai seluruh kota…” Jawab Dorolia.


Mendengar jawaban dari Dorolia, Zchaira pergi ke bagian belakang anak perempuan itu kemudian menyalurkan energi sihirnya.


“Kakak, kau bisa melakukan hal itu?” Tanya Wenra, nampak terkejut, yang padahal hal tersebut sangat sulit untuk bisa dilakukan oleh bagi para Venerate yang berada di tingkatan Division Venerate.


“Aku sudah pernah melakukannya pada saudaraku, bahkan saat kami belum memasuki akademi sihir,” jawab Zchaira.


“Kakak, aku bisa merasakan hawa keberadaan yang kemungkinan merupakan para warga… Sepertinya mereka sedang di kunci dalam ruang bawah tanah…”


“Ditambah, jalan menuju kesana memiliki banyak hawa keberadaan manusia… Sepertinya juga banyak Venerate yang sedang berjaga di tempat itu,” ucap Dorolia.


“Kalau begitu kita harus mencoba untuk melihat keadaannya… Wenra aku butuh teknikmu untuk memantau keadaan yang berada di dekat tempat itu,” ucap Zchaira kepada Wenra sambil menciptakan seekor kupu-kupu dari kekuatan elemen es miliknya.


Wenra kemudian memejamkan kedua matanya berkonsentrasi kemampuannya untuk mengendalikan kupu-kupu es yang diciptakan oleh Zchaira.


Hingga tak berada lama, Wenra pun bisa melihat meliwati kupu-kupu es tersebut, layaknya dirinya telah berada di dalam kupu-kupu es itu.


Wenra pun mengendalikan kupu-kupu es tersebut terbang sesuai arahan yang dikatakan oleh Dorolia. Dengan mudah Wenra yang mengendalikan kupu-kupu es tersebut mampu lewat tanpa diketahui oleh para Venerate pemberontak. Ketika para Venerate yang sedang berjaga tersebut merasakan sesuatu yang lewat, mereka dengan cepat langsung menoleh, namun hal tersebut percuma saja, dikarenakan Wenra dengan lincah mengendalikan kupu-kupu es tersebut agar mampu bergerak lebih cepat dari pandangan para Venerate yang sedang berjaga itu.


Kupu-kupu es yang dikendalikan oleh Wenra kemudian sampai di sebuah bangunan, sesuai dengan arahan dari Dorolia bahwa hawa keberadaan dari kumpulan manusia yang diduga mereka merupakan para warga kota, berada di dalam ruangan bawah tanah bangunan tersebut, Wenra pun kemudian mengaktifkan kemampuan penglihatan tiga ratus enam puluh derajatnya agar mampu memperhatikan sekitaran tempat tersebut.


Ketika melihat sebuah pintu yang mencurigakan, Wenra pun mengendalikan kupu-kupu es tersebut masuk ke sebuah ventilasi yang berada di atas pintu itu.


Beruntungnya Wenra pun langsung menemukan sebuah tangga menuju ke bawah, dan dengan cepat Wenra mengendalikan kupu-kupu es tersebut menuju ke bawah tanah.


Akhirnya kupu-kupu es itu masuk ke sebuah ruangan dimana terdapat para warga kota yang sedang disekap.


“Apa itu?” Ucap salah satu warga, nampak terkejut tiba-tiba melihat benda aneh masuk ke dalam ruangan tersebut.


***


“Kakak… Dorolia… Memang benar itu adalah para warga,” ucap Wenra, memberitahukan kepada Zchaira dan Dorolia.


“Baiklah, waktunya kita menyelamatkan mereka,” ucap Zchaira.


“Kakak… Eh…” Zchaira tiba-tiba, tanpa disadarinya Lucia sudah tidak berada di tempat itu.


Begitu juga dengan Wenra dan Dorolia, dimana mereka juga tampak terkejut sebelumnya tidak menyadari bahwa Lucia sudah tidak ada bersama mereka lagi.


***


Kembali pada dua Venerate yang sedang berada di dalam kedai kosong, dimana mereka berdua kini telah mabuk berat akibat saling beradu meminum minuman keras lebih banyak.


“Haah, sialan… Kenapa kau tidak menyerah saja?” Ucap salah satu Venerate bernama Olirvine.


“Sudah kukatakan bahwa aku adalah Grovenzo, tidak akan kalah oleh siapapun,” ucap pria bernama Grovenzo, nampak masih kuat betahan sambil menyeruhkan namanya sendiri.


“Menyeralah…”


“Tidak kau yang menyerah…”


Kedua Venerate tersebut kemudian saling menodongkan senjata mereka satu sama lain, bersiap untuk menarik pelatuk jika melihat sebuah pergerakan yang mencurigakan dari masing-masing.


**


Disaat kedua orang itu saling menodongkan senjata, tampak Lucia ternyata berada di sebuah ruangan pada kedai tersebut sambil memperhatikan kedua Venerate itu.


Lucia yang sebelumnya memperhatikan keadaan kota bersama dengan Zchaira, Wenra dan Dorolia, nampak merasa bosan harus menunggu hingga menggunakan teknik teleportasinya untuk berpindah tempat tanpa diketahui oleh para murid Division Venerate.


Namun, karena tidak mengetahui tempat dari para warga yang sedang disekap, Vampireman perempuan itu secara acak berpindah tempat hingga muncul di dalam kedai tersebut.


Disaat Lucia mengendap-ngendap, tiba-tiba tanpa sengaja dirinya menebrak sebuah kursi hingga terjatuh dan menimbulkan sebuah suara yang cukup keras.


Hal tersebut lantas membuat perhatikan dua Venerate yang saling menodongkan senjata langsung menoleh ke arah suara tersebut.


“Ah…!” Tanpa pikir panjang, kedua Venerate itu langsung menembakan senjata mereka masing-masing ke arah Lucia, namun untungnya Vampireman perempuan itu dengan cepat melompat menghindari tembakan mereka, walaupun sempat terkejut.


Kedua Venerate tersebut, seketika menambakan senjata mereka ke arah Lucia secara beruntun, hingga Vampireman perempuan itu meresa kesulitan untuk menghindarinya.


***


Disaat yang bersamaan, Megathirio serta Toner yang sedang melumpuhkan para Venerate yang berjaga, tiba-tiba mendengar suara tembakan beruntun karena berada di dekat tempat itu.


Dengan sigap, kedua pemuda itu langsung menuju ke tempat suara tembakan tersebut.


***


Lucia yang sedang menghindari tembakan dari dua Venerate itu dalam sekejap langsung meggunakan teknik teleportasinya dan muncul di dekat mereka.


“Ukh…” Dengan kuat Lucia langsung melancarkan serangan pukulan hingga salah satu dari Venerate itu seketika terhempas.


Dengan sigap, Lucia kemudian melancarkan serangan pukulan yang kini dilapisi oleh proyeksi eleman api berwarna biru, membuat Venerate yang satunya sontak terhempas menabrak meja-meja kedai.


Lucia melompat ke arah Venerate tersebut sambil hendak melancarkan serangan proyeksi elemen api berwarna biru.


“Akh…” Akan tetapi, Lucia tiba-tiba menerima sebuah tembakan yang dilancarkan oleh salah satu Venerate yang pertama kali dihempaskan olehnya.


“Ukh…” Ketika Lucia masih bertahan dan dengan cepat kembali berdiri, Vampireman perempuan itu kembali menerima sebuah tembakan yang membuat jatuh terkapar dengan keadaan yang lemah.


Lucia hanya bisa tersungkur dengan keadaan lemah akibat mendapatkan dua luka tembakan di punggungnya. Walaupun Lucia merupakan salah satu ras keturunan campuran yang memiliki daya tahan di atas manusia murni, namun Vampireman perempuan itu tidak bisa menahan rasa sakit dari peluru pistol yang kemungkinan merupakan sebuah senjata suci.


“Darimana datangnya kau gadis manis?” Tanya Venerate bernama Olirvine sambil menodongkan senapan gentalnya pada kepala Vampireman perempuan itu.


“Akan sangat disayangkan jika kau mati konyol sepeti ini gadis cantik,” ucap Olirvine, siap pelatuk dari senapannya untuk menembak Lucia.